
"Kamu harus menerima hukumanmu sayang, bahkan aku belum menyentuhmu tapi laki-laki lain sudah berani memelukmu." Victor nampak melepaskan dasinya lalu mengikatnya pada kedua tangan sang istri di atas kepala.
"Mas maaf." Nina nampak ketakutan, namun ia hanya bisa pasrah saat melihat laki-laki itu mulai melucuti pakaiannya dan pakaiannya sendiri.
Melihat milik laki-laki itu yang nampak besar dan mengeras, Nina langsung memalingkan wajahnya. Ia sangat malu sekaligus ngeri, karena baru kali ini ia melihat milik seorang laki-laki secara langsung.
Semakin suaminya mendekat, semakin Nina gelisah. Ingin sekali ia berlari, namun mengingat tangannya yang terikat ia hanya bisa pasrah.
Namun jika sampai suaminya berbuat kasar, ia sudah siap memasang kuda-kuda untuk menghajar laki-laki itu. Bagaimana pun juga Nina belum mengenal baik pria yang baru beberapa hari menjadi suaminya tersebut.
Ia takut jika laki-laki itu akan berbuat seperti yang ada di film-film yang pernah ia nonton, laki-laki spikopat yang tega menyiksa pasangannya diatas ranjang.
Setelah melempar pakaiannya ke sembarang arah, Victor langsung naik ke atas tubuh istrinya hingga membuat Nina menelan ludahnya saat merasakan sesuatu yang mengeras menggesek pahanya.
Nina nampak menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah karena malu bercampur takut.
Selama beberapa saat pandangan mereka nampak terkunci, entah kenapa Victor menatap istrinya itu begitu lekat dan dalam. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya lalu mulai mengecup bibir tipis istrinya itu.
Nina pikir suaminya itu akan menyiksanya, dikarenakan rasa cemburu butanya. Namun setiap sentuhan yang di lakukan laki-laki itu justru seolah memujanya.
Lum😘tan demi lum😘tan yang di lakukan suaminya di bibirnya terasa begitu lembut hingga membuatnya seperti dibawa terbang ke angkasa.
Nina terbuai dan pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu selanjutnya, karena jujur ia juga menginginkannya saat ini.
Meski ada perasaan takut akan cerita teman-temannya di Bar kalau kehilangan kesuciannya itu sangat menyakitkan.
Setelah puas bermain-main di bibir sang istri, Victor mulai menjelajahi setiap jengkal kulit wanita itu dengan kecupannya, meremas pelan gundukan kenyalnya dengan lembut lalu melahap puncaknya bagaikan bayi yang sedang kelaparan.
Nina yang tangannya terikat ke atas hanya bisa melenguh dan tubuhnya menggeliat saat sang suami menghisap dan menggigit kecil miliknya.
Bahkan wajahnya semakin memerah saat laki-laki itu menurunkan wajahnya dan menguasai miliknya di bawah sana yang sudah terasa sangat lembab.
"Mas, pelan-pelan." rintihnya saat merasakan sesuatu yang besar menyentuh miliknya.
Sampai sekarang Victor masih belum yakin istrinya itu Virgin atau tidak, mengingat bagaimana pekerjaan wanita itu.
Namun saat melihat kepolosannya yang tidak di buat-buat membuatnya yakin istrinya itu belum tersentuh oleh pria manapun.
Namun jika itu tidak sesuai ekspetasinya maka ia akan tetap menerima sang istri apa adanya, karena ia mencintainya. Cintanya sudah begitu besar hingga sampai relung hatinya paling dalam.
"Hanya sakit sebentar sayang, aku janji." lirih Victor meyakinkan seraya mencoba menerobos pertahanan sang istri.
Sangat sempit pikir Victor, bahkan ia mencobanya sampai beberapa kali.
"Mas, sakit." pekik Nina, sungguh rasanya sangat sakit hingga ia meremas tangannya sendiri yang masih terikat saat suaminya berhasil mengoyak kesuciannya.
"Aku mencintaimu, sayang." ucap Victor untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata cinta dari bibirnya tersebut, lalu ia membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya.
__ADS_1
Ia merasa bangga karena sudah menjadi pria pertama untuk wanita itu dan kini istrinya itu sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Kemudian Victor melepaskan ikatan di tangan sang istri, nampak kemerahan di sana dan ia merutuki dirinya sendiri akibat cemburu butanya ia menyakiti wanita itu.
"Maafkan aku, Sayang." lirih Victor seraya mengecup keningnya.
Setelah istrinya itu mulai tenang, ia menggerakkan tubuhnya dengan pelan hingga membuat wanita itu melenguh.
"Masih sakit, hm ?" ucapnya lagi tanpa menghentikan hentakannya.
Nina menggelengkan kepalanya dan itu membuat Victor semakin kuat dan dalam memasukinya.
Setelah itu hanya suara erangan serta ******* yang saling bersahutan memenuhi kamar tersebut. Entah sudah berapa lama mereka melakukannya, namun sepertinya mereka belum juga merasa puas hingga mengulangnya lagi dan lagi.
Keesokan harinya....
Pagi itu Victor nampak memicingkan matanya saat menatap ponselnya, sepertinya ia sudah mendapatkan informasi siapa wanita yang sudah mendonorkan darahnya pada Dean.
Ia harus segera menemui Demian, karena firasatnya bisa saja benar.
