
"Sayang, terima kasih ya sudah memilihku untuk menjadi wanita pendampingmu. Kamu tahu kan dari dulu aku sangat mencintaimu dan aku akan berusaha untuk membuatmu segera jatuh cinta padaku." ucap Sarah malam itu.
Sedangkan Ricko hanya menanggapinya dengan senyumannya, ia tahu Sarah gadis yang baik dan ia akan belajar mencintainya.
Namun senyumnya langsung menyurut saat melihat sosok wanita yang baru datang bersama Dean.
"Gadis itu kenapa bisa ada di sini ?"
Ricko nampak memperhatikan Olive yang malam itu terlihat sangat cantik, dua tahun tak bertemu membuat ia sedikit pangling. Karena Olive sekarang terlihat lebih dewasa dan anggun.
Apalagi saat pandangan mereka bertemu Ricko tiba-tiba merasakan getaran aneh di hatinya.
"Tidak, perasaan apa ini ?"
Ricko langsung memalingkan wajahnya, mencoba mengobrol lagi dengan Sarah yang malam itu juga terlihat sangat cantik.
Sepanjang pesta nyatanya ia tak bisa berpaling dari Olive, meski logikanya menolak tapi hatinya seakan menentangnya.
"Selamat ya bro, jadi kapan kalian akan menikah ?" ucap Dean saat acara sudah selesai, kini tinggal keluarga inti yang nampak sedang makan malam bersama.
"Bertunangan bukan berarti akan segera menikah, aku dan Sarah sudah sepakat untuk melakukan penjajakan terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap serius." sahut Ricko.
"Penjajakan bagaimana, kalian sudah mengenal dari SMA apa itu masih kurang ?" cibir Dean.
"Itu bukan urusanmu bro, aku dan Sarah saja baik-baik saja kenapa kamu yang repot." Sergah Ricko lalu menatap Sarah yang langsung mengangguk menyetujui perkataan Ricko.
Sebenarnya Ricko belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat, namun ia tak bisa menolak permintaan sang ibu agar ia cepat menikah agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dan pergaulan bebas.
Sementara itu Olive yang sedang duduk di samping Dean nampak tak peduli dengan perdebatan mereka, ia terlihat asyik berbicara dengan nyonya Anggoro.
"Kenapa aku merasa dia mirip sekali dengan Oliveku." gumam nyonya Anggoro dalam hati, ia sudah mengasuh Olive semenjak lahir. Segala tingkah laku cucunya itu sangat ia hafal.
Dari senyumnya dan caranya berbicara pun sangat mirip dengan Olive, hanya saja gadis itu lebih lembut dalam bertutur kata pikir nyonya Anggoro.
Begitu juga dengan Demian, ia juga sedikit curi-curi pandang ke arah Olive. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan saat menatap gadis itu.
"Sepertinya aku terlalu merindukan Olive." gumamnya.
Keesokan harinya....
"Bagaimana tidurmu semalam, nyenyak ?" tanya Dean saat baru datang ke Apartemen Olive.
"Aku sudah mulai beradaptasi, bapak ngapain datang kesini saya bisa naik taksi ke kantor." sahut Olive.
"Kamu memanggilku apa tadi ?" Dean nampak mengernyit.
"Bapak, aku tidak ingin karyawan lain berpikir macam-macam saat aku hanya memanggil namamu." sahut Olive menjelaskan.
"Baiklah terserah kamu saja, ayo berangkat. Aku khawatir kamu akan tersesat." ajak Dean.
"Saya bukan anak kecil pak." sahut Olive dengan kesal namun itu justru membuat Dean terkekeh.
"Oh ya dalam seminggu ini aku mungkin akan mengunjungi kantor cabang, jika ada apa-apa kamu bisa meminta bantuan Ricko." tutur Dean kemudian.
"Apa !!" Olive nampak membulatkan matanya.
