Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~127


__ADS_3

"Pagi tuan, anda memanggil saya ?" ucap Juno asistennya Edgar saat masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


"Hari sabtu kemarin ada berapa karyawan yang masuk kantor ?" tanya Edgar.


"Hanya security, OB dan beberapa karyawan bagian keuangan tuan." sahut Juno.


"Apa ada karyawan bagian keuangan yang membawa mobil ke kantor ?" tanya Edgar lagi.


"Setahun saya hanya pak Rian, Marlina dan Dena tuan." sahut Juno.


"Dena ?" Edgar nampak mengerutkan keningnya saat mendengar karyawan yang bernama Dena itu.


"Beliau hanya staff accounting biasa, tuan. Baru satu tahun bekerja disini." sahut Juno.


"Coba kamu cek cctv ini, apa wanita itu yang bernama Dena ?" perintah Edgar seraya menunjuk layar laptopnya.


Di dalam latar cctv tersebut menampakkan area parkiran, terlihat Dena sedang menutup wajahnya dengan sebuah tas lalu berjalan mengendap-endap ke arah mobilnya.


"Benar tuan, itu Dena." sahut Juno membenarkan, namun untuk apa bosnya itu mencari tahu karyawan rendahan seperti Dena.


"Apa wanita itu sedang membuat masalah dengan anda tuan? kalau anda mengizinkan akan saya tangani sendiri." ujar Juno.


Mengingat kejadian dua hari yang lalu, Edgar nampak menghela napasnya dengan kasar.


"Panggil saja dia kemari." perintahnya kemudian.


Meski Juno tidak mengerti, ia tetap mengangguk patuh kemudian segera berlalu keluar dari ruangan tersebut.


Sementara itu Dena yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya di ruangannya nampak terkejut saat ada OB mencarinya.


"Mbak Dena, di panggil tuan Edgar ke ruangannya." ucap OB tersebut.


"What ?" teriak Dena, Nay, Anggi dan Marlina bersamaan.


Mereka nampak melotot tak percaya, sedangkan Dena langsung menelan ludahnya bulat-bulat.


"Mampus gue." Dena langsung terduduk lemas di kursinya.


"Loe buat kesalahan, Den ?" tanya Nay penasaran.


"Hm, kemarin waktu pulang kantor gue kebut-kebutan di jalanan dan sepertinya pak Edgar melihat gue." sahut Dena mendadak tak bersemangat.


"Benar-benar mampus deh, tau sendiri kan pak Edgar tidak suka mempunyai karyawan yang low atittude." ucap Nay.

__ADS_1


"Maafkan gue Den, gue tadi nggak benar-benar nyumpahin loe kok. Sumpah, tadi gue cuma becanda." Anggi jadi merasa bersalah.


"Duh gimana kalau loe di pecat bakal kesepian kita." keluh Nay.


Dena nampak menghela napas beratnya lalu bangkit dari duduknya, ia bukannya takut di pecat tapi ia takut jika Edgar mengingat kejadian dua tahun yang lalu.


"Tenang Dena, pria macam pak Edgar pasti sudah sering tidur dengan banyak wanita. Pasti dia tidak akan ingat kejadian waktu itu."


Sepanjang jalan menuju ruangan Edgar, Dena mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Lagipula selama ini ia mempunyai jurus yang lumayan ampuh jika sedang malas bertemu dengan seseorang.


Jika bertemu orang itu ia pasti akan pura-pura tidak melihatnya, jika di panggil ia akan pura-pura tidak mendengarnya dan sepertinya ia akan menambahkan satu jurus lagi yaitu pura-pura tidak mengenalnya.


"Good ide, Dena. Nggak sia-sia selama ini mempelajari cara licik emak tiri gue."


Dena nampak terkekeh dengan pemikirannya sendiri, ngomong-ngomong soal ibu tirinya bagaimana kabar wanita itu? entah kenapa ia jadi kangen baku hantam dengan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan glowing berkat duit ayahnya itu.


Dena dan ibu tirinya memang tidak pernah akur dan itu yang membuat ia di benci oleh ayahnya sendiri. Karena di mata sang ayah, ia hanya seorang anak liar yang susah di atur.


Berbeda dengan Sera adik tirinya, jika di depan sang ayah Sera selalu bersikap baik dan penurut. Jadi di mata keluarganya Dena dan Sera itu seperti iblis dan bidadari.


Sesampainya di depan ruangan Edgar, Dena nampak menggigit bibir bawahnya ia ragu untuk masuk atau tidak.


