
"Sebelum kita bercerai, mau kah kamu menemaniku tidur. Aku ingin mengenang saat terakhir menjadi istrimu." mohon Monica.
Demian nampak menatap Monica geram, namun ia harus menghadapi wanita itu tanpa emosi. Bagaimana pun juga ia ingin bercerai secara baik-baik untuk menjaga mental Olive.
"Pernikahan kita adalah sebuah kesalahan Mon dan aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku yang sebenarnya. Jadi apa yang mau kamu kenang? lebih baik mari kita akhiri semuanya." tegas Demian.
"Mas." Monica nampak menitikkan air matanya.
Demian yang melihat Monica sangat berantakan ia langsung membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Aku menyayangimu hanya sebatas sahabat, Mon. Karena sejak dulu hanya Ariana yang ku cintai." ucap Demian, kemudian ia segera mengurai pelukannya.
"Kamu masih sangat cantik, di luar sana pasti banyak lelaki baik yang menginginkanmu atau kamu bisa memulai membuka hatimu untuk ayah kandungnya Olive." ucap Demian lagi seraya menatap Monica,
Selama ini Demian bukan tidak tahu perbuatan Monica di belakangnya yang diam-diam sudah menjalin hubungan dengan Leo ayah kandungnya Olive, meski hubungan mereka hanya sebatas partner ranjang.
Demian hanya mencari waktu yang tepat untuk membuka semuanya dan jika memang Monica mempersulit perceraiannya. Mau tak mau dia harus membuka aib rumah tangganya ke publik meski korbannya nanti adalah Olive.
Sedangkan Monica nampak menelan salivanya, ia tidak menyangka suaminya itu mengetahui perselingkuhannya dengan Leo.
"Sejak kapan kamu tahu ?" tanyanya.
"Sudah lama, maafkan aku mungkin ini salahku juga tapi kamu tahu kan kalau perasaan itu tidak bisa di paksa." sahut Demian.
"Maafkan aku mas, aku terlalu egois selama ini. Aku pikir dengan membuatmu menjadi milikku kita akan bahagia tapi nyatanya justru kita sama-sama tersiksa." ujar Monica dengan tersenyum miris.
"Aku juga minta maaf belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu." Demian nampak menepuk lembut lengan Monica.
Sedangkan Monica nampak menghela napasnya dengan berat, sungguh hatinya sangat perih saat ini.
"Aku sudah menghubungi pengacaraku untuk mengurus perceraian kita, mas." ucapnya kemudian.
"Terima kasih." sahut Demian.
"Baiklah kamu boleh pergi, lupakan permintaan konyolku tadi dan secepatnya aku akan membereskan barang-barangku dan pergi dari rumah ini." ucap Monica.
Demian nampak mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru rumahnya tersebut, rumah mewah hadiah pernikahan dari orangtuanya dulu.
Hampir tidak ada kenangan indah di sana, kecuali hari-harinya bersama Olive.
"Kamu tetap tinggal lah di sini bersama Olive, ini rumah kalian." ujar Demian.
"Terima kasih, mas."
Demian langsung mengangguk. "Baiklah aku harus pergi, jaga Olive baik-baik." ucapnya.
__ADS_1
"Apa aku boleh memelukmu sebagai tanda perpisahan ?" mohon Monica.
Demian yang akan melangkahkan kakinya pergi, nampak mengangguk pelan.
"Kamu harus bahagia, mas." ucap Monica sembari memeluk Demian.
"Kamu juga." sahut Demian seraya menepuk punggung Monica, setelah itu ia mengurai pelukannya dan segera meninggalkan kediamannya tersebut yang sudah ia tempati selama 8 tahun ini.
Demian segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Ariana, janjinya untuk pulang secepatnya sepertinya tak bisa ia tepati.
Sesampainya di rumah Demian segera masuk ke dalam kamar sang putra, bocah kecil itu nampak tertidur pulas.
"Maafkan ayah ya Nak, ayah janji mulai saat ini ayah akan lebih memperhatikan kamu." gumam Demian seraya mengecup dahi putranya tersebut dan setelah itu ia meninggalkan kamar tersebut.
Demian segera masuk ke dalam kamar Ariana, kamar tersebut nampak temaram. Sepertinya penghuni kamar tersebut sudah terlelap tidur.
Demian langsung membersihkan dirinya, ia merasa badannya sangat lengket setelah seharian menemani Olive jalan-jalan.