"Kamu tenang saja meski dia seperti balok es dan mulutnya kadang pedas tapi dia orang yang baik." Dean mencoba meyakinkan.
"Baik pak." Olive nampak pasrah.
Sesampainya di kantornya, Olive segera menuju kubikelnya. Ia nampak duduk di kursi bersebelahan dengan asistennya Ricko.
"Kamu sekretarisnya pak Dean ?" sapa seorang pria seumuran dengannya.
"Olive." sahut Olive memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Semoga kamu betah, aku Pras asistennya pak Ricko." tutur Pras memperkenalkan dirinya juga.
"Pak Ricko tidak mempunyai sekretaris ?" tanya Olive penasaran.
"Beliu tidak terlalu suka dekat dengan perempuan." sahut Pras.
"Seriously ?" Olive nampak terkejut.
"Hm, hanya nona Sarah satu-satunya wanita yang dekat dengannya." sahut Pras setengah berbisik.
"Oh."
"Apa perusahaan ini menggaji kalian untuk bergosip ?" tegur Ricko saat dia baru datang.
Olive dan Pras yang terkejut saat melihatnya langsung bangkit dari duduknya. "Selamat pagi, Pak." sapa mereka bersamaan.
"Hm, bekerjalah yang benar kalian di bayar mahal di sini." tukas Ricko sembari berlalu menuju ruangannya.
Setelah pintu di depannya itu tertutup, Pras dan Olive segera duduk kembali. "Pedas sekali kan mulutnya, lain kali kamu harus bisa menjaga sikap." Pras mengingatkan.
"Tapi aku kan bekerja untuk pak Dean." kilah Olive.
"Sama aja Olip, mereka berdua pemimpin di perusahaan ini itu artinya kamu juga bekerja untuknya." tukas Pras.
Mendengar ucapan Pras, Olive nampak menghela napas panjangnya.
Beberapa saat kemudian terdengar dering telepon di atas meja kerjanya.
"PT Anggoro Network, selamat pagi." sapanya saat mengangkat panggilan tersebut.
"Masuk ke ruangan saya." perintah Ricko dari ujung telepon.
"Sa-saya pak...." Olive belum menyelesaikan perkataannya tapi Ricko sudah mematikan panggilannya.
"What? tidak sopan banget." gerutu Olive dengan kesal.
"Pak Ricko menyuruh ku ke ruangannya." sahut Olive.
"What, seriously ?" Pras sama terkejutnya seperti dirinya.
"Kamu tahu selama ini tidak ada karyawan wanita yang pernah masuk ke ruangan beliau, kecuali nona Sarah." imbuhnya lagi.
"Mungkin dia mau menjelaskan tentang pekerjaan ku di sini, kata pak Dean seperti itu tadi." sahut Olive seraya bangkit dari duduknya, kemudian ia berlalu menuju ruangan CEO di perusahaan tersebut.
"Masuk." sahut Ricko saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Selamat pagi pak, anda memanggil saya ?" ucap Olive menatap Ricko.
"Duduk !!" perintah Ricko kemudian.
Olive segera mendudukkan dirinya, sedangkan Ricko kembali fokus pada layar komputer di depannya tersebut.
Hingga beberapa menit Ricko tak kunjung bicara dan itu membuat Olive mulai kesal.
"Tadi bapak memanggil saya ?" ucapnya kemudian.
"Hm." sahut Ricko tanpa menatapnya.
"Lalu kenapa anda diam ?" tanya Olive kemudian.
"Sebentar, saya sedang bekerja." sahut Ricko tak berperasaan.
Olive nampak menghela napasnya pela. "Sabar." gumamnya.
Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang di dominasi dengan warna abu rokok tersebut. Benar-benar manly pikirnya.
__ADS_1
Namun tanpa ia sadari, Ricko juga nampak memperhatikannya diam-diam. Entah apa yang pria itu pikirkan, pandangan datar namun penuh dengan arti.
