
Demian nampak berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi.
Sejak kejadian tadi siang saat Dean menyelamatkan Ricko dari tabrakan, Demian segera membawa adiknya itu ke rumah sakit.
Ada perasaan bersalah di hatinya saat Dean yang sangat ia benci justru rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Ricko.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya ?" tanya Demian saat seorang dokter keluar dari ruangan operasi.
"Beliau adik anda ?" tanya dokter itu memastikan karena setahunya seorang Demian Anggoro hanya seorang anak tunggal.
"Benar dok dia adik kandung saya, jadi bagaimana keadaannya ?" tanya Demian tak sabar, ia tak peduli lagi dengan citra keluarganya.
Biarlah semua orang tahu bagaimana kehidupan keluarganya yang selama ini baik-baik saja, jauh dari gosip. Pada nyatanya memiliki skandal besar di dalamnya.
Bagi Demian saat ini keselamatan adiknya jauh lebih penting dan ia bersumpah akan selalu melindungi bocah remaja tersebut.
Karena adiknya itu sudah mengajarinya bagaimana sesungguhnya seorang saudara itu bersikap. Seorang saudara akan rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan saudara lainnya.
"Kami memang sudah berhasil melakukan operasi, tapi maaf tiba-tiba kondisi adik anda menurun dan beliau sekarang koma." sahut Dokter tersebut bersimpati.
"Tidak, tolong lakukan apapun yang terbaik untuknya dok." mohon Demian.
"Tim medis kami akan berusaha semaksimal mungkin tuan dan bantu kami juga dengan doa." sahut Dokter tersebut, setelah itu beliau pamit pergi.
"Maafkan aku." ucap Demian saat masuk ke dalam ruangan ICU dimana Dean sedang di rawat.
Nampak jarum infus menancap di punggung tangannya, serta selang oksigen di hidungnya. Hanya bunyi alat pengatur detak jantung yang terdengar memenuhi kamar tersebut.
"Bangunlah bodoh, tidak seharusnya kamu melakukan ini." ucap Demian pada Dean yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Kepalanya dibungkus dengan perban serta tangan dan kakinya juga, sepertinya kecelakaan yang menimpa Dean lumayan parah.
Wajahnya memucat seakan enggan untuk membuka matanya kembali.
"Maafkan aku, ku mohon bangunlah aku janji akan menjadi kakak yang baik buat kamu tak peduli kamu lahir dari rahim siapa." ucap Demian seraya menggenggam tangan Dean yang terasa dingin.
Namun tak ada sedikitpun reaksi Dean, remaja itu nampak seperti mayat hidup hingga membuat Demian semakin merasa bersalah saat menatapnya.
__ADS_1
"Tuan ini sudah malam, sebaiknya anda pulang istirahat biar saya yang menjaga Dean di sini." ujar Victor saat baru datang.
"Biar saya yang menjaganya." tolak Demian.
"Tapi nyonya Ariana juga membutuhkan anda tuan, kelahiran kedua bayinya tinggal menunggu hari dan anda harus selalu berada di sisinya." bujuk Victor.
Demian nampak mengusap wajahnya dengan kasar, ia hampir saja melupakan sang istri.
"Maafkan aku sayang."
"Baiklah, segera hubungi saya jika terjadi apa-apa dengan dia." perintah Demian kemudian.
"Baik, tuan." sahut Victor.
Setelah itu Demian segera kembali ke rumahnya karena malam telah larut, sesampainya di rumahnya Demian segera memeriksa keadaan putranya yang nampak sudah terlelap tidur.
Ia sangat bersyukur bocah kecilnya itu selamat, kalau tidak mungkin ia akan hancur.
Di kecupnya dahi putranya tersebut dengan gemas, setelah itu ia memperbaiki selimutnya.
Lalu Demian melangkahkan kakinya menuju kamarnya, di lihatnya sang istri juga sudah terlelap tidur.
"Maafkan aku." lirihnya seraya membawa Ariana ke dalam pelukannya, karena terlalu sibuk dengan Dean ia sampai lupa menghubungi istrinya.
Beruntung istrinya itu sangat pengertian dan menyuruhnya untuk fokus pada Dean saja.
Keesokan harinya....
