Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~84


__ADS_3

Setelah berkunjung ke dokter, Demian nampak bersyukur karena istrinya sangat sehat dan tak ada masalah dengan reproduksinya dan tak membutuhkan waktu lama mungkin wanita itu akan segera hamil lagi jika Tuhan menghendakinya.


Tentu saja Demian yakin istrinya itu akan cepat hamil, karena dahulu ia hanya melakukan sekali tapi wanita itu langsung hamil Ricko.


Apalagi sekarang setelah sah menjadi istrinya, setiap saat dia selalu menggempurnya tak peduli berapa banyak protes dari bibir wanita itu. Karena pada akhirnya dia akan tetap membuatnya mendesah dan kelelahan di bawahnya.


Dan mengingat kejadian di kantor tadi sore, membuat Demian tak bisa berhenti untuk tersenyum. Bagaimana bisa istrinya itu yang biasanya sangat polos tiba-tiba bertingkah sangat agresif dengan mengajaknya bercinta terlebih dahulu.


Terlebih saat itu mereka sedang berada di kantornya dan tentu saja itu membuat Demian langsung senang dan tertantang.


Karena itu pengalaman pertamanya bercinta di dalam kantor dan sepertinya ia berpikir akan mencobanya di tempat lain bersama istrinya itu kelak.


Padahal sebelumnya ia sedikit kesal dengan sang istri, karena diam-diam sudah meminum obat pencegah kehamilan di belakangnya.


Meski begitu ia tidak mungkin marah pada wanitanya itu, palingan juga akan menghukumnya dengan membuatnya kelelahan di atas ranjangnya.


Begitulah Demian sebelumnya dia tak pernah sebucin ini pada seorang wanita, padahal banyak wanita cantik di sekelilingnya. Namun justru hatinya tertambat pada wanita biasa namun luar biasa baginya.


"Mas." panggil Ariana ketika malam itu mereka bersiap untuk tidur, Ariana yang baru membersihkan dirinya langsung duduk di samping suaminya yang terlihat sedang memeriksa pekerjaannya.


"Hmm." Demian yang sedang sibuk dengan ipadnya menatap istrinya sejenak kemudian kembali fokus dengan layar monitornya.


"Kenapa sih kamu menginginkan ku cepat hamil, bukannya kita sudah mempunyai Ricko ?" tanya Ariana penasaran.


Demian mengulas senyumnya, kemudian meletakkan ipadnya di atas nakas.


"Aku ingin mempunyai banyak anak, karena menjadi anak tunggal itu sangat tidak menyenangkan. Lagipula Mansion ini terlalu besar jika hanya ada Ricko saja." sahut Demian seraya menatap istrinya.


Dan tentu saja itu hanya sebagian kecil alasannya, karena sesungguhnya ia ingin membuat wanita itu mempunyai banyak anak darinya agar semakin terikat padanya dan takkan pernah berpikiran untuk pergi meninggalkannya lagi.


Ariana mendesah pelan. "Jika aku mempunyai banyak anak apa kamu akan tetap mencintaiku? karena pasti saat itu badanku akan melar dan tidak kelihatan cantik lagi." tanyanya.


Demian terkekeh, kemudian menggenggam tangannya. "Aku lebih mencintai hatimu sayang, percayalah sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu meski kamu tak cantik lagi." ucapnya yang terdengar manis di telinga Ariana.


"So sweet, tapi awas saja kalau kamu jelalatan di luar sana." sahut Ariana bernada ancaman.


"Asal kamu tetap manis seperti ini, mana bisa aku berpaling sayang." Demian mencubit pipi Ariana yang kemerahan dengan gemas hingga membuat wanita itu mengaduh kesakitan.


"Jadi sudah siapkan mempunyai banyak anak ?" imbuhnya lagi.


"Jika itu terjadi pasti akan sangat ramai." Ariana sudah membayangkan anak-anaknya akan berlarian kesana kemari di Mansion tersebut.

__ADS_1


"Lucu." gumamnya lagi sembari terkekeh.


"Ya sudah, ayo." ucap Demian dengan kerlingan nakalnya.


"Kemana ?" tanya Ariana bingung.


"Tentu saja buat bayi, sayang." sahut Demian yang langsung membuat Ariana memutar bola matanya kesal.


"Mas, aku sangat lelah." keluh Ariana mengingat tadi sore ia sudah bekerja keras merayu laki-laki itu, sungguh suaminya itu seperti tak pernah habis energinya.


"Baiklah, sini aku pijitin." perintah Demian kemudian.


"Beneran ?" Ariana langsung mengulas senyumnya senang.


"Hm, tapi setelah ini kita...."


"Ya tentu saja, setelah di pijit badanku pasti langsung segar." sela Ariana tak sabar, ia langsung mengubah posisinya menjadi tengkurap.


Sambil terkekeh Demian mulai memijit punggung sang istri dengan lembut, hingga tak berapa lama wanita itu nampak ketiduran. Entah karena memang sudah mengantuk atau pijitan suaminya itu terlalu enak hingga membuatnya terasa nyaman lalu tertidur.


