Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~131


__ADS_3

"Jadi bagaimana ceritanya loe bisa terjebak di dalam lift bersama pak Edgar ?" tanya Anggi lagi tak sabar.


Dena rasanya ingin menggetok kepalanya ketiga temannya itu, mereka benar-benar tidak peduli dengan keadaannya.


"Ya bisalah namanya juga musibah, lagipula tadi gue juga ogah masuk ke dalam itu lift kalau bukan pak Edgar yang menyuruh." sahut Dena kesal.


"Beruntung sekali loe." ucap Marlina, sepertinya dia sudah mulai terkontaminasi virus Nay dan Anggi.


"Beruntung apanya yang ada engap." sahut Dena kesal, teman-temannya itu mana tahu kalau dirinya phobia gelap dan tempat sempit.


Dulu setiap ia habis melakukan kesalahan ibu tirinya itu tak segan mengurungnya di dalam gudang sempit yang sangat gelap.


"Eh loe ngapain pakai rekam segala ?" protes Dena saat Nay memutar rekaman perkataannya tadi.


"Tentu saja untuk di share di grup, biar mereka tidak menuduh loe menggoda pak Edgar. Karena sepertinya mereka sudah mulai merestui hubungan beliau dengan kekasihnya yang katanya seperti malaikat itu." sahut Nay berapi-api.


"Syukur deh kirain mau loe jual." ledek Dena, ia bersyukur ternyata teman-temannya itu masih peduli.


"Memang Nona Sera kelihatan baik sih, kemarin pas gue meeting bareng pak Rian di ruangan pak Edgar suaranya itu loh lembut banget sumpah deh, bahkan beliau sangat ramah dengan semua karyawan di sini." ucap Marlina.


"Cih, itu palingan juga modus." sahut Anggi kesal.


"Sama gue juga tidak percaya." Nay menimpali.


"Memang bener kok, dia memang terkenal sebagai model dengan atittude yang paling baik." ucap Marlina seraya menunjukkan berita online di ponselnya.


"Dan di sini juga di katakan kalau nona Sera itu tidak pernah pacaran, benar-benar orang rumahan banget." lanjutnya lagi.


Nay dan Anggi terlihat mau muntah saat mendengar perkataan Marlina, sedangkan Dena hanya menanggapinya dengan helaan napas panjangnya.


Mereka tidak tahu aja siapa Sera yang sebenarnya dan Dena juga tidak perlu susah-susah menjelaskannya. Baginya ia sudah tidak ada urusan lagi dengan keluarganya itu.


Semoga saja mereka semua tidak mengetahui siapa Dena sebenarnya dan apa hubungannya dengan Sera.


"Memang kita nggak jadi meeting ya ?" tanya Dena kemudian, mengingat ia tadi terburu-buru karena takut terlambat meeting.


"Di tunda sampai siang gara-gara pak Edgar terjebak lift tadi." sahut Anggi.


"Memang apa hubungannya? kan yang meeting departemen kita doang kan ?" tanya Dena tak mengerti.


"Dasar lelet, memang loe nggak baca di grup chat ya? mulai hari ini setiap meeting bulanan itu di hadiri oleh pak Edgar. Duh tuh laki membuat imunku makin naik aja." sahut Anggi girang.


"Nggak hanya imun tapi juga obat pencuci mata." timpal Nay ikutan girang.


Sedangkan Dena berasa ingin muntah mendengar perkataan mereka, memang apa istimewanya laki-laki itu. Baginya semua laki-laki itu sama saja penghancur hati perempuan dan Dena tidak akan sudi menjadi korban laki-laki brengsek lagi cukup Arhan saja yang melakukan itu.

__ADS_1


Sementara itu Edgar yang nampak duduk bersandar di kursinya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Ia nampak mengendus jas yang di pakai oleh Dena tadi, tidak hanya aroma bayi tapi juga ada parfum lain yang mengingatkannya pada peristiwa dua tahun silam.


"Ini jelas-jelas parfum wanita itu, bagaimana bisa ia pura-pura tidak mengenalku? Bahkan waktu itu dia masih sempat meninggalkan uang sebanyak itu. Aku jadi penasaran dengan wanita itu? siapa dia, bagaimana dia bisa mempunyai uang sebanyak itu dan berada di Jerman."


Edgar langsung menghubungi asistennya itu, ia harus segera mencari tahu tentang Dena.


"Anda memanggil saya, tuan ?" ucap Juno saat baru masuk ke dalam ruangan Edgar.


"Duduklah ada hal penting yang ingin saya bicarakan." sahut Edgar.


"Baik tuan." Juno langsung duduk di hadapan Edgar.


"Carikan CV Dena ketika melamar kerja di kantor ini." perintah Edgar.


"Apa ada masalah, tuan ?" tanya Juno penasaran, baru kali ini bossnya itu mencari tahu tentang karyawan rendahan seperti Dena.


