
Beberapa hari ini mereka sungguh menikmati liburannya di Jerman, mereka menghabiskan waktunya dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di sana.
Ariana masih tidak menyangka perjalanan hidupnya yang bagaikan roller coaster bisa ia lalui sampai tahap ini.
"Kenapa melamun, hm ?" tanya Demian seraya memeluk istrinya dari belakang, mengecup punggungnya yang terbuka hingga membuat Ariana sedikit meremang.
Ariana yang tadinya melihat pemandangan kota dari balkon Apartemennya kini ia memutar tubuhnya menghadap laki-laki itu.
"Aku merasa Tuhan sudah begitu baik padaku." sahutnya seraya menyentuh pipi laki-laki itu yang nampak di tumbuhi bulu-bulu halus di rahangnya.
"Terima kasih sudah menjadi suami yang baik serta ayah yang bertanggung jawab." ucapnya lagi.
"Sudah menjadi kewajibanku, sayang." sahut Demian menatap lekat istrinya.
Demian yang merasa gemas lalu melum๐t bibir wanita itu, sejak kehadiran bayi kembarnya waktu berduaan dengan wanita itu tidak terlalu banyak dan ia merindukan saat-saat intim seperti ini.
"Aku menginginkamu sayang, tamu bulananmu sudah selesaikan ?" lirih Demian seraya mengusap sudut bibir istrinya itu yang nampak basah karena ciumannya.
"Hm." angguk Ariana.
Kemudian dengan sekali hentakan Demian membawa istrinya itu ke dalam gendongannya, lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Apa masih sakit ?" di atas ranjangnya Demian nampak mengusap perut istrinya dengan lembut hingga sampai pada bekas sayatan di perut bagian bawahnya.
Ariana menggelengkan kepalanya, setelah menjalani operasinya ia sudah merasa lebih baik berkat teknologi canggih yang di miliki oleh rumah sakit tempatnya ia melahirkan dulu.
Namun ibu mertuanya itu selalu mengingatkan mereka untuk tidak berhubungan dahulu sebelum tiga bulan berlalu.
"Bahkan aku sangat sehat dari sebulan yang lalu, mas." sahut Ariana dengan menahan kekehannya.
"Tega banget sih sayang, kenapa tidak bilang? bahkan kamu membiarkan ku bermain solo setiap hari." keluh Demian sedikit merajuk.
"Maaf, aku hanya mengikuti perintah Mama." Ariana mengangkat tangannya untuk mengusap lembut rahang suaminya itu.
"Kalau begitu hari ini jangan harap kamu bisa keluar dari kamar ini, sayang." tegas Demian.
"Tapi bagaimana dengan anak-anak, Mas. Mereka ingin melihat sunset di pantai dan kamu juga ada meeting kan dengan relasimu ?" ucap Ariana mengingatkan.
"Astaga aku lupa, sepertinya aku akan mengganti meetingnya di pantai saja." sahut Demian.
"Baguslah, yaudah yuk pergi." ajak Ariana seraya sedikit mendorong tubuh suaminya yang sedang mengungkungnya itu.
"Mana bisa pergi begitu saja sayang, kamu harus bertanggung jawab dulu." Demian sedikit menggesekkan miliknya yang sudah mengeras di atas paha istrinya itu.
Ariana yang merasakan itu nampak menelan salivanya. "Anak-anak sedang menunggu mas, bagaimana kalau nanti malam saja." bujuknya.
Namun bukan Demian kalau tidak memaksakan kehendaknya, tanpa menunggu persetujuan wanita itu ia langsung saja melucuti pakaiannya.
__ADS_1
Dan segera memenuhinya dengan miliknya yang sudah lama tak memasuki sarangnya tersebut.
Sementara itu Ricko dan Dean yang sedang berada di taman depan Apartemennya nampak bermain dengan burung-burung merpati sore itu.
"Kak Dean, apa kita jadi ke pantai ?" tanya Ricko setelah lelah memberi makan burung-burung tersebut.
Dean yang sedang bermain game di ponselnya langsung menatap Ricko. "Tentu saja, sebentar lagi ya kita tunggu Mommy dan Daddymu turun dulu." sahutnya.
Ricko yang merasa bosan nampak mengedarkan pandangan ke seluruh taman yang luas tersebut, namun ia langsung terpaku saat melihat seorang gadis kecil yang juga nampak menatapnya dari kejauhan.
"Olive ?" gumamnya lalu melangkahkan kakinya mendekat.
Saat ia semakin mendekatinya, gadis kecil itu langsung berlari menjauh.
"Aku yakin itu Olive." ucap Ricko seraya berlari mengejar.
Ricko nampak ngos-ngosan karena berlari, namun tetap saja ia kehilangan jejak gadis kecil itu.
"Ricko, apa yang kamu lakukan ?" teriak Dean saat mengejar bocah kecil itu.
