
Ariana nampak terkejut ketika nyonya Anggoro memberikan sebuah undangan pernikahan dan bukannya undangan pertunangan padanya.
Tapi ia tidak mau menunjukkan keterkejutannya, agar wanita paruh baya itu tidak semakin memprovokasinya.
"Terima kasih tante, saya pasti akan datang." ucapnya dengan tersenyum ramah.
"Kamu tidak terkejut ?" nyonya Anggoro nampak memicingkan matanya ketika melihat reaksi Ariana yang tidak seperti dugaannya.
Bukannya wanita itu harusnya terlihat sedih atau menangis, karena laki-laki yang di cintainya tiba-tiba menikah dengan wanita lain.
Ariana nampak mengulas senyumnya sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagi orang miskin seperti kami, jodoh dan kematian itu ada di tangan Tuhan tante. Jadi saya menyerahkan semuanya padaNya, karena jika sudah jodoh sesulit apapun jalannya pasti pada akhirnya akan kembali bersama." sahut Ariana kemudian.
"Jadi kamu yakin Demian adalah jodohmu ?" cibir nyonya Anggoro, mengingat mereka sudah lama berpisah tapi pada akhirnya bersama lagi. Tidak, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Saya hanya mengikuti alur Tuhan, tante." sahut Ariana lagi-lagi dengan mengulas senyumnya, namun tidak dengan nyonya Anggoro wanita paruh baya tersebut nampak mendengus tak suka.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, tante. Karena pertemuan wali murid sudah di mulai." Ariana langsung berlalu pergi meninggalkan nyonya Anggoro yang nampak belum selesai dengannya.
"Sialan, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa bersama Demian."
Ariana yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolahnya Ricko, nampak menghela napasnya berat.
"Benarkah mereka akan menikah hari ini? tapi kenapa mas Demian tak cerita. Menyebalkan sekali sih kamu mas, kenapa tidak cerita apa rencanamu ?"
Malam harinya.....
Meskipun semalam Demian sudah meyakinkannya bahwa rencananya akan berhasil, tapi Ariana masih saja merasa gelisah. Karena tiba-tiba nyonya Anggoro mengganti hari pertunangan laki-laki itu menjadi hari pernikahannya.
Jika rencana Demian tak berhasil, maka harapan mereka untuk kembali bersama sudah tidak ada. Kenapa cinta harus sesakit ini?
Tak terasa butiran bening mengalir di wajah cantiknya, namun ia buru-buru menghapusnya ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk.
"Buk." panggil Ricko ketika baru membuka pintu kamar ibunya.
"Hai anak tampan, kamu sudah siap ?" Ariana mengulas senyumnya, meski wajahnya terlihat sembab.
"Apa benar Daddy akan benar-benar menikah dengan tante galak itu ?"
Sepertinya Ricko masih bingung dengan tingkah para orang dewasa, karena sebelumnya ayahnya itu meyakinkannya kalau hanya ibunya yang akan dia nikahi. Tapi kenapa tiba-tiba ayahnya justru menikahi wanita lain.
"Nak, dengarkan ibu. Jika Tuhan memang menakdirkan ibu dan Daddy bersama, pasti nanti akan mudah jalannya." nasihat Ariana.
__ADS_1
"Iya bu Ricko percaya, Tuhan pasti akan membawa Daddy kembali pada kita." sahut Ricko dengan mengulas senyumnya dan itu membuat Ariana kembali tegar.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Ariana kemudian.
Setelah itu dengan di antar sopirnya, Ariana segera berangkat menuju hotel di mana pernikahan Demian dan Jessica akan di laksanakan.
Malam itu Ariana hanga berpenampilan biasa, ia tidak akan menipu orang lain dengan penampilan mewahnya. Toh pada akhirnya sebagian orang di sana juga sudah tahu, dirinya hanya seorang penjual kue.
Namun begitu Ariana tetaplah Ariana yang mempunyai karisma yang jarang di miliki oleh wanita lain.
Meski di balut pakaian biasa, tapi auranya masih tetap terpancar dan setiap senyumannya selalu meneduhkan hati siapa pun yang melihatnya.
Dengan menggandeng Ricko, Ariana masuk ke dalam hotel tersebut dan menyerahkan dua buah undangan pada panitia di sana.
Ketika ia baru melangkahkan kakinya masuk, nampak para tamu undangan memperhatikannya. Ada sebagian orang yang Ariana tahu mereka adalah koleganya Demian di pesta jamuan makan siang waktu itu.
Beberapa orang di sana juga nampak berbisik-bisik seraya menatapnya, tapi Ariana tak peduli. Mungkin mereka mengomentari penampilannya yang kelewat biasa di sebuah pesta seorang konglomerat.
Sebenarnya tadi siang Demian sudah menyuruh orang untuk mengantarkan gaun pesta mewah, tapi Ariana sama sekali tak tertarik untuk memakainya.
