Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~37


__ADS_3

Ariana langsung berlari keluar dari kamarnya, ia takut jika yang datang itu adalah Edgar.


Karena biasanya Edgar selalu saja tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa permisi.


"Mas, siapa yang datang ?" tanyanya ketika melihat Demian nampak berbicara dengan seseorang di ambang pintu.


"Mbak Ariana jadi ini suaminya, astaga gantengnya." ujar ibu-ibu pelanggan Ariana.


"Pantas saja pagi-pagi Mbak Ariana sudah basah." sindir ibu-ibu lainnya seraya memperhatikan rambut Ariana yang basah.


Melihat beberapa ibu-ibu sedang berada di teras rumahnya, Ariana langsung lega karena bukan Edgar yang datang.


"Syukurlah."


"Masnya kok ganteng banget sih, ini beneran manusia ya." celetuk salah satu ibu-ibu tersebut.


"Duh bagaimana rasanya punya suami seperti ini ya." celetuk yang lainnya lagi dengan pandangan kagum.


"Kalau saya Bu ibu, pasti sudah saya kurung di dalam rumah dong. Tahu sendirikan sekarang banyak pelakor."


"Duh gemes deh, itu perut apa roti sobek jadi pengen...."


Para pelanggan di warung Ariana itu nampak jelas mengagumi Demian, apalagi Demian saat ini hanya bertelanjang dada.


"Bu ibu maaf ada apa ya pagi-pagi kesini ?" sela Ariana.


"Mbak Ariana hari ini nggak jualan ya ?"


"Hari ini libur ya Bu, saya sedang ada urusan." sahut Ariana.


"Padahal hari ini kita sengaja loh nggak masak, karena ingin beli kue-kuenya mbak Ariana." ujar salah satu ibu-ibu tersebut dengan suara yang sengaja di buat-buat.


"Tapi saya tadi ada buat kok bu, kalau ibu-ibu mau." ujar Ariana.


"Benarkah, tentu saja kami mau mbak Ariana sini kami borong semua." Belum juga di persilahkan masuk ibu-ibu tersebut sudah nyelonong masuk ke dalam rumahnya duluan.


"Tumben borong biasanya juga cuma goceng itu pun pakai nawar lagi." gerutu Ariana sembari menghela napasnya, ini pasti gara-gara ada Demian di rumahnya.


"Memang sengaja tuh laki cari perhatian, dasar playboy kurap." gerutu Ariana sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Ariana langsung melotot ketika melihat tingkah ibu-ibu tersebut di dalam rumahnya, mereka bukannya melihat kue-kuenya yang ada di atas meja. Namun justru pada berkumpul mengelilingi Demian.


"Bu ibu kuenya ada di sini." teriak Ariana dengan kencang.


"Oh ya mbak Ariana bungkus saja semuanya." sahut ibu-ibu tersebut tanpa menoleh pada Ariana, karena mereka pada sibuk mengajak ngobrol Demian.


Sedangkan Demian nampak kesal sekaligus memucat, sungguh ibu-ibu tetangga Ariana semua pada agresif.


"Total semuanya 300 ribu ya bu." ucap Ariana setelah membungkus kue-kuenya, namun sepertinya ibu-ibu tersebut tak menghiraukannya karena sibuk bertanya ini itu pada Demian.

__ADS_1


"Duh sepertinya kurang di garuk nih ibu-ibu di rumahnya." kesal Ariana kemudian ia nampak tersenyum jahil.


"Eh pak Joko, pak Tarno mampir pak." teriak Ariana dengan kencang, padahal orang-orang yang dia panggil itu tidak ada.


Mendengar para suaminya di panggil Ariana, ibu-ibu tersebut langsung membubarkan diri. Setelah membayar mereka segera keluar dari rumahnya.


"Loh mana suamiku mbak Ariana ?" ujar ibu-ibu tersebut ketika tak melihat suaminya di sana.


"Oh, sudah jalan kesana Bu." dusta Ariana seraya memegang daun pintu siap untuk menutupnya agar ibu-ibu tersebut tidak nyelonong masuk lagi ke dalam rumahnya.


Ibu-ibu tersebut nampak kecewa, kemudian mereka langsung pergi dari sana.


Setelah itu Ariana segera menutup pintunya lalu menguncinya.


Sedangkan Demian yang masih berdiri di tempatnya nampak bernapas lega.


"Syukurlah sayang, mereka seperti ikan piranha ganas-ganas." ujar Demian.


"Tapi suka juga." cibir Ariana.


"Mana ada sayang, kamu nggak lihat aku keringat dingin begini." sanggah Demian.


Ariana menahan tawanya, Demian memang terlihat memucat dan nampak keringat dingin di tubuhnya.


