Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~224


__ADS_3

"Ngomong-ngomong siapa gadis gila yang berani mencium Ricko ?"


Dean yang penasaran langsung keluar dari ruangan tersebut, sepertinya ia harus mencari tahu. Ini akan menjadi berita heboh di keluarganya, karena anak bujang di keluarga Anggoro sudah mulai selangkah lebih maju.


Memikirkan hal itu Dean jadi semakin bersemangat mencari tahu siapa gadis beruntung itu yang telah membuat bibir ponakannya tak perjaka lagi.


"Ricko, tunggu dulu." Dean menghentikan langkah Ricko saat ia akan masuk ke dalam mobilnya.


"Apalagi sih kak, aku sudah telat." keluh Ricko.


"Katakan siapa gadis itu ?" desak Dean penasaran.


"Tidak penting." sahut Ricko.


"Apa dia cantik? orang sini atau dari negara kita ?" desak Dean tak menyerah.


Ricko nampak jengah, namun ia harus segera membuat kakaknya itu berhenti mengganggunya.


"Ya, cantik." sahut Ricko seraya membayangkan wajah Olive yang memang cantik.


"Orang sini ?" tanya Dean lagi.


"Entahlah, aku tidak tahu." sahut Ricko.


"Apa dia...."


"Kak stop, sebagai seorang CEO pekerjaan mu di dalam bukan di sini atau mau ku geser posisimu." potong Ricko dengan kesal.


"Sialan, langkahi dulu mayatku." tukas Dean seraya menatap Ricko yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Apa dia masih kuliah ?" tanya Dean lagi saat Ricko mulai menjalankan mobilnya.


"Hm." sahut Ricko kemudian segera melajukan mobilnya sebelum kakaknya bertanya lebih jauh.


"Ah sial, bikin penasaran aja." gumam Dean kesal.


Setelah itu ia melangkahkan kakinya menyeberang jalan, sepertinya minum secangkir kopi akan membuatnya lebih baik.


"Oh astaga, lihat-liat jalan dong." Dean yang sedang kesal tak sengaja menabrak seseorang saat menyeberang.


"Maaf tuan." Olive meminta maaf saat tak sengaja menabrak Dean, setelah itu ia bergegas pergi.


"Dasar gadis aneh, bukannya ini musim panas ngapain pakai hoodie seperti itu." gerutu Dean saat melihat penampilan Olive yang sedang memakai hoodie kebesaran beserta topinya menutupi hampir setengah wajah gadis itu.


"Jangan-jangan dia buronan polisi lagi." imbuhnya dalam hati.

__ADS_1


"Tunggu." karena penasaran akhirnya Dean mengejar Olive.


"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Olive menghentikan langkahnya lalu menatap Dean yang kini sudah menghalangi jalannya.


"Kenapa pakaianmu seperti itu? ini musim panas nona, lihatlah semua wanita di sini memakai pakaian musim panas." tegur Dean mengomentari pakaian Olive.


"Bukan urusan anda, tuan. Tolong minggirlah." mohon Olive.


"Jangan-jangan kamu buronan polisi ya ?" tuduh Dean to the point yang langsung membuat Olive menelan ludahnya.


Kemudian ia mengedarkan pandangannya berharap tak ada Ricko di sekitar sana, setelah merasa aman Olive langsung membuka topi hoodie yang menutupi kepala hingga setengah wajahnya itu.


"Jangan sembarangan bicara tuan, sekarang minggirlah saya akan telat ke kampus." tegas Olive seraya menunjukkan beberapa buku di tangannya.


Sedangkan Dean nampak melebarkan matanya menatap gadis cantik berambut panjang di depannya itu.


"Oh astaga, cantik sekali gadis ini." gumamnya dengan wajah menganga.


"Tuan, bisa beri saya jalan ?" teriak Olive saat Dean tak menanggapinya, entahlah laki-laki itu mendadak diam menatapnya.


"I-iya." sahut Dean.


"Terima kasih dan lain kali jangan menuduh sembarangan, tuan kira saya penjahat apa." tukas Olive, kemudian ia berlalu pergi dengan memakai topi hoodienya kembali.


"Astaga, aku lupa mengajaknya berkenalan." Dean nampak merutuki dirinya sendiri saat melihat Olive sudah berlalu pergi dengan taksinya.


Sore harinya....


Olive yang baru pulang dari kampusnya nampak sangat lelah, ia langsung melemparkan hoodie beserta celana panjangnya di atas sofa.


