Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~256


__ADS_3

21+


Mengetahui istrinya dalam bahaya, Ricko bergegas menuju ruang cctv hotel tersebut.


Setelah mengetahui keberadaan sang istri, ia segera mendobrak salah satu kamar yang ada di sana.


Melihat istrinya sedang berada di bawah tubuh seorang laki-laki, amarahnya langsung memuncak.


Ia segera menarik tubuh laki-laki itu lalu memukulinya bertubi-tubi.


"Rick, hentikan !! kamu bisa membunuhnya." Dean langsung melerai saat melihat keadaan Ali yang hampir saja meregangkan nyawanya.


"Sialan, sedikit pun aku tidak akan melepaskan mu." umpat Ricko menatap nyalang ke arah Ali.


Setelah Ali di amankan oleh Security hotel, ia segera melihat sang istri yang nampak sedang menangis dalam pelukan ibunya.


"Kamu baik-baik saja, sayang? Maafkan aku ya sudah lalai menjagamu." ucapnya dengan perasaan bersalah.


"Rick, jangan mendekat." Olive langsung menghalau tangan Ricko saat hendak menyentuhnya.


"Kamu baik-baik saja, sayang ?" Ricko nampak terkejut dengan penolakan sang istri.


"Aku sudah kotor Rick, jangan sentuh aku." teriak Olive di sisa tenaganya.


"Astaga sayang, ada apa denganmu ?" Ricko nampak geram, seberapa jauh Ali sudah menyentuh sang istri hingga membuat wanita itu begitu trauma.


"Semuanya, tolong tinggalkan kami !!" mohonnya kemudian sembari menatap keluarganya tersebut.


Setelah mereka semua pergi dan menutup pintunya kembali, Ricko kembali mendekati sang istri.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" ucapnya kemudian.


"Aku sudah kotor, Rick." teriak Olive histeris sambil mengusap bibirnya yang tadi di cium paksa oleh Ali, lalu ia mengusap lehernya dengan kasar dan juga tubuh lainnya yang sudah pria itu sentuh.


"Sayang, hentikan menyakiti diri sendiri." Ricko langsung meraih kedua tangannya, lalu memegangnya dengan kuat.


"Aku sudah kotor." rintih Olive.


"Aku tidak peduli sayang seberapa banyak bajingan itu menyentuhmu, bahkan seandainya kamu di perkosa pun cintaku tidak akan pernah berubah." tegasnya kemudian.


"Maafkan aku." Olive semakin terisak.


"Aku yang minta maaf sayang, karena tidak bisa menjagamu." tukas Ricko, kemudian ia membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Ayo kembali ke kamar kita, jangan takut bajingan itu pasti sudah mendekam di penjara saat ini." ucapnya kemudian sembari mengangkat tubuh istrinya itu lalu membawanya keluar dari kamar tersebut.


Setelah sampai di kamar hotelnya, Ricko langsung membawa istrinya itu ke dalam bathtub sesuai permintaan wanita itu.


"Bajingan sialan, harusnya aku menyingkirkan mu dari dulu." umpat Ricko saat ia baru keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Ricko terlihat sangat geram, suami mana yang tidak marah jika melihat istrinya hampir saja di nodai oleh pria lain.


Tak berapa lama kemudian ia mendengar teriakan dari dalam kamar mandi hingga membuatnya langsung berlari mendatangi istrinya itu.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tanyanya setelah membuka pintu.


"Panas, Rick." Olive yang berada di dalam bathtub nampak mengiba pada suaminya itu, wajahnya terlihat memerah.


"Astaga sayang kamu kenapa ?" Ricko berjalan mendekatinya.


"Apa pria brengsek itu memberikan mu sesuatu ?" imbuhnya lagi.


Olive langsung menggeleng. "Tadi setelah minum jus jeruk yang di bawa oleh pelayan, aku merasa berkeringat." sahut Olive tak mengerti.


"Sepertinya Ali sudah mencampurnya dengan obat sialan itu." ucap Ricko yang langsung membuat Olive panik.


"Bagaimana ini Rick, haruskah kita ke dokter ?" mohon Olive.


"Sayang, tidak perlu ke dokter. Anggap saja ini hadiah dari bajingan itu agar malam pertama kita semakin berkesan." sahut Ricko dengan sedikit terkekeh.


"Dasar mesum." cebik Olive, namun setelah mengingat bagaimana Ali dengan lancang menyentuhnya tadi ia langsung mengangkat wajahnya menatap suaminya tersebut.


"Sentuh aku Rick, bantu aku menghilangkan jejak pria itu. Aku jijik dengan diriku sendiri, apa kamu juga jijik denganku ?" imbuhnya lagi.


