Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~194


__ADS_3

"Sayang, terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku." ucap Edgar pagi itu saat mereka sedang berada di taman di belakang rumah sakit tersebut, ini adalah hari ketiga di mana Dena sedang di rawat di sana.


"Sama-sama, tolong seperti ini terus ya jangan pernah berubah, jangan pernah tinggalkan aku." sahut Dena menatap lekat suaminya, ia bersyukur mempunyai suami seperti Edgar yang banyak membawa kebaikan untuknya.


"Tentu saja sayang, hanya kematian yang akan memisahkan kita." tegas Edgar meyakinkan.


Sungguh ia sangat bahagia dengan hidupnya sekarang, mempunyai istri yang sangat ia cintai dan sepasang anak yang lucu-lucu, ia merasa hidupnya sangat sempurna.


"Jadi hari ini kita pulangkan ?" tanya Dena kemudian, ia sudah sangat bosan di rumah sakit.


"Nanti siang ya sayang, nunggu dokternya datang dulu." sahut Edgar.


Setelah selesai menemani sang istri menjemur putri kecilnya, Edgar segera pergi meninggalkan wanita itu dengan alasan ada sedikit pekerjaan di kantornya.


Sebenarnya ia ingin memberikan sedikit kejutan pada wanita itu dengan membuat pesta kecil-kecilan di rumahnya untuk menyambut kedatangannya.


Siang itu Edgar memacu mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit, ia sudah tak sabar untuk menjemput istrinya itu pulang.


Sepanjang jalan ia nampak mengulas senyumnya, apalagi saat melihat beberapa buket bunga yang akan ia berikan pada wanita itu.


Namun rem mobilnya tiba-tiba tak berfungsi hingga membuatnya begitu panik saat mobilnya melaju dengan kencang dan tak berapa lama kemudian tabrakan hebat pun tak bisa ia hindarkan.


Demi menghindari pengendara lain, Edgar terpaksa membanting stirnya dan menabrak pembatas jalan dengan keras hingga mobil yang ia kemudikan ringsek tak berbentuk.


Sementara itu di rumah sakit Dena nampak gelisah, sampai sore hari suaminya itu belum juga datang.


"Sayang, kamu di mana sih." Dena berkali-kali menghubungi ponsel suaminya tapi selalu tidak aktif.


Beberapa saat kemudian, nampak kedua mertuanya datang dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Mama, Papa. Apa tahu di mana suamiku, dari tadi siang dia belum kembali ?" tanya Dena khawatir.


"Ponselnya juga tidak bisa di hubungi." imbuhnya lagi.


"Sayang, duduklah." perintah Putri agar anak menantunya itu duduk di sampingnya.


Setelah Dena duduk, lalu ibu mertuanya itu mulai berbicara. "Kamu yang sabar ya sayang, tadi siang Edgar mendapatkan musibah. Mobilnya kecelakaan saat menuju rumah sakit ini." ucapnya kemudian yang langsung membuat Dena terlihat syok.


"Mama bohongkan? benarkan Pa, Mama bohong kan ?" sahut Dena memastikan pada sang ayah jika itu semua tidak benar.


"Itu benar, Nak." sahut ayah mertuanya.


"Nggak, itu nggak mungkin. Lalu bagaimana dengan keadaannya? suamiku pasti baik-baik saja kan? kenapa hingga sore begini aku baru di beritahu ?" Dena nampak histeris.


"Sayang tenanglah, kita doakan yang terbaik ya. Saat ini Edgar sedang kritis." sahut Putri mencoba untuk tegar.

__ADS_1


Dena langsung bangkit dari duduknya lalu mendekati sang ayah mertua. "Dimana suamiku Pa, aku mau lihat. Ku mohon?" ucapnya kemudian.


"Kamu tenangkan dirimu dulu Nak, baru Papa akan membawamu kesana." bujuk King.


Setelah Dena sedikit tenang, mereka segera membawanya ke ruang ICU di mana Edgar sedang di rawat.


Edgar nampak tak berdaya, di sana terlihat banyak sekali alat yang menempel di tubuhnya, wajahnya penuh luka dan nampak perban membalut dadanya.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya ?" tanya Dena saat melihat Edgar dari balik dinding kaca.


Dokter tersebut nampak menghela napas panjangnya saat menatap Dena.


"Suami anda mengalami kecelakaan yang sangat parah hingga menyebabkan kerusakan pada jantungnya. Kami harap secepatnya pihak keluarga mendapatkan pendonor, karena tuan Edgar saat ini bisa bertahan karena bantuan mesin." ucap Dokter tersebut yang membuat Dena langsung luruh ke lantai, kakinya mendadak lemas hingga tidak mampu menopang tubuhnya.


"Itu tidak mungkin, dok ?" ucapnya kemudian, ia masih tak percaya.


Tadi pagi mereka masih bersama-sama dan saling mengucapkan janji untuk selalu bersama, namun dalam beberapa jam janji itu seakan menguap di udara karena permainan takdir.


"Sayang, ku mohon bangunlah." lirih Dena sembari terisak.


Ia harus mencari pendonor kemana, mendonorkan jantung itu berarti harus mengorbankan nyawa dan itu tidak akan mungkin terjadi. Lalu bagaimana dengan keadaan suaminya, laki-laki itu pasti tidak akan bisa bertahan tanpa seorang pendonor.


Hingga beberapa hari kemudian Dena sedikit pun tak beranjak dari sisi suaminya, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya sendiri.


"Dok, biar saya yang menjadi pendonor untuk menantu saya." ucap tuan Winata sore itu saat melihat bagaimana hancurnya putrinya saat itu.


