Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~80


__ADS_3

"Apa yang mama lakukan di sini ?" gerutu Demian kesal.


"Kamu nggak lihat Mama membawa siapa ?" ujar nyonya Anggoro seraya menatap ke sampingnya.


"Ricko ?" Demian terkejut, namun setelah itu ia langsung menggendong sang putra.


"Ricko kangen ibuk, Dad. Ricko tidak suka tinggal di rumah besar. Ricko mau tinggal di rumah Ricko sendiri." rengek Ricko dalam gendongan sang ayah.


"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi dengan putraku Ma? Mama tidak berbuat aneh-aneh kan padanya ?" cercah Demian.


"Mama hanya mengajarinya untuk mengikuti aturan keluarga kita, Mama melarangnya makan menggunakan tangannya saja. Bukannya memakai sendok jauh lebih bersih." sanggah nyonya Anggoro.


"Dia masih anak-anak, Ma." protes Demian.


"Justru karena masih anak-anak harus di didik dengan benar, kamu lihat Olive karena di didik sejak lahir dia mempunyai manner yang bagus dalam segala hal. Ricko bukan anak kampung lagi, dia calon pewaris Anggoro kalau kamu lupa itu." ujar nyonya Anggoro tak mau kalah.


"Ricko tidak bisa makan ayam bakar pakai sendok, Dad. Ayamnya loncat terus." keluh Ricko.


Ariana yang mendengar keributan di luar, ia segera melangkahkan kakinya untuk melihat.


"Ricko kamu kesini, Nak ?" Ariana terkejut ketika melihat sang putra berada dalam gendongan ayahnya.


Kemudian Ariana menatap nyonya Anggoro yang juga berada di sana.


"Pagi, Ma." ucapnya seraya mencium tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.


"Ini sudah siang." sindir nyonya Anggoro.


"Maaf, silakan masuk Ma." ajak Ariana seraya membuka pintunya dengan lebar.


Nyonya Anggoro yang merasa lelah karena kelamaan berdiri di luar, tentu saja langsung masuk ke dalam.


Wanita paruh baya itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar tersebut, nampak ranjang di sana yang masih sangat berantakan dan itu membuatnya menghela napas panjangnya.


Apalagi ketika tanpa sengaja melihat banyak tanda merah di leher menantunya itu, membuat nyonya Anggoro menghela napasnya berkali-kali.


Harusnya dia bahagia karena putranya sudah bersama dengan wanita yang di cintainya, tapi entah kenapa hati kecilnya masih belum bisa menerima wanita itu sepenuhnya sebagai menantunya.


"Sebenarnya Mama tidak mau mengganggu kalian, hanya saja Ricko dari tadi merengek mencari kalian." ujar nyonya Anggoro setelah mendudukkan dirinya di sofa.


"Nggak apa-apa Ma, selama ini Ricko memang tidak pernah ku tinggal lama. Terima kasih Mama dan Papa sudah mau menjaga Ricko." sahut Ariana yang juga duduk di hadapan ibu mertuanya tersebut bersama dengan Ricko di sampingnya.


"Itu tak masalah Ricko juga cucuku, lagipula dia juga harus terbiasa karena untuk ke depannya kalian akan tinggal di rumah besar." tegas nyonya Anggoro yang langsung membuat Demian menatapnya.

__ADS_1


"Maksud Mama ?" Demian menyipitkan matanya.


"Tentu saja kalian harus tinggal di rumah besar dan Papa juga sudah setuju." sahut nyonya Anggoro.


"Itu tidak mungkin Ma, kami akan tinggal di rumah kami sendiri." tolak Demian, ia takut jika ibunya itu akan semakin mengusik istrinya.


"Mungkin dulu ketika kamu bersama Monica, mama ijinin tinggal sendiri tapi sekarang kalian harus tinggal di Mansion. Lagipula bagaimana Mama mau mengajari istrimu menjadi wanita berkelas kalau kalian tinggal berjauhan." tegas nyonya Anggoro.


"Tapi Ma...."


"Mas, sudah nggak apa-apa. Aku mau kok tinggal di rumah besar, iya kan Nak ?" sela Ariana, kemudian menatap sang putra.


"Ricko maunya sama, ibuk." sahut Ricko seraya memeluk lengan Ariana.


"Iya kita akan selalu bersama-sama, sayang." ujar Ariana pada Ricko.


Demian nampak menghela napasnya dengan kasar, ia sangat tak peduli istrinya itu berkelas atau tidak. Karena cintanya pada wanita itu tanpa syarat.


"Baiklah, aku janji akan selalu menjaga kalian di sana." ucapnya pada akhirnya, bagaimana pun ia tak bisa menolak permintaan sang istri.


"Terima kasih, Mas." sahut Ariana yang langsung mendapatkan kecupan singkat di dahinya dari suaminya tersebut.


