Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~121


__ADS_3

Setelah membersihkan dirinya, Nina segera keluar dari kamar hotelnya sore itu. Namun ketika akan membayar tagihan kamarnya, ia nampak terkejut saat resepsionis memberitahukan jika hotel mewah itu adalah milik suaminya.


Ia tidak menyangka suaminya sekaya itu tapi kenapa masih mau menjadi asistennya Demian? entahlah Nina masih belum banyak mengenal laki-laki itu.


"Sopir kami sudah menunggu anda di depan, nyonya." ujar resepsionis tersebut saat Nina hendak pergi.


"Baiklah, terima kasih ya mbak." sahut Nina dengan mengulas senyumnya.


Setelah itu ia segera berbalik badan hendak pergi, namun ia langsung menghentikan langkahnya saat melihat beberapa wanita cantik melenggang ke arahnya.


"Ck, dia lagi." decak Sisil saat melihat Nina berada di depan meja resepsionis.


Sedangkan Nina langsung melipat kedua tangan di depan dadanya tanpa berniat menyapa wanita itu.


"Mbak, mana kunci kamarku." pinta Sisil pada petugas resepsionis tersebut.


"Maaf Non Sisil kamar yang biasa Non tempati sudah full, hanya tinggal kamar VIP aja." ujar resepsionis tersebut.


"Ya sudah berikan saya kamar itu." pinta Sisil.


"Maaf Non, saya harus meminta ijin dulu pada tuan Victor karena selama ini kan Non Sisil menggunakan kamar tipe biasa." sahut resepsionis tersebut.


"Oh astaga, kak Victor pasti mengizinkan bahkan aku menggunakan kamar president suit pun pasti di izinkan." desak Sisil.


Nina yang masih belum mengerti perdebatan dua wanita tak jauh darinya itu langsung ikut menimpali.


"Mbak, kalau memang Nona ini mampu membayar ya biarkan saja dia mengambil kamar yang di inginkan." ujar Nina.


"Maaf nyonya, tapi Nona Sisil selama ini menginap gratis di sini." sahut resepsionis tersebut.


"Oh ya, enak sekali." Nina nampak terkejut.


"Memang kenapa, kamu iri ?" sungut Sisil pada Nina.


"Ck, buat apa aku iri kalau aku sendiri istri dari pemilik hotel ini." sahut Nina dengan mengulas senyumnya yang semakin membuat Sisil murka.


"Nggak lama lagi kamu paling juga di tendang sama kak Victor." sewot Sisil geram.


"Masa sih, kok aku ragu ya. Bahkan sejak kami menikah ia seakan tidak ingin jauh dariku tuh." sahut Nina sembari berpura-pura merapikan rambut di lehernya hingga menampakkan banyak sekali tanda kepemilikan yang suaminya itu buat.


Sisil yang melihat itu semakin meradang, sepertinya meladeni Nina hanya akan membuatnya sakit hati.


"Aku tidak mau tahu pokoknya berikan kamar itu padaku sekarang." perintah Sisil kemudian pada resepsionis tersebut.


"Tapi Non....."


"Apa kalian mau ku suruh kak Victor untuk memecat kalian sekarang juga." ancam Sisil.

__ADS_1


"Tidak ada yang akan di pecat di sini." tegas Nina menengahi.


"Mulai hari ini jika kamu mau menginap di sini meskipun itu hanya kamar biasa, tetap harus membayar seperti tamu lainnya. Mengerti ?" lanjutnya lagi dengan tegas.


Sisil terlihat sangat geram. "Siapa kamu berani melarangku ?" hardiknya tak terima.


"Aku ?" Nina menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja aku istri dari pemilik hotel ini, kalau kamu lupa." tegas Nina.


"Dan sebentar lagi mungkin pewaris hotel ini sudah tumbuh di dalam perutku." imbuhnya lagi seraya mengusap perutnya yang masih rata itu.


Sisil yang tidak bisa menahan emosi lagi langsung saja menyerang Nina. "Dasar wanita ******, kamu pasti sudah menjebak kak Victor kan ?" ucapnya seraya mendorong Nina hingga wanita itu jatuh ke lantai.


Sebenarnya Nina bisa saja melawan, namun tanpa sengaja ia melihat suaminya itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotelnya tersebut.


Jadi tidak apalah ia sedikit berakting teraniaya untuk memberikan wanita sombong itu sedikit pelajaran.


"Sisil, apa yang kamu lakukan pada istriku." teriak Victor seraya melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menolong istrinya tersebut.


Sisil yang terkejut nampak ketakutan, ia tidak menyangka Victor tiba-tiba datang.


"Kamu tidak apa-apa, sayang ?" ucapnya lagi seraya membantu Nina berdiri.


"Nggak apa-apa Mas, maaf sudah membuat keributan di sini." sahut Nina nampak menyesal, namun dalam hati tentu saja ia tertawa puas. Wanita sombong seperti Sisil sekali-sekali memang harus di beri pelajaran.


