Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~226


__ADS_3

"Apa kalian juga mau ikut ?" tanya Dean pada Ricko dan juga Sarah.


"Tidak, aku sangat lelah dan ingin pulang." sahut Sarah seraya menatap Ricko dengan wajah memohon.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." timpal Ricko, setelah itu ia berlalu menuju mobilnya bersama dengan Sarah.


Sedangkan Olive nampak menatap datar kepergian mereka, meski jauh di lubuk hatinya ia merasa cemburu tapi sebisa mungkin ia menutupinya.


Setelah kepergian mereka, Dean segera mengajak Olive berlalu ke Cafe di seberang taman tersebut.


"Terima kasih." Olive nampak tersenyum saat Dean menarik kursi untuknya, laki-laki itu sepertinya sangat paham bagaimana menghormati seorang wanita.


"Jadi kamu masih kuliah ?" ucap Dean setelah mereka memesan minuman.


"Tapi nggak lama lagi aku akan lulus." sahut Olive.


"Jika kamu memerlukan pekerjaan, kamu bisa mencoba di perusahaan ku." tukas Dean.


"Benarkah ?" Olive nampak sangat senang tapi ia tidak mau bereaksi berlebihan.


"Sepertinya kamu seumuran Ricko." tebak Dean.


"Mungkin, tapi dia sepertinya lebih sukses." sahut Olive.


"Dia terlalu bekerja keras sejak kecil." tukas Dean.


"Benarkah ?" Olive nampak menaikkan sebelah alisnya menatap Dean, sepertinya pria di depannya itu tahu banyak tentang Ricko.


"Semenjak usianya 15 tahun, dia sudah membantu ayahnya di kantor dan aku rasa dia kehilangan masa remajanya karena terlalu serius bekerja. Oleh karena itu ayahnya mengirimnya untuk melanjutkan kuliahnya di sini agar dia bisa sedikit bersenang-senang." sahut Dean.


"Sepertinya kamu sangat mengenalnya, apa kalian bersahabat ?" Olive semakin penasaran.


"Tentu saja, dia keponakan ku. Ayahnya adalah kakak kandungku." sahut Dean dengan kekehannya.


Olive nampak melebarkan matanya terkejut, setahu dia Demian anak tunggal lalu bagaimana bisa tiba-tiba mempunyai adik? apa kakeknya itu diam-diam berselingkuh? ternyata banyak hal yang Olive lewatkan setelah berpisah dari mereka.


Dean adalah laki-laki yang hangat dan mudah bergaul hingga membuat Olive cepat akrab dengannya.


Beberapa saat kemudian Olive beranjak dari duduknya. "Aku ingin ke toilet sebentar." ucapnya, sepertinya ia sudah tak tahan.


"Kamu terlalu banyak minum." tukas Dean dengan kekehannya.


"Ya kamu benar." sahut Olive, setelah itu ia berlalu pergi.


Setelah buang air kecil dan merapikan penampilannya di depan cermin, Olive segera melangkahkan kakinya keluar. Namun ia terkejut saat Ricko tiba-tiba masuk lalu menutup pintunya kembali.


"A-apa yang kamu lakukan di sini ?" pekik Olive terkejut saat melihat Ricko yang nampak menatapnya dengan dingin.

__ADS_1


"Berapa yang kamu inginkan ?" ucap Ricko seraya berjalan mendekati Olive.


"Apa maksudmu aku tidak mengerti ?" tukas Olive.


"Kamu mendekati kak Dean karena uangnya kan? berapa yang kamu butuhkan aku akan memberikannya tapi jauhi kak Dean." tegas Ricko.


"Aku tidak mengerti maksudmu." tukas Olive mulai kesal.


"Ck, aku sangat tahu bagaimana wanita seperti kamu. Kamu mendekati pria-pria kaya karena uangnya kan? setelah bosan dengan dosen tua itu, kamu berniat menjerat ayahku dan sekarang kamu ingin menjerat kak Dean bukan begitu. Sangat murahan." cibir Ricko dengan tersenyum sinis.


Olive nampak mengepalkan tangannya, ternyata kesuksesan dan kecerdasan yang di miliki oleh pria di depannya itu tak sejalan dengan pikirannya yang picik.


"Kalau iya kenapa? itu bukan urusanmu, tuan." sahut Olive dengan tersenyum tak kalah sinis, setelah itu ia mendorong bahu Ricko agar memberinya jalan.


"Sial." umpat Ricko setelah kepergian Olive, ia nampak mengacak rambutnya dengan kasar.


