Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~88


__ADS_3

"Kamu pikir Mama pelayan disini, hah ?" nyonya Anggoro nampak murka ketika Demian memintanya untuk memasak nasi goreng buat istrinya.


"Bukan begitu Ma, Ariana sedang ngidam. Mama tahu sendirikan orang ngidam itu sukanya aneh-aneh." bujuk Demian.


Nyonya Anggoro mendesah kasar. "Mama tidak mau." tolaknya keukeh seraya menatap kuku-kuku panjangnya yang bercat merah itu.


Kuku cantiknya pasti akan patah dan kulitnya menjadi kasar jika berada di dapur, pikirnya.


"Nenek bukan pelayan meski memasak buat adik-adiknya Ricko, begitu juga dengan Mommy setiap hari buatin Ricko makanan tapi Mommy tetap Mommy dan bukanlah pelayan." ucap Ricko seraya duduk di samping ibunya.


"Sabar ya Dek, nanti kalau kalian sudah keluar terus ileran itu berarti salah nenek yang tidak mengabulkan permintaan kalian." ucapnya lagi sembari mengusap lembut perut datar ibunya.


Mendengar ucapan Ricko nyonya Anggoro langsung melotot, namun tidak dengan Demian dan ayahnya dua laki-laki berbeda generasi itu nampak menahan tawanya. Sungguh cucunya itu sangat pintar membuat seseorang merasa bersalah.


"Itu hanya mitos Ricko, tidak ada yang seperti itu." sergah nyonya Anggoro kesal, bagaimana bisa cucunya itu berkata seperti itu ada-ada saja.


"Dulu tetangga Ricko di kampung, adik bayinya ileran Nek karena katanya waktu di dalam perut ingin makan laron tapi sama ayahnya nggak di bolehin kan itu bukan makanan." sahut Ricko.


"Laron ?" Demian nampak menatap Ariana dan juga ayahnya bergantian, sepertinya laki-laki itu tak mengerti.


"Laron Daddy, itu loh semut yang bisa terbang. Keluarnya setiap malam setelah hujan reda." ujar Ricko menjelaskan.


"Hah semut terbang ?" Demian semakin menganga karena tak mengerti, dasar orang kaya.


"Itu bukan semut Nak, tapi rayap yang suka makan kayu." Ariana menjelaskan pada putranya tersebut.


"Oh iya." Ricko nampak tersenyum nyengir.


"Oh astaga, itu adik temanmu bukan monster kan masa ngidamnya makan rayap ?" ujar nyonya Anggoro bergidik ngeri.


"Bukan rayapnya Nek, tapi yang sudah berubah jadi laron." sela Ricko menjelaskan.


"Entahlah apapun itu, tapi itu sangat menjijikkan." gerutu nyonya Anggoro.


"Ricko jadi sedih, bagaimana kalau adik-adiknya Ricko nanti ileran Mom kan jorok itu." ucap Ricko dengan mimik sedih.


"Nggak apa-apa sayang, kalau ileran kan bisa di lap."


"Tapi tetap saja jorok, Mommy."


Mendengar percakapan cucu dan menantunya itu, nyonya Anggoro langsung mendesah kesal.


"Baiklah, aku akan membuatkan nasi goreng." ucapnya meski ada nada keterpaksaan disana.


"Hah, beneran Ma ?" tuan Anggoro nampak melongo tak percaya.


"Tentu saja Pa, memang Papa pikir Mama tidak bisa memasak apa." sahut nyonya Anggoro.


"Dan kamu jangan senang dulu, saya lakukan ini semua Demi cucu-cucu saya agar tidak ileran." imbuhnya lagi sembari menatap Ariana.

__ADS_1


"Baik Ma, terima kasih." Ariana yang nampak antusias ia segera memeluk nyonya Anggoro karena senang dan itu langsung membuat wanita paruh baya itu melotot karena pelukan tiba-tiba dari menantunya.


Namun jauh di dasar hatinya ada perasaan hangat yang sulit ia jelaskan.


"Maaf Ma, saya terlalu senang." Ariana langsung melepaskan pelukannya ketika menyadari perbuatannya.


"Merepotkan saja." gerutu nyonya.


"Terima kasih, Ma. Aku juga ingin merasakan masakan perdananya Mama." Kali ini Demian yang memeluk ibunya itu lalu mengecup pipinya yang langsung membuat Nyonya Anggoro tersenyum.


Entah kapan terakhir putra semata wayangnya itu bersikap manja dan jujur ia sangat merindukan kehangatan seperti ini.


"Baiklah Mama akan memasak untukmu juga." ucap nyonya Anggoro.


"Ya sudah ayo cepat Mama masak, aku dan kedua biji kacangku sudah tak tahan mencicipinya." desak Demian.


"Ricko juga mau Nek, kakek juga mau kan ?" sela Ricko lalu menatap sang kakek.


"Tentu saja, sayang." sahut Tuan Anggoro terkekeh.


"Dasar menyebalkan, masih dalam perut saja sudah pintar mempengaruhi banyak orang apalagi kalau sudah lahir nanti." gerutu nyonya Anggoro seraya melangkahkan kakinya ke dapurnya yang jarang sekali ia masuki.