Jika memang Demian benar-benar mencintainya, maka laki-laki itu pasti akan menerima dirinya apa adanya.
Jadi Ariana lebih memilih sebuah gaun yang dia beli di pasar dengan harga kurang dari dua ratus ribu untuk ia kenakan.
"Eh lihat wanita yang menggandeng putranya boss itu, apa itu baby sitternya ?" para karyawan Demian nampak saling berbisik.
Meski mereka hanya karyawan biasa, tapi sepertinya mereka sengaja bernampilan habis-habisan di pesta pernikahan atasannya itu.
Mereka semua nampak memakai pakaian terbaiknya dengan brand-brand ternama.
"Masa sih Baby sitter secantik itu, jangan-jangan wanita itu ibunya putranya bos." celetuk salah satu karyawan di sana.
"Iya benar, wajahnya saja sangat mirip dengan Ricko. Tapi kalau wanita itu memang benar ibunya Ricko, kenapa penampilannya sangat sederhana. Bukannya dia bisa minta apapun pada boss, karena sudah berhasil melahirkan sang pewaris." sahut karyawan yang lain.
"Meski berpenampilan sederhana, lihat saja auranya sangat bersinar dan senyumnya itu ya ampun sangat meneduhkan. Wanita itu pasti sangat baik dan tegar, bahkan dia bisa tersenyum seperti itu di hari pernikahan tuan Demian."
"Coba saja tuan Demian menikah dengan wanita itu, kantor pasti akan damai sentosa sama seperti hatiku saat melihatnya." ucap seorang laki-laki kepala departemen keuangan di kantor Demian yang langsung membuat beberapa bawahannya langsung menoleh pada laki-laki paruh baya berstatus duda itu.
"Bapak naksir ?" tanya salah satu karyawan di sana.
"Saya mana pantas, bekasnya tuan Demian pasti sangat berkualitas meski orang biasa pun. Coba kalian pikirkan jika tuan Demian menikah dengan wanita itu, keadaan kita di kantor pasti tidak akan tertekan. Lihat saja, bahkan marah pun wanita itu sepertinya tidak bisa. Orang wajahnya saja kalem begitu, coba kalian bandingkan dengan nona Jessica yang galaknya minta ampun. Bisa-bisa kita akan menjadi sasaran omelannya setiap beliau ke kantor." sahut laki-laki tersebut.
"Benar juga ibarat kucing unyu versus kucing garong." celetuk salah satu karyawan laki-laki di sana yang langsung membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Buk, apa Ricko boleh berkeliling di sini ?" tanya Ricko ketika mulai bosan.
"Jangan jauh-jauh ya sayang dan pastikan kamu selalu bersama Om John." titah Ariana pada putranya tersebut.
"Ashiaap ibuk cantik, ayo Om John." sahut Ricko kemudian ia mengajak sopirnya tersebut berkeliling di sana.
"Om, tante." sapa Ricko ketika melihat beberapa orang karyawannya sang ayah yang pernah ia temui di kantor waktu itu.
"Astaga boss kecil, kamu masih ingat kami ?" ujar kepala Departemen keuangan tersebut.
"Ingat dong, Om." sahut Ricko ramah.
"Eh Dek, tadi kesini sama siapa ?" bisik salah satu karyawan tersebut, mengingat John salah satu anak buah Victor selalu mengawasi bocah laki-laki itu.
"Sama ibuk dong." sahut Ricko.
"Ibuk kandung kamu ?" tanya mereka tak percaya.
"Tentu saja, cantikkan ibunya Ricko ?" ucap Ricko seraya memandang sang ibu yang kini nampak bersama Herman dan Widya.
"Sa-sangat cantik." sahut mereka, para karyawan tersebut nampak terkejut meski sebelumnya sudah mereka tebak.
Ehmmm
Victor yang tiba-tiba datang langsung berdehem ketika melihat segerombolan karyawannya sedang bergosip ria dengan Ricko.
"Jika ingin bergosip, lebih baik kalian pulang saja." tegurnya dengan tegas.
"Maaf, tuan." sahut Mereka.
"Ayo Ricko, ikut Om ke ruangan Daddy." kemudian Victor langsung mengajak Ricko berlalu pergi dari sana.
Beberapa saat kemudian nampak kedua mempelai memasuki tempat acara tersebut yang di sambut dengan iringan tepuk tangan dari para tamu undangan.
Mereka nampak terpanah dengan sepasang pengantin konglomerat yang terlihat sangat serasi itu.
"Kamu baik-baik saja, Rin ?" Edgar yang entah sejak kapan datang tiba-tiba menggenggam sebelah tangan Ariana, berharap wanita itu tegar.
Ariana hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya pelan seraya tersenyum tipis.
Sedangkan Demian yang melewati mereka nampak menatap tak suka ke arah Ariana dan Edgar, apalagi melihat tangan laki-laki itu menggenggam tangan Ariana.
"Sialan, beraninya dia cari kesempatan."
__ADS_1