
"Bagaimana keadaan menantu Papa, Dem ?" tanya tuan Anggoro ketika baru masuk ke dalam ruang IGD di mana Ariana sedang di periksa oleh dokter.
Laki-laki paruh baya itu nampak sangat khawatir ketika di hubungi oleh Demian beberapa waktu lalu.
Lantas ia mengajak istrinya untuk segera pergi ke rumah sakit.
"Tadi perasaan baik-baik saja." ujar nyonya Anggoro yang melihat Ariana terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya ?" tanya Demian ketika dokter baru selesai memeriksa Ariana.
"Berdasarkan pemeriksaan saya, sepertinya istri anda sedang hamil saat ini tapi untuk lebih jelasnya lagi silakan bapak membawanya ke dokter spesialis kandungan." ujar Dokter tersebut memberi saran.
"Benarkah Dok, jadi istri saya hamil ?" Demian terlihat antusias.
"Benar pak."
Setelah itu Demian segera membawa Ariana ke dokter spesialis kandungan yang ada di rumah sakit itu juga.
"Jadi bagaimana Dok, apa menantu kami benar-benar hamil ?" tanya tuan Anggoro tak sabar setelah berada di dalam ruangan dokter Obgyn.
"Benar pak, silakan anda melihat layar monitor itu. Ini kantong rahimnya ya dan sepertinya ada dua embrio disana." Dokter tersebut menjelaskan ketika melakukan USG pada bagian perut Ariana.
"Itu berarti cucu saya kembar, Dok ?" kali ini nyonya Anggoro yang bersuara, ada perasaan senang sekaligus sedih di hatinya. Mengingat ia dulu lahir dalam keadaan kembar, namun karena suatu hal saudara kembarnya itu meninggal dunia.
"Benar nyonya, cucu anda kembar."
"Tapi kenapa kecil sekali, Dok ?" tanya Demian tak mengerti.
Karena sebelumnya ia memang tidak pernah mengetahui seluk beluk tentang kehamilan, meski dalam pernikahannya terdahulu Monica pernah hamil tapi Demian sama sekali tak pernah menemaninya periksa ke dokter karena ia yakin janin wanita itu bukanlah anaknya.
"Ini baru 5 minggu, pak. Tentu saja sangat kecil, nanti dengan berjalannya waktu pasti akan semakin membesar."
"Nanti saya akan memberikan beberapa vitamin serta penguat kandungan dan usahakan ibu Ariana jangan terlalu lelah ya, perbanyak istirahat serta makan yang bergizi. Sedangkan untuk makanannya sendiri, usahakan semuanya di masak dengan benar-benar matang ya." nasihat dokter tersebut.
"Baik Dok, terima kasih." ujar Demian bahagia, ia tak henti-hentinya mencium sang istri karena sudah memberikannya dua anak sekaligus padanya.
"Lalu bagaimana dengan kram yang di rasakan oleh istri saya, Dok ?" tanya Demian khawatir.
"Itu reaksi normal rahim ya pak ketika sedang mendapatkan sebuah rangsangan, jadi sebisa mungkin jika ingin berhubungan badan lakukan dengan sangat pelan." sahut Dokter tersebut yang langsung membuat Demian menelan ludahnya.
"Dasar anak kurang ajar, hampir saja kamu menyakiti cucu-cucuku." tegur tuan Anggoro pada Demian.
"Tenanglah Pa, jangan khawatir setelah itu masih banyak kok cucu papa yang akan on the way." sahut Demian membela diri.
"Apa kamu bilang, wanita manalagi yang kamu hamili ?" geram tuan Anggoro.
__ADS_1
"Tidak ada wanita lain Pa, aku sama istriku sudah sepakat akan memberikan kalian banyak cucu. Benarkan sayang ?" bela Demian lantas menatap sang istri meminta persetujuannya.
Sedangkan Ariana hanya menanggapinya dengan mengulas senyumnya.
"Jadi apa jenis kelamin anak kembar kami, Dok ?" tanya Demian yang langsung membuat semua orang di sana menatapnya.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu, bukannya kalian juga penasaran dengan jenis kelamin mereka." imbuhnya lagi ketika kedua orangtuanya itu menatapnya tajam.
"Untuk sekarang belum bisa di lihat ya pak karena masih berupa embrio, setelah menjadi janin dan berusia 4 bulan baru alat kami bisa mendeteksinya." ujar Dokter sembari tersenyum.
"Oh begitu, baiklah Dok saya mengerti. Apa istri saya perlu di rawat di sini ?" ucap Demian lagi.
"Tidak perlu pak, setelah meminum obatnya ibu Ariana pasti akan baik-baik saja." sahut Dokter tersebut.
"Baik Dok, terima kasih."
Dan beberapa saat kemudian setelah Ariana merasa lebih baik, mereka segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Aku akan menggendongmu." ucap Demian ketika mereka baru sampai Mansion.
"Tidak perlu Mas, aku bisa jalan sendiri." tolak Ariana, tapi Demian langsung saja mengangkat tubuhnya lalu membawanya masuk ke dalam Mansion.
