Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~260


__ADS_3

"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tanya Ricko selepas mereka sampai di kamar hotelnya, mengingat perkataan Sarah begitu menyakiti sang istri.


Olive yang baru menghempaskan tubuhnya di sofa nampak termenung.


"Aku sedih aja, kenapa orang di luar sana mudah sekali hamil padahal belum menikah. Sedangkan aku kenapa sulit sekali, padahal dokter bilang aku sehat-sehat saja." keluhnya dengan raut kesedihan.


Ia mengingat setelah menikah langsung memeriksakan dirinya ke dokter, namun nyatanya hingga dua bulan pernikahan ia belum kunjung hamil juga.


"Sabar sayang, mungkin benar yang kamu katakan tadi pada Sarah. Kita nikmati saja masa berdua kita dahulu." bujuk Ricko seraya ikut duduk di samping istrinya tersebut.


"Rick, kamu bau." Olive langsung menjauh ketika aroma parfum sang suami terasa menyengat menusuk hidungnya.


"Hah, bau? aku tadi sudah mandi sayang, perasaan masih harum kok." Ricko langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri.


"Tapi kamu bau." keukeh Olive sambil menutup hidungnya.


"Beneran aku masih harum, sayang." Ricko semakin mendekati istrinya untuk membuktikan kalau dirinya tidak bau, namun Olive langsung berlari ke dalam kamar mandi.


Hoeeekk


"Kamu sangat bau, Rick." keluh Olive yang memuntahkan semua makanannya.


"Sayang, sepertinya kamu sakit deh. Ayo kita ke dokter !!" Ricko berjalan mendekat tapi Olive langsung menjauh.


"Rick, kamu jangan dekat-dekat parfummu bau." teriak Olive kemudian.


"Baiklah-baiklah, kamu benar-benar aneh sayang. Bukannya ini parfum kesukaanmu." gerutu Ricko.


Ia langsung melepaskan kemeja serta celananya hingga menyisakan celana boxernya saja.


"Apa masih bau ?" tanyanya menatap istrinya yang masih bersembunyi di dalam kamar mandi.


Olive nampak mengendus dari kejauhan, kemudian berjalan perlahan mendekatinya.


"Nggak lagi." Olive langsung memeluk suaminya tersebut.


"Besok jangan pakai parfum itu lagi ya." mohonnya dengan menatap laki-laki itu.


"Iya sayang, kamu tiba-tiba aneh deh." gerutu Ricko.


"Aneh-aneh istrimu juga." sewot Olive.


"Iya istriku tercinta, mulai hari ini bisakan kamu memanggilku dengan panggilan sayang ?" ucap Ricko seraya membawa istrinya ke ranjangnya.


"Sepertinya lucu." sahut Olive, mengingat mereka selama ini berteman dan saling memanggil nama saja.


"Sayang..." tegur Ricko saat sang istri menertawakan idenya.


"Iya-iya, sayang." sahut Olive sedikit keluh saat mengucapkannya.


"Begitu baru istriku." ucap Ricko, ia nampak sedang tidur miring menghadap sang istri dengan tangan menahan kepalanya.


"Jadi yang sebelumnya bukan istrimu ?" cebik Olive menatap sang suami.

__ADS_1


"Tentu saja istriku sayang, kamu kok gemesin sih. Bikin aku jadi kepingin." Ricko langsung mencubit gemas hidung wanita itu.


Keesokan harinya....


Hoeeekk


Saat baru mengerjapkan matanya, Olive langsung berlari ke kamar mandi ketika mencium aroma kopi yang sedang di seduh oleh sang suami.


"Sayang, kamu buat apa sih? bau tahu." gerutu Olive dengan kesal.


"Cuma kopi sayang, aromanya nikmat begini masa bau." gerutu Ricko seraya menikmati aroma kopi buatannya.


"Tapi aku nggak suka." teriak Olive dari kamar mandi, kemudian ia kembali mual-mual.


Ricko yang melihat itu langsung saja membuang kopinya yang belum di minum di wastafel.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Ricko buru-buru memijit tengkuk wanita itu, namun Olive langsung mendorongnya menjauh.


"Kamu bau kopi, sayang." getutu Olive.


"Sayang kita ke dokter yuk sepertinya ada yang nggak beres denganmu." ajak Ricko.


"Aku baik-baik saja, cuma nggak suka bau kopi saja." tolak Olive yang kini sedang duduk di sofa dengan wajah pucat.


"Kamu seperti orang hamil saja, sayang." tukas Ricko, namun setelah menyadari ucapannya ia nampak tertegun.


"Sayang, jangan-jangan kamu hamil lagi." imbuhnya lagi menatap istrinya tersebut.


"Masa sih, bukannya waktu itu di cek negatif." sahut Olive tak percaya.


Olive langsung menggeleng. "Jadi benar aku hamil ?" ucapnya antusias.


"Bisa jadi sayang, ayo kita cek." Ricko langsung mengambil alat pengetes kehamilan di dalam tasnya, lalu segera memberikannya pada sang istri.


Beberapa saat kemudian Olive nampak membuka pintu kamar mandi dengan wajah sendu menatap sang suami.