Setelah puas memanjakan matanya dengan ruangan mewah tersebut, kemudian ia menatap Ricko kembali yang terlihat serius bekerja.
Dua tahun lebih tak bertemu, banyak sekali perubahan pada diri pria itu. Sepertinya Ricko menjaga tubuhnya dengan baik hingga terlihat sempurna dan proporsional.
Rahangnya tegas dengan sedikit bulu-bulu tipis yang baru mulai tumbuh.
"Kenapa menatap saya seperti itu ?" ucap Ricko yang sedang fokus di depan layar monitornya.
"Ti-tidak." Olive langsung memalingkan wajahnya.
"Sialan, darimana dia tahu aku sedang memperhatikannya." imbuhnya lagi dalam hati.
"Ambil dan kerjakan dokumen-dokumen itu, usahakan selesai hari ini." perintah Ricko kemudian seraya menatap tumpukan dokumen di atas mejanya.
"Semuanya pak ?" tukas Olive.
"Hm."
"What? tapi ini sangat banyak pak." protes Olive.
"Kamu mau membantah ?" Ricko menatapnya dingin.
"Baik, pak." akhirnya Olive hanya bisa pasrah lalu mengambil tumpukan dokumen tersebut lalu membawanya ke meja kerjanya.
"Karyawan baru memang selalu di tindas." gerutunya seraya melangkahkan kakinya keluar.
"Saya tidak menindasmu, itu semua kerjaan kak Dean." teriak Ricko saat Olive berada di ambang pintunya.
"Saya tidak berbicara seperti itu kok pak." tukas Olive berbohong.
"Apa dia seorang cenayang hingga bisa membaca pikiranku." imbuhnya lagi dalam hati.
Setelah itu ia segera menutup pintunya kembali kemudian berlalu menuju kubikelnya.
Hingga menjelang petang Olive masih sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Sepertinya kamu harus lembur malam ini." tukas Pras seraya merapikan barang-barangnya.
"Hm, mungkin aku akan tidur di sini." Olive terlihat kesal, masih ada beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Sabar, banyak juga kok karyawan yang lembur di lantai bawa. Karena boss tidak menyukai menunda pekerjaan." tukas Pras.
"Hm."
"Baiklah, aku pulang duluan." Pras segera beranjak dari duduknya.
"Bukannya kamu asistennya pak Ricko kenapa kamu pulang duluan ?" protes Olive.
"Meski aku asistennya tapi jam kerjaku normal, lagipula pak Ricko sudah biasa melakukan apapun sendiri." sahut Pras kemudian ia pamit untuk pulang duluan.
"Enak sekali dia." gerutu Olive semakin kesal.
Di lantai tempatnya bekerja, hanya ada dua ruangan milik Ricko dan Dean, setelah Pras pulang itu berarti hanya ada dirinya dan pria itu saat ini.
Beberapa saat kemudian hujan mulai turun dan terdengar suara petir, Olive yang mempunyai trauma dengan hujan dan petir karena kecelakaan yang menimpanya dulu nampak mulai cemas diatas kursinya.
"Mommy, Daddy." rintihnya yang langsung duduk di lantai lalu menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
"Mommy, Daddy." tubuhnya nampak bergetar bercampur suara isakan, kilasan-kilasan saat ia kecelakaan pesawat beberapa tahun silam kini bermunculan kembali memenuhi kepalanya.
"Kamu baik-baik saja ?" Ricko yang baru keluar dari ruangan nampak terkejut saat melihat Olive terduduk di lantai, kemudian ia mendekati wanita itu.
"Kamu baik-baik saja ?" tanyanya lagi, namun Olive tak mengindahkannya.
__ADS_1
"Hey, apa kamu baik-baik saja ?" dengan terpaksa Ricko langsung menyentuh tubuh Olive yang nampak menggigil.
"Apa kamu takut hujan? tenanglah, kamu akan baik-baik saja." Ricko langsung membawa Olive ke dalam pelukannya.