Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~190


__ADS_3

"Mama." panggil Elkan siang itu saat Dena sedang menyiapkan makan siang di rumahnya.


"Ya sayang, katakan ada apa ?" sahut Dena seraya menata piring diatas meja.


"Di kantol Papa ada tante tantik yang cuka lihat-lihat Papa." ucap Elkan yang langsung membuat Dena menatapnya sembari tersenyum.


"Masa sih, kan memang papa tampan sama seperti Elkan." sahut Dena tanpa curiga, dari dulu suaminya memang jadi idola di kantornya.


"Mama ndak malah ?" tanya Elkan kemudian.


"Mama percaya sama Papa sayang, kalau Papa hanya sayang sama Elkan dan Mama saja." sahut Dena memberi pengertian, ia merasa semakin hari putranya itu semakin posesif padanya.


Semenjak Dena hamil besar Elkan lebih banyak bersama Edgar, bocah kecil itu selalu bercerita selepas pulang dari kantor ayahnya dan siang ini karena sekolahnya sedang libur jadi seharian ia di rumah bersamanya.


Akhir-akhir ini nama Anita kerap sekali di sebut oleh sang putra, Dena yang ingin cuek akhirnya penasaran juga.


"Memang tante Anita cantik ya, Nak ?" tanya Dena kemudian.


"Tantik, tapi diam-diam cuka lihatin Papa lalu cenyum-cenyum sendili tapi pas lihat Ekan langsung Ekan pototin aja." sahut Elkan yang langsung membuat Dena terkekeh.


"Tidak boleh seperti itu sayang, itu nggak sopan. Elkan harus baik sama semua orang ya." ujar Dena menasihati.


"Bialin aja, Ekan ndak mau punya Mama dua sepelti Dewa." sahut Elkan, Dewa adalah teman sekolahnya di playgroup yang ayahnya mempunyai dua istri.


Dena sampai geleng kepala melihat bagaimana kritisnya pikiran putranya sekarang, sepertinya ia harus lebih berhati-hati lagi dalam berbicara di depan sang putra.


"Oke baiklah, sekarang Elkan makan siang dulu ya dan setelah ini bagaimana kalau kita mengunjungi Papa di kantor ?" ucap Dena, tiba-tiba ia jadi penasaran dengan sosok wanita bernama Anita itu.


"Achiap Mama." sahut Elkan senang.


Setelah itu dengan di antar oleh seorang sopir, Dena dan Elkan pergi ke kantor Edgar. Jam makan siang sudah lewat, jadi ia tak perlu membawakan suaminya itu makan siang karena laki-laki itu pasti sudah makan di luar atau memesan makanan.


"Pak, bisa berhenti sebentar." ucap Dena tiba-tiba saat melihat mobil suaminya terparkir di sebuah Cafe tak jauh dari kantornya.


"Ibu mau turun ?" tanya sang sopir.


"Nggak usah, kita di sini saja." sahut Dena, ia nampak melihat sang suami yang sedang duduk di luar Cafe bersama tiga orang rekannya dan salah satu di antara mereka adalah seorang perempuan yang sang putra bilang itu adalah Anita.


Wanita itu masih muda, cantik dan sepertinya sangat supel dan pandai berbicara hingga membuat ketiga rekan laki-lakinya betah bersamanya.


Apalagi kentara sekali Anita selalu menatap suaminya, sepertinya wanita itu memang benar-benar tertarik pada Edgar tapi Dena tidak bisa menuduh sembarangan ia harus mempunyai bukti lebih.

__ADS_1


Hampir 15 menit Dena mengawasi mereka, bahkan Elkan kini sudah tertidur di mobilnya.


"Maafkan Mama ya Nak sudah melibatkan mu, sebenarnya mama tidak ingin peduli dan akan selalu mempercayai Papa tapi melihat itu Mama jadi merasa khawatir."


Beberapa saat kemudian, Edgar dan rekan-rekannya nampak meninggalkan Cafe tersebut. Edgar berlalu pergi bersama Juno dan Anita bersama satu rekannya di mobil berbeda.


Mereka sepertinya tidak kembali ke kantornya dan Dena yang penasaran menyuruh sang sopir untuk mengikutinya.


Rupanya mereka sedang menuju proyek yang sedang di bangun, sesampainya di sana mereka berempat segera turun dari kendaraannya masing-masing.


Setelah menggunakan helm dan juga pakaian safety berupa rompi, mereka terlihat berkeliling memantau proyek tersebut.


Sepanjang waktu Anita selalu berdekatan dengan suaminya bahkan wanita itu tak segan memberikan tisu pada Edgar saat laki-laki itu nampak berkeringat.


"Sangat perhatian." gumam Dena seraya mengambil beberapa foto dan video seperti yang dia lakukan di Cafe tadi.


Kemudian ia nampak menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Halo Ambar, cepat cari tahu informasi tentang wanita yang ku kirim barusan." perintahnya kemudian.


"Baik, bu." sahut Ambar dari ujung telepon, Ambar adalah sekretarisnya Dena saat ia masih aktif di kantornya.


Hanya saja sudah hampir dua bulan ini ia tidak lagi bekerja karena berbagai alasan dari suaminya, lagipula ia juga ingin beristirahat karena kelahiran bayinya tinggal menunggu hari.