Nina nampak bersiap-siap untuk pulang kampung, ia sudah membawa semua barang-barangnya yang ada di kamar kostnya.
Setelah membeli tiket kereta api, ia segera masuk ke dalam salah satu gerbong di sana.
Membutuhkan waktu sekitar 3 jam hingga ia sampai di stasiun dekat kampungnya, setelah itu ia naik ojek untuk menuju rumahnya.
Hampir 1 tahun Nina tidak menginjakkan kakinya di kampungnya tersebut, terakhir ia pulang lalu sengaja kabur lagi setelah menghindari lamaran dari juragan kaya raya yang sudah mempunyai banyak istri.
Namun kali ini ia pasrah dengan takdirnya, ia yakin Tuhan sudah menuliskan kisah indah padanya. Bukannya kalau kita selalu berbakti pada orangtua, maka hal mujur akan terjadi pada kita. Begitulah pikiran Nina.
__ADS_1
Nina sengaja menghentikan ojeknya agak jauh dari rumahnya, karena dari kejauhan ia sudah melihat banyak sekali orang berkumpul di rumahnya layaknya menghadiri sebuah hajatan.
Nina nampak melotot saat melihat bangunan dua lantai yang berdiri di atas tanah rumahnya. Sebelumnya ia mengira kalau salah alamat, tapi melihat sekelilingnya ia yakin itu adalah rumahnya.
"Oh astaga, apa ibu dan bapak telah menjualku? bagaimana bisa rumahku menjadi semewah ini." gumam Nina tak percaya.
Sebelumnya rumahnya hanya sebuah rumah papan beralaskan tanah yang kalau hujan selalu bocor di mana-mana.
"Akhirnya kamu pulang juga, nduk. Ayo siap-siap sebentar lagi calon suamimu datang." ujar ibunya Nina senang.
Nina terpaku menatap sang ibu, wanita yang telah melahirkannya itu biasanya hanya memakai pakaian kumal. Bahkan satu-satunya pakaian bagusnya yang biasa di pakai kondangan atau acara hari besar juga sudah kumal.
Namun hari ini wanita paruh baya yang sebenarnya sangat cantik itu, namun hanya saja tidak terawat nampak memakai riasan dan pakaian mahal serta terlihat beberapa perhiasan di leher, tangan serta jari-jarinya.
"Apa ini mimpi ?" gumam Nina seraya mencubit lengannya sendiri.
Tidak, ini bukan mimpi. Kenyataan ibunya telah menjualnya itu nyata di depan matanya.
"Ayo nduk cepat ganti pakaian jangan bengong begitu." perintah ibunya Nina seraya menarik Nina masuk ke dalam kamarnya.
Lagi-lagi Nina terperanjat saat melihat kamar mewah namun terasa asing baginya. Sebuah ranjang besar dan terlihat mahal itu sudah di hias dengan beberapa bunga di sana.
Hatinya tiba-tiba mencelos, di ranjang itu nanti ia akan menyerahkan kesuciannya pada laki-laki yang tak di kenalnya.
Entah itu aki-aki, Om-Om atau siapapun itu. Nina sudah pasrah ia tidak mungkin juga mundur, ia tidak tega jika harus menghapus senyuman orangtuanya serta kedua adiknya yang nampak sangat bahagia hari itu.
Setelah selesai di rias, Nina segera di bawa oleh kedua orangtuanya untuk menyambut calon suaminya.
Ia melihat beberapa orang laki-laki berkaca mata hitam khas ajudan nampak turun dari mobilnya dengan membawa beberapa barang seserahan.
Tak berapa lama kemudian mata Nina seketika melotot saat melihat seorang laki-laki yang baru turun dari mobilnya dengan gaya parlente.
Laki-laki tua dengan perut buncit serta berkumis tebal itu nampak berjalan ke arahnya.
Nina langsung menelan ludahnya, itu kah calon suaminya? ia rasanya ingin mendadak pingsan atau mati saja saat ini.
Bayangan menghabiskan malam pertama dengan laki-laki tua itu membuat perutnya langsung mual.
__ADS_1
Nina langsung memejamkan matanya, merapalkan segala doa yang dia hapal semoga Tuhan memberikannya sebuah keajaiban kalau yang akan menikahinya adalah seorang pangeran meski itu sangat mustahil.