
"Apa itu tidak masam ?" tanya King, giginya mendadak ngilu saat melihat menantunya itu mengunyah mangga muda dengan lahap.
"Nggak Pa, ini sangat enak. Apa Papa mau ?" Dena langsung menyodorkan piringnya ke hadapan sang ayah mertua.
"Papa sudah kenyang, kamu habiskan saja." tolak King yang langsung membuat Dena kecewa.
"Juno kamu mau ?" kali ini giliran Juno yang di tawari oleh Dena.
"Maaf nyonya, saya juga sudah kenyang." tolak Juno.
"Padahal aku ingin sekali melihat Papa atau Juno ikut makan." Dena terlihat kecewa.
Ehmm
King langsung berdehem pelan hingga membuat Juno menatapnya, lalu ia memberikan kode pada asistennya sang putra itu untuk menuruti kemauan Dena.
Sedangkan Juno nampak menelan salivanya saat melihat asinan mangga muda tersebut, namun ia mana berani menolak perintah tuan besarnya itu.
"Saya mau nyonya." ucapnya kemudian yang langsung membuat Dena menoleh ke arahnya, nampak senyumnya langsung mengembang.
"Benarkah, ayo makanlah !!" Dena langsung meletakkan beberapa potongan mangga ke dalam piring Juno.
"Bagaimana enakkan ?" tanyanya saat Juno baru memasukkannya sepotong ke dalam mulutnya.
"I-iya enak nyonya." sahut Juno menahan asam di lidahnya bahkan kini giginya mendadak ngilu.
"Ya udah tunggu apalagi, ayo habiskan. Punyaku juga sudah habis ini." ucap Dena seraya menghabiskan kuah asinannya.
Meski sudah tidak tahan dengan rasa asamnya, Juno terpaksa menghabiskannya.
"Oh astaga baru dalam perut saja sudah menyusahkan begini Nak, bagaimana kalau sudah keluar." gerutu Juno dalam hati.
Ia bisa menebak kalau saat ini istrinya bossnya itu sedang hamil, namun nanti ia pasti akan mencari tahu lebih lanjut mengingat wanita itu sebelumnya telah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan.
"Saya sudah kenyang Pa, jadi apa kita bisa mulai meetingnya ?" ucap Dena saat baru selesai dengan makanannya.
"Tentu saja, tapi kalau kamu kelelahan kita bisa menunda meetingnya lain kali saja." sahut King, ia merasa kasihan pada menantunya itu yang terlihat lelah dan pucat.
"Jangan Pa, kita meeting sekarang saja. Bukannya lebih cepat lebih baik." tolak Dena.
"Baiklah, untuk proyek kerja sama kita sebelumnya semua berjalan lancar seperti biasanya. Hanya saja untuk yang di Singapura ada sedikit masalah, sebenarnya Edgar sedang mengurusnya hanya saja beberapa hari ini dia kurang sehat." ujar King kemudian.
"Apa? Edgar sakit apa Pa ?" tanya Dena khawatir.
"Kamu tidak tahu? apa kalian tidak pernah berkomunikasi ?" tanya balik King yang pura-pura tidak tahu permasalahan mereka.
__ADS_1
Sedangkan Dena hanya menggelengkan kepalanya. "Hubungan kami sudah berakhir Pa dan maaf saya tidak ingin membahasnya lagi, bisakah kita bahas masalah pekerjaan saja ?" sahutnya kemudian.
King nampak menghela napas panjangnya saat menatap Dena, sungguh anak dan menantunya itu sama-sama mempertahankan egonya masing-masing.
"Edgar sakit lambung, sepertinya akhir-akhir ini ia kurang memperhatikan makanannya. Mungkin sebelumnya ada istrinya yang selalu memperhatikannya, namun sejak kalian berpisah ia kembali teledor dengan kesehatannya." ujar King berharap Dena sedikit bersimpati pada Edgar.
"Jadi bagaimana proyek di Singapura Pa masih tetap berjalankan? jika tidak, kita akan mengalami sedikit kerugian karena melebihi jatuh tempo." ucap Dena mengalihkan pembicaraan, sebenarnya ia sangat khawatir dengan keadaan Edgar namun ia mencoba untuk tidak peduli.
"Maka dari itu, Papa harap kamu bisa kesana menggantikan Edgar meninjau proyek itu." saran King.
"Baiklah Pa, saya akan mengirimkan orang saya kesana." jawab Dena.
"Kenapa tidak kamu saja yang pergi, jadi seandainya ada kebijakan baru kamu langsung bisa memutuskannya. Papa percaya kamu bisa di andalkan." bujuk King.
"Tapi saya tidak bisa meninggalkan Elkan Pa, Papa juga sedang menjalani pengobatan di rumah saat ini." tolak Dena.