Setelah mengikuti suaminya hingga kembali ke kantornya, kini Dena kembali ke rumahnya. Ia akan membuat perencanaan matang untuk memperingatkan wanita yang sedang mencoba menggoda suaminya itu.


"Lelah ya ?" ucap Dena saat memberikan pelukan pada sang suami.


"Lumayan, hari ini mengunjungi proyek sampai sore." sahut Edgar jujur dan itu membuat Dena nampak lega.


"Kenapa tidak menyuruh karyawanmu saja ?" ucapnya kemudian.


"Bukannya aku tidak percaya sama mereka sayang, tapi dari dulu aku memang selalu memantau proyek-proyek yang sedang ku kerjakan." sahut Edgar sembari melepaskan kemejanya, kemudian ia berlalu ke kamar mandi.


Setelah pintu kamar mandi tertutup rapat, Dena langsung mengambil ponsel laki-laki itu yang tergeletak di atas nakas. Sejak menikah ini untuk pertama kalinya ia memegang ponsel suaminya.


Ponsel tersebut nampak di kunci menggunakan password, seperti ponselnya juga. Karena memang setiap ponsel harus wajib menggunakan password agar kalau hilang data-data penting yang ada di sana tidak hilang apalagi sampai di salah gunakan oleh orang lain.


Dena mencoba tanggal pernikahannya tapi gagal, kalau tanggal lahir suaminya itu sendiri pasti tidak mungkin pasti akan cepat ketahuan orang lain.


Lalu ia mencoba dengan tanggal lahirnya dan langsung terbuka, Dena nampak tersenyum. Ternyata sang suami menggunakan tanggal lahirnya untuk password ponselnya, pantas saja laki-laki itu selalu ingat hari ulang tahunnya yang dia sendiri sering lupa.


Dena langsung mengecek pesan dan terlihatlah sebuah kontak bernama Anita kolsuntan.

__ADS_1


"Jadi dia seorang konsultan." gumam Dena seraya membuka pesan tersebut lalu mulai membacanya.


Mereka hanya nampak membicarakan tentang pekerjaan dan beberapa kali wanita itu juga terlihat mengajak Edgar untuk makan siang tapi sepertinya suaminya selalu menolaknya.


Hanya itu dan tidak lebih, jadi kini Dena bisa membuat kesimpulan jika wanita bernama Anita itu sedang mencoba menggoda suaminya dengan memanfaatkan jabatannya sebagai seorang konsultan yang selalu berhubungan dengan pemilik perusahaan.


"Sepertinya kamu sedang ingin bermain-main denganku Nona? jangan karena aku sedang hamil besar lalu kamu memanfaatkan itu untuk menggoda suamiku, salah besar." gumam Dena seraya meletakkan kembali ponsel suaminya di atas nakas.


Lalu tak berapa lama ponsel tersebut nampak bergetar karena sebuah notifikasi masuk, tanpa membukanya pun Dena bisa melihat isi pesan tersebut.


"Hari ini sangat melelahkan ya pak, berendam air hangat sepertinya akan membuat badan bapak merasa lebih baik. Selamat malam pak, semoga mimpi indah sampai bertemu besok ☺."


Dena nampak tersenyum sinis saat melihat pesan dari Anita, apalagi melihat emot di akhir pesan tersebut.


"Sayang, aku sangat lapar." ucap Edgar setelah baru keluar dari kamar mandi yang langsung membuat Dena melebarkan matanya.


"Ini masih sore sayang, memang kamu tadi tidak makan siang ?" pancing Dena.


"Aku tadi hanya makan sedikit di Cafe, lalu pergi meninjau lokasi proyek." sahut Edgar.


"Kok makan sedikit aja, memang kamu tadi makan sendirian ?" pancing Dena lagi.


"Tidak juga, tadi ada Juno, kepala kontraktor dan Anita." sahut Edgar seraya berganti pakaian yang sudah di siapkan oleh sang istri sebelumnya.


"Anita ?" tanya Dena namun dengan reaksi biasa saja agar suaminya itu tidak curiga.


"Anita itu konsultan baru di kantor, sayang." sahut Edgar mengalir begitu saja tanpa ada sesuatu yang membuatnya salah tingkah atau apapun, karena memang dirinya tak ada hubungan apapun dengan wanita itu selain pekerjaan dan Dena yang melihat itu nampak lega.


"Ayo ku temani makan." ajak Dena kemudian dengan mengulas senyumnya.


Setelah itu mereka segera berlalu keluar dari kamarnya. "Sayang, setelah makan jenguk bocil ya." ucap Edgar seraya menggandeng pinggang sang istri.


"Masih sore begini ?" Dena nampak melebarkan matanya.


"Memang kenapa, bukannya kita biasa melakukannya setiap waktu dan aku menginginkannya sekarang." sahut Edgar dengan tatapan lekatnya.


"Baiklah." sahut Dena dengan mengulas senyumnya yang langsung di hadiahi sang suami kecupan di bibirnya.


"Tak semudah itu kamu mau merebut milikku Anita, lihatlah apa yang akan ku lakukan besok padamu."


.

__ADS_1


Cerita Sera sementara waktu kita skip dulu ya guys, kita kembali pada cerita Dena yang akan melahirkan di selingi sedikit cerita Arhan yang pastinya juga akan mendapatkan karma atas perbuatannya. Setelah itu kita kembali pada cerita Sera lagi lalu di lanjut dengan Ricko dan juga Olive.


__ADS_2