
Pagi itu Olive langsung datang ke ruangan Ricko, setelah sebelumnya pria itu menyuruhnya untuk datang menjelaskan mengenai hubungannya dengan Ali.
Ia nampak mengetuk pintu, setelah mendapatkan sahutan dari dalam ia langsung membuka pintunya.
Ia melihat Ricko sedang berdiri memunggunginya menatap pemandangan kota pagi itu dari balik dinding kaca kantornya.
"Apa yang harus ku jelaskan ?" ucap Olive mengawali pembicaraan.
Mendengar suara sang istri, Ricko langsung berbalik badan menatapnya.
"Tentu saja hubunganmu dengan Ali." sahutnya dengan nada dingin.
"Kami hanya berteman." tukas Olive.
"Berteman? terus bergandengan tangan, lalu dia membawakan mu kue buatan ibunya? apa itu namanya berteman ?" cibir Ricko.
"Beneran Rick, kami cuma berteman." keukeh Olive jujur.
"Ck, jelas-jelas dia meminta padaku untuk merestui hubungan kalian." Ricko nampak berdecak kesal.
Olive yang mendadak kesal langsung mendekati laki-laki itu.
"Aku sudah berkata jujur padamu, kami cuma berteman." sungut Olive kemudian.
"Tidak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan, karena salah satu di antara kalian pasti ada yang baper." tukas Ricko.
"Bukan aku yang baper." sela Olive.
"Tapi kamu sengaja memberikannya harapan kan ?" Ricko nampak memojokkannya yang langsung membuat Olive semakin kesal menatapnya.
"Aku tidak pernah memberikannya harapan, bahkan aku sudah beberapa kali menolaknya. Tapi dianya saja yang tidak pernah menyerah dan aku rasa Ali pria yang sangat bertanggung jawab jika menjadi seorang suami, dia bukan tipe pria yang mudah kabur jika ada masalah." sahut Olive penuh dengan sindiran dan itu membuat Ricko langsung memicing.
"Kamu menyindirku ?" tanyanya kemudian.
"Tidak, tapi jika kamu merasa ya maaf." sahut Olive yang langsung membuat Ricko berang.
"Keluar dari sini !!" perintah Ricko kemudian.
"Apa ?" Olive nampak membulatkan matanya, sepertinya Ricko benar-benar marah padanya.
"Keluar dari sini !!" perintah Ricko lagi dengan sedikit menaikkan oktaf suaranya.
"Ba-baik." Olive nampak menatap ragu Ricko, kemudian ia segera berlalu keluar.
Sebenarnya ia tidak bermaksud menyinggung perasaan suaminya itu.
"Setelah ini jangan harap kamu bisa melihat pria itu lagi." tegas Ricko yang langsung membuat Olive berbalik badan menatapnya.
__ADS_1
"Apa? Rick please kamu jangan macam-macam, bukannya dia sahabatmu ?" Olive langsung berjalan mendekati Ricko yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.
"Kamu membelanya ?" Ricko menatap datar istrinya tersebut, ia sudah menyesali perbuatannya dan ingin memperbaikinya tapi kenapa wanita itu selalu saja mengungkitnya.
"Bukan begitu." Olive nampak serba salah.
"Apa kamu menyukainya karena dia bukan lelaki pengecut seperti ku ?" tukas Ricko lagi, ada nada kekecewaan di sana.
"Bu-bukan." Olive langsung mendekati suaminya itu.
"Bukan begitu." imbuhnya lagi.
"Lalu ?" Ricko menatap datar istrinya itu lagi.
"Maafkan aku." Olive langsung menggenggam tangan Ricko.
"Maaf untuk apa ?" Ricko nampak tak terpengaruh.
"Aku mencintaimu." sahut Olive.
"Kamu mau merayuku demi pria itu ?" cibir Ricko.
"Nggak, itu nggak benar." sahut Olive.
"Lalu ?"
"Aku beneran mencintai mu, Rick." lirih Olive, rasanya malu sekali mengakui perasaannya padahal ia masih ingin memberikan pria itu pelajaran tapi rasa tidak teganya begitu mendominasi.
"Hm." Olive langsung mengangguk.
"Buktikan jika kamu mencintaiku." perintah Ricko kemudian.
"Hah." Olive langsung mengangkat wajahnya menatap suaminya tersebut.
"Hah apa? nggak bisa membuktikannya? ya sudah pergilah." tukas Ricko, kemudian ia mengambil berkas di depannya dan mulai melanjutkan pekerjaannya.