Sebelum ia beranjak dari ranjangnya, ia menatap istrinya itu terlebih dahulu. Wanita itu masih nampak sangat pulas, mungkin saja kelelahan karena semalam mereka melakukannya sampai beberapa kali.
Setelah mengecup keningnya lalu membetulkan selimutnya yang sedikit melorot, ia lantas bangkit dari ranjang lalu bergegas membersihkan dirinya.
Tak menunggu istrinya bangun, Victor segera meninggalkan kamar hotelnya tersebut.
"Selamat pagi tuan, nyonya." sapa Victor saat melihat keluarga besar Anggoro sedang berkumpul di meja makan.
Perutnya terlihat semakin membesar karena tinggal menunggu hari ia akan melahirkan bayi kembarnya.
"Terima kasih nyonya muda, saya menunggu tuan Demian di ruang kerja saja." sahut Victor.
Demian yang hari ini tidak masuk kerja membuat Victor harus mendatanginya langsung ke rumahnya karena ada informasi penting yang harus ia sampaikan.
Saat berjalan ke ruang kerjanya, samar-samar ia mendengar gerutuan nyonya Anggoro.
"Papa saja yang kesana, Mama tidak mau ikut. Melihatnya hanya akan membuat hatiku sakit." gerutu nyonya Anggoro kesal, meski sudah memaafkan suaminya tapi sepertinya beliau belum benar-benar bisa menerima anak dari selingkuhan pria itu.
"Aku ke ruang kerja dulu." ucap Demian sembari beranjak dari duduknya.
Sepertinya asistennya itu mempunyai informasi yang penting karena harusnya laki-laki itu berada di kantor menggantikannya.
"Sudah selesai, Mas ?" tanya Ariana.
"Hm." angguk Demian dengan mengulas senyumnya kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.
"Nak, habis ini kamu temani mama berjemur ya." Nyonya Anggoro menatap menantunya tersebut yang hendak bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Iya Ma, saya mau membuatkan Victor minum dulu." sahut Ariana kemudian melangkahkan kakinya ke dapur.
Disisi lain, Demian nampak menghela napas kasarnya saat mendengar penuturan Victor.
"Kamu yakin Mama yang menyuruh, Jenny ?" tanya Demian lagi.
"Saya kurang yakin tuan, tapi nyonya besar nampak beberapa kali menghubungi wanita itu sebelum dan sesudah mendonorkan darahnya pada Dean." sahut Victor.
"Itu mustahil Vic, Mama sangat membenci Dean bahkan melihatnya saja Mama tidak sudi." sanggah Demian.
"Nyonya besar sebenarnya peduli tuan, hanya saja beliau masih gengsi mengakuinya." ucap Victor.
"Kamu tahu siapa Jenny? setiap Mama dekat dengan wanita muda, saya selalu khawatir Mama akan menjodohkan ku dengan mereka." keluh Demian yang masih belum terlalu mempercayai perubahan sang ibu.
Ariana yang ingin mengetuk pintu langsung mengurungkan niatnya saat mendengar perkataan suaminya. Ia nampak berdiri di depan pintu dengan sebuah nampan berisi dua cangkir teh dan kue.
"Jenny siapa? apa wanita itu yang mendonorkan darah untuk Dean? tidak, tidak mungkin Mama melakukan itu. Aku yakin Mama sudah berubah, bahkan aku merasakan beliau mulai menyayangiku."
Ariana menghela napas panjangnya, setelah itu ia mengetuk pintu di depannya yang nampak tak tertutup rapat.
"Aku membawakan minuman." ucap Ariana seraya melangkahkan kakinya masuk.
"Kenapa tidak minta tolong ART saja, sayang ?" ujar Demian.
"Nggak apa-apa Mas, lagipula aku juga butuh pergerakan agar persalinanku lancar." sahut Ariana dengan mengulas senyumnya.
"Oh ya Vic, selamat ya atas pernikahan kalian. Aku pikir Nina menolakmu karena ingin menikah dengan pak Yudo, ternyata dia justru menerimamu. Percayalah Nina orang baik kok, mungkin karena keadaan yang kadang membuatnya terlihat kurang baik." ujar Ariana lagi-lagi dengan mengulas senyumnya.
"Terima kasih nyonya muda." sahut Victor.
"Yudo siapa lagi tuh, sayang ?" tanya Demian memicing.
"Pemilik Bar tempat Nina bekerja Mas." sahut Ariana.
"Kamu mengenalnya ?" tanya Demian lagi.
"Hanya pernah bertemu beberapa kali saat beliau main ke kost Nina dulu." sahut Ariana.
"Asal kamu tidak menyukainya saja, sayang." gerutu Demian sedikit kesal.
"Mas, jangan mulai deh." cebik Ariana.
"Kali aja sayang, nggak dapat Nina. Eh nyarinya kamu." celetuk Demian menggoda, nampak senyum jahil di bibirnya. Ia memang senang sekali menggoda istrinya itu hingga marah.
"Tahu ah, daripada sibuk menghalu tuh urusin si Jenny-Jenny itu." sewot Ariana yang langsung membuat Demian menyurutkan senyumnya.
"Kamu tahu, sayang ?" tanya Demian terkejut.
__ADS_1
.
Maaf ya guys beberapa hari ini Othor sibuk jd ga sempat banyak nulis, part selanjutnya fokus cerita Edgar ya, tapi ga Othor buat session langsung lanjut aja ceritanya biar tokoh sebelumnya bisa ikut nyempil.