
"Apa dia putramu ?" tanya Juno saat melihat Dena baru keluar dari kamarnya.
"I-iya pak."
"Kenapa tidak mirip kamu atau ayahnya ?" sarkas Juno yang langsung membuat Dena memucat.
"Sialan nih pak asisten."
"Masa sih pak, mungkin mirip nenek dan kakeknya." sahut Dena beralasan seraya mengambil Elkan dari pangkuan Juno.
"Pa-pa." teriak Elkan saat Dena mengambilnya dari Juno.
"Om Juno bukan papamu sayang, Papa masih kerja. Oke ?" Dena mencium gemas pipi gembul Elkan yang membuat bayi itu terkekeh kegelian.
"Sekarang El di rumah sama bibik ya, Mama kerja dulu cari uang." ucap Dena lagi seraya menyerahkan Elkan pada bik Mina.
Elkan bukan tipe bayi yang rewel, bocah kecil itu seakan mengerti keadaan ibunya. Bahkan di saat Dena tinggal seperti ini Elkan sama sekali tidak menangis.
"Selamat pagi, pak." sapa Dena saat baru masuk ke dalam ruangan Edgar bersama dengan Juno.
Edgar nampak menatap sekretarisnya itu yang selalu terlihat cantik meski tanpa make up sekalipun.
"Ini sudah jam 10 siang Dena, bukan pagi lagi." tegur Edgar.
"Kan tadinya saya minta ijin, pak." balas Dena.
"Ck, kamu lupa ya kalau hari ini saya ada meeting penting? sekarang mana laporan yang saya suruh kerjakan kemarin ?" ucap Edgar.
"Ini pak." Dena menyerahkan berkas di tangannya pada Edgar.
"Baiklah kamu bisa keluar sekarang." perintah Edgar kemudian.
"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi." Dena langsung melangkahkan kakinya pergi, sedangkan Edgar terus menatapnya sampai wanita itu hilang di balik pintu.
Setelah Dena pergi, Juno baru mendudukkan dirinya di hadapan Edgar.
"Tuan, apa boleh saya bertanya ?" ucap Juno membuka pembicaraan.
"Sejak kapan bertanya di larang, Juno ?" sahut Edgar seraya menaikkan sebelah alisnya menatap asistennya tersebut.
"Apa sebelum Dena bekerja di sini, anda pernah bertemu wanita itu sebelumnya ?" tanya Juno dengan hati-hati.
"Hm. Beberapa tahun yang lalu, kenapa memangnya ?" sahut Edgar.
"Kenal dekat, tuan ?" tanya Juno ragu-ragu, bisa saja kan wajah Elkan hanya kebetulan mirip dengan Edgar.
"Tidak juga, tapi kami pernah menghabiskan malam bersama di Jerman." sahut Edgar jujur.
__ADS_1
"Apa itu berarti bayi ini milik anda ?" Juno menunjukkan foto Elkan yang sedang berada di pangkuannya, tadi pagi saat berada di rumah Dena Juno diam-diam mengambil potret bocah kecil itu.
"Ini ?" Edgar memicing, ia sepertinya pernah bertemu dengan bayi itu sebelumnya tapi lupa di mana.
"Dia Elkan Bagaskara tuan, anak dari Dena dan tuan Arhan bukannya wajahnya sangat mirip anda ?" ujar Juno menerangkan.
Edgar nampak memperhatikan foto Elkan yang memang seperti replika dirinya.
"Benarkah dia anakku, Jun ?" Edgar rasanya tidak percaya, bagaimana mungkin hubungan satu malamnya dengan Dena ternyata menghasilkan seorang bayi.
"Kalau waktu itu anda tidak memakai pengaman itu bisa saja terjadi, tuan." sahut Juno.
"Dia memperkosaku bagaimana saya memikirkan pengaman." ucap Edgar, matanya masih menatap lekat potret Elkan.
"Hah anda tidak salah bicarakan, tuan ?" Juno nampak terkejut.
"Dia memaksaku waktu itu karena mabuk." sahut Edgar jujur.
"Tapi anda menikmatinya kan ?" cibir Juno.
"Tentu saja, dia membawaku seperti terbang ke awan untuk pertama kalinya." sahut Edgar mengingat masa itu.
"Itu namanya bukan pemerkosaan tuan, tapi mau sama mau." cibir Juno lagi dengan kesal, dari dulu bossnya itu memang selalu ingin benar sendiri.
"Kenapa kamu yang marah? lagipula saya harus membuatnya merasa bersalah karena peristiwa itu, karena itu satu-satunya jalan agar Dena tidak lari. Berani sekali dia menyembunyikan anakku dariku." kesal Edgar.
