
Malam itu tuan Winata nampak pulang dari kantornya dalam keadaan sangat letih, seharian ia melobi beberapa rekan bisnisnya agar mau berinvestasi di perusahaannya namun semuanya menolak.
Sebenarnya dia bisa saja menerima tawaran Edgar, namun konsekuensinya harus memberikan 70% sahamnya atas nama Dena.
Sebenarnya ia pun tak masalah seandainya putrinya cuma Dena seorang, tapi ia mempunyai dua putri dan mereka harus mendapatkan bagian yang sama rata.
"Pa, hari ini Mama ada arisan kenapa belum di transfer. Mama seharian sudah menunggu loh." ujar nyonya Sita saat tuan Winata baru datang.
"Sera juga Pa, Sera butuh membeli beberapa baju baru." timpal Sera.
Mendengar keluhan anak dan istrinya, tuan winata nampak menghela napas panjangnya. Biasanya sebelum mereka meminta ia sudah memenuhinya, namun keadaan perusahaan yang berada di ambang kehancuran membuatnya harus hati-hati dalam mengatur keuangannya.
"Nanti papa transfer." ucapnya kemudian.
"Kok nanti sih, Pa. Harus sekarang dong, Papa aneh deh nggak biasanya seperti ini. Jangan-jangan Papa mempunyai wanita simpanan ya hingga melupakan kami anak dan istrimu." protes nyonya Sita yang langsung membuat Tuan Winata mendadak geram.
Brakk
Tuan Winata langsung menggebrak meja di depannya, pulang ke rumah bukannya membuatnya lebih baik tapi justru anak dan istrinya itu membuatnya semakin meradang.
"Jaga bicaramu !!" bentak tuan Winata murka.
"Kok Papa marah sih, jadi benarkan apa yang mama ucapkan Papa pasti sudah mempunyai simpanan di luar." tuduh nyonya Sita.
"Diamlah, Sita !!" hardik Tuan Winata yang membuat nyonya Sita langsung terkesiap.
Baru kali ini suaminya itu memanggil dirinya dengan namanya dan ini sungguh sangat menyakiti hati.
"Kenapa yang kalian pikirkan hanya uang dan uang saja, asal kalian tahu perusahaan Papa sedang di ambang kebangkrutan." ujar Tuan Winata dengan geram.
"Apa ?" ucap Nyonya Sita dan Sera bersamaan.
"Itu tidak mungkin Pa? Papa pasti becanda kan? kami tidak mau hidup miskin." ucap Nyonya Sita.
"Pa, Papa sedang becanda kan ?" kali ini Sera ikut memastikan, kalau ayahnya itu bangkrut bagaimana ia bisa hidup glamor seperti sebelumnya.
"Mama tidak mau tahu bagaimana pun caranya Papa tidak boleh bangkrut, aku dan Sera tidak mau hidup miskin. Mau di taruh di mana muka mama nanti kalau teman-teman sosialita mama pada tahu." keluh nyonya Sita geram.
Mendengar keluhan sang istri, tuan Winata hanya bisa diam saja. Karena dia sendiri juga bingung harus berbuat apa.
"Kalau tidak mendapatkan investor secepatnya, kita akan benar-benar bangkrut." ujarnya frustrasi, setelah itu ia berlalu pergi menuju ruang kerjanya.
Ia nampak membanting pintu ruangannya dengan keras, ia sangat kesal karena istri dan anaknya itu bukannya mendukungnya namun justru memikirkan kesenangannya sendiri.
__ADS_1
Lalu tuan Winata menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, ia tak menyangka perusahaan yang sudah ia rintis puluhan tahun silam langsung hancur hanya dalam waktu sekejap.
Di saat seperti ini ia tiba-tiba mengingat istri pertamanya, ibu kandungnya Dena. Wanita itu dengan setia menemaninya dari yang belum mempunyai apa-apa hingga usahanya sukses.
Ibunya Dena selalu mendukungnya saat dirinya jatuh bangun merintis usahanya, bahkan wanita itu sedikitpun tidak pernah mengeluh dengan kesibukannya saat itu.
