Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~216


__ADS_3

Setelah menikah, keesokan harinya Sera dan anak-anaknya di boyong ke kediaman Martin. Mulai saat ini mereka akan tinggal di sana dan anak-anaknya juga akan pindah sekolah di kota.


Wanita itu berusaha untuk beradaptasi dengan rumah tersebut yang menurutnya sedikit menyeramkan dengan warna hitam dan silver yang mendominasi.


Sebenarnya ia ingin merenovasi ulang rumah tersebut, namun sampai saat ini ia masih takut untuk bilang pada suaminya. Ia masih belum memiliki kendali terhadap laki-laki itu.


Pria itu masih sulit di tebak karakternya, kadang lembut kadang juga sangat tegas padanya.


"Mas." Sera terlihat senang saat Martin baru pulang ke rumahnya malam itu.


Setelah menikah waktu itu, keesokan harinya pria itu langsung pergi keluar kota karena urusan pekerjaan.


Dan sejak tiga hari lalu laki-laki itu baru kembali sekarang, bahkan saat dirinya pindahan ke rumah ini Mattew yang mengurusnya.


"Mas ?" Martin yang sedang melepaskan kancing kemejanya nampak mengernyit mendengar panggilan istrinya itu.


"Iya Mas, bukannya waktu itu kita sudah sepakat aku akan memanggilmu seperti itu." sahut Sera sembari mendekati suaminya.


Wajahnya nampak merona saat pria itu menarik tangannya lalu membawanya ke dalam pelukannya, mengecup keningnya, kedua pipinya lalu berakhir di bibir tipisnya.


"Aku lebih suka kamu panggil sayang atau Daddy, sepertinya itu lebih romantis." perintah Martin seraya menatap lekat istrinya tersebut.


"Baiklah, Daddy." ingin sekali Sera memanggilnya sayang tapi bibirnya terasa keluh.


Dahulu kala ia tak pernah canggung memanggil mantan-mantan kekasihnya dengan panggilan sayang, tapi sekarang rasa malunya jauh lebih besar.


"Itu lebih baik, padahal aku ingin kamu memanggilku sayang." ucap Martin pura-pura kecewa.


"Tanpa memanggil seperti itu aku tetap sayang kok sama kamu." rayu Sera.


"Benarkah ?" Martin menaikkan sebelah alisnya.


"Hm, kalau tidak aku tidak akan menerima pinanganmu waktu itu." sahut Sera.


"Baiklah, kalau begitu buktikan kalau kamu sayang padaku." tantang Martin.


Sera yang merasa tertantang langsung berjinjit lalu mengecup bibir suaminya itu.


Martin yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, nampak memegang tengkuk sang istri lalu memperdalam ciumannya.


Mereka saling *****@* dan menyesap satu sama lainnya dan dengan sekali hentakan Martin membawa wanita itu ke atas ranjangnya.


"Daddy, aku belum selesai." Sera mencoba mengingatkan ketika suaminya mulai melucuti pakaiannya karena ia masih mendapatkan tamu bulanannya saat ini.


"Tipis-tipis saja, sayang." ucap Martin.

__ADS_1


Pria itu nampak tak mengindahkan ucapan sang istri, lagipula mereka sudah halal dan tubuh wanita itu sepenuhnya miliknya.


"Ah, Daddy." Sera nampak mendes@h saat kulit mulusnya mendapatkan beberapa kissmark dari suaminya.


Puas bermain-main di leher istrinya, Martin mulai menurunkan ciumannya dan berhenti di depan gundukan indah milik wanita itu yang kini sudah polos tanpa penutupnya.


Dengan rakus ia memainkannya dan melahapnya seperti bayi yang sedang kehausan.


"Daddy." Sera nampak mendesah tak karuan, namun saat Martin menjauhkan wajahnya ia merasa kecewa karena kenikmatan yang ia rasakan seakan di tarik darinya.


"Daddy, kamu mau ngapain ?" Sera melebarkan matanya saat melihat suaminya itu melucuti celananya sendiri hingga menyisakan dalam@nnya saja.


Semoga saja pria itu tak memaksakan kehendaknya saat dirinya sedang mendapat tamu bulanan seperti sekarang, meski ia juga sangat menginginkannya.


Sungguh Sera belum mengenal suaminya dengan baik, selama ini yang dia tahu hanya sifat brutal laki-laki itu saja.


Kini ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Martin tidak menyakitinya seperti dulu kala.


"Tipis-tipis saja, sayang. Nikmati dan mendes@hlah untukku." sahut Martin lalu mulai mengungkung kembali tubuh istrinya itu.


Sera yang ketakutan duluan, nampak memejamkan matanya. Namun tak berapa lama ia membuka matanya kembali saat miliknya di bawah sana terasa tergesek oleh sesuatu yang mengeras namun terasa nikmat.


Pria itu ternyata tahu bagaimana mendapatkan kepuasan dengan cara lain tanpa memasuki dirinya, apa seperti ini juga yang di lakukan pada Helena dulu.


Memikirkan hal itu, ia tiba-tiba merasa cemburu tapi ia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran toxic tersebut yang hanya akan merusak mentalnya.