Tubuhnya terasa seperti di kukus dengan pakaian seperti itu di saat musim panas dan kini ia mengganti pakaiannya dengan Hot pants dan tanktop membungkus tubuhnya.


Setelah itu ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, menghabiskan waktunya menonton drama Korea menjadi kebiasaannya setelah ia menjadi pengangguran.


Tabungannya sudah mulai menipis, ia harus berhemat sampai kelulusannya nanti dan mendapatkan pekerjaan baru yang layak dengan ijazah strata satunya.


Beberapa saat kemudian terdengar bel rumahnya berbunyi, ia segera beranjak untuk melihat.


Biasanya satu-satunya orang yang datang ke rumah peninggalan kakek angkatnya itu hanya Jenifer seorang atau tidak pengantar makanan online.


"Sebentar Jen." teriak Olive saat bel rumahnya tak berhenti berbunyi.


Ketika baru membuka pintunya Olive nampak membelalakkan matanya saat melihat Ricko berdiri dengan angkuh di depan pintu rumahnya.


"Astaga, apa ini mimpi ?" gumam Olive seraya menelan ludahnya, kemudian ia langsung menutup pintunya kembali namun terlambat karena Ricko sudah menahannya.

__ADS_1


"Mau kabur kemana, hm ?" sinis Ricko menatap gadis di depannya itu, ia berusaha menahan gejolak pada dirinya saat menatap betapa seksinya Olive sore itu.


"Da-dari mana kamu tahu rumahku ?" Olive mendadak gugup, ia sudah menghindari pria itu semaksimal mungkin tapi tetap saja ketahuan.


"Itu mudah bagiku." sahut Ricko dengan angkuh.


"Baiklah, katakan kamu mau apa ?" tanya Olive to the point, kepalang tanggung lebih baik ia menantang pria itu. Karena terus-menerus bersembunyi membuatnya seperti orang gila.


"Ganti rugi." sahut Ricko.


"Baiklah berapa uang yang kamu inginkan ?" balas Olive, meski saat ini ia ketar-ketir karena tabungannya sudah menipis.


"Kamu pikir aku pria miskin yang kekurangan uang ?" tukas Ricko dengan sombong.


"Lalu ganti rugi macam apa yang kamu mau ?" Olive sedikit lega, karena pria itu tidak menginginkan uang darinya.


Saat Ricko memindai dirinya dari atas hingga bawah, Olive langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya dengan wajah kemerahan menahan amarahnya.


"Kamu pikir aku tertarik padamu ?" cibir Ricko seakan tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan, namun ia menahan kekehannya saat melihat reaksinya yang sedikit menggemaskan.


Sepertinya sedikit mengerjainya akan menyenangkan, hitung-hitung sebagai hukuman karena kelancangan gadis itu telah mencuri ciumannya.


"Lalu apa yang kamu inginkan ?" kesal Olive.


"Aku sedang lapar, buatkan aku makan siang." sahut Ricko, lalu mendorong bahu Olive hingga ia bisa leluasa masuk ke dalam rumah mungil tersebut.


"Oh astaga, siapa yang mengizinkan mu masuk." Olive semakin kesal, ia akan mengusir Ricko namun pria itu justru duduk dengan santai di sofanya.


"Jadi kapan kamu akan membuatkan ku makan siang ?" tukas Ricko dengan nada perintah.


"Apa setelah aku membuatkan mu makanan, kamu akan pergi dan tidak akan mengangguku lagi ?" tanya Olive memastikan.


"Tergantung enak atau tidak makanan buatanmu." sahut Ricko seraya memindah saluran televisi.


"Menyebalkan, untung aku cinta." gerutu Olive sembari melangkahkan kakinya menuju dapur kecilnya.


Padahal sebelumnya ia sudah berusaha melupakan perasaannya karena Ricko telah mempunyai kekasih, namun kini takdir seakan mempermainkannya.


"Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah tetap saja menyebalkan." gerutu Olive sembari menyiapkan bahan makanan seadanya di dapur mungilnya tersebut.


"Apa kamu bilang ?"


Tiba-tiba saja Ricko sudah berdiri di ambang pintu dapurnya dengan tangan bersendekap.


Deg!!

__ADS_1


"Apa dia mendengar ucapanku tadi ?" gumam Olive seraya menggigit bibirnya.


__ADS_2