Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~166


__ADS_3

Dena yang hampir terlelap nampak merasakan tangan kekar sedang memeluk pinggangnya, ia tahu itu pasti suaminya.


Ia nampak mengulas senyumnya, namun ia harus sedikit jual mahal. Ia ingin melihat bagaimana laki-laki itu merayunya.


"Kok sudah tidur sayang? kenapa tidak menungguku dulu ?" ucap Edgar seraya menelusupkan wajahnya di leher istrinya itu.


Dena nampak menahan geli, namun ia harus bertahan dengan sandiwaranya.


"Bangun dong sayang, aku kangen." bujuk Edgar lalu mencium pipi Dena.


"Sayang." ucapnya lagi saat tak ada reaksi dari wanita itu.


Namun Edgar tak kehilangan akal, ia tahu istrinya itu pasti masih marah karena dia tidak mengizinkannya untuk pulang.


Lalu Edgar menelusupkan tangannya masuk ke dalam piyama sang istri, ia nampak mengusap lembut perut ratanya kemudian naik lagi ke atas lalu meremas gundukan kenyal milik wanita itu dengan lembut dan memainkan puncaknya hingga membuat Dena mendesah tertahan.


Sungguh pertahanannya selalu lemah jika suaminya sudah mencumbunya, jantungnya terasa berdegup kencang seakan ingin keluar dari tempatnya.


Tidak, ia harus bertahan. Ia tidak boleh kalah sebelum laki-laki itu meminta maaf padanya dan mengizinkannya untuk pulang.


Merasa istrinya sangat keras kepala, Edgar nampak menurunkan tangannya lalu menelusupkan tangannya ke dalam milik wanita itu di bawah sana.


Mengusapnya dengan lembut lalu memainkan jari-jari nakalnya di sana hingga membuat pertahanan Dena runtuh.


"Sial." gumamnya dalam hati.


"Sayang, menjauhlah aku mengantuk." ketusnya kemudian.


Namun Edgar justru terkekeh melihat istrinya itu. "Kamu yakin menyuruhku menjauh, sayang ?" ucapnya menggoda dan jari-jari nakalnya masih saja bergerak aktif di bawah sana.


Dena nampak mendesah tertahan, kemudian ia langsung berbalik badan menghadap suaminya lalu meraup bibir laki-laki itu dengan rakus.


Sungguh suaminya itu selalu membuatnya gila, bagaimana mungkin ia bisa menjauh kalau hatinya sendiri selalu ingin mendekat.


Edgar yang merasa usahanya berhasil langsung membalas ciuman istrinya itu tak kalah rakus dan menuntut.


Beberapa hari berpisah dengan wanita itu ia sangat rindu, bagaimana jika ia benar-benar berpisah untuk selamanya ia pasti bisa mati.


Dengan perlahan Edgar melepaskan pakaiannya dan juga pakaian istrinya, lalu tanpa pemanasan lebih lanjut mereka langsung menyatukan tubuhnya.


Berbagi peluh menyalurkan hasrat serta rindu yang menggebu, meski kata cinta tak pernah terucap namun hati mereka saling menyatu.


"Sayang." desah Edgar saat merasakan nikmat yang luar biasa, nampak peluh keringat membasahi tubuhnya namun ia sedikitpun tak berhenti bergerak untuk memuaskan istrinya itu.


Seakan tiada hari esok atau mungkin ini akan menjadi hari terakhir baginya dan Edgar nampak enggan melepaskan istrinya itu.


Berkali-kali ia membuat wanita itu mendesah di bawahnya dan ia belum juga puas akan hal itu.

__ADS_1


"Sayang aku lelah." mohon Dena di tengah desahannya.


"Sebentar lagi sayang." Edgar nampak menghujamnya dengan keras dan cepat hingga ia mencapai puncaknya.


Tubuhnya nampak ambruk di atas tubuh istrinya, napasnya terengah-egah namun ia sangat puas.


"I love u, aku sangat mencintaimu sayang." ucapnya seraya menatap wajah istrinya yang nampak tak berdaya.


"Aku juga mencintaimu, sayang." sahut Dena dalam hati, ia sangat lelah bahkan untuk berkata-kata pun ia tak mampu.


Edgar yang melihat istrinya itu nampak memejamkan matanya, ia terlihat kecewa. Ia berharap wanita itu akan membalas perasaannya, namun dari sekian kali mereka bercinta ia merasa wanita itu tak pernah melibatkan perasaannya.


Menurutnya, Dena hanya menjalankan kewajibannya sebagai istri tanpa ada cinta di dalamnya.


Setelah mencium kening istrinya, Edgar segera beranjak dari atas tubuh wanita itu lalu memakai celana boxernya kembali.


