Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~83


__ADS_3

Malam itu Demian yang baru terlelap langsung terbangun ketika mendengar dering ponselnya. Dengan mata masih mengantuk ia meraih ponselnya di atas nakas, namun tanpa sengaja tangannya menyenggol tas sang istri hingga jatuh berantakan diatas lantai.


Sepertinya istrinya itu lupa menutup tasnya, jadi mau tak mau ia bangkit dari tidurnya kemudian memunguti barang-barang wanita itu lalu memasukkannya kembali ke dalam tasnya.


"Ini apa ?" Demian menemukan sebuah botol kecil berisi beberapa obat berbentuk tablet di dalamnya.


"Apa ini vitamin atau... ?" gumamnya seraya memperhatikan botol tersebut.


Ingin sekali Demian bertanya pada sang istri, tapi melihat wanita itu nampak terlelap setelah pergumulannya beberapa saat lalu ia jadi tak tega kalau harus membangunkannya.


"Sepertinya Victor tahu ini obat apa." gumamnya, kemudian ia menyimpan obat tersebut ke dalam tas kerjanya. Setelah itu ia segera menghubungi Victor yang sebelumnya sudah menghubunginya duluan.


"Jadi ini adalah obat penunda kehamilan ?" geram Demian keesokan harinya ketika Victor baru saja memberikan hasil laboratorium padanya.


"Benar tuan." sahut Victor membenarkan perkataan Demian.


"Jadi selama ini istriku minum obat kontrasepsi." geramnya lagi, berbagai sangkaan berkecamuk di kepalanya.


Untuk apa istrinya itu minum obat pencegah kehamilan, apa wanita itu tidak mau mengandung anaknya?


"Vic, saya mau pulang sekarang." ucapnya pada Victor seraya bangkit dari kursi kerjanya.


"Maaf tuan, tapi sepertinya obat tersebut baru beberapa saja terminum dan kalau di lihat-lihat kemasanya juga sudah lama terbuka." ujar Victor memberi penjelasan agar Demian tak menuduh sang istri meminumnya setelah mereka menikah.


"Itu berarti istriku memang meminumnya selama ini ?" Demian nampak semakin geram, selama ini ia tidak pernah benar-benar menyentuh istrinya itu dalam artian yang sesungguhnya.


Apa istrinya itu sudah berhubungan diam-diam dengan laki-laki lain di belakangnya? berbagai sangkaan ia arahkan pada wanita itu.


"Mungkin hanya untuk berjaga-jaga tuan, saat anda bersamanya." sanggah Victor.


"Pantas saja, setelah aku melakukannya pada waktu itu dia tidak kunjung hamil." gumam Demian seraya mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika pertama kali bertemu Ariana dan mereka melakukan sebuah transaksi dan setelah itu keduanya berakhir di atas ranjang.


Victor yang mendengar gumamam Demian langsung menyelanya. "Mungkin waktu itu nyonya muda sengaja meminum obat itu agar kejadian 8 tahun yang lalu tidak terulang kembali, tuan." Victor mencoba memberi penjelasan pada Demian yang sedang kalut.


"Dan mungkin beliau meminumnya kembali saat anda menginap di rumahnya akhir-akhir ini." imbuhnya lagi.


"Jadi benarkan dia tidak mau hamil anakku ?" Demian masih saja terlihat geram.

__ADS_1


Victor nampak mendesah pelan, jatuh cinta memang membuat seseorang menjadi bodoh dan tidak bisa berpikir jernih selain hanya kecurigaan saja. Ia jadi berpikir untuk tidak akan jatuh cinta pada wanita manapun.


"Saya yakin nyonya muda sangat mau tuan, hanya saja waktu itu kalian belum terikat hubungan yang sah dan nyonya Ariana tidak mau mengambil risiko kedua kalinya hamil di luar nikah." ujar Victor kemudian, semoga atasannya itu sedikit memahaminya.


Demian nampak mendudukkan kembali tubuhnya di atas kursi kerjanya. "Ya kamu benar, tapi seharusnya dia jujur dari awal padaku." sahut Demian yang terlihat masih kesal.


"Segera buatkan jadwal ke dokter kandungan nanti malam, aku mau mengetahui efek dari obat tersebut seberapa besar mempengaruhi kandungannya. Aku harus segera membuat istriku hamil secepatnya." perintah Demian kemudian.


"Baik, tuan." sahut Victor, tak berapa lama terdengar pintu di ketuk dari luar dan setelah itu nampak Ariana dan Ricko masuk ke dalam. Panjang umur memang nyonya mudanya itu, baru juga di omongin sudah muncul saja.


"Apa kalian sedang sibuk? setelah pulang sekolah Ricko tiba-tiba ingin mampir kesini." ucap Ariana ketika baru masuk ke dalam kantor suaminya tersebut.