Namun Ricko tak membalasnya, ia langsung membungkam bibir istrinya itu dengan ciumannya.


Kemudian ia langsung mengangkat tubuh wanita itu dari dalam bathtub lalu membawanya keluar dari kamar mandi tersebut.


Olive yang merasa sangat bergairah karena pengaruh obat perangsang tadi, ia nampak bergerak liar di bawah tubuh kekar sang suami.


Namun sepertinya Ricko masih enggan untuk memulainya, ia nampak menikmati bagaimana istrinya itu menggeliat tak karuan karena sentuhannya.


Bahkan saat ia menguasai bulatan indah miliknya, wanita itu nampak mengerang hingga membuatnya tak sabar untuk segera memasukinya.


Ricko segera melepaskan pakaiannya sendiri hingga kini ia nampak polos, kemudian ia m3lum@t lagi bibir istrinya yang nampak sedikit bengkak karena perbuatan Ali tadi.


Kemudian ia menurunkan ciumannya, bibirnya nampak menyusuri leher jenjang istrinya tersebut lalu memberikan banyak jejak kepemilikan di sana.


Setelah itu ia turun lagi hingga kini berada di depan dua gundukan kenyal milik istrinya itu yang terlihat indah dan seakan menantangnya untuk segera menyentuhnya kembali.


Ia langsung melahapnya dengan rakus serta memainkan puncaknya dengan jemarinya hingga membuat wanita itu mengerang tak karuan.


Setelah puas menyentuhnya, kini pria itu siap memasuki istrinya tersebut.


"Sayang." desis Ricko saat mencoba memasukinya namun sepertinya ia butuh perjuangan lagi.


Ia pernah menyentuhnya sekali dan itu sudah dua tahun yang lalu, ia yakin selama ia tinggal istrinya itu menjaga dirinya dengan baik.


Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya miliknya bisa masuk dengan sempurna.

__ADS_1


"Kamu sangat nikmat, sayang." lirihnya sembari mulai menghentakkan tubuhnya perlahan.


Selanjutnya hanya suara erangan dan desisan yang memenuhi kamar tersebut.


Olive yang berada dalam pengaruh obat sepertinya tak cukup sekali baginya, bahkan ia nampak lebih agresif mengimbangi sang suami.


Keesokan harinya.....


Pagi itu Ricko nampak mengerjapkan matanya saat mendengar dering ponselnya.


Kemudian ia segera meraihnya di atas nakas lalu menjawabnya.


"Ya hallo ?" ucapnya.


"Pak, anda dan nyonya di harapkan datang ke kantor polisi sebagai saksi." ucap sang pengacara dari ujung telepon.


"Istri saya masih trauma, saya akan datang kesana sendiri." tukas Ricko beralasan, setelah itu ia memutuskan panggilannya.


Tentu saja ia tidak akan mengganggu istrinya tidur, karena wanita itu hampir pagi baru terlelap setelah pengaruh obat perlahan hilang.


Mengingat bagaimana percintaannya semalam, Ricko yakin istrinya pasti sangat kelelahan.


"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan malam yang hebat untukku." gumamnya.


Setelah itu ia mengecup punggung terbuka istrinya yang nampak terlelap tidur dengan posisi memunggunginya.


Ricko segera beranjak dari tidurnya, lalu memunguti pakaian mereka yang berserakan di mana-mana. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa saat kemudian ia sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana jeans.


"Maafkan aku harus meninggalkan mu sebentar, sayang." gumamnya setelah mengecup kening istrinya tersebut, kemudian ia bergegas pergi ke kantor polisi.


Matahari sudah merangkak semakin naik, namun Olive sepertinya enggan untuk bangun.


Sungguh ia sangat lelah, ia tidak menyangka bisa seliar itu semalam. Hingga membuat tubuhnya terasa remuk sekarang.


Namun perutnya yang terasa keroncongan membuatnya mau tak mau harus membuka matanya.


Ia nampak mengerjap, kemudian ia menoleh ke sisinya namun sudah kosong.


"Rick ?" teriaknya, tapi tak ada sahutan.


"Kemana dia ?"


"Rick ?"


Olive segera beranjak dari ranjangnya, ia berjalan perlahan mencari keberadaan suaminya tersebut.


"Apa dia pergi seperti dulu lagi ?" rintihnya dengan mata berkaca-kaca, ia merasa dejavu dengan kejadian dua tahun lalu.

__ADS_1


Saat itu setelah mereka menghabiskan malam panjang, keesokan harinya ia langsung di tinggalkan begitu saja oleh suaminya tersebut.


"Apa kamu pergi karena merasa jijik padaku ?" lirihnya, air matanya yang tadi mengembun kini langsung saja jatuh tanpa bisa ia tahan.


__ADS_2