Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~76


__ADS_3

Ariana yang berada di taman hotel tersebut, nampak menatap nanar kolam renang yang ada di depannya.


Kenapa kisah cintanya begitu rumit, kalau bisa memilih ia hanya ingin jatuh cinta pada laki-laki biasa seperti dirinya.


Tapi sepertinya Tuhan memang memilihnya untuk menjalankan skenarioNya dan suka tak suka ia harus menjalaninya.


Ariana mengusap butiran kristal yang mulai mengering di pipinya, setelah menangis sepertinya dirinya sudah merasa lebih baik.


Kini ia akan kembali masuk ke dalam hotel tersebut dan siap menerima apapun skenario yang akan di berikan Tuhan padanya.


Namun ketika ia akan berbalik badan untuk meninggalkan taman tersebut, tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kokoh melingkar di perutnya.


Ariana nampak memejamkan matanya, ia tahu itu lengan siapa bahkan parfum yang laki-laki itu pakai sangat ia hafal. Bagaimana tidak, beberapa bulan terakhir ini parfum tersebut seakan menempel di tubuhnya karena mereka selalu tidur bersama.


"Mas, apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Ariana yang masih menghadap ke arah kolam.


Demian yang menyandarkan kepalanya di ceruk leher Ariana nampak terdiam sembari memejamkan matanya.


"Apa sudah menjadi hobby mu selalu kabur dari masalah, hm ?" ucapnya.


"Aku tidak kabur, aku hanya ingin cari angin saja. Pendingin di sana terlalu dingin, sepertinya tidak cocok denganku." sahut Ariana beralasan.


"Alasan." cibir Demian yang masih memeluk Ariana, kali ini laki-laki itu nampak mencium puncak kepalanya dengan penuh perasaan.


"Terserah kamu percaya atau tidak, lagipula ngapain kamu di sini? bukannya berada di dalam." ucap Ariana tak mau kalah.


"Bagaimana aku berada di dalam, sedangkan calon pengantinnya masih di sini." sahut Demian yang langsung membuat Ariana menoleh padanya.


"Maksud kamu, Jess eh wanita itu ada di sini ?" Ariana mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jessica, bahkan untuk menyebut namanya saja rasanya enggan.


"Kenapa mencari yang tidak ada ?" Demian langsung memutar tubuh Ariana agar menghadap ke arahnya.


"Apa wanita itu ada di sini ?" tanya Ariana memastikan.


"Calon pengantinku hanya satu dan itu cuma kamu, sayang." sahut Demian seraya menatap lekat Ariana.


"Lalu bagaimana dengan wanita itu ?" Ariana sepertinya masih penasaran, dia jadi menyesal kenapa tadi buru-buru keluar dari ruangan tersebut.


"Aku bilang jangan mencari yang tidak ada." ujar Demian.


"Tapi mas....hmmptt."


Demian rasanya gemas sekali melihat Ariana yang kembali cerewet, jadi lebih baik ia bungkam saja bibir wanita itu dengan ciumannya.


Mereka nampak saling berciuman di pinggir kolam tersebut, tak peduli beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. Bahkan seorang wartawan udah mengambil gambarnya.


Sedangkan Victor yang baru datang nampak mengumpat dalam hati, sepertinya setelah ini pemandangan itu akan ia saksikan sepanjang hidupnya.

__ADS_1


"Cinta memang sudah membuat seseorang jadi tak tahu malu."


Ehmmm


Victor berdehem pelan hingga membuat Demian dan Ariana melepaskan panggutannya.


Demian yang melihat kedatangan Victor, nampak bersikap biasa saja. Lain halnya dengan Ariana, ia langsung memerah dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Demian.


"Maaf tuan, acara segera di mulai. Anda dan nyonya Ariana sedang di tunggu di dalam." ujar Victor.


Ariana langsung mengurai pelukannya lalu menatap Victor.


"Acara apa? aku di sini aja." ucapnya meski ia mencoba untuk tegar, nyatanya hatinya terlalu rapuh.


Sepertinya ia tidak akan sanggup menyaksikan pernikahan Demian dan Jessica, jadi ia memilih untuk berada di sini saja.


"Tapi acaranya tidak akan di mulai, kalau anda tidak datang nyonya." ujar Victor.


"Apa hubungannya denganku, kalau mau menikah ya menikah saja." sungut Ariana.


"Kamu cerewet sekali sayang, sepertinya hukuman mu akan aku tambah." Kali ini Demian merasa gemas dengan Ariana.


