Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~41


__ADS_3

Hari itu Demian mengajak Ariana dan Ricko berjalan-jalan di mall hingga malam hari, mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis dan bahagia.


Demian sedikitpun tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan wanitanya tersebut, bahkan ia tak segan menunjukkan kemesraannya.


Namun tanpa mereka sadari Monica sudah mengikuti mereka seharian di mall tersebut, Monica masih tidak percaya bagaimana bisa Demian berhubungan dengan wanita kelas rendahan yang juga ibu dari teman sekolahnya Olive.


Namun ketika mengikuti mobil Demian, ia kehilangan jejaknya.


"Bukannya wanita itu istrinya karyawannya mas Demian, apa wanita itu diam-diam berselingkuh dari suaminya."


Monica terlihat sangat geram, ia nampak memukul setir mobilnya dengar keras.


Pantas saja Demian ngebet ingin mengajaknya bercerai dan akhir-akhir ini suaminya itu juga kurang perhatian sama Olive.


"Dasar pelakor sialan, sudah punya suami juga masih gatal dengan suami orang. Lihat saja akan ku adukan sama mama, mama pasti akan murka karena anak kebanggaannya membuat skandal dengan wanita rendahan."


Monica nampak tersenyum sinis, jika memang pernikahannya tak bisa di selamatkan maka ia akan membuat Demian membayar semua kesabarannya selama ini.


Disisi lain malam itu Ariana yang hendak tidur di kejutkan oleh Demian yang tanpa permisi masuk ke dalam kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, mas ?" tanyanya.


Demian nampak menatap lekat Ariana, sepertinya wanita itu baru saja selesai mandi. Wanita itu juga menggunakan pakaian rumahan yang sudah ia siapkan sebelumnya di lemari pakaiannya.


"Kenapa tidak memakai pakaian tidurmu, sayang ?" ucapnya.


"Pakaian tidur yang kurang bahan itu ?" Ariana langsung menatap kesal, bagaimana bisa laki-laki itu membelikan banyak pakaian tidur tapi semuanya kekurangan bahan, bisa-bisa ia masuk angin semalaman.


Sedangkan Demian nampak terkekeh, ia sengaja menggoda Ariana agar wanita itu kesal dan setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya.


"Mas, apa yang kamu lakukan di sini ?" Ariana langsung bangkit dari ranjang yang sedari tadi ia duduki, tidak mungkin kan mereka akan tidur sekamar.


Karena di antara mereka belum ada ikatan, Ariana juga takut jika mereka nanti akan khilaf. Mengingat Demian selalu saja menyerangnya tiba-tiba dan ia akui selalu terbuai dengan sentuhan laki-laki itu.


"Tentu saja tidur sayang, memang mau ngapain lagi." sahut Demian seraya memejamkan matanya.


"Tapi kan nggak tidur di sini juga mas, kita belum menikah mana bisa tidur dalam satu ranjang." protes Ariana.

__ADS_1


"Terus aku tidur di mana, sayang. Kamar tamu belum ada kasurnya." sahut Demian.


Ariana nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia harus segera mencari ide. Tapi tidak mungkin juga ia menyuruh Demian tidur di sofa, itu akan sangat tidak sopan dan juga kasihan karena besok pagi ketika bangun tidur badan laki-laki itu pasti akan sakit semua.


"Ya sudah tidurlah di sini, aku akan tidur di sofa aja." pada akhirnya Ariana yang mengalah, lalu ia mengambil bantalnya kemudian membawanya ke sofa yang berada tak jauh dari ranjangnya tersebut.


Sepertinya itu lebih baik, lagipula dirinya juga sering tidur tanpa alas yang empuk sebelumnya jadi itu tak masalah baginya.


Lain halnya dengan Demian, sejak lahir laki-laki itu sudah sultan pasti tidak akan terbiasa dengan itu. Jadi dia lebih baik mengalah saja, asal tidak tidur seranjang.


Karena yang ia tahu jika dua orang laki-laki dan perempuan sedang berada di satu tempat yang sepi maka akan ada setan di antara mereka dan bukan Othor ya setannya wkwkwk.


"Tidak akan ada yang pindah dari sini, sayang." Demian langsung merebut bantal Ariana lalu meletakkannya kembali pada tempatnya.


"Tapi mas, kita tidak mungkin tidur seranjang." protes Ariana.


"Memang kenapa sayang? pada akhirnya nanti setelah menikah kita juga akan tidur seranjang." ketus Demian, ia merasa seperti kuman saja hingga wanita itu tidak mau tidur dengannya.


"Tapi kan kita sekarang belum menikah, mas." tegas Ariana.