"Ada kami, kakek dan neneknya. Kenapa kamu masih khawatir dengan Elkan? lagipula Papa juga bisa mengawasi Papamu dalam menjalani pengobatan. Sekarang urusan perusahaan lebih penting Den, apalagi perusahaan kamu masih dalam masa pemulihan. Kalau bisa kamu harus mampu mengembalikan kepercayaan investor agar mau berinvestasi lagi di perusahaanmu." bujuk King tak menyerah, karena hanya ini satu-satunya jalan agar anak dan menantunya itu bisa bersama kembali.
"Akan Dena pikirkan, Pa." sahut Dena kemudian.
"Papa harap kamu tidak terlalu banyak berpikir." ujar Papa King menasihati.
"Baik, pa." sahut Dena.
"Baik, Pa. Kalau begitu saya permisi." Dena segera beranjak dari duduknya.
Setelah berpamitan ia segera meninggalkan restoran tersebut, lalu melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Tuan Winata yang makin hari makin membaik nampak sangat bahagia saat menyaksikan tingkah lucu cucunya.
Pria paruh baya itu sudah mulai lancar berbicara, namun masih menggunakan kursi rodanya.
"Kamu sudah pulang, Nak ?" tanyanya saat Dena baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.
"Tadi habis meeting, Pa. Apa Papa sudah makan siang ?" sahut Dena.
"Papa sudah makan, kemarilah Papa ingin bicara." perintah tuan Winata.
Dena yang sedang berdiri tak jauh darinya langsung berjalan mendekat lalu duduk di sebelahnya.
"Apa Papa baik-baik saja ?" tanyanya khawatir.
"Papa baik, Nak. Tapi kamu yang sedang tidak baik-baik saja." ucap tuan Winata.
"Dena baik Pa, Papa jangan terlalu banyak berpikir ya." bujuk Dena sembari menggenggam tangan sang ayah.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa bilang baik, Nak. Kamu hamil dua kali tanpa suami di sisimu." ujar Tuan Winata.
"Dena baik-baik saja Pa, Dena bisa kok merawat anak-anak Dena sendiri asalkan Papa selalu mendukungku." Dena mencoba kuat di depan ayahnya, meski saat ini ia ingin sekali menangis di pundak laki-laki paruh baya itu.
"Maafkan Papa, Nak. Gara-gara Papa kamu jadi mengalami ini semua, Papa memang bodoh dan gagal menjadi ayahmu." Tuan Winata nampak terisak, sungguh ia sangat menyesali perbuatannya dulu.
"Semua sudah berlalu Pa, bukannya kita sudah janji tidak akan membahasnya lagi. Kita akan mulai lembaran baru Pa, hanya ada aku, Papa dan anak-anak Dena." Dena nampak memeluk ayahnya tersebut.
"Dan Edgar, Nak." ujar Tuan Winata yang langsung membuat Dena menatapnya.
"Papa tahu Edgar sangat mencintaimu, berilah dia kesempatan Nak. Buka hatimu, Papa yakin Edgar tidak seperti Papa maupun Arhan." imbuhnya lagi dengan nada memohon.
"Apa Papa yakin? tapi Dena takut Pa." sahut Dena sambil memeluk ayahnya kembali.
"Ikuti kata hatimu Nak dan Papa akan selalu mendukungmu." ujar Tuan Winata meyakinkan.
Sedangkan Dena nampak menghela napas panjangnya, tentu saja hatinya menginginkan kembali bersama Edgar.
Apalagi sejak hamil, ia ingin sekali dekat dengan laki-laki itu. Bahkan setiap malam ia selalu sedih, saat ingin sekali memeluk sang suami tapi tak ada di sisihnya.
Sementara itu King dan Juno yang sedang berada di kantornya nampak membahas kecurigaannya tentang kehamilan Dena.
"Saya yakin seratus persen Dena sedang hamil dan sakitnya Edgar akhir-akhir ini karena dia sedang ngidam." ujarnya sore itu.
"Tapi setahu saya nyonya Dena mengkonsumsi obat pencegah kehamilan, tuan. Jadi bagaimana bisa hamil, saya masih tidak mengerti." sahut Juno.
"Itu tugasmu Jun untuk mencari tahu, jika itu benar Edgar harus tahu. Biar anak bodoh itu bisa menurunkan sedikit egonya." geram King.
"Baik, tuan." sahut Juno.
Beberapa hari kemudian....
"Ini apa ?" Edgar nampak bingung saat Juno menyerahkan sebuah botol obat padanya.
"Saya menemukan itu di Villa, tuan." sahut Juno.
"Bukannya ini obatnya Dena ?" ucap Edgar, tangannya nampak mengepal. Ia masih sangat kecewa saat tahu Dena diam-diam mengkonsumsi obat pencegah kehamilan itu.
"Benar tuan dan isinya hampir utuh. Saya rasa nyonya Dena sudah lama tidak mengkonsumsinya." sahut Juno.
"Maksud kamu ?" Edgar masih tidak mengerti.
"Bagaimana kalau saat ini nyonya Dena sedang mengandung janin anda ?" ucap Juno yang langsung membuat Edgar melotot padanya.
"Apa? Dena hamil ?"
__ADS_1