Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~187


__ADS_3

Pagi itu Edgar nampak mengawasi setiap gerak gerik sang istri yang sedang merias wajahnya, pesona ibu hamil itu memang sangat berbeda.


Di mata Edgar wanita itu makin hari terlihat semakin cantik dan mempesona tak peduli seberapa besar perutnya sekarang.


Dua bulan lagi mungkin wanita itu sudah akan melahirkan bayinya, namun hingga sekarang tetap saja menjalankan rutinitasnya di kantor.


Edgar sudah kehabisan cara untuk melarangnya, karena wanita itu selalu saja mampu merayunya dan akhirnya ia mengizinkannya lagi dan lagi.


"Sayang, kamu nggak kerja ?" Dena terlihat mengerutkan dahinya saat suaminya masih bermalas-malasan di tempat tidur.


"Papa mayas ya ?" ucap Elkan menanggapi perkataan ibunya, bocah kecil itu langsung menarik lengan sang ayah agar cepat bangun.


"Papa nggak malas sayang, Papa sakit." sahut Edgar bernada manja pada putranya tersebut.


"Papa cakit ?" Elkan langsung memegang dahi sang ayah, seperti yang biasa sang ibu lakukan jika ia sedang sakit.


"Ndak ah, Papa bo'ong." ucapnya lagi.


"Beneran sayang, Papa sakit." keluh Edgar di buat-buat.


"Janan caya Ma, Papa bo'ong." ucap Elkan pada ibunya.


Dena yang melihat tingkah lucu putranya itu nampak terkekeh. "Elkan nggak mandi sayang, sebentar lagi sekolah loh ?" ucapnya.


Mendengar perkataan sang ibu Elkan langsung menepuk dahinya sendiri. "Eh, upa Ekan." ucapnya sembari terkekeh.


"Alo itu Ekan andi duyu ya." lanjutnya, setelah itu ia berlari keluar dari kamar orang tuanya.


"Kamu beneran sakit, sayang ?" Dena langsung meletakkan punggung tangannya di dahi sang suami.


"Nggak demam kok." ucapnya lagi.


"Tapi badanku nggak enak sayang." sahut Edgar, kemudian ia langsung beranjak dari ranjangnya.


"Sepertinya aku mau muntah." imbuhnya lagi seraya berlari ke toilet.


"Astaga sayang, kamu baik-baik saja ?" Dena terlihat panik.


"Masa ngidam lagi atau hanya masuk angin biasa." gumamnya seraya mengusap lembut punggung sang suami yang nampak mual-mual tapi tidak sampai muntah.


Setelah itu Dena segera membawanya kembali ke ranjangnya. "Aku panggilkan dokter ya ?" ucapnya.


"Tidak usah sayang, mungkin ini hanya ngidam saja." tolak Edgar.


"Masa sih, kamu sudah lama sekali loh berhenti ngidam mual-mual seperti ini. Perasaan hanya pas awal-awal kehamilanku saja, setelah itu ngidam mu hanya berupa makanan saja." Dena nampak tidak percaya.


"Kalau nggak percaya ya sudah." sahut Edgar merajuk.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, maaf ya." Dena jadi merasa serba salah, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet dan itu tak luput dari pengawasan mata Edgar.


"Yes." Edgar nampak senang saat rencananya mulai berhasil, bahkan ia terlihat mengintip sang istri di sana.


kemudian ia langsung kembali tidur di atas ranjangnya saat Dena keluar dari walk in closet tersebut.


Wanita itu terlihat mengganti pakaian kerjanya dengan dress rumahan selutut.


"Kamu nggak kerja ?" tanya Edgar saat sang istri mulai merebahkan tubuhnya di sampingnya.


Dahulu saat pertama suaminya ngidam selalu merasa lebih baik jika selalu berada di dekatnya, maka dari itu Dena memutuskan untuk tidak bekerja hari ini dan memilih menemani sang suami lagipula ayahnya sudah sehat dan kembali ke kantor.


"Kalau aku kerja nanti siapa yang urusin bayi gedeku." sahut Dena dengan tertawa meledek.


"Baiklah, kalau begitu kita seharian di ranjang saja ya." sahut Edgar penuh maksud.


"Tentu saja aku akan di sini memastikan agar kamu istirahat dengan benar dan tidak macam-macam." ucap Dena dengan tersenyum mengejek dan itu membuat Edgar langsung mengerucutkan bibirnya.


Tapi paling tidak ia senang istrinya itu tidak jadi pergi ke kantornya dan sepertinya ia akan berpura-pura ngidam sampai wanita itu melahirkan.


"Sayang kamu lagi lihat apa sih ?" Edgar nampak kesal saat sang istri sibuk dengan ponselnya.


"Ini loh aku lagi searching di internet masa hamil 7 bulan masih ngidam." sahut Dena yang langsung membuat Edgar menelan salivanya, bagaimana kalau nanti sang istri mengetahui kebohongannya.


"Kamu kenapa ?" Dena nampak menatap aneh tingkah sang suami yang terlihat gelisah.


