Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~72


__ADS_3

Siang itu Ariana di ajak oleh Herman dan Widya makan siang di sebuah restauran oriental yang sedang naik daun saat ini, karena tempatnya yang terlihat begitu asri dengan banyak tanaman di sana layaknya sebuah taman.


Ketika mereka tengah asyik menikmati makanannya, tiba-tiba Edgar menghampiri mereka.


"Hai." sapanya seraya mengulas senyumnya menatap Ariana, wanita yang begitu ia rindukan akhir-akhir ini karena selalu menghindarinya.


Ariana langsung mengangkat kepalanya dan nampak terkejut ketika melihat laki-laki yang selalu ia hindari itu sekarang berdiri di depannya.


"Ed, kamu di sini juga ?" sapanya.


"Iya, kebetulan aku juga sedang makan siang di sini." sahut Edgar.


"Mas Herman, mbak Widya bagaimana kabarnya ?" imbuhnya lagi seraya menatap Herman dan Widya bergantian.


"Kami baik Ed, kamu sendirian ?" tanya Herman.


"Sama teman-teman." sahut Edgar.


"Aku kira sendirian, jadi gabung saja sama kami." ucap Herman lagi.


"Bisa-bisa." Edgar langsung menarik kursi di depan Ariana lalu mendudukkan dirinya di sana.


"Temanmu nggak apa-apa kamu tinggal ?" tanya Widya.


"Santai aja mbak, mereka ramai-ramai kok." sahut Edgar, kemudian ia mengulas senyumnya menatap Ariana.


"Lama tak bertemu, kamu jarang menjemput Ricko ya ?" imbuhnya lagi pada Ariana.


"Iya, Victor yang selalu menjemputnya." sahut Ariana.


"Apa kak Demian masih sering mengancammu ?" tanyanya khawatir.


"Nggak." Ariana menggelengkan kepalanya.


"Oh." Edgar menatap Ariana yang nampak menikmati makanannya.


"Kamu nggak makan ?" tanya Ariana kemudian.


"Aku sudah pesan tadi, sebentar lagi mungkin datang. Makanlah dulu, di kenyangin akhir-akhir ini ku lihat badanmu semakin kurus." sahut Edgar perhatian.


"Terima kasih." Ariana tersenyum simpul, Edgar sungguh pria yang perhatian dan tampan tapi kenapa sedikitpun ia tak ada hati untuk laki-laki itu.


Ariana langsung memalingkan wajahnya ketika Edgar terus menerus menatapnya, namun ia justru tak sengaja melihat Demian sedang makan bersama dengan Jessica.


"Sialan, kenapa dia bisa ada di sini sih. Mau pamer kemesraannya."


Gerutu Ariana seraya menatap Demian bersama Jessica yang terlihat sedang mengobrol bersama.

__ADS_1


"Aku harus segera pergi dari sini, sebelum playboy mesum itu melihatku bersama Edgar."


"Aku ke toilet sebentar ya." pamit Ariana pada Herman dan Widya.


Edgar yang sedang makan, langsung mengangguk. "Mau ku temani ?" tawarnya.


"Nggak, terima kasih. Kamu lanjutkan saja makannya." sahut Ariana, kemudian ia segera menyamber tasnya lalu berjalan mengendap-endap menuju toilet.


"Syukurlah dia tak melihatku."


Sesampainya di toilet Ariana nampak bernapas lega karena Demian tak melihatnya, bisa bahaya kalau laki-laki itu melihatnya sedang makan siang bersama Edgar.


Ariana langsung merapikan penampilannya, setelah itu ia harus segera pulang melalui pintu belakang.


Namun baru juga membuka pintu toilet, ia melihat Demian sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan datarnya.


Deg!!


"Sialan."


"Eh mas, kamu di sini ?" sapa Ariana yang mencoba pura-pura baru melihat laki-laki itu.


"Kenapa? apa acara makan siangmu bersama si brengsek itu terganggu ?" sahut Demian dengan nada sinis.


"A-aku tidak mengerti apa maksudmu ?" Ariana mencoba tersenyum untuk mengurangi kegugupannya agar laki-laki itu tidak semakin curiga.


"A-aku tidak mengerti apa maksud kamu ?" Ariana langsung membuang mukanya.


Bagaimana tidak, wajah Demian begitu dekat hingga napas mintnya menusuk hidungnya. Sungguh Ariana takut khilaf dan berakhir menciumnya.


Mengingat bagaimana ia semalam bermimpi sangat liar bersama laki-laki itu, apalagi kini jantungnya juga serasa melompat dari tempatnya.


Sungguh berdekatan dengan pria itu membuatnya senam jantung dan tubuhnya panas dingin, kalau seperti ini terus bagaimana dirinya bisa cepat move on bahwa sampai tua ia akan berakhir menjadi wanita yang mengenaskan karena cinta.


"Apa kamu sedang bermain-main dengan ancamanku ?" ujar Demian seraya memepet tubuh Ariana ke tembok.


