Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~48


__ADS_3

"Hai Vic apa kabar? lama tidak berjumpa. Kamu tetap ya dari dulu, selalu saja muncul secara tiba-tiba." sapa Edgar pada Victor.


"Saya baik, tuan." sahut Victor dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Apa kak Demian bersamamu ?" Edgar mengedarkan pandangannya mencari sosok Demian.


"Beliau sedang ada meeting, tuan." ujar Victor dengan muka datarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kamu hati-hati ya Rin, kalau ada apa-apa kabari aku." ujar Edgar kemudian, setelah itu ia berlalu pergi dari sana.


Ariana hanya menganggukkan kepalanya. Bagaimana tidak, Victor menatapnya dengan pandangan seolah sedang mengintimidasinya. Jadi lebih baik dia menutup mulutnya saja, mungkin itu lebih baik.


"Apa mas Demian yang menyuruhmu kesini ?" tanya Ariana pada Victor kemudian.


"Tidak nyonya, kebetulan saya hanya lewat sini." tegas Victor.


"Oh, baiklah aku mau pulang." ucap Ariana seraya melangkahkan kakinya menuju mobilnya.


"Tunggu nyonya." panggil Victor yang langsung membuat Ariana menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan menatap Victor.


"Ada apa ?" ucapnya.


"Lebih baik anda jangan terlalu dekat dengan tuan Edgar, karena tuan Demian pasti tidak akan menyukai itu." sahut Victor, namun nadanya seperti sebuah ancaman menurut Ariana.


Ariana nampak menghela napasnya. "Baiklah, kamu tenang saja." sahutnya, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya.


Setelah itu Victor langsung meninggalkan area sekolah tersebut setelah memastikan mobil Ariana sudah pergi.


"Baik tuan, saya akan segera kesana." ucapnya ketika baru menerima telepon dari seseorang.


"Buk, Ricko ada PR loh buat kliping tapi Ricko tidak punya bahannya di rumah." ucap Ricko ketika berada di dalam mobilnya.


"Baiklah, kita mampir beli dulu ya." sahut Ariana.


"Pak kita mampir ke Mall di depan situ ya pak." imbuhnya lagi pada sang sopir.


"Baik, nyonya." sahut sopir tersebut.


"Buk, ada uang nggak ?" tanya Ricko kemudian.

__ADS_1


"Memang Ricko mau beli apa, sayang ?" Ariana nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


Kebiasaan putranya itu jika sedang menginginkan sesuatu selalu bertanya padanya terlebih dahulu sedang mempunyai uang atau tidak saat itu.


Kesulitan hidup yang mereka alami selama ini, membuat bocah kecil itu sangat mengerti keadaan sang ibu.


"Ricko ingin makan ayam goreng kriuk, buk." sahut Ricko.


Mendengar permintaan sang putra, Ariana nampak terkekeh. "Baiklah, nanti kita beli juga di sana ya." sahutnya.


"Jadi uangnya ibuk udah cukup buat beli ?" tanya Ricko lagi dengan polos.


Dari dulu Ricko ingin sekali makan makanan siap saji tersebut, tapi karena perekonomian ibunya yang pas-pasan bahkan sering kali kurang membuat bocah itu hanya bisa menginginkannya dalam angan.


"Cukup sayang, cukup." Ariana nampak mengacak lembut puncak kepala putranya yang menggemaskan itu.


Tentu saja Ariana mempunyai banyak uang saat ini, Demian sudah memberikannya sebuah kartu tanpa limit untuk memenuhi kebutuhannya dan juga Ricko.


Sesampainya di mall tersebut, Ariana segera mengajak Ricko membeli bahan untuk mengerjakan tugas sekolahnya dan setelah itu mereka mampir ke sebuah restoran cepat saji.


"Buk tambah es krim dan puding, boleh ?" bisik Ricko pada ibunya ketika mereka sedang berada di depan kasir.


"Boleh Nak, boleh." sahut Ariana.


Siang itu tempat tersebut nampak sangat ramai pengunjung, mungkin karena waktunya jam makan siang.


Ketika sedang menunggu Ricko bermain perosotan di area tersebut, nampak seorang wanita dengan angkuh menghampiri meja Ariana.


"Wow pelakor sedang menghabiskan uang suamiku di sini rupanya." hardik Monica seraya tersenyum sinis pada Ariana.


Wanita itu nampak berdiri angkuh dengan kedua tangannya ia taruh di depan dada.


"Monica ?"