Sebenarnya ia merasa kasihan, namun ia harus pura-pura marah agar laki-laki itu lupa membahas tentang Edgar.


"Siapa suruh mau di pegang-pegang." ucapnya kemudian dengan ketus.


"Tapi kamu suka juga kan menanggapi ibu-ibu centil itu, kalau nggak kamu pasti sudah menghindar masuk kamar." ketus Ariana.


"Astaga sayang, kalau aku menghindar itu namanya tidak sopan." bela Demian.


"Tau ah, malas." Ariana langsung berlalu ke kamarnya, ia nampak diam-diam tersenyum melihat uang 300 ribu di tangannya.


"Ayolah sayang jangan ngambek gitu, nanti cantiknya hilang loh." bujuk Demian sembari mengekori Ariana kesana kemari.


"Sudahlah, jadi pergi nggak ini ?" ketus Ariana lagi.


"I-iya tentu saja, ayo." Demian langsung menyamber kemejanya di atas kasur.


"Memang kamu nggak mandi dulu ?"


"Oh ya tentu saja mandi dulu." Demian meletakkan lagi kemejanya kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi.


Setelah Demian keluar dari kamarnya, Ariana langsung tertawa nyaring. Oh astaga Demian, kenapa mendadak jadi bodoh jika sudah menyangkut tentang Ariana.


Beberapa saat kemudian mereka segera pergi dengan di antar oleh Victor.


Di dalam mobilnya, Demian sedikitpun tak berhenti menatap Ariana. Ia masih belum percaya Ariana yang sudah ia rindukan bertahun-tahun, kini berada di sisinya saat ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu melihatku seperti itu ?" Ariana yang baru menyadari di tatap Demian dari samping langsung melayangkan protes.


"Kamu cantik." sahut Demian tanpa mengalihkan pandangannya.


"Gombal, sudah berapa banyak wanita yang kamu puji cantik." ketus Ariana.


"Nggak ada sayang, cuma kamu yang ada di hatiku." tegas Demian.


"Aku nggak percaya mengingat...."


"Setiap manusia kan bisa berubah sayang." sela Demian kesal karena Ariana masih saja meragukannya.


"Baiklah, aku percaya kok." sahut Ariana pada akhirnya yang langsung membuat Demian senang.


"Beneran ?" Demian menatap Ariana gemas.


"Hmm." angguk Ariana.


"Terima kasih, sayang." Demian langsung mengecupi wajah Ariana dengan gemas, dasar soang.


Ehmmm


Victor yang berada di balik kemudi langsung berdehem nyaring, sungguh bossnya itu memang tidak ada akhlaknya. Sudah tahu dirinya jomblo bisa-bisanya mereka bermesraan di sana, nasib-nasib sepertinya mulai saat ini ia harus belajar bersabar.


Karena pemandangan seperti itu untuk selanjutnya akan sering ia lihat, apalagi Demian sudah lama sekali tidak pernah bermesraan dengan seorang wanita.


"Mas stop, kamu sudah membuat lipstikku berantakan." protes Ariana ketika Demian baru melepaskan ciumannya.


"Habis bibirmu manis, sayang."


"Kamu pikir gula." gerutu Ariana sembari memperbaiki penampilannya yang acak-acakan.


Sedangkan Demian hanya menanggapinya dengan kekehannya.


"Lagipula kamu itu nggak ada malunya tahu nggak, sudah tahu ada Victor juga." gerutu Ariana lagi.


"Anggap saja Victor nggak ada, sayang."


"Lalu kamu pikir mobil ini bisa jalan sendiri." sahut Ariana tak mau kalah.


Sedangkan Victor hanya bisa menghela napasnya, meski kelakuan bossnya itu sedikit absurd tapi ia senang karena Demian kembali menemukan kebahagiaannya dan tentunya itu akan membuat beliau semakin sehat.


"Sudah sampai, tuan."


Victor menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis dua lantai dengan taman bunga yang indah dan juga halaman yang sangat luas dengan pagar tembok yang mengelilinginya.


"Ini rumah siapa ?" Ariana mendadak gugup, Demian tidak sedang mengajaknya ke rumah orang tuanya kan? apalagi ada beberapa security di sana.


"Ayo sayang." ajak Demian ketika Ariana masih bergeming di kursinya.

__ADS_1


"A-apa ini rumah orang tuamu ?" tanya Ariana, sungguh ia belum siap jika harus bertemu dengan orang tua Demian sekarang.


Karena posisi Demian saat ini masih menjadi suami orang dan dia tidak mau di salahkan karena telah menjadi orang ketiga dalam pernikahan laki-laki itu.


__ADS_2