Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~252


__ADS_3

21+


"Kita tidak akan bercerai sayang dan ku pastikan sebentar lagi kamu akan mengandung anakku." tegas Ricko, lalu mencium bibir istrinya itu dengan sedikit kasar.


Olive nampak memukuli punggung suaminya, namun laki-laki itu masih saja bergeming.


Lelah memberontak, akhirnya Olive hanya bisa pasrah. Karena tubuhnya yang kecil takkan mampu melawan tubuh Ricko yang besar dan kekar yang kini sedang berada di atasnya.


Laki-laki itu nampak melahap bibirnya dengan rakus, sebelah tangannya mengunci kedua tangannya di atas kepala lalu sebelahnya lagi merayap masuk ke dalam piyama tidurnya.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, kemudian ia mer3m@snya hingga membuat wanita itu mend3s@h tertahan.


"Kamu mau memperkosaku ?" rutuk Olive saat Ricko melepaskan panggutannya, napasnya nampak naik turun menahan gejolak gairah.


"Kalau di perkosa kamu tidak akan mend3s@h keenakan, sayang." lirih Ricko dengan suara seraknya, kemudian ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.


"Tapi Rick, aku...."


"Diamlah sayang dan nikmati saja." potong Ricko.


Olive mend3s@h kasar, namun setelah itu sudut bibirnya terangkat keatas membentuk sebuah senyuman jahil.


Kemudian Ricko nampak mengecupi dan menggigit kecil-kecil leher putihnya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Melihat istrinya mulai menikmati sentuhannya, Ricko segera melepaskan cekalannya di pergelangan tangan wanita itu.


Kemudian ia mulai melepaskan kancing piyamanya satu persatu, hingga kini nampak bulatan indah dengan puncaknya yang berwarna merah muda itu terlihat membusung di hadapannya.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ricko langsung melahapnya bergantian dan sesekali menggigit puncaknya dengan gemas hingga membuat Olive menggeliat tak karuan.


"Rick..." suara Olive tertahan saat merasakan gejolak aneh pada dirinya, logikanya ingin sekali melawan namun tak sejalan dengan tubuhnya.


"Mend3s@hlah sayang, sebut namaku." Ricko nampak mengangkat wajahnya di sela menikmati bulatan indah milik istrinya tersebut.


"Rick, please hentikan." mohon Olive di tengah eranganya.


"Bagaimana aku bisa berhenti sayang, kamu begitu nikmat." sahut Ricko, ia semakin bersemangat dan memberikan banyak sekali jejak kepemilikan di sana.


Seakan bulatan indah dan ranum itu hanya miliknya seorang, ia tak menyangka milik istrinya itu semakin membesar dari dua tahun silam hingga membuatnya semakin berhasrat untuk menyentuhnya.


Merasakan miliknya semakin sesak, ia segera melepaskan pakaiannya dan menyisakan pakaian dalamnya saja.


Setelah itu ia mengungkung istrinya itu kembali, menciumnya dengan rakus kemudian tangannya turun ke bawah lalu mengusap lembut milik wanita itu.


Namun ia langsung mengerutkan keningnya saat merasakan benda asing di bawah sana.


"Kamu sedang datang bulan, sayang ?" ucapnya kemudian.


"Hm, baru hari pertama." sahut Olive, ingin rasanya ia tertawa lepas.


"Kenapa tidak bilang ?" Ricko nampak mendengus kesal.


Ia merasa baru saja terbang ke angkasa, namun tiba-tiba saja di hempaskan begitu saja ke dasar bumi oleh wanita itu.

__ADS_1


"Aku sudah mencegah mu tadi." sanggah Olive.


"Kamu tega sekali sama aku, sayang." keluh Ricko sembari beranjak dari ranjangnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Itu baru permulaan, sayang. Sepertinya aku akan membuatmu semakin tergila-gila padaku hingga kamu tidak akan pernah sanggup untuk pergi." gumam Olive.


Beberapa saat kemudian saat Ricko baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sebatas perutnya, tiba-tiba pintu kamar Olive terbuka.


"A-apa yang sedang kalian lakukan ?" teriak Ariana saat melihat Ricko hanya mengenakan handuk, sedangkan Olive nampak berantakan di atas kasur.


Meski wanita itu mengenakan piyama tidur, tapi penampilannya yang acak-acakan serta tempat tidur yang berantakan. Membuat Ariana dan Demian langsung berpikir yang tidak-tidak.


"Mommy, Daddy ?" teriak Ricko dan Olive bersamaan.


Mereka nampak terkejut dengan kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba itu.


"Kalian tidur bersama ?" tuduh Demian dengan menatap Ricko dan Olive bergantian.


"Kami tidak berbuat apa-apa, Dad." sanggah Olive, sembari melangkahkan kakinya mendekati sang ayah.


"Benarkan Rick, kita tidak berbuat apa-apa kan ?" imbuhnya lagi sembari menatap Ricko.


Sedangkan Ricko dengan cueknya hanya mengedikkan bahu dan itu membuat Olive langsung geram lalu mendekati pria tersebut.


"Katakan Rick, kalau kita memang tidak ngapa-ngapain." protesnya seraya memukuli tubuh suaminya itu.


