Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~230


__ADS_3

Pagi itu dengan sabar Olive memeriksa pekerjaannya sekali lagi, ia terlihat fokus agar tidak ada satu pun kesalahan.


Sedangkan Ricko yang sedang duduk di kursi kerjanya, nampak diam-diam memperhatikannya.


"Saya sudah selesai memeriksanya, pak." Olive menatap Ricko yang kebetulan pria itu juga sedang menatapnya.


"Oh ya taruh saja di atas meja." sahut Ricko salah tingkah, ia langsung menatap layar komputernya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." ucap Olive setelah meletakkan tumpukan berkas di atas meja kerja atasannya tersebut.


"Tunggu." panggil Ricko saat Olive akan meninggalkan ruangannya.


"Ya pak apa ada lagi yang bisa saya bantu ?" tanya Olive menatap Ricko.


"Hm, buatkan jus jeruk." perintah Ricko kemudian.


"Baik pak, saya akan menyuruh OB membuatnya untuk anda." sahut Olive.


"Kamu saja yang membuatnya." perintah Ricko lagi.


"Tapi..."


"Saya tidak suka di bantah, mengerti ?" tegas Ricko dengan kata-kata andalannya untuk menekan setiap karyawannya.


"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi." sahut Olive kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Ricko yang melihat kepergian Olive nampak mengulas senyum tipisnya, kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya.


"Sebenarnya aku sekretarisnya pak Dean apa pembantunya dia sih, benar-benar menyebalkan." gerutu Olive saat berada di pantry.


Kemudian ia nampak tersenyum jahil. "Sepertinya setelah ini Ricko akan kapok menyuruhku." gumamnya terkikik seraya menaruh dua sendok garam penuh pada jus jeruk yang baru ia buat.


Setelah itu ia segera berlalu menuju ruangan Ricko kembali. "Silakan, Jeruk spesial buat bapak." ucapnya menyerahkan segelas jeruk pada Ricko.


"Apa ini enak ?" tanya Ricko yang nampak menelan ludahnya saat merasakan tenggorokannya tiba-tiba kering.


"Saya kurang tahu pak, sepertinya sih enak. Saya menambahkan dua sendok teh gula." sahut Olive.


Ricko yang tak sabar langsung meminumnya, namun ia langsung menyemburkannya kembali saat merasakan teramat asin di lidahnya.


"Apa kamu ingin meracuni saya ?" hardiknya dengan kesal.


"Bapak kok tega banget sih melakukan itu pada saya." Olive menatap blousenya yang terlihat basah kuyup karena di sembur oleh bossnya tersebut.


Sedangkan Ricko yang melihat itu nampak melotot, blouse yang Olive kenakan terlihat basah hingga membuat gundukan kenyalnya tercetak jelas dari balik cup penutupnya.


"Sialan." Ricko langsung mengalihkan pandangannya.


"Kamu sebenarnya becus nggak sih membuat jus, apa kamu tidak bisa membedakan mana gula dan mana garam ?" tegurnya kemudian tanpa menatap Olive, ia nampak melangkahkan kakinya menuju jendela kaca untuk melihat pemandangan kota.

__ADS_1


"Saya tidak tahu pak, saya tidak pernah memasak." dusta Olive.


"Kamu itu perempuan harus bisa memasak, bagaimana nanti kalau kamu mempunyai suami." tegur Ricko masih dengan posisinya membelakangi Olive.


"Kan bisa beli pak." sahut Olive yang langsung membuat Ricko berbalik badan menatapnya, namun ia langsung memalingkan wajahnya lalu duduk di kursi kerjanya kembali.


Melihat Olive dengan pakaian basah seperti itu hanya akan membuat jiwa kelelakiannya memberontak.


"Keluar dari sini dan ganti pakaianmu dengan yang sopan." perintahnya kemudian tanpa melihat ke arahnya.


"Baik pak, saya akan membeli dulu di butik seberang kantor ini." sahut Olive.


"Kalau begitu saya permisi dulu." imbuhnya kemudian, ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan bossnya tersebut.


"Tunggu !!" teriak Ricko.


"Ya pak ada apalagi ?" tanya Olive berbalik badan.


"A-apa kamu akan keluar dengan pakaian basah seperti itu ?" tanya Ricko, napasnya nampak tercekat saat melihat dada Olive yang terlihat menggoda.


"Iya pak." sahut Olive dengan polos, baginya pakaian basah itu tak masalah namun ia tak pernah tahu pikirin kotor para lelaki saat melihatnya.


"Tunggu di sini, aku akan menyuruh orang untuk membelikannya." perintah Ricko kemudian.