"Silakan masuk mbak Dena, tuan Edgar sudah menunggu anda di dalam." perintah sekretarisnya Edgar saat Dena masih berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


Dena nampak mengulas senyumnya, kemudian ia segera mengetuk pintu tersebut, setelah mendengar sahutan dari dalam ia segera melangkahkan kakinya masuk.


"Selamat pagi, pak. Anda memanggil saya ?" sapa Dena saat melihat Edgar yang sedang berdiri memunggunginya, laki-laki itu nampak memperhatikan pemandangan kota dari balik dinding kacanya.


"Suara itu ?"


Edgar yang merasa tidak asing dengan suara Dena, segera berbalik badan.


Deg!!


"Wanita ini ?"


Saat melihat Dena seketika kisah dua tahun yang lalu langsung bermunculan di kepala Edgar, di mana malam itu ia sudah menghabiskan malam panjang bersama wanita itu.


"Maaf pak, anda memanggil saya ?" tanya Dena lagi saat melihat Edgar justru terpaku menatapnya.


"Kenapa reaksi wanita ini biasa saja seolah tidak mengenalku, apa dia sudah lupa ?" gumam Edgar dalam hati.


Edgar sedikit berdehem untuk menetralkan keterkejutannya, kemudian ia melangkah ke arah kursinya lalu menghempaskan tubuhnya di sana.

__ADS_1


Ehmm


"Apa kemarin yang kebut-kebutan di jalanan itu kamu ?" tanya Edgar kemudian.


"Kemarin kapan ya pak saya lupa ?" tanya balik Dena dengan mimik ia buat bingung.


"Kejadian baru dua hari yang lalu saja sudah lupa apalagi dua tahun yang lalu, bodoh sepertinya hanya aku saja yang mengingatnya."


"Dua hari yang lalu hari sabtu, pukul 12 siang setelah berhenti di traffic light pertama dari kantor ini kamu membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Benarkan ?" tegas Edgar sedetil mungkin.


Dena yang tidak bisa mengelak lagi nampak tersenyum nyengir.


"Maaf pak saya terburu-buru, karena nenek saya sedang sakit keras." dustanya.


Kata orang kalau kita berbohong tentang seseorang yang sedang sakit maka akan beneran terjadi, tapi nenek Dena sudah meninggal semua jadi tak apalah dia berbohong demi kebaikan, pikirnya.


"Kamu tidak bohong kan ?" selidik Edgar dengan menatap lekat Dena.


Dena yang di tatap oleh Edgar, tentu saja ia menatapnya balik. Pantang bagi seorang Dena untuk menunduk, kecuali menunduk pada Sang penciptaNya.


"Saya memang terburu-buru waktu itu pak." sahut Dena jujur, karena ia memang terburu-buru untuk menemui putranya.


Mana mungkin ia berkata jujur tentang putranya, bahkan jauh sebelum bertemu Edgar Dena sudah berencana untuk memiliki putranya seorang diri.


Enak saja laki-laki itu juga mau mengakuinya, lagipula ia sudah membayar mahal Edgar waktu itu. Jadi menurutnya sudah impas, dia mendapatkan anak dan pria itu mendapatkan duit.


Katakanlah Dena memang gila, tapi lebih baik putranya itu tidak mengetahui siapa ayahnya. Ia takut jika Edgar tahu, maka laki-laki itu akan mengambilnya.


Lalu anaknya akan tinggal bersama istrinya Edgar yang pasti akan menjadi ibu tirinya. Tidak, Dena tidak akan membiarkan itu. Cukup dirinya yang mendapatkan siksaan dari ibu tirinya jangan sampai anaknya juga merasakannya.


"Tapi merokok sambil mengemudi itu sangat membahayakan apalagi kamu membuang abunya di sembarang tempat. Kamu tahukan semua pengendara di jalanan itu tidak hanya mobil saja tapi juga kendaraan roda dua." tegur Edgar menatap tajam Dena.


"Maaf pak saya salah." sahut Dena dengan menatap balik Edgar.


"Wanita ini, minta maaf tapi seperti ngajak berantem saja." gerutu Edgar dalam hati.


"Jadi saya tidak di pecatkan pak? kalau saya di pecat, saya akan melaporkan perusahaan bapak ke dinas tenagakerjaan karena saya tidak melakukan kesalahan saat jam kerja." lanjut Dena dengan nada ancaman.


"Kurang ajar, berani sekali dia menantangku. Di kira ini perusahaan punya nenek moyangnya."


Edgar langsung beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya ke arah Dena yang masih berdiri di depan meja kerjanya itu.


Ia nampak tersenyum miring, ia jadi penasaran sejauh mana keberanian wanita di hadapannya ini.

__ADS_1


__ADS_2