Ariana yang di perlakuan seperti itu, bukannya takut tapi justru menatap Demian dengan lekat. Sepertinya otaknya tiba-tiba bergeser, karena satu detik kemudian tanpa sadar ia justru mencium Demian.


Demian yang sedang marah karena cemburu, tentu saja terkejut. Namun setelah itu ia langsung menahan tengkuk Ariana, ketika wanita itu akan melepaskan ciumannya.


Dengan lembut Demian semakin memperdalam ciumannya ketika tak ada penolakan dari Ariana, sungguh ia sangat merindukan wanita itu dan ia yakin Ariana juga sedang merindukannya.


Namun ia langsung melepaskan panggutannya, ketika merasa tempat itu bukan tempat yang nyaman buat mereka.


Sedangkan Ariana nampak kecewa sekaligus merutuki dirinya sendiri, namun belum juga ia berkata-kata Demian sudah menarik tangannya lalu membawanya pergi dari sana.


"Aku membawa mobil sendiri." tolak Ariana ketika Demian membawanya masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Sekarang Ariana sudah pintar mengendarai mobilnya sendiri setelah berlatih beberapa waktu.


"Jalan, Vic." perintah Demian pada Victor, setelah itu ia menekan sebuah tombol yang langsung membuat pembatas dengan tempat duduk sopir tertutup rapat.


Ariana melongo, sepanjang ia bersama Demian sebelumnya ia tidak pernah melihat itu.


Namun lagi-lagi ketika ia ingin melayangkan protes, Demian sudah membungkam bibirnya dengan bibir laki-laki itu.


Dan selanjutnya mereka nampak saling berciuman dengan perasaan rindu yang menggebu, mereka saling melum😘t, mengulum dan menyesap satu sama lainnya.


Hingga pertukaran saliva mereka terdengar merdu memenuhi tempat sempit tersebut.


Melihat Ariana yang sudah kehabisan napas, Demian langsung melepaskan panggutannya dan membiarkan wanita itu mengambil napas sebanyak mungkin.


Dan kini ia justru mengalihkan ciumannya pada leher jenjang Ariana yang selalu membuatnya candu, apalagi melihat banyak jejak kepemilikan yang dia buat semalam membuat Demian mengangkat sudut bibirnya.


"Ahh, mas." Ariana tidak tahan untuk tidak mendesah ketika laki-laki itu menghisap kulit lehernya dengan kuat dan itu membuat Demian semakin gelap mata untuk menyentuh wanitanya itu lebih jauh.


Sepertinya mereka lupa dengan drama yang sedang sama-sama mereka mainkan saat ini, karena sesungguhnya perasaan itu memang tidak mengenal drama.


Ariana yang lupa dengan dramanya yang pura-pura tidak mencintai Demian, sedangkan Demian sepertinya juga lupa dengan dramanya untuk menjauhi wanita itu untuk sementara waktu.


Selain karena tidak mau ibunya curiga, Demian juga ingin melihat sampai kapan wanitanya itu bertahan dengan kegengsiannya untuk mengakui perasaannya.


"Ahh." lagi-lagi Ariana tak tahan untuk mengeluarkan desahannya ketika Demian kini sedang mempermainkan dua gundukan miliknya, bahkan ia nampak meremas kepala laki-laki itu agar semakin tenggelam di sana.


Di saat mereka hampir khilaf, tiba-tiba terdengar pintu mobilnya di ketuk dari luar dengan sedikit keras.


Ariana yang baru menyadari perbuatan gilanya bersama Demian, langsung mendorong laki-laki itu dari atas tubuhnya.


Kemudian ia langsung merapikan pakaiannya kembali yang terlihat sangat berantakan.


"Kurang ajar sekali kamu berani menyentuhku." protes Ariana meski ia juga menginginkannya tadi.


"Tapi kamu menikmatinya kan, sayang ?" sahut Demian dengan seringaiannya, ia terlihat puas karena sudah berhasil memperdaya wanitanya itu.


Meski saat ini ia harus menahan gejolak gairah yang sudah menguasai dirinya, bahkan ia merasakan miliknya di bawah sana sudah sangat mengeras.


"Dasar mesum, sudah punya calon tunangan juga tapi berani menyentuh wanita lain. Apa sudah menjadi kebiasaanmu tidak bisa hidup dengan satu wanita saja ?" cibir Ariana yang langsung membuat Demian mengeraskan rahangnya.


Demian terlihat kecewa dengan perkataan Ariana, karena selama ini hanya wanita itulah yang dia sentuh.


"Aku akan memberikan mu satu kesempatan, katakan kalau kamu mencintai ku maka aku akan membatalkan pertunanganku yang akan di laksanakan dua hari lagi." ujar Demian dengan tegas seraya menatap lekat Ariana.


Ia ingin melihat sampai mana batas keegoisan wanita itu, jika Ariana mau jujur dengan perasaannya maka ia juga akan mengatakan semua rencananya yang telah ia susun bersama Victor selama ini.


"A-aku....." Ariana nampak menjeda perkataannya, lalu menghela napasnya untuk meredakan kegusarannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2