"Sial, bagaimana kalau laki-laki di luar sana melihat itu." gerutunya dalam hati.


Sedangkan Olive segera mendudukkan dirinya di sofa, kemudian ia mengambil ponselnya lalu membalas pesan Dean yang belum sempat ia balas.


Beberapa saat kemudian, pak Jeff masuk ke dalam ruangan Ricko.


"Terima kasih, sekarang pak Jeff boleh pergi." ucap Ricko saat membuka ruangannya.


Pak Jeff yang menatap punggung seorang wanita di dalam ruangan CEOnya itu nampak penasaran, namun atasannya tersebut langsung menutup pintunya.


"Siapa wanita di dalam sana ?" tanyanya lirih pada Pras.


"Nona Olive, sekretarisnya tuan Dean." sahut Pras yang langsung membuat pak Jeff melebarkan matanya terkejut.


"Memang pak Jeff mengantar apa tadi ?" tanya Pras penasaran.


"Bukan apa-apa." sahut pak Jeff kemudian berlalu pergi meninggalkan penasaran di hati Pras.


"Semoga Olive baik-baik saja." gumam Pras menatap ruangan bossnya yang tertutup rapat itu.


"Cepat pakailah di kamar mandi, saya tunggu di luar." perintah Ricko seraya menyerahkan paper bag pada Olive.


"Terima kasih, pak." sahut Olive.


Setelah Ricko keluar dari ruangannya, Olive segera mencari kamar mandi di dalam ruangan tersebut. Di sana nampak ada dua pintu namun semua tak bisa di buka, mungkin saja terkunci.

__ADS_1


"Ganti di sini sajalah, sepertinya tidak ada cctv." gumam Olive seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut yang tak terlihat keberadaan kamera pengintai.


Akhirnya Olive ganti pakaian di sana, setelah ia mengunci ruangan tersebut pastinya.


Pria itu memberinya satu stel pakaian kerja, beserta bra yang langsung membuat wajahnya memanas melihat benda berenda itu.


Kemudian ia segera menanggalkan pakaiannya satu persatu hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.


Sedangkan Ricko yang kini berada di ruang kerja Dean nampak menelan ludahnya saat melihat layar cctv ruangannya melalui ponselnya.


"Apa gadis itu bodoh, aku suruh ganti di kamar mandi kenapa ganti di situ." gerutunya namun matanya nampak enggan untuk berpaling.


Sebagai laki-laki normal, ia begitu tertarik dengan pemandangan di dalam ruangannya tersebut.


Ia memang sengaja menyembunyikan cctv di sana dan hanya dia dan pak Jeff yang tahu keberadaannya.


Ricko nampak menahan napasnya saat melihat bagaimana seksinya Olive, wanita itu telah berhasil membangkitkan gairahnya.


"Sial."


Ricko nampak mengacak rambutnya dengan kasar, ia sekarang jadi mengerti kenapa ibunya itu menyuruhnya untuk cepat menikah.


Ternyata menahan gairah itu sangat menyiksanya dan mungkin sang ibu takut jika dirinya akan melampiaskan dengan wanita jal@ng di luar sana.


Beberapa saat kemudian Olive terlihat rapi dengan pakaian kerja barunya, setelah itu dia segera keluar dari ruangan tersebut.


"Apa pak Ricko menghukummu, sejak mengantar minuman untuk beliau kamu nggak keluar-keluar ?" tanya Pras khawatir.


"Pak Ricko menyemburkan minumannya ke bajuku." sahut Olive.


"Pantas kamu ganti pakaian." ucap Pras, sekarang dia tahu yang di bawa oleh pak Jeff tadi adalah bajunya Olive.


"Kenapa dia melakukan itu ?" imbuhnya lagi dengan penasaran.


"Aku mencampur jus jeruknya dengan garam." sahut Olive cuek.


"Apa? oh astaga Olip kamu cari mati saja, kenapa kamu melakukan itu ?" tegur Pras.


"Habisnya dia mengerjaiku, jadi ku kerjain balik." sahut Olive sembari terkekeh puas.


"Benar-benar cari mati kamu." Pras nampak geleng-geleng kepala.


"Aku tidak akan mati, kalau kamu bisa menjaga mulutmu." cibir Olive menatap Pras.


"Baiklah, kamu tenang saja." sahut Pras.


Namun tanpa mereka tahu, Ricko yang baru keluar dari ruangan Dean nampak mendengar percakapan kedua karyawannya tersebut.


"Kurang ajar, sepertinya gadis itu benar-benar cari masalah. Tunggu hukuman dariku."

__ADS_1


__ADS_2