Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~162


__ADS_3

"Jadi dia seorang pecandu ?" tanya King tak percaya seraya menatap ke arah Dena yang belum sadarkan diri di atas ranjangnya.


"Jadi ternyata benar apa yang di katakan oleh Sera." lanjutnya lagi saat Edgar nampak terdiam.


"Sekalipun Dena seorang pecandu dia tetap istriku, Pa." sahut Edgar seraya menatap ayahnya tersebut.


"Aku sangat mencintainya lebih dari apapun." imbuhnya lagi seraya mengecup punggung tangan sang istri.


Melihat ketulusan sang putra, King nampak menghela napas panjangnya.


"Papa ingin bicara." ucapnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Biar Mama yang menjaganya, Nak." ucap Putri saat Edgar enggan beranjak dari sisi istrinya.


"Tapi, Ma...."


"Kamu pikir mama akan tega menyakitinya diam-diam di belakangmu? meski sebelumnya mama kurang menyukainya tapi mungkin mulai hari ini Mama akan belajar mengenalnya." sela Putri.


"Cuma mau mengenalnya saja ?" ucap Edgar kesal.


"Bukannya harus mengenal dulu, baru sayang." sahut Putri yang langsung membuat Edgar mengulas senyumnya.


"Baiklah, terima kasih Ma." Edgar langsung memeluk ibunya tersebut.


"Sebentar." Putri nampak mengurai pelukan sang Putra.


"Mama masih belum memaafkanmu, asal kamu tahu." sungut Putri kemudian.


"Memang mama mau apa lagi sih, tetap menyuruhku menikahi Sera? nggak Ma, aku tidak mau." jawab Edgar dengan tegas.


"Kamu pikir Mama juga mau mempunyai menantu bermuka dua seperti dia, bahkan menyebut namanya saja mama malas." kesal Putri.


"Ya sudah kalau begitu, jadi salahku apa lagi Ma ?" keluh Edgar.


"Jadi kamu tidak merasa punya salah, hah ?" Putri langsung menjewer telinga putranya tersebut.


"Astaga, sakit Ma." keluh Edgar saat merasakan panas di telinganya.


"Enak saja kamu pura-pura nggak bersalah, justru kesalahanmu itu sangat besar tahu nggak." Putri semakin gemas menjewer telinga putranya itu hingga membuat wajah Edgar langsung memerah menahan sakit.


"Kamu sudah menghamili wanita itu lalu membiarkannya merawat anakmu seorang diri, kamu pikir itu bukan kesalahan besar hah ?" lanjutnya lagi dengan kesal.


"Ampun Ma, bisa putus telinga ku ini. Lagipula ceritanya panjang nanti pasti akan ku jelaskan." keluh Edgar memohon ampun.


"Baiklah urusanmu dengan mama belum selesai, sekarang temui papamu dulu." Putri nampak melepaskan tangannya dari telinga putranya tersebut.


Edgar yang kesal segera berlalu dari kamarnya, ia nampak menghela napasnya dengan kasar. Pasti hukuman dari ayahnya akan lebih menyakitkan, pikirnya.

__ADS_1


Meski begitu Edgar tetap melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang ayah.


"Pa..." ucap Edgar saat baru masuk ke dalam sana.


Bughh


Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Edgar hingga membuat laki-laki itu tehuyung dan jatuh ke lantai, nampak darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Pa..." Edgar nampak mengusap sudut bibirnya yang terasa perih.


"Bangun !!" perintah King kemudian.


"Sejak kapan kamu menjadi laki-laki bajingan, hah ?" hardik King seraya mencengkeram kemeja Edgar dengan kuat.


"Selama ini Papa selalu mengajari mu untuk menghormati wanita, tapi kenapa justru kamu merusaknya dan yang paling membuat Papa marah kamu sudah menelantarkan darah dagingmu sendiri. Laki-laki macam apa kamu Edgar, bahkan binatang pun tidak akan tega menyakiti anaknya sendiri." hardiknya lagi dengan geram.


"Maaf Pa, aku bisa jelaskan semuanya." sahut Edgar lirih.


"Tentu saja kamu harus menjelaskannya." King nampak menjauhkan tangannya, kemudian kembali duduk di kursinya.


"Beberapa tahun silam aku dan Dena pernah bertemu di Jerman, saat itu kami yang tidak saling mengenal sedang sama-sama mabuk dan malam itu terjadilah sesuatu di antara kami dan itu sama-sama pertama bagiku maupun Dena." ucap Edgar memulai ceritanya.


"Namun keesokan harinya aku terbangun seorang diri dan Dena sudah tidak ada di sana bahkan waktu itu ia justru membayar ku 100 juta karena menidurinya." lanjutnya lagi dengan tersenyum sinis saat mengingat malam itu.


"Apa ?" King nampak terkejut.


"Ternyata Dena melakukan itu hanya untuk membalas perbuatan suaminya yang waktu itu sedang berselingkuh dengan Sera." ucap Edgar.