Ia nampak melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya, kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi.


Matanya memandang langit yang nampak mendung malam itu, semendung hatinya saat ini.


Kenapa kisah cintanya selalu saja berakhir menyakitkan.


Keesokan harinya....


Dena nampak mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya. Ia nampak tersenyum saat mengingat bagaimana percintaannya semalam bersama suaminya itu.


Namun senyumnya langsung menyurut saat menatap suaminya itu sudah terlihat sangat rapi, padahal hari ini weekend.


"Kamu sudah bangun, hm ?" ucap Edgar seraya berjalan mendekat.


"Kamu mau kemana lagi ?" tanya Dena penasaran.


'Aku ada sedikit kerjaan sayang, hanya dua hari saja setelah itu aku akan membawamu dan anak kita pulang." sahut Edgar dengan memandang lekat istrinya itu.


"Tapi ini weekend sayang, masa kamu kerja juga ?' protes Dena, harapannya untuk berdua dengan laki-laki itu seharian pupus sudah.


"Aku tahu sayang tapi ini pekerjaan sangat penting, tolong mengertilah." mohon Edgar, tentu saja sangat penting karena hari ini ia akan menemui ayah mertuanya itu.


"Baiklah, tapi tidak lama kan ?" ucap Dena pada akhirnya.


Edgar nampak menatap lekat istrinya itu sebelum menjawabnya, rasanya ia ingin menatap wajah cantik itu lebih lama lagi seakan ini adalah terakhir kalinya ia akan melihatnya.


"Tentu saja." sahutnya kemudian.


"Baiklah, aku akan menunggumu." ucap Dena dengan mengulas senyumnya.


Edgar yang merasakan dadanya tiba-tiba sesak langsung memeluk istrinya itu, sungguh ia tidak ingin berpisah dengan wanita itu.

__ADS_1


"Jaga Elkan ya dan kamu jangan melakukan hal bodoh lagi." ucapnya.


"Iya, janji." sahut Dena dalam pelukan suaminya.


Setelah itu Edgar langsung mengurai pelukannya, kemudian ia mengecup bibir istrinya itu lalu sedikit melum😘tnya.


"Baiklah aku harus pergi sekarang." Edgar nampak menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tidak usah mengantarku." ucapnya lagi seraya menatap istrinya yang masih berantakan, wanita itu nampak melilitkan selimutnya sebatas dadanya untuk menutupi tubuh polosnya.


Kemudian Edgar segera melangkahkan kakinya meninggalkan istrinya itu.


"Sayang." panggil Dena saat suaminya hendak membuka pintu kamarnya.


"Ya ?" sahut Edgar menatapnya.


"Tidak apa-apa, hati-hati di jalan." sahut Dena kemudian.


Edgar nampak menganggukkan kepalanya, setelah itu ia berlalu pergi.


"Aku mencintaimu." ucap Dena seraya menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup kembali.


"Aku mencintaimu, sayang. Aku pasti akan mengatakannya setelah kamu kembali nanti." imbuhnya lagi.


Wajahnya nampak berbinar khas wanita yang sedang jatuh cinta, kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dena nampak menatap perut ratanya dari pantulan cermin di depannya itu, lalu ia mengusapnya dengan lembut.


"Semoga saja buah hati yang kamu nantikan akan segera hadir sayang, ini pasti akan menjadi kejutan yang indah untukmu." gumamnya.


Sementara itu Edgar yang baru keluar dari bandara bersama dengan Juno, ia langsung menuju kantor ayah mertuanya itu.


"Pagi, Pa." sapanya saat baru masuk ke dalam ruangan tuan Winata.


"Masuklah !!" perintahnya dengan ramah.


"Terima kasih, Pa." sahut Edgar seraya mendudukkan dirinya di seberang laki-laki itu.


"Ini dokumen kepemilikan 70% saham atas nama Dena." Tuan Winata langsung menyerahkan dokumen tersebut pada Edgar.


Kemudian Edgar nampak memeriksanya dengan teliti. "Lalu apa yang 30 persennya akan Papa berikan pada Sera ?" tanyanya kemudian.


"Tentu saja, dia juga anak saya. Meski ini tak adil untuknya, tapi mau bagaimana lagi kamu sudah menyelamatkan perusahaan saya jadi saya anggap 70% saham itu milikmu dan juga Dena." sahut Tuan Winata yang langsung membuat Edgar tersenyum sinis menatapnya.


"Apa Papa sangat yakin, kalau Sera itu anak kandung Papa ?" tanya Edgar kemudian.


"Apa maksud kamu ?" geram tuan Winata.

__ADS_1


__ADS_2