"Sayang sudah enakan belum ?" ucap Demian setelah istrinya itu tak lagi berbicara.


"Sayang ?"


Kemudian ia menarik selimut lalu segera menyelimutinya. "Tidurlah sayang, sepertinya kamu sangat kelelahan." ucapnya lalu mengecup dahinya.


Setelah itu ia segera beranjak ke kamar mandi, menuntaskan hasratnya yang sudah memuncak.


Satu bulan kemudian...


Sejak tinggal di Mansion, setiap hari Ariana selalu belajar dengan beberapa pengajar yang di datangkan langsung oleh ibu mertuanya tersebut.


Wanita paruh baya itu tak segan memarahi menantunya itu jika sedikit saja melakukan kesalahan.


Seperti kejadian tadi siang, ketika Ariana di ajak oleh ibu mertuanya itu jalan-jalan ke sebuah Mall.


"Apa kamu tidak bisa berjalan lebih cepat sedikit ?" tegurnya ketika Ariana berjalan pelan karena heels yang dia pakai terlalu tinggi.


"Saya takut Jatuh, Ma." keluh Ariana.


"Dasar manja, bagaimana kamu bisa mendampingi Demian kalau hanya memakai heels saja tidak becus. Asal kamu tahu, semua wanita yang selama ini dekat dengannya selalu berpenampilan modis bukan wanita kampungan." ketus nyonya Anggoro.

__ADS_1


"Kamu harus sabar Ariana, ibu mertua rasa ibu tiri ini memang mulutnya pedas seperti cabai level 10."


Ariana nampak menyemangati dirinya sendiri, meski saat ini hatinya rasanya sesak, tapi ia harus tetap semangat agar tidak di banding-bandingkan lagi dengan wanita-wanita yang selama ini dekat dengan Demian.


Setelah lelah berkeliling dari butik satu ke butik lainnya, kini Ariana bisa bernapas lega setelah wanita paruh baya itu mengajaknya makan siang di sebuah restoran.


"Oh astaga, apa kamu bisa sedikit saja bersikap anggun. Duduklah dengan kepala tegak, jangan menunduk apalagi membungkuk." tegur nyonya Anggoro lagi ketika melihat Ariana langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi karena kelelahan.


"Baik, Ma." sahut Ariana menahan kesal.


Kalau tidak mengingat wanita di depannya itu adalah ibu mertuanya yang harus ia hormati layaknya ibunya sendiri. Mungkin ia sudah meremas wajah wanita yang selalu terlihat angkuh itu.


"Makan dengan pelan seperti ini dan tetap perhatikan posisi dudukmu." ujar nyonya Anggoro ketika mereka mulai menyantap makanannya.


"Baik, Ma." sahut Ariana.


Ariana sama sekali tak menikmati makanannya, selain karena punggungnya yang terasa lelah kakinya juga terasa sakit di akibatkan oleh heels 9 cm yang ia kenakan. Belum lagi ocehan ibu mertuanya yang bikin panas telinganya.


Ia jadi merindukan makan pecel lele lesehan langganannya, duduk sesuka hati tanpa harus menjaga imagenya seperti saat ini.


"Sepertinya Mama harus sekali-sekali merasakan makan pecel lele di pinggir jalan."


Begitulah Ariana, setiap ibu mertuanya menegurnya karena ia melakukan sedikit kesalahan maka ia selalu berangan-angan akan membuat wanita itu merasakan bagaimana hidup menjadi orang biasa.


"Setelah ini ikut Mama Arisan, bersikaplah layaknya wanita kelas atas bukan seperti wanita kampungan. Karena sejak menjadi menantu keluarga kami derajatmu sudah terangkat naik." ujar nyonya Anggoro mengingatkan.


Ariana mendesah pelan, ibu mertuanya itu selalu saja berkata seperti itu ketika akan mengajaknya berkumpul dengan teman-teman Arisannya.


Dan Ariana sangat tidak menyukai perkumpulan itu yang menurutnya hanya perkumpulan para penjilat. Mereka terlihat baik di depannya karena dirinya adalah istri dari pewaris Anggoro.


Ariana harus mencari cara agar tidak ikut ibu mertuanya itu pergi arisan dan sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya karena tiba-tiba suaminya itu menghubunginya.


"Iya, Mas. Baiklah tunggu ya, secepatnya aku akan kesana." ucap Ariana lalu menutup sepihak teleponnya.


"Ma, mas Demian menyuruh saya untuk mengantar berkasnya yang tertinggal di kamar." dusta Ariana pada mertuanya, padahal Demian tadi belum sempat berbicara tapi Ariana sudah menyelanya lalu mematikan teleponnya sepihak.


Nyonya Anggoro menghela napas panjangnya. "Baiklah, pergilah." ucapnya.


"Baik Ma, terima kasih." Ariana langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan dengan anggun meninggalkan restoran tersebut.


Setelah berada agak jauh, Ariana langsung melepaskan heelsnya lalu menggantinya dengan sendal jepit yang selalu dia simpan di dalam tasnya.

__ADS_1


"Akhirnya."


Ariana nampak lega, ia segera mencari taksi lalu pergi ke kantor suaminya.


__ADS_2