Meski tidak berhubungan secara langsung, mereka nampak saling menikmati pergumulannya di atas ranjang tersebut hingga Martin sampai pada puncaknya.


"Sayang, berapa hari lagi selesai ?" tanyanya dengan napas tersengal.


"Mungkin tiga hari lagi." sahut Sera.


"Apa tidak bisa lebih cepat lagi ?" tanya Martin lagi yang nampak belum puas.


"Tidak bisa." sahut Sera sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, ia takut suaminya akan menerkamnya lagi.


"Baiklah, pelit banget kamu." gerutu Martin seraya bangkit dari ranjangnya.


"Hah." Sera nampak melebarkan matanya saat di katai pelit oleh pria itu.


"Daddy, memang dari sananya seperti itu." imbuhnya lagi seraya menatap suaminya yang berlalu ke kamar mandi.


"Istri pelit akan mendapatkan hukumannya sayang, lihat saja nanti ku pastikan nanti kamu tidak akan bisa berjalan." sahut Martin dari dalam kamar mandi.


Laki-laki itu sepertinya sedang membersihkan dirinya, karena terdengar suara shower sedang menyala.

__ADS_1


"Hah, apaan sih." gerutu Sera, ia segera memunguti pakaiannya lalu bergegas memakainya sebelum suaminya itu selesai mandi lalu menerkamnya kembali.


Setelah itu ia segera berlalu keluar untuk menyiapkan makan malam, meski sudah ada pelayan ia selalu memastikan anak-anaknya makan dengan baik dan benar.


Beberapa hari kemudian....


Setelah satu minggu lebih menjadi istri Martin, Sera baru tahu jika suaminya itu laki-laki yang sangat sibuk.


Martin selalu pergi pagi dan pulang hingga larut malam, kebersamaannya dengan anak-anaknya hanya saat mereka sedang sarapan pagi dan di hari weekend saja.


Bahkan sudah dua hari ini pria itu tidak pulang ke rumahnya karena harus keluar kota mengurus pekerjaannya, padahal ini hari weekend yang harusnya mereka gunakan untuk quality time.


"Bunda, boleh kami tidur di sini." ucap Merry saat baru membuka kamar ibunya malam itu.


Di luar sedang hujan deras dengan petir saling bersahutan, mereka pasti sedang ketakutan saat ini.


"Boleh, ayo kemarilah." perintah Sera yang baru keluar dari kamar mandi dengan kimono mandi membalut tubuh rampingnya.


Keenam anak tersebut langsung menyerbu ranjang king size milik ibunya itu, mereka nampak tidur dengan posisi tak beraturan asal semuanya muat tidur di sana.


Sera yang melihat itu nampak tersenyum gemas, setelah memastikan mereka tidur dengan pulas. Ia segera mematikan lampunya dan menyalakan lampu tidur temaram.


"Selamat tidur sayang, semoga sampai besar kalian akan selalu rukun seperti ini." ucap Sera lalu mengecup bergantian anak-anaknya tersebut.


Setelah itu ia mengambil bantal dan selimut dari dalam lemari, lalu meletakkannya di sofa. Sepertinya malam ini ia akan tidur di sofa yang ada di kamarnya tersebut.


"Daddy, kapan pulang. Aku merindukanmu." gumam Sera sembari memejamkan matanya lalu tak berapa lama ia mulai mengarungi mimpinya.


Sementara itu di tempat lain, Martin yang baru pulang berbisnis di luar kota terpaksa menunda kepulangannya ke rumah lebih cepat karena salah satu relasinya mengajaknya bertemu saat ia baru mendarat.


Mereka nampak bertemu di sebuah club malam dengan beberapa wanita yang sudah berada di sana.


Namun Martin sama sekali tak berminat dengan mereka, bahkan menyentuh istrinya saja belum bagaimana ia bisa memikirkan wanita lain.


Sembari meeting, rekan-rekan bisnisnya itu nampak sesekali bercumbu mesra dengan wanita-wanita penghibur tersebut.


"Sialan."


Martin berkali-kali mengumpat saat melihat itu, sebagai pria normal dengan libid0 tinggi tentu saja ia juga menginginkan hal itu. Apalagi miliknya sudah lama berpuasa.


"Baiklah sepertinya sampai di sini saja, jika ada yang kurang jelas kalian bisa bertanya pada Mattew." ucapnya sambil mematikan puntung rokoknya, lalu meneguk minumannya hingga tandas.


Saat seorang wanita cantik hendak menuang lagi minuman ke dalam gelasnya, Martin langsung mengangkat tangannya hingga membuat wanita itu menatap kecewa.


"Ayolah bro, apa kamu tidak ingin mencobanya. Lihatlah mereka sangat seksi-seksi." bujuk temannya seraya menunjuk beberapa wanita berpakaian ketat dengan bagian dadanya menyembul setengah seakan mengundangnya untuk segera merem@snya.

__ADS_1


"Sial."


"Kalian saja, istriku sedang menungguku di rumah." tegas Martin kemudian bangkit dari duduknya lalu segera meninggalkan tempat terkutuk tersebut.


__ADS_2