Nyonya Anggoro yang melihat sang putra tak malu bersikap mesra pada menantunya, ia tiba-tiba merasa kesal sendiri. Pada akhirnya, kasih sayang putranya tersebut kini terbagi dengan wanita lain.


"Aku akan bersiap-siap." ucapnya, kemudian ia mengambil setelan baju di atas kasurnya. Entah sejak kapan pakaian itu ada di sana, karena dari semalam hanya pakaian kurang bahan yang dia dapati.


Setelah siap, mereka semua segera meninggalkan hotel tersebut dan menuju rumah besar dan di sanalah kehidupan Ariana sebagai istri seorang pria konglomerat akan di mulai.


Meski ke depannya akan berat, tapi Ariana sangat bersemangat. Cinta memang membutuhkan perjuangan dan dia akan berjuang agar ibu mertuanya itu sepenuhnya merestuinya.


"Maaf sayang ini mungkin akan sulit bagimu." ucap Demian ketika mereka sudah berada di dalam kamarnya, di mansion tersebut.


Kamar yang sangat luas menurut Ariana, melebihi luasnya kamar di rumahnya bersama Demian.


"Apa ini kamar masa kecilmu ?" tanya Ariana seraya mengedarkan pandangannya.


"Iya, tapi sepertinya Mama sudah merenovasinya. Sejak kapan ada dinding berwarna merah muda di sini." Demian melihat sebagian dinding kamarnya yang tadinya dominan dengan warna abu dan hitam, kini nampak beberapa bagian berwarna merah muda.


"Mungkin waktu itu Mama menginginkan agar Jessica betah tinggal di sini." ucap Ariana, mengingat waktu itu Demian akan menikahi Jessica.


"Aku akan segera menggantinya, sayang." ujar Demian, ia takut istrinya itu tak nyaman.


"Nggak apa-apa Mas, bukannya semua wanita menyukai warna itu. Aku juga sangat menyukainya, lagipula kita harus memandang sesuatu dari banyak sisi." tolak Ariana yang mencoba berpikir positif.

__ADS_1


"Baiklah, kamu memang istriku yang sangat pengertian." Demian nampak menarik pinggang sang istri agar mendekat padanya.


"Terima kasih sudah mau memahami orangtuaku." ucapnya lagi seraya memandang Ariana lekat.


"Jika mereka membuatmu sulit, katakan saja padaku. Kita bisa pindah dari sini." lanjutnya lagi.


"Sepertinya aku akan betah di sini, Mas." sahut Ariana meyakinkan.


"Baiklah, terima kasih sayang." Demian mendaratkan kecupannya di bibir tipis wanita itu.


Namun karena belum merasa puas, ia langsung melum😘tnya dengan lembut dan kemudian menjadi rakus dan menuntut.


"Mas, jangan sekarang. Bagaimana kalau ada Mama datang ?" Ariana menahan tangan Demian ketika laki-laki itu berusaha melucuti pakaiannya.


"Mama tidak akan berani mengganggu kita, sayang." sahut Demian.


"Bagaimana kalau ada Ricko ?"


"Sayang, Ricko sedang tidur siang bersama Papa." Demian rasanya gemas sekali karena istrinya itu sangat cerewet dan lebih baik dia membungkam bibirnya dengan ciumannya saja.


Ariana yang merasa tidak bisa menahan suaminya, ia hanya pasrah ketika seluruh pakaiannya di lepas satu persatu dan di lempar ke sembarang arah.


Demian sangat bergairah ketika melihat istrinya polos seperti saat ini, ia bisa menjelajahi dan menyentuhnya di manapun dengan sesuka hati hingga ia merasa puas.


Ketika merasakan sang istri sudah siap ia penuhi, Demian segera melakukan penyatuannya. Laki-laki itu seperti sedang merasakan candu dengan wanita itu.


Hentakan demi hentakan ia lakukan untuk meraih kenikmatan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat karena pelepasan pertamanya.


Ariana pikir laki-laki itu akan berhenti, namun sepertinya itu hanya sebagai pembuka. Karena selanjutnya suaminya itu semakin menghujamnya dengan kuat.


Beruntung kamar tersebut terdapat peredam suara, kalau tidak erangan dan desahannya akan terdengar sampai luar.


"Semoga setelah ini akan ada makhluk kecil tumbuh di perutmu, sayang." ujar Demian sangat berharap, setelah ia menumpahkan seluruh cairan cintanya pada rahim istrinya itu.


Ariana yang mendengar itu langsung menelan salivanya, selama ini ia diam-diam mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Ah sepertinya setelah ini ia akan membuang obat tersebut sebelum laki-laki itu menemukannya.


"Tidurlah sayang, kamu pasti sangat lelah kan." perintah Demian seraya memeluknya.


"Tapi ini sudah sore mas, Ricko pasti juga sudah bangun." tolak Ariana.


"Temani aku sebentar saja." pinta Demian yang kini sudah memejamkan matanya.


"Hm." Akhirnya Ariana ikut terlelap juga.

__ADS_1


__ADS_2