Namun begitu, entah kenapa ia tiba-tiba sangat bersemangat untuk memasak saat melihat wajah orang-orang yang sedang menunggunya itu.


Di bantu oleh kokinya, nyonya Anggoro nampak meracik bumbu nasi goreng buatannya.


"Rasanya lebih enak di ulek, nyonya." sahut koki tersebut.


Lagi-lagi nyonya Anggoro berdecak kesal, sesulit ini kah memasak. Tiba-tiba ada perasaan bersalah di hatinya, mengingat ia sering sekali memarahi kokinya tersebut jika makanan yang di buatnya kadang tidak sesuai kemauannya.


Setelah berjibaku dengan ulekan, kini nyonya Anggoro mulai menumis bumbu nasi goreng tersebut. Nampak keringat mulai mengucur di dahinya ketika uap panas mengenai wajahnya.


Sungguh perjuangan yang sangat melelahkan, pikirnya dan semoga saja mereka semua menyukainya nanti.


Beberapa saat kemudian nasi goreng buatannya sudah terhidang di meja makan.


Tuan Anggoro, Demian maupun Ricko nampak ragu untuk memakannya karena melihat penampilannya pun sangat tidak menarik apalagi sebagian bumbunya terlihat gosong.


Lain halnya dengan Ariana, wanita itu melahapnya dengan rakus. Seakan nasi goreng tersebut adalah makanan terenak di dunia.


Dan diam-diam nyonya Anggoro nampak tersenyum tipis melihat menantunya tersebut.


"Kenapa tidak di makan ?" tegur Ariana ketika melihat suaminya hanya memandangi nasi goreng tersebut.


"Tentu saja ini mau makan, sayang." sahut Demian yang langsung di anggukin oleh sang ayah dan juga Ricko.


Mereka nampak memakannya, tapi baru juga masuk ke dalam mulutnya rasanya ingin mereka keluarkan lagi.


Namun urung mereka lakukan ketika melihat wajah lelah nyonya Anggoro yang terlihat harap-harap cemas.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya ?" tanya nyonya Anggoro penasaran.


"Sangat enak." sahut mereka bertiga serentak yang langsung membuat Nyonya Anggoro senang.


"Benarkah ?" nyonya Anggoro langsung antusias.


"Tentu saja Ma, ini sangat enak." dusta tuan Anggoro.


"Masa sih ?" nyonya Anggoro jadi penasaran dengan nasi goreng buatannya sendiri, kemudian ia mengambil sendok lalu mencicipi punya suaminya tersebut.


Seketika ia langsung berlari ke dalam kamar mandi yang berada tak jauh dari sana.


"Kalian menipuku, ini sangat tidak enak bahkan kucing pun mungkin tidak doyan." sungut nyonya Anggoro, ia langsung mengambil semua piring nasi goreng tersebut dan akan membuangnya.


Nampak air matanya sudah mengembun karena ternyata kerja kerasnya hanya sia-sia belaka.


Namun Ariana yang baru selesai menghabiskan makanannya, langsung mencegahnya.


"Ma, berikan semua padaku. Aku ingin nambah." Mohon Ariana.


"Kamu tidak usah berbohong, bahkan mereka menahan muntah saat memakannya." sungut nyonya Anggoro.


"Beneran nasi goreng buatan Mama sangat enak dan cucu-cucu Mama di dalam perutku sangat menyukainya." bujuk Ariana.


Nyonya Anggoro nampak diam ketika Ariana menumpahkan semua dari goreng tersebut ke dalam piringnya lalu memakannya dengan lahap.


"Ini sangat enak Ma." puji Ariana dengan mulut penuh, entah kenapa ia merasa nasi goreng buatan ibu mertuanya itu sangat pas di lidahnya.


Nyonya Anggoro tersentuh, melihat menantunya itu menyukai masakannya. Namun ia segera membuang mukanya ketika Ariana menatapnya, lalu ia memasang wajah angkuhnya kembali.


Beberapa saat kemudian.....


Setelah membersihkan dirinya Ariana nampak merebahkan tubuhnya di ranjangnya.


"Mas beneran loh masakan Mama sangat enak." ucap Ariana ketika suaminya itu baru keluar dari kamar mandi.


"Rasanya nano-nano begitu apanya yang enak sayang, bahkan perutku rasanya di aduk-aduk setelah memakannya." sahut Demian seraya merebahkan tubuhnya di samping istrinya tersebut.


"Masa sih tapi tadi rasanya enak banget." ucap Ariana.


"Enakan memakanmu saja, sayang."


"Mas pikir aku makanan." gerutu Ariana.


"Tentu saja, kamu adalah makanan jiwaku." sahut Demian yang kini tangannya sudah menyusup ke gaun tidurnya dan menyentuh apa yang ingin dia sentuh


"Mas." desah Ariana tertahan ketika tangan suaminya merayap kemana-mana hingga membuat desiran aneh di seluruh darahnya.


"Aku menagih janjimu sayang, kamu bilang kita akan melakukannya setelah makan malam." ucap Demian dengan pandangan penuh hasrat.

__ADS_1


__ADS_2