Setelah itu ia segera merebahkan tubuhnya di samping Ariana. "Maafkan aku karena telat pulang." gumamnya seraya mengecup dahi Ariana.
Kemudian ia langsung merengkuh tubuh wanitanya itu ke dalam pelukannya dan tak berapa lama ia juga ikut terlelap.
Keesokan harinya......
Ariana nampak mengerjapkan matanya ketika alarm di ponselnya berdering nyaring.
Ariana mengerjapkan matanya, kemudian ia menoleh ke sampingnya nampak Demian masih tertidur lelap sembari memeluknya.
"Jam berapa dia pulang semalam ?" gumam Ariana seraya menatap Demian.
Setelah itu dengan pelan ia mengangkat tangan Demian yang sedang memeluknya. Kemudian ia segera beranjak dari ranjangnya tersebut.
Ariana tidak ingin melewatkan membuat sarapan buat putranya dan Demian tentunya.
Dengan mata yang masih mengantuk, Ariana melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, Ariana tak sengaja melihat kemeja dan celana kotor milik Demian di atas ranjang cucian.
Kemudian di ambilnya pakaian tersebut untuk ia masukkan ke dalam keranjang cucian tersebut, namun tak sengaja Ariana mencium sebuah parfum yang nampak asing di indera penciumannya.
Parfum dengan wangi lembut itu ia yakini milik seorang perempuan, namun Ariana tidak tahu itu parfum siapa hingga bisa menempel di kemeja Demian.
Tak mau berspekulasi terlalu jauh, Ariana segera memasukkan pakaian tersebut ke dalam keranjang cucian. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandinya tersebut.
Setelah itu Ariana nampak sibuk di dapur di bantu oleh ARTnya menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
"Semalam tuan pulang jam berapa, bik ?" tanya Ariana pada ARTnya tersebut.
"Hampir jam 12 malam, Nya." sahut ARTnya tersebut.
"Malam sekali, memang dia habis dari mana? tidak mungkin kan dia menemani Olive hingga larut malam."
Ariana nampak termenung, ingin sekali ia mempercayai Demian tapi wangi parfum di kemeja yang dia temukan tadi membuatnya jadi tak tenang.
Sedangkan Demian yang baru menuruni anak tangga nampak mengulas senyumnya ketika melihat Ariana di dapur.
Laki-laki itu langsung mengibaskan tangannya agar ARTnya tersebut segera meninggalkan mereka.
Kemudian Demian segera melangkahkan kakinya mendekati Ariana, lalu memeluk wanitanya itu dari belakang.
"Pagi, sayang." ucapnya seraya mencuri kecupan di tengkuk wanita itu.
Rambut Ariana yang di cepol ke atas membuat Demian bebas mengeksplor leher jenjangnya tanpa terhalang rambut.
"Mas." Ariana tersentak kaget.
"Kenapa kamu meninggalkan ku di kamar sendirian, sayang ?" keluh Demian dengan manja.
"Mas, menjauhlah aku sedang sibuk." perintah Ariana dengan nada dingin.
Demian bukannya menjauh dia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas, bagaimana aku bisa memasak kalau kamu seperti ini." protes Ariana sembari melepaskan paksa tangan Demian yang melilit di perutnya.
Melihat Ariana yang bersikap ketus padanya, Demian langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, semalam aku pulang telat." ucapnya kemudian.
Demian tahu Ariana pasti sedang marah padanya karena semalam ia terlambat pulang.
"Hmm." Ariana hanya berdehem ria.
"Semalam setelah menemani Olive tidur, Monica mengajakku bicara." ujar Demian jujur.
"Hmm." lagi-lagi Ariana hanya menanggapinya dengan dehemannya dan itu membuat Demian kesal.
Laki-laki itu langsung memutar badan Ariana agar menghadap ke arahnya.
"Sayang, kami hanya bicara dan tidak melakukan apapun." ucapnya lagi.
"Benarkah ?" sahut Ariana datar.
__ADS_1
Ia ingin melihat seberapa jauh laki-laki itu berkata jujur padanya, karena dasar dari sebuah hubungan adalah sebuah kejujuran.
Dan Ariana bisa saja berpikir untuk mundur jika Demian tidak mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang laki-laki itu telah perbuat semalam hingga meninggalkan aroma parfum wanita di kemejanya.