"Jangan lakukan itu, Pa." imbuhnya lagi.


"Benar tuan, itu sama saja kami membunuh anda dan itu melawan hukum. Kami hanya menerima pendonor dari pasien yang sudah meninggal." sahut Dokter tersebut.


Hampir dua minggu Edgar kritis di rumah sakit dan sampai sekarang belum juga menemukan pendonor untuknya.


"Menangis hanya akan membuat wajah cantikmu menjadi jelek." ucap seseorang yang langsung membuat Dena menoleh ke sumber suara tersebut.


"Arhan ?" ucapnya lirih, Dena nampak terkejut saat melihat kehadiran Arhan tak jauh darinya


Laki-laki itu nampak duduk di atas kursi rodanya, badannya sangat kurus dan matanya terlihat cekung dengan lingkaran hitam di sekitarnya.


"Kamu sakit ?" tanya Dena kemudian.


"Aku hanya menjalani karma dari Tuhan." sahut Arhan dengan mengulas senyumnya, namun nampak kesedihan di matanya.


"Kamu sakit apa Arhan, kenapa bisa sampai begini ?" Dena nampak khawatir.


"Kamu khawatir padaku ?" tanya Arhan menatap lekat Dena.

__ADS_1


"Tentu saja, aku lebih suka melihatmu sehat meski brengsek dari pada seperti ini." sahut Dena, ia sudah tidak mempunyai dendam lagi pada laki-laki itu.


Dena sekarang sudah merasa ikhlas dan menghapus semua kebencian dirinya baik itu pada Arhan maupun Sera dan semua itu berkat Edgar yang selalu sabar membimbingnya.


Mengingat suaminya, Dena menitikkan air matanya lagi, namun ia segera menghapusnya sebelum Arhan melihatnya. Tapi sedari tadi tatapan Arhan sedikit pun tak berpaling darinya dan laki-laki itu pun tahu bagaimana kesedihan mantan istrinya itu saat ini.


"Terima kasih, sudah pernah mencintaiku. Tolong maafkan semua kesalahan ku dulu, seandainya waktu bisa di ulang, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu." ucap Arhan kemudian.


Dena mengulas senyum tipisnya saat melihat kesungguhan Arhan. "Aku sudah memaafkan mu dan lupakan saja masa yang sudah berlalu." ucapnya kemudian.


"Terima kasih, untuk terakhir kalinya bolehkah aku memelukmu ?" mohon Arhan menatap lekat wanita yang masih menguasai seluruh hatinya itu.


Sebelum sakit ia sudah berusaha untuk menjalin hubungan dengan beberapa wanita tapi tetap saja ia tak bisa melupakan Dena.


Cinta dan kesabaran yang di berikan oleh wanita itu dalam setahun pernikahannya masih begitu ia ingat sekaligus ia sesali karena telah menyia-nyiakannya.


"Maaf aku Arhan, suamiku di dalam sana sedang berjuang untuk hidup. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa memeluk laki-laki lain." sahut Dena sembari terisak.


Arhan yang melihat kesedihan Dena, hatinya terasa nyeri. Ingin sekali ia membawa wanita itu ke dalam pelukannya dan menenangkannya.


"Baiklah, aku mengerti. Jaga dirimu baik-baik ya, semoga suamimu lekas sembuh. Aku akan selalu mencintaimu, Dena Winata." ucapnya kemudian.


Setelah itu ia berlalu pergi dengan asistennya yang mendorong kursi rodanya, meninggalkan Dena yang nampak masih terisak di tempatnya.


"Selamat tinggal sayang, meski kamu tidak ingin memelukku tapi aku mempunyai cara bagaimana kamu akan memelukku setiap saat."


Hingga beberapa hari kemudian, Dena tidak pernah bertemu lagi dengan Arhan. Sebenarnya ia juga kasihan pada mantan suaminya itu dan ingin memastikan keadaannya.


Namun ia sedikitpun tidak ingin beranjak dari sisih suaminya yang sedang berjuang untuk hidup. Ia takut jika ia pergi, maka laki-laki itu akan meninggalkannya untuk selamanya.


"Sayang ku mohon, bangun. Sungguh aku tak bisa hidup tanpamu, sayang." lirih Dena seraya menatap sang suami dari balik kaca penyekat.


"Sabar ya sayang, kami sedang mengusahakan mencari pendonor itu secepatnya." ucap Putri menenangkan.


Kemudian nampak seorang dokter berjalan ke arahnya, sepertinya dokter tersebut baru datang.


"Dokter, keadaan pasien melemah." teriak seorang suster saat dokter baru saja datang dan ingin berbicara dengan Dena dan keluarganya.


"Dok, ada apa dengan suamiku ?" tanya Dena panik.


"Sebentar ya bu, saya cek dulu." Dokter tersebut langsung masuk ke dalam lalu memeriksa keadaan Edgar dan beberapa saat kemudian beberapa orang terihat masuk dan membawa Edgar keluar dari ruangan tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan suamiku? kenapa di bawa pergi? suamiku baik-baik saja kan? katakan Dok ?" Dena nampak histeris saat melihat Edgar di bawah pergi, tidak mungkin suaminya akan meninggalkan dirinya secepat itu.


"Tenang bu, kami sudah menemukan pendonor yang cocok. Semoga saja operasi berjalan lancar." sahut Dokter tersebut.

__ADS_1


"Apa ?" Dena langsung terkejut, itu berarti ada seseorang yang baru saja meninggal dan mendonorkan jantungnya untuk sang suami.


__ADS_2