
"Pelan-pelan, Ma." Tuan Anggoro langsung menyodorkan air minum saat istrinya itu tersedak.
Setelah merasa lebih baik, nyonya Anggoro menatap Ariana yang sedang duduk di hadapannya itu. "Siapa yang mengizinkan mu, memasak ?" ucapnya dengan nada dingin.
"Maaf Ma, saya lancang masuk ke dapurnya Mama. Tapi saya sudah terbiasa memasak sendiri untuk Ricko." sahut Ariana menyesal.
"Sudahlah, Ma. Toh masakan buatan menantu kita juga sangat lezatkan? tak kalah enak dengan masakan chef di sini, bahkan ini lebih enak lagi. Kamu tahu kenapa? karena makanan ini di buat dengan cinta." ujar Tuan Anggoro membela.
"Tapi Pa....."
"Aku jadi iri denganmu Demian, setiap hari kamu bisa makan makanan penuh cinta dari tangan istrimu." sela tuan Anggoro bernada sindiran, karena selama ini istrinya itu tak pernah memasak untuknya.
"Istriku memang pandai memasak Pa dan aku sangat menyukainya dan ku harap Mama tidak lagi melarangnya untuk memasak." sahut Demian, lalu menatap sang ibu.
Nyonya Anggoro semakin melengos ketika dua laki-laki kesayangannya itu justru memuji Ariana, meski ia juga mengakui masakan menantunya itu sangat enak.
"Sekarang kamu adalah nyonya muda di rumah ini, ku harap kamu tidak merusak kulitmu sendiri hanya karena terlalu sibuk di dapur." peringatan dari nyonya Anggoro pada Ariana.
"Maaf Ma, tapi tolong izinkan saya memasak untuk suami dan anak saya. Saya janji akan tetap menjaga penampilan." mohon Ariana.
Nyonya Anggoro nampak menghela napasnya. "Terserah kamu, tapi jangan sekali-sekali membuatku malu gara-gara penampilanmu yang tak lebih seperti seorang pelayan di rumah ini." sinis nyonya Anggoro lagi.
"Baik Ma." Ariana hanya bisa pasrah, sungguh peraturan di rumah ini sangat kaku.
"Setelah ini akan ada guru yang akan mengajarimu bagaimana caranya bernampilan dan makan dengan benar, karena ke depannya kamu akan sering mengikuti jamuan makan." ujar nyonya Anggoro.
"Memang ada yang salah dengan cara makan ku ?" batin Ariana tak mengerti.
"Tapi itu bukan suatu kewajiban Ma, lagipula aku tidak akan mengizinkan istriku menghadiri acara apapun apalagi tanpaku." sela Demian.
"Tapi tetap juga harus belajar." Tegas nyonya Anggoro.
"Baik, Ma." sahut Ariana patuh seraya menggenggam tangan suaminya di bawah meja agar laki-laki itu tak menyela ibunya lagi.
"Buk, Ricko sudah selesai." ucap Ricko setelah menghabiskan semangkuk bubur ayamnya.
"Baiklah, ayo siap-siap ibu akan mengantarmu ke sekolah. Pa, Ma kami pamit dulu." sahut Ariana menatap sang putra, kemudian berpamitan pada kedua mertuanya dan setelah itu ia segera bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh suaminya.
"Tunggu dulu." nyonya Anggoro menghentikan Ariana yang akan melangkahkan kakinya pergi.
"Iya Ma ?" sahut Ariana.
__ADS_1
"Kalian bukan orang kampung lagi dan panggilan ibu tidak cocok di rumah ini." ujar nyonya Anggoro angkuh.
Ariana menghela napasnya pelan. "Sabar, Ariana." batinnya, ia memang harus banyak bersabar menghadapi ibu mertuanya yang serba sempurna.
"Tapi Ricko suka dengan panggilan ibu, Nek." ucap Ricko.
"Tapi mulai hari ini panggil ibumu dengan Mommy seperti halnya kamu memanggil ayahmu dengan Daddy." perintah nyonya Anggoro.
Ariana yang sedang menatap Ricko langsung menganggukkan kepalanya, agar putranya tersebut tak membantah ucapan neneknya.
"Baik Nek, Ricko akan memanggil Mommy." sahut Ricko patuh.
"Sudahlah Ma, jangan membuat istri dan putraku tidak nyaman tinggal di sini." protes Demian mulai jengah dengan segala peraturan sang ibu.
"Mama hanya menginginkan yang terbaik buat keluarga kita, lagipula demi kebaikan mereka juga." sanggah nyonya Anggoro.
"Aku nggak keberatan kok, Mas." Ariana mengulas senyumnya ketika laki-laki itu mulai tak sabar.
"Baiklah, aku berangkat dulu ya. Hubungi aku kalau ada apa-apa." Ujar Demian sembari mengusap lembut puncak kepala sang istri.