"Nggak tahu nih, sepertinya mau mual lagi." dusta Edgar.


"Udah enakan kan ?" ucapnya, karena dulu jika suaminya ngidam dan ketika sedang mual selalu merasa lebih baik jika berada di dekatnya.


"Ya, lebih baik." sahut Edgar dengan menahan senyumnya, rasanya senang sekali bisa mengerjai sekalian modusin istrinya itu.


Kemudian ia menatap layar ponsel milik wanita itu saat sedang mencari informasi tentang kehamilan di Internet.


"Nah kan apa aku bilang, ngidam itu juga ada yang sampai 9 bulan sayang." celetuknya dengan semangat saat ikut membaca artikel di ponsel sang istri.


Sedangkan Dena langsung memicing. "Kamu semangat banget, jadi sudah tidak mual lagi nih ceritanya ?" tanyanya seraya menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap laki-laki itu.


"Kan sudah dekat-dekat kamu sayang, jadi mualnya tiba-tiba hilang." sahut Edgar beralasan, kemudian ia menarik tubuh istrinya lagi ke dalam pelukannya namun itu justru membuat bibir mereka tak sengaja saling menempel.


Tentu saja Edgar sangat senang dan tak menyia-nyiakannya, ia langsung melahap bibir merah itu dengan lahap. Saat tangannya akan membuka kancing dress yang istrinya pakai tiba-tiba pintu kamarnya di buka dengan kasar.


"Papa, mama Ekan cekolah duyu ya." teriak Elkan hingga membuat Dena dan Edgar langsung melepaskan tautan bibirnya.


"Ah, i-iya sayang." sahut Dena tersenyum pada putranya itu, namun ia langsung menatap kesal pada sang suami yang selalu saja cari kesempatan.


"Kok Mama ndak kelja ?" Elkan berjalan mendekat.

__ADS_1


"Papa lagi sakit sayang jadi Mama harus merawat Papa." sahut Dena.


"Papa asti bo'ong aja." ucap Elkan menatap curiga ayahnya.


"Sayang, kenapa kamu melihatku seperti itu ?" ucap Edgar saat sang putra bertingkah seperti orang dewasa yang sedang mencurigainya.


"Sepelti olang sehat." ucap Elkan yang langsung membuat Edgar menatapnya gemas.


"Astaga nih bocah untung anakku kalau tidak ku getok juga." gerutu Edgar.


"Udah-udah Elkan sana berangkat nanti terlambat." ucap Dena kemudian.


Setelah berpamitan bocah kecil itu segera pergi meninggalkan kamar orang tuanya.


"Sayang, ayo kita lanjutin yang tadi." bujuk Edgar.


"Aku mau makan sayang lapar." sahut Dena seraya berlalu dari kamarnya meninggalkan suaminya sendiri.


"ya, gagal deh *****."


Edgar langsung menghempaskan tubuhnya di kasur kembali, meraih ponselnya lalu melihat beberapa email yang masuk.


Sementara itu di negeri nan jauh di sana, Sera nampak diam-diam tersenyum saat melihat bagaimana Martin sedang menikmati makanan buatannya.


Dahulu laki-laki itu selalu menghina masakannya, namun sekarang selalu memakan apapun yang dia buat. Namun begitu laki-laki itu masih bersikap dingin padanya.


"Apa Helena sudah makan ?" tanyanya kemudian saat Sera baru selesai menyiapkan makanan untuknya.


"Sudah, setelah makan siang dia langsung beristirahat." sahut Sera kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.


Sejak kejadian malam itu, Sera selalu berusaha menghindari Martin. Ia akan berbicara seperlunya hanya saat pria itu bertanya padanya mengenai keadaan kekasihnya.


Martin yang melihat kepergian Sera nampak menaikkan sebelah alisnya heran. "Ada apa dengannya ?" gumamnya.


Ia akui banyak sekali perubahan pada diri Sera, tidak ada ucapan angkuh dari bibir wanita itu bahkan sekarang ucapannya terkesan lembut tanpa di buat-buat.


Sepertinya Sera juga sudah terbiasa dengan keadaan, wanita itu sekarang sangat lihai dengan pekerjaan rumah dan yang membuat Martin sedikit senang karena Sera sangat tulus merawat Helena.


Beberapa saat kemudian Helena nampak keluar dari kamarnya lalu berjalan ke arah Martin. "Kamu sudah pulang ?" tanyanya.


Martin yang melihat Helena langsung menarik tubuhnya lalu membawanya ke dalam pangkuannya.


"Aku merindukan mu ?" ucapnya seraya memeluk wanita itu.


"Aku juga." sahut Helena membalas pelukan Martin.


Sedangkan Sera yang baru masuk ke dalam rumah dengan membawa satu keranjang pakaian kering nampak memalingkan wajahnya saat melihat sepasang kekasih yang terlihat mesra itu.

__ADS_1


Tiba-tiba matanya terasa panas dan mengembun dan itu tak luput dari perhatian Martin.


"Ada apa dengannya." gumamnya.


__ADS_2