
Malam itu setelah memastikan suaminya tidur karena kelelahan bercinta dengannya, Dena nampak mengambil ponselnya lalu mengirim beberapa foto pernikahannya ke media online.
Meskipun suaminya itu bukan public figure tapi Edgar adalah seorang pengusaha sukses dan ia yakin berita pernikahannya akan menjadi topik utama berita bisnis esok pagi.
Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya dengan laki-laki itu.
Dena nampak memperhatikan banyak sekali tanda merah di tubuhnya, Edgar begitu memujanya tanpa rasa jijik dengan bekas-bekas luka di tubuhnya.
Tubuhnya yang seputih susu membuat bekas-bekas luka di tubuhnya semakin terukir jelas, menunjukkan bagaimana kejinya ia dulu di siksa.
Setelah mengeringkan tubuhnya ia kembali naik ke atas ranjangnya, memejamkan matanya berharap malam cepat berlalu.
Keesokan harinya....
"Duh anak mama cantik banget." puji nyonya Sita saat baru masuk ke dalam kamar putrinya.
"Harus cantik dong Ma, ini akan menjadi hari spesialku bersama Edgar." sahut Sera dengan rona bahagia.
Siang ini adalah hari pertunangannya sekaligus pernikahan Sera dan Edgar, sedari pagi ia sudah bersiap-siap untuk menyambut hari bahagianya tersebut.
Tak berapa lama kemudian terdengar teriakan tuan Winata dari luar hingga membuat Sera dan ibunya segera berlalu keluar dari kamar untuk melihatnya.
"Ada apa ini, Pa ?" nyonya Sita buru-buru menuruni anak tangga saat suaminya itu membanting sebuah surat kabar ke atas lantai.
Wanita paruh baya itu langsung memungutnya lalu melihatnya, matanya nampak terbelalak saat melihat sebuah foto pernikahan Edgar dan juga Dena ada di sana.
"Apa itu, Ma ?" Sera nampak mengambil surat kabar dari tangan ibunya saat wanita itu tak menjawabnya.
"I-ini ?" Sera menjatuhkan surat kabar tersebut.
"I-ini becanda kan, Pa ?" ucapnya tak percaya.
"Papa tidak tahu Nak, tapi lebih baik kita segera cek di hotel di mana semalam mereka melakukan pernikahan itu." sahut tuan Winata menahan emosi.
"Ini tidak mungkin Pa, berita ini pasti bohong. Kak Dena tidak mungkin merebut milikku." pekik Sera sembari menangis.
"Tenanglah sayang, belum tentu juga berita ini benar. Siapa tahu ini cuma editan." bujuk nyonya Sita menenangkan putrinya tersebut.
Sementara itu King yang sedang berada di kediamanmya juga nampak murka saat membaca surat kabar pagi itu.
"Jangan bilang kamu tidak mengetahui hal ini ?" hardiknya pada Juno.
Setelah membaca surat kabar itu ia segera menghubungi Juno, karena ponsel putranya tidak bisa di hubungi.
"Maaf, tuan." sahut Juno dari ujung telepon.
__ADS_1
"Ck, apa kamu sudah mulai menghianatiku ?" hardik King dengan geram.
"Maaf tuan saya hanya mengikuti perintah anda agar selalu mematuhi apapun perintah tuan Edgar." sahut Juno beralasan.
"Tapi tidak semua juga, astaga kamu benar-benar tidak bisa di andalkan." tegur King semakin geram.
"Ini pasti karena pengaruh wanita itu, Edgar laki-laki yang baik, tidak pernah macam-macam dan sangat bertanggung jawab. Wanita itu benar-benar membawa pengaruh buruk pada Edgar." lanjutnya lagi mengingat bagaimana sikap Dena yang sulit di atur.
"Tapi tuan sebenarnya mereka..."
"Sudahlah Jun berhenti kamu membela Edgar, sekarang beritahu di mana mereka menginap." sela King menyuruh asistennya itu untuk diam.
"Baik tuan, mereka sedang berada di hotel xx." sahut Juno.
Sesampainya di hotel, King melihat tuan Winata dan keluarganya sudah berada di sana, nampak Sera sedang menangis di pelukan ibunya.
Harusnya ini hari bahagia untuknya, karena beberapa jam lagi wanita itu akan melangsungkan pernikahannya bersama putranya.
Putri segera menghampiri Sera untuk menenangkan calon menantunya tersebut.
"Sabar ya sayang semoga ini hanya berita bohong, tante tahu bagaimana sifat Edgar dia tidak akan mungkin tega menyakitimu." ucapnya menenangkan seraya memeluk Sera.