"Kak, tadi Ricko lihat Olive di sini." ucap Ricko meyakinkan.
"Rick, ingat Olive sudah tiada. Lagipula pesawatnya jatuh di Sidney bukan di Jerman, ayo kembali Daddy dan Mommy mu pasti sudah menunggu." bujuk Dean.
Ricko mengedarkan pandangannya. "Tapi dia mirip sekali dengan Olive." keukeh Ricko.
"Di dunia ini banyak sekali orang yang mempunyai wajah mirip dan kamu harus bisa menerima kenyataan jika Olive sudah tiada, dia sudah meninggal." bujuk Dean.
Kemudian Dean segera mengajak Ricko berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Maafkan aku." Olive nampak keluar dari balik tembok persembunyiannya untuk melihat kepergian Ricko.
"Jika kita berjodoh, suatu saat nanti pasti akan bertemu kembali." imbuhnya lagi seraya menatap punggung Ricko yang semakin menjauh.
Saat menatap bangunan Apartemen yang menjulang tinggi itu, Olive melihat seseorang yang sangat ia rindukan keluar dari gedung tersebut dengan menggandeng tangan seorang wanita cantik yang ia yakini itu pasti ibunya Ricko.
"Daddy, Olive merindukanmu." Olive nampak membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara tangisnya, namun air mata yang mengalir deras di pipinya sudah membuktikan jika gadis kecil itu sangat merindukan pria itu.
"Maafkan, aku." gumamnya seraya melihat kepergian mereka.
"Nak, kamu baik-baik saja ?" tanya tuan Jensen saat melihat Olive masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Olive baik-baik saja kek." sahut Olive seraya meletakkan tas punggungnya lalu melepaskan mantel hangatnya.
"Kenapa matamu memerah ?"
"Hanya kelilipan." dusta Olive.
"Bagaimana dengan belajarmu di kelas, kamu menyukainya ?" tuan Jensen selalu antusias jika menyangkut sekolahnya Olive.
__ADS_1
"Sangat suka kek, Olive akan belajar yang rajin biar kakek bangga." sahut Olive.
"Tentu saja, kamu harus sekolah yang tinggi Nak dan buat kakek bangga padamu." ujar Tuan Jensen.
"Olive sayang kakek." Olive langsung berhambur ke pelukan kakeknya itu.
"Kamu harus sukses Nak, Olivia Jensen harus sukses." ucap tuan Jensen menyemangati.
"Tentu saja kamu harus sukses, agar suatu saat bisa mencari keberadaan keluargamu." gumam tuan Jensen dalam hati, karena sampai saat ini Olive seakan enggan menceritakan di mana keberadaan keluarganya.
Sejak pensiun dari pekerjaannya di Australia, tuan Jensen memutuskan kembali ke kampung halamannya di Jerman. Pria tua itu begitu menyayangi Olive seperti cucunya sendiri.
Sementara itu Ariana yang kini berada di pantai nampak mengawasi Dean dan Ricko yang sedang bermain pasir di pinggir pantai.
Sedangkan Demian yang sedang sibuk meeting dengan kliennya nampak sesekali mengawasi mereka dari sebuah Cafe tak jauh dari sana.
"Terima kasih, tuan. Sampai jumpa di Indonesia." ujar Demian mengakhiri meetingnya yang sukses sore itu.
Setelah itu ia segera bergabung dengan istrinya yang nampak melamun menatap luasnya lautan di depan matanya itu.
"Melamun lagi, sayang." ucap Demian seraya memeluk Ariana dari belakang hingga membuat wanita itu terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.
"Kamu sudah selesai, Mas." sahut Ariana, ia tersenyum saat merasakan hangatnya napas laki-laki itu menyapu lehernya.
Lalu Demian memutar tubuh Ariana agar menghadap ke arahnya.
"Hm, katakan kamu sedang memikirkan apa ?" tanyanya penasaran.
"Hm, apa ya ?" Ariana nampak tersenyum jahil.
"Katakan sayang, sebelum aku berbuat aneh-aneh padamu di sini." desak Demian dengan pandangan menggoda.
"Dasar mesum." sungut Ariana.
"Makanya katakan kamu sedang memikirkan apa, hm ?"
"Terima kasih." sahut Ariana.
"Untuk ?" Demian menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Sudah hadir dalam hidupku." sahut Ariana yang sukses membuat Demian terharu.
Kemudian ia merengkuh wanita itu lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Terima kasih juga sudah menjadi bidadari bagiku dan keluargaku." lirih Demian, nampak sebutir kristal lolos dari pelupuk matanya. Bukan airmata kesedihan namun kebahagiaan.
__ADS_1
.
Part atau session berikutnya fokus babang Edgar ya guys, ceritanya tak kalah rumit dan menguras air mata tentunya. Tapi tokoh sebelumnya masih sesekali nyempil ya biar kalian tidak menggenggam rindu hiiyyaaa ๐๐