"Kalau belum positif nggak apa-apa kok sayang, kita bisa berusaha lagi." ucap Ricko menenangkan saat melihat tak ada raut bahagia dari wajah wanita itu.


"Jadi kamu tidak kecewa jika belum positif ?" tanya Olive masih dengan wajah sendu.


"Tentu saja nggak masalah, sayang." sahut Ricko.


"Tapi aku positif." ucap Olive dengan menunjukkan alat tes kehamilan dengan garis dua di tangannya tersebut.


Bibirnya nampak tersenyum lebar, mengisaratkan betapa bahagianya ia saat ini.


Ricko yang belum percaya nampak tertegun melihatnya, namun setelah itu ia segera mengangkat tubuh istrinya lalu menggendongnya kesana kemari.


"Akhirnya aku akan jadi ayah, sayang." teriaknya dengan bahagia.


Setelah mengetahui kehamilan sang istri, Ricko semakin protektif dengan wanita itu. Ia benar-benar menjadi suami yang selalu siap siaga di manapun dan kapanpun itu.


Bahkan hingga menjelang melahirkan pun ia selalu berada di sisi wanita itu sesuai janjinya ia tidak akan meninggalkannya.

__ADS_1


"Kira-kira dia akan mirip dengan siapa ya ?" ucap Olive di sela kontraksi yang sedang ia alami.


"Kalau dia tampan berarti mirip ayahnya, tapi kalau jelek pasti ibunya." sahut Ricko dengan menahan tawanya, bahkan di saat istrinya sedang menahan sakit akan melahirkan pun ia tak tahan untuk tidak menggodanya.


"Enak saja, ibunya sangat cantik tahu. Buktinya ayahnya tergila-gila pada ibunya, bahkan mungkin ayahnya tidak akan bisa hidup tanpanya." ledek Olive dengan tersenyum puas yang langsung membuat Demian dan Ariana ikut terkekeh.


Begitu juga dengan Ricko, ia nampak tersenyum melihat istrinya tersebut.


"Kamu benar sayang, aku memang tidak bisa hidup tanpamu. Mungkin aku akan tetap sendirian seandainya kamu menikah dengan kak Dean." ucapnya bersungguh-sungguh.


"Mau kah kamu berjanji padaku ?" ucap Olive kemudian.


"Untuk ?" Ricko menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Berjanjilah, apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan ku." pinta Olive dengan nada memohon, nampak peluh di keningnya menahan rasa sakit saat kontraksi menghampirinya.


"Kalau aku tidak mau ?" Ricko nampak nyengir kecil.


"Itu berarti kamu ingin mati." teriak Olive dengan kesal.


"Aku akan menghajar siapa pun wanita yang ingin mendekatimu dan akan ku buat hidupmu tidak akan aman." imbuhnya lagi bersungut-sungut yang langsung membuat Ricko maupun kedua orangtuanya tergelak.


"Kalau istriku segalak ini bagaimana aku bisa macam-macam sayang." ledek Ricko kemudian.


"Jadi kamu ingin mati beneran ?" sungut Olive yang membuat Ricko semakin terkekeh.


"Baiklah sayang, suami yang baik hati ini berjanji akan selalu mencintai istrinya sampai maut memisahkan. Jika di tengah perjalanan suami yang baik hati ini berbuat macam-macam, maka siap menyerahkan semua hartanya pada istrinya dan ia siap menjadi gelandangan." ucap Ricko dengan tegas dan itu langsung membuat Olive tersenyum senang.


"Mommy sudah merekamnya sebagai barang bukti." Ariana dengan wajah mengintimidasi nampak menunjukkan hasil rekaman pada sang putra.


"Kalian benar-benar sekongkol." gerutu Ricko kemudian.


"Jadi kamu benar-benar ingin menjadi gelandangan ?" ejek Olive.


"Nggak sayang, nggak." sahut Ricko dengan tersenyum nyengir.


Tak berapa lama kontraksi yang di alami oleh Olive semakin intens dan tanda-tanda mau melahirkan pun sudah nampak.


Dokter segera menyiapkan proses kelahiran secara normal tersebut dan beberapa saat kemudian terdengar tangisan seorang bayi dengan nyaring.


Olive yang setengah sadar nampak menitikkan air matanya, ia tidak menyangka sudah menjadi seorang ibu sekarang.


Sementara Ricko yang terlihat berantakan akibat pelampisan rasa sakit yang di rasakan oleh sang istri juga nampak sangat terharu.


"Terima kasih sayang, dia tampan sepertiku dan pastinya dia akan baik hati seperti kamu." ucapnya sembari memeluk sang istri dan juga putranya tersebut. TAMAT


.


Berkat dukungan kalian semua akhirnya Othor bisa menyelesaikan Menggenggam Rindu ini sampai di penghujung cerita.


Othor ucapkan terima kasih banyak buat teman-teman sekalian.


Terima kasih semuanya Minal Aidin Walfa'idzin, Mohon Maaf Lahir & Batin 🙏🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya terbaru Othor...



__ADS_2