Demian langsung mengulas senyumnya, ketika melihat wajah istri dan anaknya kemarahannya langsung menguap begitu saja.


"Daddy." Ricko berlari ke dalam pangkuan sang ayah.


"Dad, bukan Ricko yang minta kesini tapi ibuk eh Mommy." bisik Ricko namun masih terdengar oleh Ariana dan Victor.


"Benarkah ?" sahut Demian seraya menciumi putranya itu dengan gemas.


"Dad, Ricko sudah besar jangan di cium-cium dong malu." protes Ricko.


"Ricko bukan bayi lagi, Dad."


"Baiklah bagaimana kalau Mommy mempunyai bayi lagi ?" tanya Demian, setelah itu ia memandang sang istri yang langsung terlihat cemas.


"Ricko mau, Dad. Adik kembar ya pasti lucu." sahut Ricko senang.


"Boleh, secepatnya Daddy dan Mommy akan memberikan mu adik. Iya kan sayang ?" ujar Demian, lalu menatap istrinya itu.


"I-iya tentu saja." sahut Ariana, wajahnya terlihat semakin cemas.


Menurut dokter saat dia berkonsultasi dahulu, akan membutuhkan waktu untuk dirinya kembali normal setelah meminum obat kontrasepsi tersebut.


Sedangkan dirinya selalu minum obat tersebut ketika Demian menginap di rumahnya. Ia lakukan itu hanya untuk berjaga-jaga karena laki-laki itu selalu saja menyentuhnya, ya meski mereka tidak sampai melakukannya tapi apa salahnya dia berjaga-jaga takut tiba-tiba mereka khilaf dan benar-benar melakukannya.


"Baiklah kalau Ricko menginginkan segera mempunyai adik, sekarang Ricko pulang bersama Om Victor ya. Karena Daddy dan Mommy setelah ini harus ke dokter dulu." bujuk Demian.

__ADS_1


"Baik, Dad." Ricko langsung bangkit dari pangkuan sang ayah.


"Ayo Om Victor kita pulang." ajak Ricko seraya memegang tangan Victor.


Victor mengangguk sembari mengulas senyumnya menatap Ricko dan setelah itu mereka segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Kenapa kita harus ke dokter, Mas ?" tanya Ariana ketika kini mereka hanya berdua saja.


"Tentu saja berkonsultasi ke dokter." sahut Demian.


"Tapi aku merasa baik-baik saja, Mas." sahut Ariana seraya berjalan mendekat ke arah suaminya itu.


"Kamu yakin baik-baik saja ?" ucap Demian.


"Ten-tentu saja." sahut Ariana.


Demian menarik tangan wanita itu hingga terjatuh ke dalam pangkuannya, lalu memeluknya dengan posesif.


Setelah itu ia mengambil botol obat di dalam laci meja kerjanya kemudian menunjukkannya pada sang istri.


"Apa seseorang yang mengkonsumsi obat ini, akan baik-baik saja ?" ucapnya pada Ariana.


Ariana langsung menelan salivanya, bagaimana suaminya itu bisa menemukan obatnya tersebut.


"I-itu hanya untuk berjaga-jaga, lagipula aku juga sudah berniat untuk membuangnya Mas." sahut Ariana seraya menggigit bibir bawahnya, semoga suaminya itu mau mengerti alasan ia melakukan itu.


Demian mendesah kasar, mungkin tujuan istrinya itu baik tapi tetap saja dia tidak suka. Karena selama ini tanpa wanita itu tahu, Demian sangat berharap wanita itu hamil setelah mereka melakukan hubungan badan waktu itu.


"Mas jangan marah, kamu tahu sendirikan alasannya." bujuk Ariana seraya mengusap lembut rahang suaminya, namun itu justru membuat Demian mendadak meremang.


"Tentu saja aku marah, aku sangat berharap kamu bisa hamil." sahut Demian.


"Aku pasti akan hamil Mas." bujuk Ariana yang kini sudah mengalungkan tangannya pada leher sang suami.


"Entahlah, bukannya itu juga harus butuh waktu." ujar Demian dengan wajah kecewa, ia ingin melihat seberapa jauh istrinya itu bisa merayunya agar tidak marah. Padahal dalam hati ia ingin sekali tertawa melihat kecemasan di wajah wanita itu.


Ariana menghela napasnya pelan, kenapa suaminya jadi kekanak-kanakan seperti ini. Ia yakin pasti akan hamil setelah beberapa bulan ke depan.

__ADS_1


"Baiklah aku akan membuatmu tidak marah lagi dan mungkin hanya ini satu-satunya cara." gumam Ariana.


__ADS_2