"Tapi, kak...."


"Pergi !!" hardik Victor penuh amarah.


Sisil yang tidak pernah melihat kemarahan laki-laki itu sebelumnya nampak ketakutan kemudian ia langsung pergi dari sana.


"Mas..." Nina jadi merasa bersalah sendiri saat melihat wajah ketakutan Sisil.


"Maaf dia selalu membuatmu repot." ujar Victor kemudian.


"Nggak, nggak apa-apa mungkin kami belum saling mengenal saja." sahut Nina menenangkan.


"Percayalah dia tidak akan berani mengganggumu lagi setelah ini."


"Terima kasih Mas, oh ya kok Mas kembali lagi katanya mau ke rumah sakit ?" ucap Nina kemudian.


"Ada berkas yang ketinggalan, ayo ku antar ke Apartemen sekalian." ajak Victor seraya menggandeng pinggang wanita itu lalu membawanya meninggalkan hotel tersebut.


Sementara itu di rumah sakit, Nyonya Anggoro yang melihat putranya itu baru keluar dari ruang operasi langsung menghampirinya.


"Nak, bagaimana keadaan menantu Mama dan cucu-cucu Mama." tanya nyonya Anggoro tak sabar.

__ADS_1


Demian yang terlihat berantakan serta terdapat beberapa bekas cakaran di kedua lengannya langsung tersenyum bahagia saat menatap ibunya tersebut.


"Istriku baik-baik saja Ma, kedua bayiku juga sangat sehat. Sekarang mereka sedang di bersihkan." sahut Demian senang meski penampilannya terlihat memprihatinkan saat ini.


"Kenapa kamu berantakan sekali Nak, jangan bilang kalau Ariana mencoba untuk melahirkan normal? benar-benar keras kepala tuh istrimu." Nyonya Anggoro nampak kasihan melihat sang putra yang sudah menjadi pelampiasan oleh menantunya itu.


"Nggak apa-apa Ma, ini tidak seberapa dengan apa yang di rasakan oleh istriku. Bahkan saat melahirkan Ricko pun aku tidak ada di sampingnya, pasti saat itu dia sangat kesakitan juga." ujar Demian berkaca-kaca.


"Aku jadi mengerti bagaimana perjuangan Mama dulu saat melahirkan ku, terima kasih Ma." lanjutkan lagi seraya memeluk ibunya.


Nyonya Anggoro yang di peluk Demian hanya bisa mematung, sungguh anak lelakinya itu banyak sekali berubah dan diam-diam dia berterima kasih pada Ariana karena telah membawa banyak perubahan pada keluarganya.


Keesokan harinya....


"Jadi apa kalian sudah memikirkan nama buat mereka ?" tanya nyonya Anggoro siang itu saat melihat baby twins yang sudah berada di dalam kamar perawatan Ariana.


"Belum Ma." sahut Ariana yang terlihat lebih segar namun jarum infus masih menancap di punggung tangannya.


"Duh gemesin banget sih adik-adiknya Ricko ini." Ricko nampak gemas melihat kedua adiknya di dalam box bayi tersebut.


Saat tuan Anggoro mengambil baby boynya dan membawanya ke dalam gendongannya, sang istri juga tidak mau kalah.


Nyonya Anggoro langsung mengambil baby girlnya tersebut lalu mengecupnya dengan gemas.


"Ma, Pa. Jangan di cium-cium dulu bayiku." protes Demian saat kedua bayinya di kuasai oleh kedua orangtuanya tersebut.


"Kenapa kamu pelit sekali? setelah istrimu sehat kembali lebih baik kalian segera program lagi ke dokter agar bisa mendapatkan bayi lucu-lucu seperti ini lagi." perintah nyonya Anggoro.


Mendengar perkataan sang ibu, Ariana dan Demian nampak menelan ludahnya bulat-bulat.


..............


Sementara itu di negeri nan jauh nampak seorang pria sedang tersenyum miris saat melihat status sang kakak di ponselnya yang sedang memberikan ucapan selamat atas kelahiran baby twins Ariana dan Demian.


Sudah berbulan-bulan ia pergi menjauh namun sosok Ariana masih belum tergantikan di hatinya.


Malam itu ia sengaja menghabiskan waktunya di sebuah club malam untuk menghibur dirinya sendiri yang masih saja belum bisa move on.


Di saat dia sedang menikmati minumannya tiba-tiba seorang wanita cantik dengan lancangnya duduk di atas pangkuannya.


"Tuan maukah malam ini kamu tidur denganku, uangku sangat banyak aku pasti akan membayarmu ?" ucap wanita itu yang sepertinya sedang mabuk.


Edgar yang selama ini tidak pernah seintim ini dengan wanita manapun langsung menelan ludahnya dengan kasar.


.


Kakak Readers kesayangan yang baik hati, rekomendasi nama buat baby twins dong sebelum session ini ending dan lanjut session babang Edgar.

__ADS_1


__ADS_2