Namun Olive tiba-tiba saja menghempaskan tubuhnya di pangkuannya.
"Apa yang kamu lakukan ?" Ricko nampak terkejut.
"Kamu minta bukti kan? baiklah aku akan membuktikannya meski harus merendahkan diri di depanmu." sahut Olive, nampak sudut matanya menggenang.
"Astaga sayang, apa yang kamu katakan? dalam hubungan suami istri tidak ada yang namanya merendahkan." Ricko langsung mengusap sudut mata istrinya itu.
"Maafkan aku, aku hanya tidak suka kamu selalu meragukan ku. Apa seorang pendosa sepertiku tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua ?" imbuhnya lagi.
Olive nampak semakin terisak. "Maafkan aku." lirihnya menyesal, meski Ricko pernah menyakitinya tapi laki-laki itu juga merasa tersakiti oleh keadaan.
__ADS_1
"Ku mohon beri aku kesempatan, aku janji akan selalu membahagiakan mu sampai akhir hayat." mohon Ricko dengan serius, ia nampak menangkup kedua pipi wanita itu.
"Hm." Olive langsung mengganggukan kepalanya.
"Terima kasih, ku mohon jangan buat aku cemburu lagi." ucap Ricko kemudian.
"Hm." angguk Olive.
"Terima kasih sayang." ucap Ricko, kemudian ia nampak mendekatkan wajahnya lalu mencium istrinya itu dengan lembut.
Mereka nampak saling m3lum@t dan menyesap satu sama lainnya, melepaskan segala kesalah pahaman yang selama ini membelenggu pikiran mereka.
Ternyata ciuman saja tak cukup bagi mereka, Ricko nampak merapatkan tubuh istrinya yang sedang berada di pangkuannya itu.
Kemudian ia menurunkan ciumannya menuju leher wanita itu yang masih nampak beberapa jejak kepemilikan yang ia buat semalam.
"Rick." Olive nampak mendesah tertahan saat merasakan lidah suaminya menyapu kulit lehernya.
"Iya, sayang. Aku mencintaimu." sahut Ricko dengan suara yang mulai berat karena menahan gairahnya sendiri.
Tak berapa lama kemudian pintu ruangan tersebut nampak terbuka dengan sedikit kasar.
"Astaga, apa yang sedang kalian lakukan." Ariana dan Demian yang baru masuk langsung membuang mukanya saat melihat putra putrinya itu sedang memadu kasih.
Apalagi sekretarisnya Ricko yang ada di belakang mereka nampak ternganga saat melihat kedua bossnya tersebut, karena yang ia tahu Ricko dan Olive adalah saudara tiri.
Olive yang nampak acak-acakan langsung Ricko bawa ke dalam pelukannya.
"Mommy apa-apaan sih, tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk. Sangat tidak sopan." rutuk Ricko dengan kesal karena aktifitas panasnya bersama sang istri tiba-tiba terganggu oleh kedatangan kedua orang tuanya.
"Mommy sudah ketuk pintu sampai mau roboh itu pintu, ternyata kalian di dalam melakukan hal yang tak senonoh." balas Ariana sedikit kesal, meski jauh dalam hati ia sangat senang karena pada akhirnya putra putrinya itu bisa bersatu lagi.
"Maaf Mom, Dad." ucap Olive yang nampak menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Kalian benar-benar tidak mendengar omongan kami semalam." tegur Demian, kemudian ia berlalu keluar lalu menutup pintunya.
"Bangun sayang, menjauhlah dari predator satu itu." Ariana membantu Olive untuk bangun.
Wanita itu nampak menggelengkan kepalanya saat melihat beberapa kancing pakaian putrinya itu terlepas.
"Ayo rapikan pakaianmu, lalu kembalilah ke ruanganmu." perintahnya dengan lembut.
Setelah Olive pergi, kini tinggallah Ariana dan putranya tersebut.
"Kenapa Mommy melotot begitu ?" tukas Ricko saat menatap wanita yang telah melahirkan itu nampak menatapnya dengan kesal.
"Dasar anak nakal, Mommy bilang tunggu kalian menikah ulang dulu baru boleh menyentuhnya." Ariana langsung memukuli putranya tersebut.
__ADS_1
Sementara itu Olive yang sedang berlalu ke ruangannya, tak sengaja melihat Sarah berjalan dengan anggun menuju ruangan Ricko.
"Apa yang sedang nona Sarah lakukan di sini ?" gumamnya, ia langsung membuntuti wanita itu menuju ruangan Ricko.