Sebenarnya ia tak bermaksud menghina Olive, ia hanya tidak suka jika gadis itu terlalu dekat dengan Dean.


Sejak kejadian itu Olive tak pernah bertemu lagi dengan Ricko, pria itu seakan menghilang di telan bumi.


Kini setelah satu bulan kelulusannya Olive mulai bekerja di perusahaan Dean.


Satu hal yang baru Olive tahu, ternyata Dean tipe laki-laki yang sangat serius di kantornya berbeda sekali saat di luar pekerjaannya dan ia bersyukur bisa bekerja dengan pria itu.


Waktu berjalan begitu cepat, kini sudah dua tahun Olive bekerja di kantor Dean dan selama itu pula dia tidak pernah bertemu dengan Ricko.


Dari kabar yang dia dengar, pria itu sudah kembali ke Indonesia tak lama setelah kelulusannya dua tahun yang lalu.


Malam itu Olive nampak memegang sebuah kalung berleontin, satu-satunya kenangan dari masa lalunya.


Dua tahun sudah berlalu namun kenangan tentang Ricko masih begitu terpatri di ingatannya.


Bagaimana pria itu menyentuhnya membuatnya sulit untuk melupakannya.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi, Pak." sapa Olive beserta karyawan lain saat Dean baru datang.


"Selamat pagi." sahut Dean singkat.


"Olive, ikut ke ruangan saya." imbuhnya lagi seraya berlalu masuk ke dalam ruangannya.


"Baik, pak." sahut Olive, ia nampak membawa beberapa berkas di tangannya lalu mengikuti langkah Dean.


"Duduklah." perintah Dean kemudian.


"Ini berkas yang harus bapak tanda tangani." Olive mengulurkan tumpukan map di tangannya.

__ADS_1


"Taruh saja di situ." sahut Dean seraya menatap mejanya.


"Baik, pak." sahut Olive.


"Jika sedang berdua panggil saja namaku." perintah Dean.


"I-iya, Dean." sahut Olive.


"Apa kamu sudah sarapan ?" tanya Dean kemudian.


"Sudah." sahut Olive.


"Jadi bagaimana apa kamu sudah pikirkan untuk ikut bersamaku pindah ke Indonesia ?" tanya Dean lagi.


Beberapa hari yang lalu Dean berencana untuk pindah ke Indonesia karena kesehatan ayahnya kurang baik dan ia ingin menemaninya.


Tentu saja Olive sangat senang, namun ia akan bereaksi biasa saja di depan laki-laki itu. Bahkan sampai saat ini ia belum mempunyai keberanian untuk mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Saya mau, pak." sahut Olive kemudian.


"Saya suka mendengarnya." Dean nampak tersenyum lebar, Olive adalah seorang sekretaris kompeten yang pernah dia punya selama ini.


Pekerjaannya sangat bagus, cepat dan tentu saja karena dia mencintai gadis itu.


"Olive."


"Ya ?"


"Sampai kapan kamu akan menggantungku ?" tukas Dean yang langsung membuat Olive serba salah menatapnya.


"Maaf, tapi aku tidak pantas untukmu. Ku mohon carilah wanita lain yang sederajat denganmu." Olive merasa bersalah, sudah setahun terakhir ini Dean menyatakan perasaannya tapi sungguh Olive hanya menganggapnya tak lebih dari seorang kakak.


"Apa sudah ada pria lain di hatimu ?" tukas Dean.


Olive menggelengkan kepalanya, meski sampai saat ini Ricko masih bercokol sepenuhnya di hatinya.


"Tadinya aku ingin memberikan kejutan pada papa kalau aku akan membawa calon istri tapi sepertinya tahun ini gagal lagi." ucap Dean dengan nada kecewa.


"Maafkan aku." Olive sangat merasa bersalah, tapi ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri.


"Sepertinya keponakan ku itu akan mendahuluiku." tukas Dean kemudian yang langsung membuat Olive menatapnya tak mengerti.


"Tak lama lagi Ricko akan bertunangan dengan Sarah, kamu masih ingat Ricko kan? keponakan ku yang dua tahun lalu ku kenalkan padamu ?" ucap Dean.


Deg!!


"Jadi Ricko akan bertunangan."

__ADS_1


.


Maaf ya guys akhir-akhir ini Othor sangat sibuk jadi suka telat up nya 🤗✌ thanks banyak masih setia dengan cerita receh ini. Di tunggu saran & kritiknya 🙏


__ADS_2