"Oh astaga, anakku tampan sekali kan Jun." puji Edgar, ada perasaan senang sekaligus terharu saat melihat wajah Elkan.
"Tapi belum tentu kan dia putra anda, tuan. Bisa jadi itu putranya bersama tuan Arhan." ucap Juno ragu.
"Itu tugas kamu Jun untuk membuktikannya, tapi saya yakin dia anakku." sergah Edgar.
"Tentu saja tuan, saya sudah mengambil beberapa helai rambut Elkan. Kita bisa membuktikannya dengan tes DNA."
"Kerja bagus, saya pasti akan memberikan mu bonus besar nanti." sahut Edgar senang.
"Lalu bagaimana dengan nona Sera, tuan. Apa anda akan tetap bertunangan dengannya ?"
"Hm, sesuai rencana." sahut Edgar.
"Bahkan setelah anda mengetahui perbuatannya, anda masih mau menikahinya atau jangan-jangan anda sudah jatuh cinta padanya ?" Juno nampak tak mengerti dengan jalan pikiran bossnya itu.
Juno sudah menyelidikinya, ia membayar mahal beberapa pelayan yang bekerja di kediaman Winata dan dari mereka ia mendapatkan kesaksian bagaimana perbuatan mereka pada Dena selama ini.
Namun Juno belum bisa membuktikan kebenaran ucapan mereka, karena ibunya Sera selalu menghilangkan bukti-bukti penyiksaan pada Dena.
"Ck. Kalau saya tiba-tiba memutuskan Sera, saya takut keselamatan Dena dan anaknya akan terancam. Lagipula saya juga harus mencari bukti untuk meyakinkan Mama dan Papa yang sudah terlanjur melihat keburukan Dena." sahut Edgar.
__ADS_1
"Kecuali Dena mau menikah denganku, itu lain lagi ceritanya." imbuhnya lagi.
"Tapi sepertinya Dena akan sulit di dekati, tuan."
"Saya tahu itu." tukas Edgar seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Dena memang berbeda, di saat wanita lain mengejar-ngejarnya. Wanita itu justru seperti tak menganggapnya ada.
Sementara itu hari ini Dena merasa lega, karena Edgar tidak mengganggunya. Bahkan saat meeting pun laki-laki itu tak mengajaknya ikut serta.
Semoga saja Edgar sudah melupakan masalah itu, toh tak lama lagi laki-laki itu juga akan bertunangan dengan Sera.
"Bu, besok kan hari sabtu. Saya ijin pulang ya, mau menjenguk cucu saya." mohon bik Mina sore itu saat Dena baru pulang dari kantornya.
"Sampai hari minggu saja kan, Bik ?" tanya Dena.
"Iya bu, hari minggu sore saya kembali." sahut bik Mina meyakinkan.
"Baiklah bibik bisa bersiap-siap sekarang, apa perlu saya antar ?" tawar Dena.
"Tidak usah bu, ada anak saya sudah menjemput di bawah." tolak bik Mina.
"Baiklah, hati-hati ya bik." sahut Dena seraya mengantar bik Mina keluar.
Baru juga menutup pintu Apartemennya, terdengar bel berbunyi. Tanpa melihat ke arah layar cctvnya Dena langsung membuka pintunya.
"Apa yang ketinggalan, bik ?" ucapnya, namun saat melihat Edgar yang berdiri di depan pintunya Dena langsung merutuki dirinya sendiri.
"Sial."
"Ada apa ya, pak ?" tanya Dena tanpa berniat mempersilakan bossnya itu untuk masuk.
"Ada pekerjaan yang harus kita bahas." sahut Edgar beralasan.
"Tapi ini sudah melewati jam kerja, pak." tolak Dena dengan halus.
"Tapi ini sangat penting Dena, lagipula di surat perjanjian kerja sudah jelas kan. Jika perusahaan membutuhkan, kamu harus siap 24 jam." tegas Edgar.
Dena nampak kesal. "Baiklah, pekerjaan apa yang harus di bahas pak ?" tanyanya.
"Membiarkan bossmu berdiri di luar itu sangat tidak sopan Dena." protes Edgar.
"Tapi putra saya sedang tidur pak, saya takut pembicaraan kita akan membangunkannya." sahut Dena.
Biarlah dirinya di anggap karyawan yang tidak sopan yang penting bossnya itu tidak akan bertemu dengan putranya.
Namun sekuat apapun Dena menyembunyikan sang putra dari ayahnya, tapi sepertinya takdir berkata lain.
__ADS_1
"Ma-ma." panggil Elkan menghampiri ibunya seraya mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Tamatlah riwayatmu, Dena."