Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~91


__ADS_3

Ricko yang baru di jemput oleh Victor nampak bercerita dengan asistennya ayahnya tersebut di dalam mobilnya.


"Om Victor, tante Nina cantik nggak ?" tanya Ricko sembari memakan cemilan yang ada di mobil Victor tersebut.


"Cantik apanya, mirip ondel-ondel begitu." sahut Victor dari balik kemudinya.


"Berarti Om Victor juga mirip ondel-ondel dong ?" celetuk Ricko yang langsung membuat Victor melotot menatapnya.


"Mana bisa, nggak lihat Om Victor ganteng gini." sahutnya narsis, begitulah Victor ia akan keluar sifat aslinya jika bersama dengan Ricko.


"Kan tante Nina mirip dengan Om Victor, itu berarti kalian mirip ondel-ondel dong." ledek Ricko.


Victor nampak menghela napasnya, benar-benar deh putra bossnya itu selalu saja membuatnya mati kutu. Sepertinya kejeniusannya selama ini tak berarti di hadapan bocah kelas 2 sd itu.


Tapi ngomong-ngomong memang benar ya wajahnya sangat mirip dengan gadis ondel-ondel itu, ia jadi ingat perkataan nyonya mudanya tadi pagi yang juga mengatakan kalau dirinya mirip dengan gadis itu.


Karena penasaran, Victor nampak menatap wajahnya dari balik spion depannya.


"Masa mirip sih, perasaan nggak." gumamnya.


"Tante Nina itu sangat baik loh, Om. Dulu Ricko sering di belikan banyak makanan." ucap Ricko membuyarkan lamunan Victor, namun Victor nampak malas menanggapinya.


Baginya wanita hanya merepotkan saja, manja dan suka mengaturnya.


"Jadi lebih baik Om menikah saja sama tante Nina biar tidak jomblo terus." lanjut Ricko lagi yang langsung membuat Victor menginjak remnya mendadak.


"Astaga Ricko, kamu kalau ngomong jangan sembarangan. Meski Om jomblo, tapi Om juga tidak sembarangan cari calon istri." ujar Victor kemudian.


"Memangnya Om suka tante yang seperti apa ?" tanya Ricko mulai penasaran.


"Pintar." sahut Victor.


"Tante Nina banget itu, karena kadang suka membantu Ricko mengerjakan PR."


"Cantik."


"Tante Nina juga cantik."


"Tapi mirip ondel-ondel."


"Tapi cantik kok, terus apalagi Om ?"


"Pintar memasak."


"Tante Nina juga pintar memasak, kadang suka membantu Mommy buat kue." sahut Ricko merasa menang.

__ADS_1


"Dan pastinya Om tidak suka wanita yang suka dandan seperti ondel-ondel begitu, Om sukanya sama wanita yang kalau pakai baju itu yang sopan dan tertutup." ujar Victor, semoga saja bocah kecil itu tidak mendesaknya lagi.


Siapa juga yang mau sama wanita tidak benar seperti itu, dari penampilannya saja sudah terlihat apa pekerjaannya.


Victor bisa menebaknya gadis itu pasti bekerja di sebuah club malam sekaligus merangkap sebagai pemandu karaoke di siang hari.


Dan yang Victor tahu semua wanita yang bekerja seperti itu pasti juga merangkap dengan menjajahkan tubuhnya pada pria-pria hidung belang.


Entah kenapa nyonya mudanya serta putranya itu yang notabennya orang baik bisa kenal dengan gadis macam ondel-ondel begitu.


Sedangkan Ricko yang kesulitan membujuk Victor, pada akhirnya ia ketiduran setelah menghabiskan banyak cemilan di mobil laki-laki itu dan itu membuat Victor bernapas lega.


Di sisi lain, Demian yang tidak bisa memegang ucapannya untuk tidak macam-macam pada sang istri di kantornya. Justru kini tengah asyik membuat istrinya itu mendesah tak karuan.


Katakanlah dia memang pria gila, tapi sungguh dia selalu merasa bergairah jika berada di dekat wanita itu. Lagipula istrinya itu juga tak pernah menolak meski awalnya menggerutu tapi pada akhirnya juga menikmatinya.


Setelah puas menyalurkan hasratnya, mereka segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi yang ada di sana.


"Kamu selalu menipuku." gerutu Ariana yang nampak bersandar di sofa dengan wajah lelahnya.


"Maaf sayang, tidurlah dahulu sebelum makan siang." ujar Demian kemudian mengecup puncak kepala sang istri dan setelah itu ia kembali menuju meja kerjanya.


Baru juga Ariana terlelap ia sudah di kejutkan oleh suara ibu mertuanya yang terdengar melengking.