"Kenapa Dena menyembunyikan itu semua bahkan dari keluarganya sendiri, oh astaga sudah berapa banyak penderitaan yang sudah wanita itu tanggung sendiri. Pantas saja sikapnya selalu dingin pada siapapun." King nampak menghela napasnya dengan kasar.


"Sangat banyak Pa, bahkan mungkin semenjak kecil." ucap Edgar yang langsung membuat King menatapnya.


"Maksud kamu ?" ucapnya tak mengerti.


"Sepertinya dari kecil Dena sudah mengalami kekerasan, aku melihat banyak sekali bekas luka di tubuhnya. Saat aku bertanya padanya, Dena bilang tante Sita yang melakukannya. Aku hampir tidak mempercayainya, tapi beberapa kali aku menyaksikan Dena selalu bermimpi buruk seolah-olah sedang di siksa." sahut Edgar, nampak raut kesedihan di wajahnya.


"Benarkah? tapi bagaimana mungkin....." King nampak menjeda ucapannya saat bik Mina tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan Edgar tolong nyonya Dena." ucapnya dengan panik.


Tanpa bertanya Edgar dan King langsung berlari menuju kamarnya yang berada di seberang ruangannya.


"Ada apa, sayang ?" tanya King pada Putri.


"Aku tidak tahu, Mas. Tiba-tiba saja dia menggigil seperti itu." sahut Putri panik.


"Ma, itu boneka milikku jangan di ambil." Dena kecil nampak memohon pada nyonya Sita.

__ADS_1


"Ini cuma boneka usang, lagipula boneka mu yang lain kan masih ada." hardik nyonya Sita.


"Tapi itu satu-satunya boneka dari mamaku." mohon Dena lagi.


"Aku tidak peduli, siapa suruh tidak mau memberikannya pada Sera jadi lebih baik boneka ini aku bakar." nyonya Sita langsung melemparkan boneka tersebut ke dalam pembakaran sampah.


"Mama jahat." teriak Dena dengan isak tangisnya.


"Oh kamu berani sama saya, ayo ikut kamu harus mendapatkan hukuman." nyonya Sita langsung menyeret Dena dan memasukkannya ke dalam gudang sempit dan gelap.


"Tolong Ma, itu milikku kembalikan padaku. Aku tidak mau di kurung, aku takut gelap." teriak Dena dalam tidurnya, tubuhnya nampak menggigil.


"Sayang, tenanglah ada aku di sini." ucap Edgar seraya memeluknya dengan khawatir.


Semenjak menikah dengannya Dena tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi, entah kenapa hari ini wanita itu tiba-tiba mengalaminya lagi.


Beberapa saat kemudian Dena nampak membuka matanya, ia terlihat bingung. Kemudian ia segera beranjak dari ranjangnya tanpa bisa Edgar cegah.


"Di mana, aku membutuhkannya sekarang." ucapnya seraya membuka seluruh lemari serta nakas yang ada di dalam kamar tersebut.


"Sayang, kamu sedang mencari apa ?" ucap Edgar mendekatinya.


"Aku membutuhkan minumanku, ku mohon berikan padaku." mohon Dena pada Edgar dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajanya.


"Sayang, kamu tidak membutuhkan itu lagi. Ku mohon ingat Elkan anak kita." tolak Edgar.


Mendengar nama putranya di sebut, Dena langsung mengalihkan pandangannya ke arah King dan Putri.


"Dia putraku, dia milikku kalian tidak boleh mengambilnya." teriak Dena kemudian.


"Sayang, tidak ada yang akan mengambilnya." bujuk Edgar, namun itu justru membuat Dena semakin histeris.


"Kalian bohong, kalian pasti akan mengambilnya kan ?" teriaknya seraya memberontak dalam pelukan Edgar.


Beruntung Juno segera masuk dengan membawa seorang dokter, kemudian dokter tersebut langsung memberikan suntikan penenang pada Dena hingga membuat wanita itu perlahan tak sadarkan diri.


Setelah Dena kembali tidur di ranjangnya, King nampak berbicara dengan dokter tersebut.


"Jadi bagaimana keadaan menantu saya dok ?" tanyanya kemudian.


"Sepertinya nyonya Dena pernah mengalami masa lalu buruk dan beliau harus segera mendapatkan penanganan dari ahli kejiwaan." sahut Dokter tersebut yang langsung membuat Edgar menatap geram padanya.


"Tapi istri saya tidak gila, Dok." tegasnya kemudian.


"Saya tahu pak, tapi kondisi psikis istri anda kurang baik. Kalau anda mengizinkan dokter kami setiap hari akan datang kemari untuk mendampingi istri anda." saran dokter tersebut.


"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik Dok." mohon Edgar.

__ADS_1


Sedangkan King yang menatap Dena tak berdaya di ranjangnya, nampak mengepalkan tangannya.


"Aku bersumpah padamu Nak. Winata dan keluarganya harus membayar mahal atas setiap penderitaan yang kamu alami."


__ADS_2