Batin Ariana dalam hati, ini untuk pertama kalinya Ariana berinteraksi dengan Monica dari dekat.


Wanita itu sangat cantik menurutnya, kulit tubuhnya sangat terawat bak porselen. Ternyata kekuatan uang memang tak bisa di ragukan lagi, mungkin wanita itu sudah menghabiskan puluhan juta setiap bulan untuk melakukan perawatan tubuhnya.


Ariana terlihat sangat tenang, ia nampak tersenyum tipis menatap Monica.

__ADS_1


"Maaf, ada perlu dengan saya ?" ucapnya seraya menikmati pudingnya yang belum habis.


Monica menggeram, berani juga wanita di depannya ini.


"To the point saja, segera tinggalkan suamiku." tegas Monica.


Lagi-lagi Ariana hanya mengulas senyumnya. "Kenapa tidak kamu suruh saja suami mu untuk meninggalkan aku." ucapnya.


"Kamu...." Monica menggeram.


"Dasar pelakor tidak tahu diri, kamu pasti mendekati Demian karena hartanya kan ?" hardik Monica.


"Aku tidak pernah mendekati mas Demian, tapi dia sendiri yang mengejarku. Lagipula sudah menjadi kewajiban dia memberikan hak-hak anak kandungnya." sahut Ariana dengan menekankan setiap kata-katanya.


Monica nampak mengepalkan tangannya, tapi dia tidak boleh kalah. Saat ini dirinya masih istri sah Demian dan dia harus bisa mengintimidasi wanita di depannya itu.


"Sepertinya pelakor tak tahu malu sepertimu memang harus mendapatkan hukuman, bagaimana ya jika semua pengunjung di sini tahu jika kamu adalah wanita perebut suami orang. Aku tidak yakin kamu akan keluar dari sini dengan selamat." gertak Monica dengan tersenyum sinis, ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran tersebut yang nampak ramai pengunjung siang itu.


Monica sangat tahu, apapun yang berhubungan dengan pelakor sangat sensitif di tengah masyarakat. Mereka yang menjadi tersangka akan menjadi bulan-bulanan oleh para kaum perempuan meskipun tak kenal sekalian pun.


Sedangkan Ariana yang mendapatkan ancaman nampak sangat tenang, bahkan kini ia masih dengan santai menghabiskan es krim di hadapannya itu.


"Sialan kenapa dia tidak takut sama sekali." batin Monica.


"Lakukan lah jika itu menurutmu baik, lagipula aku bukan siapa-siapa juga. Mungkin setelah mereka mencaci makiku urusan akan selesai dan aku bisa hidup normal lagi seperti biasa. Tapi....." Ariana menjeda perkataannya lalu mengambil ponsel di dalam tasnya.


"Tapi bagaimana kalau ini ku viralkan, mungkin seumur hidupmu akan menjadi bulan-bulanan semua orang. Seorang istri salah satu konglomerat di negeri ini sedang bercumbu mesra dengan laki-laki lain di parkiran sekolahan anaknya."


Ariana menunjukkan sebuah rekaman yang tadi sempat ia ambil di halaman parkir sekolahnya Ricko. sebenarnya ia merekam untuk ia adukan pada pihak sekolah, karena jika para siswa melihatnya itu akan merusak mental mereka.


Ariana tidak menyangka ternyata rekaman tersebut berguna juga untuk menekan Monica yang bahkan saat ini terlihat sangat pucat.


"Sialan, jadi kamu sedang mengintaiku perempuan murahan ?" hardik Monica.


Ariana nampak tersenyum sinis. "Jadi di sini siapa yang murahan aku atau kamu ?" tegas Ariana.


"Wanita yang menjebak seorang laki-laki dengan kehamilannya padahal dia hamil dengan orang lain, bahkan ia juga bermain api di saat masih menjadi istri orang. Jadi katakan siapa yang murahan di sini? ternyata pendidikan dan status sosial yang tinggi tak membuat seseorang bisa menjaga moralnya." imbuh Ariana lagi dengan nada mengejek.


"Kamu...." Monica langsung mengangkat tangannya untuk menampar Ariana, namun tiba-tiba seseorang langsung mencekal pergelangan tangannya sebelum berhasil mendarat di pipi Ariana.

__ADS_1


Laki-laki tersebut nampak menatap tajam Monica, seakan tatapannya tersebut siap menghunusnya.


"Mas Demian." Monica tersentak, ia tidak menyangka suaminya itu tiba-tiba saja datang.


__ADS_2