"Aku sangat mencintai Edgar, tante." lirih Sera di tengah isakannya.
"Saya juga baru tahu dari surat kabar pagi ini." sahut King.
"Anak kamu benar-benar sukses membuat keluarga kami malu." sinis tuan Winata.
King nampak mendesah kasar kemudian ia mengajak sang istri menuju resepsionis yang sudah ada Juno menunggu di sana.
"Tuan, ini kunci cadangan kamar tuan Edgar." Juno nampak menyerahkan key card pada King.
"Maafkan saya tuan."
Juno nampak menghela napasnya dengan berat, kemudian ia melangkahkan kakinya menyusul tuan besarnya tersebut.
Sesampainya di depan kamar Edgar, King langsung membuka pintu tersebut dengan kasar. Ia masih berharap semoga berita di surat kabar tersebut tidak benar.
Ia juga masih berharap rencana pernikahan Edgar dan juga Sera tetap berjalan dengan lancar siang ini.
Brakkk
Setelah membuka pintu dengan kasar King langsung masuk ke dalam kamar hotel tersebut bersama dengan keluarga Winata.
Meski lampu kamar tersebut nampak temaram tapi mereka bisa melihat dua orang sedang tertidur pulas dengan saling berpelukan di atas ranjangnya.
__ADS_1
Kemudian Putri segera menyalakan lampunya hingga membuat sepasang pengantin baru itu langsung terbangun.
"Sialan, apa yang sedang kalian lakukan ?" pekik Sera tiba-tiba saat menatap tak percaya Edgar dan Dena yang nampak tidur dalam ranjang yang sama dan tanpa busana, hanya selimut yang menutupi sebagian tubuh polos mereka.
Bahkan kamar tersebut terlihat seperti kapal pecah, seprai yang berantakan, bantal berserakan di mana-mana dan juga sebuah gaun pengantin serta pakaian dalam mereka berceceran begitu saja di atas lantai menggambarkan bagaimana panasnya percintaan mereka tadi malam.
Edgar nampak terkejut, kemudian ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada apa kalian semua kesini ?" ucapnya tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.
"Dasar anak kurang ajar." bentak King seraya mendekat ke arahnya.
Plakkk
King langsung melayangkan pukulannya di rahang putranya tersebut hingga membuat Dena terpekik.
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" ucap Dena khawatir, ia langsung mengusap lembut rahang Edgar.
Edgar yang melihat wajah khawatir istrinya untuk pertama kalinya, ia langsung menggenggam tangan wanita itu yang masih berada di rahangnya kemudian ia mengecupnya dengan sayang.
"Aku baik-baik saja, sayang." sahutnya dengan lembut.
Sera nampak sangat geram, berbulan-bulan ia menjalin hubungan dengan Edgar namun laki-laki itu tak pernah memperlakukan dirinya selembut itu.
"Dena, apa yang sudah kamu lakukan dengan calon suami adik kamu sendiri hah." hardik tuan Winata, ia ingin mendekati Dena namun Edgar langsung pasang badan untuk melindunginya.
"Pa, Om. Kami saling mencintai dan sudah sewajarnya kami bersama." tegas Edgar.
"Lalu kamu anggap apa anak saya, hah ?" bentak tuan Winata murka.
"Bukannya Dena juga anaknya Om, jadi apa bedanya saya menikahi Sera atau Dena ?" sahut Edgar.
"Edgar, sejak kapan Papa mendidikmu menjadi pembangkang seperti ini? apa jangan-jangan dia yang sudah memengaruhi mu." hardik King.
"Bagaimana pun keadaan Dena, saya tetap mencintainya Pa. Kami sudah sah menjadi suami istri sekarang." tegas Edgar seraya menunjukkan dua buah buku pernikahan mereka.
"Kak Dena, kenapa kamu tega melakukan ini semua padaku ?" teriak Sera saat melihat buku pernikahan tersebut, wanita dengan pakaian pengantin itu terlihat sangat berantakan dan frustrasi.
Sedangkan Dena nampak tersenyum sinis menatap saudara tirinya itu, tak ada belas kasihan di wajahnya bahkan kini ia tersenyum puas melihat kehancuran wanita itu.
"Ini baru awal Ser, karena ke depannya kamu akan banyak mendapatkan kejutan hingga membuat mu enggan untuk hidup."
Dena nampak memeluk suaminya dengan erat. "Aku takut." lirihnya seakan dirinya wanita yang paling terdzolimi.
Dena akan bersikap lemah di depan suaminya agar laki-laki itu semakin membelanya dan di belakang laki-laki itu jangan harap ia akan memberi ampun pada mereka.
__ADS_1