"Memang kalau kita tidur seranjang kenapa sayang? bukannya kita hanya tidur saja, kecuali kamu menginginkan itu." goda Demian yang langsung membuat Ariana menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Memang kamu sedang mikirin apa, sayang ?" goda Demian lagi, ia merasa gemas melihat pipi kemerahan wanitanya yang lugu dan polos itu.


"Nggak mikirin apa-apa." ketus Ariana seraya memalingkan wajahnya yang saat ini mungkin sudah seperti kepiting rebus.


"Ayo tidurlah, ini sudah malam." perintah Demian kemudian, ia nampak melepaskan kaos rumahannya dan menyisakan celana boxernya saja.


"Mas, kenapa kamu tidak memakai baju ?" Ariana yang akan merebahkan tubuhnya, ia langsung berdiri lagi.


"Aku sudah terbiasa tidur seperti ini, sayang." sahut Demian cuek, ia langsung saja merebahkan tubuhnya di sebelah Ariana.


"Duh jantungku."


Ariana nampak memegang jantungnya yang sudah bertalu-talu, bagaimana ia tidak waspada kalau seperti ini.


Godaan iman sudah berada di depan matanya, jujur ia sangat mengagumi tubuh Demian yang sangat terawat. Sedikitpun tak ada lemak di sana, nampak otot-otot tubuhnya yang terbentuk sempurna.

__ADS_1


Oh astaga, kenapa Ariana jadi ingin menyentuhnya. Merasakan bagaimana keras dan liatnya perut dan dada bidang laki-laki itu.


Ariana yang menyadari otaknya sudah mulai bergeser, ia langsung menggetoknya beberapa kali.


"Kamu kenapa sayang, sakit kepala ?" tanya Demian, laki-laki itu nampak membuka matanya ketika mendengarkan Ariana menggerutu tak jelas.


"Eh, nggak. Nggak apa-apa kok, tidurlah." sahut Ariana sembari merutuki dirinya sendiri di dalam hati, sepertinya yang jadi setannya adalah dirinya sendiri.


Sedangkan Demian nampak membuka nakas di samping ranjangnya, ia terlihat memegang sesuatu seperti sebuah remot lalu ia memasukkannya kembali ke dalam nakas, kemudian laki-laki itu kembali memejamkan matanya.


Melihat Demian yang nampak menghembuskan napas teratur, Ariana langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping laki-laki itu dengan pelan supaya tidak mengganggu tidurnya.


Namun sebelum itu ia meletakkan dua buah bantal di tengah-tengah mereka sebagai pembatas, entah kenapa ia tidak melihat guling di kamar tersebut atau memang orang kaya tidak suka menggunakan guling.


Ariana yang tidak biasa tidur di tempat baru, ia mulai gelisah. ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya, apalagi ia merasakan udara di kamar tersebut semakin lama semakin dingin.


"Oh astaga, ini kamar apa frezer sih kok dingin banget lama-lama aku bisa beku nih. Apa sebaiknya aku tidur di kamar Ricko saja ya."


Dengan pelan Ariana segera beranjak dari ranjangnya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Astaga, kenapa pintunya tidak bisa di buka. Perasaan tadi aku tidak menguncinya."


Ariana memperhatikan pintunya yang memang nampak tak ada lubang kuncinya.


"Ini pintu apaan sih, menyebalkan."


Ariana terlihat kesal, kalau pintu tersebut tak ada lubang kuncinya terus kenapa bisa terkunci sendiri. Demian memang menggunakan sebuah teknologi pada pintunya tersebut dan bisa di buka hanya dengan menggunakan sidik jari atau sebuah remot.


Ariana yang sudah putus asa, pada akhirnya memutuskan untuk kembali tidur di samping Demian.


Karena merasa badannya sangat kedinginan, ia nampak menggeser bantal yang dia gunakan sebagai pembatas tadi.


Lalu ia sedikit menggeser tubuhnya mendekati Demian, biarlah dia membuang gengsinya sebentar. Karena saat ini ia membutuhkan kehangatan, kalau tidak ia pasti sudah mati kedinginan besok pagi.


Merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya, Demian nampak menaikkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.


Ia memang sengaja mengatur suhu rendah pada kamarnya untuk mengerjai wanitanya tersebut dan sepertinya rencana berhasil karena kini Ariana sudah memeluk tubuhnya dengan erat.

__ADS_1


Demian nampak terkekeh dalam hati, sebenarnya ia ingin meminta penjelasan tentang laki-laki yang sudah berani mendekati wanitanya itu namun saat ini ia sangat lelah untuk membahasnya.


Lagipula toh sekarang Ariana sudah berada di sampingnya dan dia bersumpah tidak akan membiarkan laki-laki manapun mendekatinya lagi.


__ADS_2