"Hukuman apalagi ?" sungut Ariana tak terima.


"Apa kamu lupa, tadi laki-laki brengsek itu sudah menggenggam tanganmu ini ?" Demian langsung memegang tangan Ariana, lalu mengambil handsanitizer dari dalam saku celananya lalu menyemprotkannya pada tangan Ariana.


"Kamu pikir tanganku berkuman." sungut Ariana kesal.


"Ayo." ajak Demian seraya menarik tangan Ariana.


"Mau kemana? aku tidak mau." Ariana tetap bergeming di tempatnya.


"Mau jalan sendiri atau ku gendong ?" ancam Demian.


Ariana memdelik, namun kemudian ia mulai melangkahkan kakinya.


"Kita mau kemana ?" Ariana menelan salivanya ketika Demian mengajaknya masuk ke sebuah kamar hotel dan bukannya kembali ke tempat acara.


"Diamlah sayang, dari tadi kamu cerewet sekali." tegur Demian.


Setelah masuk ke dalam kamar, Ariana terkejut karena di sana sudah ada dua orang wanita sedang menunggunya.


"Kamu ikuti saja perintah mereka." ucap Demian pada Ariana.


"Kamu mau kemana? memang mereka mau ngapain ?" Ariana menahan tangan Demian ketika laki-laki itu hendak meninggalkannya.


"Tentu saja kembali ke tempat acara, sudah ikuti saja perintah mereka." sahut Demian.

__ADS_1


"Kalau mereka macam-macam bagaimana ?" bisik Ariana.


"Oh astaga, kamu itu ibu dari anakku takkan ada yang berani macam-macam sama kamu. Mereka hanya akan memperbaiki riasanmu." sahut Demian yang langsung membuat Ariana lega.


Setelah itu Demian segera meninggalkan kamar tersebut.


"Ngapain aku harus ganti baju juga ?" protes Ariana sesaat setelah selesai di make up.


"Ini perintah tuan Demian nyonya, baju anda terlihat sangat kasut." sahut perias tersebut.


Ariana memperhatikan gaunnya, memang sedikit kusut. Maklumlah ia membeli gaun itu di pasar dengan harga 150 ribu saja.


"Baiklah."


Ariana nampak pasrah, mungkin ini juga sebagian dari skenario Tuhan. Dia akan di perkenalkan sebagai ibu kandung pewaris keluarga Anggoro dan bukan sebagai istrinya.


Ariana benci sekali dengan pemikiran-pemikirannya itu, tapi ia juga tidak mau berhayal kalau dirinya lah yang akan menjadi pengantinnya. Mengingat bagaimana sikap nyonya Anggoro yang tidak akan mudah di taklukkan.


Tak berapa lama pintu kamarnya nampak di ketuk oleh seseorang dari luar.


"Om ?" Ariana terperanjat ketika melihat tuan Anggoro sudah berdiri di sana, meski sudah berusia setengah abad lebih laki-laki paruh baya itu masih terlihat sangat tampan dan gagah.


"Papa, kamu lupa harus memanggil saya apa ?" sahut tuan Anggoro dengan mengulas senyumnya.


"Maaf pa." ucap Ariana.


"Kamu sudah selesai ?" tanya tuan Anggoro seraya memperhatikan penampilan Ariana yang terlihat sangat cantik malam itu.


"Sudah."


"Baiklah, ayo." Tuan Anggoro mengulurkan sebelah tangannya.


Dengan ragu Ariana menyambut uluran tangan laki-laki itu, kemudian mereka segera meninggalkan kamar hotel tersebut.


Ketika Ariana baru memasuki tempat acara tersebut bersama tuan Anggoro, semua tamu undangan di sana langsung bertepuk tangan seakan dirinya lah satu-satunya tamu yang sedang di tunggu.


"Kamu sangat cantik sayang, aku jadi tak sabar merasakan malam pertama kita." bisik Demian.


"Ma-malam pertama ?" Ariana nampak terkejut.


"Tentu saja, sebentar lagi kita akan menikah." sahut Demian.


"Apa ?"


Ariana menelan ludahnya sendiri, kemudian melihat nama di pelaminan yang sudah terganti dengan namanya.


Lalu bagaimana dengan nyonya Anggoro, apa beliau sudah merestuinya? Ariana nampak menatap nyonya Anggoro yang duduk tak jauh dari sana.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu nampak menatapnya juga dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Mama sudah merestui pernikahan kita, sayang." bisik Demian.


__ADS_2