"Jangan banyak tanya, carikan saja." kesal Edgar.


"Baik tuan." Juno langsung melihat informasi karyawannya di ipadnya.


"Dena Winata 24 tahun...." ucap Juno saat membaca data diri Dena, namun ia langsung menggantung ucapannya saat Edgar menyelanya.


"Benar tuan, Dena Winata." sahut Juno membenarkan.


"Mungkin hanya kebetulan saja lagipula nama Winata kan banyak." gumam Edgar dalam hati.


"Lanjutkan !!" perintahnya lagi.


"Baik tuan, Dena Winata 24 tahun seorang janda beranak satu...." lagi-lagi Juno menghentikan penjelasannya saat Edgar menyelanya.


"Janda ?" tanya Edgar terkejut.


"Benar tuan, Dena seorang janda." sahut Juno membenarkan.


"Lanjutkan !!" ucap Edgar kemudian.


"Dena lulusan internasional university dan tidak pernah bekerja sebelumnya." ujar Juno melanjutkan penjelasannya.


"Internasional university? bukannya Sera juga lulusan sana ?" gumam Edgar dalam hati.


"Bagaimana bisa wanita biasa seperti Dena bisa berkuliah di kampus bergengsi itu ?" ucap Edgar heran.


"Sepertinya Dena mendapatkan beasiswa tuan, karena beliau lulus dengan nilai camlaude."

__ADS_1


Edgar nampak berpikir, tetap tidak masuk akal pikirnya.


"Apa ada masalah tuan ?" tanya Juno saat melihat Edgar sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu selidiki siapa Dena sebenarnya, saya curiga Dena ada hubungan dengan Sera." perintah Edgar.


Juno yang masih belum mengerti tujuan atasannya itu hanya mengangguk patuh.


"Baik tuan, secepatnya saya akan cari tahu." sahutnya.


"Meeting dengan departemen keuangan akan segera di mulai tuan." lanjutnya lagi mengingatkan.


"Baiklah." Edgar segera bangkit dari duduknya, kemudian ia mengambil jasnya tadi lalu memakainya.


Juno yang melihat itu ingin membuka suaranya, namun urung ia lakukan saat Edgar nampak merapikan penampilannya di depan kaca yang ada di ruangannya tersebut.


"Bukannya itu jas yang mau tuan Edgar cuci tadi, sejak kapan tuan mau memakai bekas orang lain."


Juno nampak bingung dengan kelakuan bossnya itu, apalagi saat melihat Edgar nampak sedikit tersenyum di depan cermin itu.


"Ada apa dengan anda tuan? anda seperti pria yang sedang jatuh cinta saja. Tidak mungkin kan anda menyukai Dena? sedangkan di sisi anda sudah ada Nona Sera yang mempunyai segalanya."


"Ayo." perintah Edgar seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya tersebut.


Di dalam ruangan meeting sudah menunggu 20 orang karyawan bagian departemen keuangan dengan berbagai jabatan, dari direktur sampai jabatan terendah seperti Dena.


Dena yang melihat CEOnya itu masuk ke dalam ruangan meeting nampak terkejut saat laki-laki itu memakai jas yang ia pakai tadi.


"Mungkin hanya kebetulan sama." gumam Dena tidak terlalu peduli.


Selama meeting berjalan, Edgar nampak sesekali melirik ke arah Dena yang sama sekali tak peduli padanya. Padahal semua karyawan wanita di sana sibuk mencari perhatiannya namun berbeda dengan Dena wanita itu terlalu cuek.


Di saat Dena sedang melakukan presentasi pun Edgar sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Di matanya Dena mempunyai jiwa kepemimpinan, cara bicaranya pun tegas dan juga lugas.


Pakaiannya pun sangat sopan, sepanjang yang Edgar lihat Dena selalu memakai pakaian kerja berlengan panjang dan juga rok di bawah lutut. Wanita itu tidak pernah menonjolkan keseksiannya seperti karyawan lain.


"Baiklah sepertinya meeting sampai di sini saja, terima kasih atas kerja kerasnya selama ini dan semua bisa meninggalkan ruangan ini." ujar Edgar menutup meetingnya.


"Kecuali nona Dena Winata, tetap berada di kursi anda ada yang ingin saya bicarakan." lanjut Edgar lagi yang langsung membuat semua peserta meeting di sana nampak terkejut termasuk Dena sendiri.


"Saya pak ?" tanya Dena memastikan.


"Apa anda tidak mendengar yang saya ucapkan tadi ?" sahut Edgar dengan nada tegas yang langsung membuat semua karyawan di sana nampak merasa kasihan pada Dena, pasti wanita itu akan mendapatkan masalah besar setelah ini.


"Baik, pak." sahut Dena, wajahnya datar seperti biasa tidak menampakkan rasa takut sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2