Ricko yang terkekeh langsung mencekal tangan sang istri agar berhenti memukulinya.


"Kamu...." Olive terlihat sangat kesal, ingin sekali ia menendang suaminya itu keluar angkasa.


"Astaga Ricko, apa yang kamu lakukan? Mommy dan Daddy memang sengaja menyuruhmu pulang, agar kalian bisa dekat lagi tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menidurinya." Ariana terlihat kesal, ia nampak memukuli putranya tersebut.


"Sakit, Mom." Ricko langsung mengaduh kesakitan.


"Makanya kalau memang cinta itu di perjuangkan, bukan kabur seenaknya." Ariana semakin membabi buta memukulinya.


"Ampun, mom." Ricko nampak mendesis kesakitan.


"Pokoknya Mommy dan Daddy tidak mau tahu, secepatnya kalian harus menikah ulang." perintah Demian kemudian.


"Tapi Dad..." sela Olive.


"Keputusan Mommy sudah bulat, kalian harus segera menikah ulang." tegas Ariana, kemudian ia berlalu keluar dari kamar tersebut.


Ricko yang mendapatkan dukungan dari sang ibu langsung bersorak senang, sedangkan Olive sepertinya belum puas memberi pelajaran pada laki-laki itu.


"Ricko keluar, tidur di kamarmu sendiri." teriak Ariana saat Ricko belum juga mengikuti langkahnya.


Pria itu nampak mendengus kesal, namun ia segera keluar dari kamar tersebut.


Keesokan harinya....


"Olive, apa benar pak Ricko mau menikah ?"

__ADS_1


Olive yang baru datang langsung di serbu ketiga sahabatnya, Kevin, Michael dan Ali.


"Dapat berita dari mana ?" tanya Olive yang nampak terkejut, karena berita pernikahannya cepat sekali tersebar.


"Semua karyawan di sini sudah heboh, hanya saja kami belum mengetahui calon mempelai wanitanya." sahut Kevin.


Olive langsung menelan ludahnya, bagaimana ia akan menjelaskan pada mereka, karena yang mereka tahu selama ini ia adalah saudara tiri Ricko.


"Kira-kira pak Ricko akan menikah dengan siapa ya? perasaan beliau tidak pernah dekat dengan seorang wanita setelah putus dengan nona Sarah." ucap Michael penasaran.


"Mungkin kekasihnya yang di Amerika mungkin." timpal Michael.


"Sudah-sudah tidak usah di bahas, ngomong-ngomong apa ini ?" Olive langsung memutus rasa penasaran mereka dengan mengalihkan pembicaraan, ia nampak menunjuk bungkusan yang di bawa oleh pria keturunan arab yang bernama Ali itu.


"Ini ada titipan dari ibuku." Ali langsung menyerahkan bungkusan tersebut yang berisi kue kesukaan Olive.


"Terima kasih." dengan senang hati Olive langsung menerimanya.


"Kalau kamu menjadi istriku nanti, ibuku pasti akan sering membuatkannya untukmu." tukas Ali dengan nada serius, sudah beberapa kali ia menembak Olive namun wanita itu selalu menolaknya dengan halus.


"Al..." lagi-lagi Olive merasa tidak enak dengan pria itu.


"Ku mohon Liv, beri aku kesempatan sekali saja." mohon Ali dengan menggenggam tangan Olive.


"Al.." Olive nampak menjeda ucapannya saat mendengar deheman dari seseorang.


Ehmmm


"Ricko...." Olive langsung menelan ludahnya saat Ricko menatap nyalang ke arahnya, apalagi saat melihat tangannya di genggam oleh Ali.


"Apa kantor ini sudah beralih fungsi sebagai tempat pacaran ?" cibir Ricko dengan mengeraskan rahangnya.


"Maaf pak, kami permisi." Michael dan Kevin segera melipir ke ruangannya masing-masing sebelum kena semprot atasannya tersebut.


Sedangkan Ali masih bergeming di tempatnya dengan menggenggam tangan Olive.


"Maaf Rick, aku tahu kamu adalah atasan di kantor ini tapi di luar kita adalah sahabat sejak sekolah. Jujur sejak lama aku menyukai Olive, jadi ku mohon restui hubungan kami." tukas Ali memohon pada Ricko.


Ricko yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya, giginya nampak gemeretak seakan ingin mengunyah sahabatnya itu hidup-hidup.


"Al, aku belum bilang akan menerima mu." protes Olive.


"Tidak masalah itu Liv, asal saudara mu ini merestui kita." Ali nampak percaya diri, namun tanpa ia tahu ada singa kelaparan yang siap menerkamnya.


"Kembali ke ruangan masing-masing, saya sedang sibuk." tegas Ricko menatap Olive dan Ali bergantian.


"Baiklah kita profesional, setelah jam kerja usai kita bicarakan lagi." tukas Ali, kemudian ia kembali ke dalam ruangannya.


Sedangkan Olive nampak mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat dingin.


"Jelaskan di ruangan saya." perintah Ricko kemudian, setelah itu ia berlalu menuju lift.


"Mati aku." Olive nampak menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2