"Dasar manja." gerutu nyonya Anggoro sinis.
Nyonya Anggoro nampak terdiam, ia sebenarnya sangat senang karena akan mempunyai cucu lagi apalagi itu dua sekaligus.
Namun hati kecilnya masih belum bisa benar-benar menerima Ariana sebagai menantunya. Apalagi melihat Demian begitu perhatian pada wanita itu, membuatnya sedikit cemburu.
Keesokan harinya....
"Sayang, apa mau ku bawakan sarapannya kesini ?" ucap Demian ketika baru selesai mengenakan pakaian kerjanya.
"Kita sarapan di bawah saja, Mas." tolak Ariana.
"Tapi kamu harus istirahat, sayang."
"Aku hanya hamil Mas, bukan sakit. Aku masih kuat kok naik turun tangga."
"Baiklah, jangan capek-capek ya sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Demian menatap khawatir sang istri.
"Hm, ayo." ajak Ariana kemudian.
Sesampainya di meja makan, nampak kedua orangtuanya beserta Ricko sudah duduk di sana.
Ariana nampak terperangah ketika melihat menu sarapan pagi itu, biasanya hanya ada beberapa potong roti bakar dan sandwich.
__ADS_1
Namun pagi itu nampak olahan daging ayam dan ikan terhidang di sana, hingga membuat Ariana menelan salivanya berkali-kali.
"Ayo makanlah sayang, aku sengaja menyuruh koki masak ini semua buat kamu. Melihat bayi kita yang sebesar biji kacang aku merasa kasihan, jadi kamu harus makan yang banyak agar bayi kita cepat besar." perintah Demian seraya mengambilkan beberapa lauk ke dalam piring Ariana.
"Astaga Mas, bayi kita pasti akan besar sesuai dengan usianya. Lagipula ini baru 5 minggu lebih Mas, kamu jangan lebay deh." protes Ariana.
"Paling tidak, kamu harus makan banyak biar sehat." perintah Demian tak mau di bantah.
"Baiklah." sahut Ariana yang malas berdebat, lebih baik dia segera makan karena perutnya tiba-tiba keroncongan. Oh astaga entah kedua janinnya atau cacing-cacing di perutnya yang kini pada demo minta diberi makan.
Namun nafsu makannya tiba-tiba hilang ketika melihat sendok dan peralatan makan lainnya, tapi apa boleh buat semenjak tinggal di rumah besar tersebut ia di wajibkan menggunakan berbagai macam peralatan makan kalau tidak ibu mertuanya itu pasti akan marah.
"Sayang, kenapa di aduk-aduk saja makanannya ?" tegur Demian saat melihat istrinya itu tak memakan makanannya.
"Aku kenyang, Mas." sahut Ariana.
"Kamu hanya makan sedikit bagaimana bisa kenyang, sayang? mau ku suapi ?"
Ariana menggelengkan kepalanya. "Aku bisa makan sendiri kok." tolaknya lalu ia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Baru beberapa sendok, perutnya seakan di aduk-aduk. Kemudian ia segera beranjak dari duduknya lalu berlari menuju kamar mandi.
"Apa kamu baik-baik saja ?" Demian nampak memijit tengkuk Ariana saat wanita itu memuntahkan isi perutnya.
"Hm." Ariana hanya mengangguk.
Kemudian mereka kembali ke meja makan. "Apa kamu menginginkan makanan yang lainnya, sayang ?" ucap Demian.
Ariana menggelengkan kepalanya.
"Apa dulu waktu hamil Ricko kamu juga seperti ini ?" tanya Demian.
"Hm, awalnya sih nggak tapi setelah tinggal di kampung hampir dua bulan tidak bisa bangun tapi aku bersyukur ada mbak Widya waktu itu." sahut Ariana.
"Maafkan aku, sayang." Demian nampak menyesal.
"Aku baik-baik saja, Mas. Dulu setelah melewati trisemester pertama aku sudah bisa bekerja lagi kok, membuat banyak kue dan lumayan hasilnya bisa ku tabung untuk lahiran Ricko." ucap Ariana seraya menatap Ricko, mengingat bagaimana perjuangannya dulu saat hamil putranya tersebut dan itu membuat Demian semakin merasa bersalah.
Sedangkan Ricko nampak terdiam, masih teringat jelas di ingatannya bagaimana ibunya itu bekerja keras demi dirinya.
"Ricko sangat bangga pada Mommy." ucapnya dengan tulus yang langsung membuat Ariana berkaca-kaca menatapnya.
"Maafkan kami Nak, seandainya waktu itu kami tahu kehamilan mu. Kamu tidak perlu berjuang terlalu keras." ujar Tuan Anggoro penuh penyesalan.
"Lagipula kamu sudah tahu hamil, kenapa tidak memberitahu Demian dan malah meninggalkan kota ini ?" gerutu tuan Anggoro, namun itu sukses membuat nyonya Anggoro tersedak makanannya.
__ADS_1