Nyonya Anggoro yang melihat itu nampak mendengus, di kira dirinya akan menyiksa menantunya itu apa.
Hingga siang hari Ariana baru menyelesaikan pelajarannya tersebut, ia belajar bagaimana sikap duduk di meja makan dengan benar, bagaimana cara memakai sendok serta garpu, cara memotong daging steak dan juga memakai sumpit yang benar.
Meski lelah dan banyak omelan dari ibu mertuanya, Ariana tetap semangat.
"Seribet itu ya hidupnya orang kaya, padahal makan menggunakan tangan lebih lezat." gerutu Ariana setelah masuk ke dalam kamarnya.
Ia terlihat sangat lelah, tidak hanya tubuhnya saja yang lelah karena melayani suaminya di atas ranjang. Tapi pikirannya juga sangat lelah menghadapi berbagai aturan di rumah tersebut.
Hingga tanpa sadar ia mulai terlelap di atas sofa sampai sore hari.
"Astaga aku ketiduran." Ariana menatap jam di atas nakas yang menunjukkan pukul 4 sore.
Ia segera bangun karena satu jam lagi harus menjemput Ricko di sekolahnya.
"Duh lapar lagi." gerutunya lagi ketika merasakan perutnya keroncongan, wajar saja karena ia sudah melewatkan makan siangnya.
"Astaga aku lupa membuang obat kontrasepsi di dalam tasku, entah kenapa sejak tinggal di sini aku mendadak pikun." gumam Ariana, kemudian ia mengambil tasnya yang berada di atas nakas.
"Kemana obat itu ?" Ariana mengeluarkan semua isi di dalam tasnya tapi ia tak menemukan keberadaan obat tersebut.
__ADS_1
"Perasaan aku selalu menaruhnya di sini." gumamnya.
"Apa mungkin aku lupa ya? mungkin tertinggal di rumah." imbuhnya lagi.
Karena sudah tidak tahan dengan perutnya yang lapar kemudian ia memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Ariana menatap meja makan yang terlihat kosong, wajar saja karena hari sudah sore pasti para pelayan di sana sudah membereskan semua makanannya.
"Ada yang bisa saya bantu, nyonya muda ?" ucap seorang pelayan ketika Ariana masuk ke dalam dapur.
"Saya lapar." sahutnya seraya mencari makanan di sana.
"Silakan anda tunggu di meja makan, saya akan membuatkannya untuk anda." ucap pelayan tersebut.
"Tidak perlu, saya makan yang ada saja." Ariana melihat sepiring ayam goreng lalapan dan tempe goreng beserta sambalnya yang terlihat sangat menggoda yang berada di atas meja makan khusus para Pelayannya tersebut.
"Tapi nyonya, itu makanan khusus para pelayan." cegah pelayan tersebut.
"Bodoh amat lah mbak, saya ini lapar." Ariana langsung mendudukkan dirinya di meja makan tersebut.
"Nyonya muda anda di larang duduk di sini, bagaimana kalau nyonya besar melihatnya." pelayan tersebut nampak tak enak hati sekaligus cemas kalau ketahuan nyonya besarnya.
Majikannya itu pasti akan memarahinya bahkan kemungkinan terburuknya akan memecatnya, karena beliau tidak mentolerin sebuah kesalahan.
"Mbak saya sedang lapar loh jangan macam-macam, lagipula nyonya besar tidak ada juga." ujar Ariana kesal.
Ia langsung mengambil banyak nasi dan juga lauk, karena menghadapi ibu mertuanya itu membutuhkan tenaga ekstra.
Ariana seakan melupakan pelajaran tentang table manner yang di ajarkan oleh gurunya tadi siang, kini ia nampak makan dengan lahap menggunakan tangannya.
"Makan seperti ini itu jauh lebih lezat, mana enak pakai sendok atau di potong-potong menggunakan pisau steak itu." batin Ariana seraya memasukkan potongan ayam belumur sambal ke dalam mulutnya menggunakan tangannya.
"Aku harus bisa membuat Mama makan sepertiku ini juga dan jangan panggil aku Ariana kalau sampai tidak bisa melakukan itu." tekad Ariana sambil terkikik membayangkan ibu mertuanya itu makan dengan menggunakan tangannya.
Sementara itu Demian yang sedang berada di kantornya nampak meremas kertas hasil laboratorium yang baru saja di berikan oleh Victor.
"Jadi selama ini istriku minum obat kontrasepsi." geramnya, berbagai sangkaan berkecamuk di kepalanya.
Untuk apa istrinya itu minum obat pencegah kehamilan, apa wanita itu tidak mau mengandung anaknya?
"Vic, saya mau pulang sekarang." ucapnya pada Victor.
__ADS_1