"Mama apa-apaan sih mengganggu istriku tidur aja." tegur Demian yang melihat Ariana langsung terduduk.


"Maaf, Ma." sahut Ariana yang nampak terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba itu, lalu ketika melihat ayah mertuanya ia semakin yakin kalau yang dia lihat tadi pagi di jalan memang ayahnya itu karena pakaiannya sama.


"Tumben Mama dan Papa kesini ?" tanya Demian kemudian.


"Papamu ingin mengajak makan siang." sahut nyonya Anggoro masih dengan nada ketusnya.


Kemudian wanita itu mendudukkan dirinya di seberang Ariana seraya mengawasi setiap detil kantor putranya tersebut.


Dan tak lama kemudian Ricko juga nampak masuk ke dalam kantor ayahnya dengan seragam sekolah yang masih melekat di badannya.


"Baiklah, karena sudah berkumpul semua. Bagaimana kalau kita pergi makan siang sekarang." ujar Tuan Anggoro.


"Horee." seru Ricko senang.


"Nak, kamu mau makan apa ?" tanya Tuan Anggoro pada Ariana.


"Terserah Papa saja." sahut Ariana, ia masih merasa sakit kepala karena mendengar teriakan ibu mertuanya tadi.


"Makan pecel lele aja, kek." seru Ricko memberikan ide.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang cucu, nyonya Anggoro langsung bergidik ngeri.


"Astaga Ricko, itu makanan apa ?" ucapnya kemudian.


"Itu makanan kesukaan Mommy dan Ricko, Nek. Pokoknya rasanya enak banget bahkan Ricko suka tambah nasi kalau makan di sana." sahut Ricko antusias.


"Sepertinya dedek bayi juga ingin makan di sana." celetuk Ariana, nampak senyum penuh arti ia tunjukkan.


Sepertinya ia harus memberi sedikit pelajaran pada ibu mertua tersayangnya itu, karena sudah mengganggu tidurnya setelah kelelahan melayani putranya tersebut.


Sementara itu, Edgar yang baru sampai di bandara nampak berlari terburu-buru. Karena setelah menemui Ariana tadi pagi, ia mampir ke kantor ayahnya terlebih dahulu. Alhasil ia hampir ketinggalan pesawat.


Brukkk


Edgar yang terburu-buru nampak menabrak seorang wanita.


"Maaf, saya sedang terburu-buru." ucapnya seraya membantu mengambil beberapa barang bawaan wanita itu yang terjatuh di lantai.


"Nggak apa-apa Mas, saya juga salah karena kurang hati-hati." sahut wanita itu dengan suara lembutnya yang langsung membuat Edgar mengangkat kepala menatapnya.


Seorang wanita berparas cantik dan anggun itu nampak mengulas senyum padanya dan satu lagi senyumnya sangat meneduhkan seperti Ariana.


Ya Tuhan, dalam situasi seperti ini pun Edgar masih saja mengingat Ariana.


Edgar sempat terpaku beberapa saat ketika menatap wanita itu, sebelum akhirnya suara seseorang membuatnya sadar dan terperanjat.


"Istriku, kamu baik-baik saja ?" ucap seseorang dengan menekankan kata 'istri' seraya menatap tajam Edgar.


"Maaf saya sedang terburu-buru jadi tidak sengaja menabrak istri anda." tegas Edgar, kemudian menyerahkan paper bag pada wanita itu dan setelah itu ia segera berlalu pergi sebelum mendengarkan drama rumah tangga mereka.


"Oh astaga, apa di kehidupan ku sebelumnya pernah menghancurkan suatu negara? kenapa setiap wanita yang membuatku tertarik selalu milik orang."


Edgar nampak menghela napasnya dengan kasar, kemudian ia segera naik ke dalam pesawatnya.


Namun, ketika baru duduk matanya tak sengaja menatap wanita tadi lagi yang kebetulan sedang melewati tempat duduknya bersama dengan suaminya. Sepertinya mereka juga sedang dalam tujuan yang sama dengannya yaitu Jerman.


"Ayolah Edgar, lupakan mereka. Di dunia ini masih banyak gadis cantik dan juga baik. Kenapa harus istri orang lagi."


Edgar mengingatkan dirinya sendiri, kemudian ia nampak merapatkan selimutnya, lalu memejamkan matanya. Berharap pesawatnya akan segera sampai dan ia akan mulai kehidupan barunya di sana.


Namun tanpa ia tahu, takdir sudah menulis kisah mereka dengan cerita yang tak kalah berlikunya seperti kisah Ariana dan Demian tentunya.


.


Cerita Om Edgar belakangan ya guys, kita fokus dulu pada kisah keluarga cemara beserta asistennya.

__ADS_1


__ADS_2