Namun kehadiran mantan kekasihnya yaitu ibunya Sera membuatnya dengan bodoh langsung berpaling dari istrinya itu.
"Maafkan aku, maafkan aku." lirihnya berulang-ulang saat mengingat mendiang ibunya Dena.
Sementara itu nyonya Sita dan Sera nampak sedang berada di kamarnya, wanita paruh baya itu terlihat mondar mandir tak tenang.
"Mama tidak mau hidup miskin, Ser. Kamu harus mencari cara bagaimana mendapatkan investor untuk membantu perusahaan papamu." ujarnya.
"Kenapa harus aku sih, Ma." sungut Sera.
"Kamu kan model, koneksimu pasti banyak. Minta tolonglah sama salah satu dari mereka agar mau menanamkan modalnya di perusahaan kita. Lagipula ini semua juga gara-gara kamu perusahaan kita jadi seperti ini." desak nyonya Sita.
"Atau kamu kembali saja pada Arhan, dia pasti bisa menolongmu." imbuhnya lagi.
Mendengar tuduhan ibunya, Sera nampak semakin kesal. Tapi, mungkin balikan dengan Arhan bisa ia coba. Ia yakin setelah di tolak Dena, Arhan pasti akan mau kembali padanya.
Sementara itu, Dena yang baru bangun dari tidurnya nampak mengulas senyumnya saat melihat suaminya berada di sampingnya.
Edgar yang sedang bermain ponsel segera meletakkan ponselnya di atas nakas saat melihat istrinya itu terbangun.
"Ini sudah sore, sayang." sahutnya.
"Kenapa aku di infus ?" Dena nampak mengangkat punggung tangannya yang terdapat jarum infus menancap di sana.
"Kamu tadi pingsan, apa kamu lupa ?" sahut Edgar yang langsung membuat Dena nampak memikirkan sesuatu.
"Elkan, Elkan mana ?" tanyanya kemudian dengan sedikit panik.
Edgar langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. "Elkan ada sayang, lagi diluar mungkin sedang bermain dengan kakek neneknya." sahutnya.
"Kamu tenang saja, mereka tidak akan mengambil Elkan darimu. Malahan mereka mungkin akan lebih menyayangi mu daripada aku sekarang." imbuh Edgar yang langsung membuat Dena menatapnya.
"Tentu saja mereka akan menyayangi menantunya yang sudah memberikan seorang cucu yang tampan." ucap Edgar lagi sebelum Dena menyelanya.
"Benarkah ?" tanya Dena pelan.
"Tentu saja, sayang." sahut Edgar, kemudian mengecup bibir istrinya itu.
__ADS_1
Ehmmm
Putri nampak berdehem saat hendak masuk ke dalam kamar putranya itu, ia terlihat membawa sebuah nampan.
Edgar langsung mengulas senyum tak bersalahnya saat ibunya itu sedang memergoki kemesraannya bersama istrinya.
"Mama membuatkan mu bubur, kamu pasti lapar kan." ucapnya seraya tersenyum pada Dena.
"Ayo masuklah Ma, aku akan keluar." Edgar segera beranjak dari ranjangnya, kemudian berlalu keluar.
Setelah putranya keluar, Putri berjalan mendekati Dena.
"Mama juga akan sekalian melepaskan infusmu, pasti tanganmu sudah kaku ya." imbuhnya lagi seraya mengambil sebuah kotak obat-obatan.
Putri nampak memakai sarung tangan, kemudian dengan cekatan ia melepaskan infus yang menancap di punggung tangan menantunya itu.
Meski ia bukan seorang dokter atau perawat, namun setelah sembuh dari penyakit kankernya dahulu Putri lebih banyak mengabdikan hidupnya pada para penyintas kanker dan banyak mempelajari tentang medis.
"Terima kasih, tante." ucap Dena saat Putri baru melepaskan jarum infusnya, kini ia mengambil bubur yang di bawakan oleh ibu mertuanya itu.
"Kok Tante? panggil mama Nak. Maafkan sikap mama sebelumnya ya." ujar Putri dengan lembut.
"Nggak apa-apa Ma, saya sudah biasa kok di perlakuan seperti itu." sahut Dena.
"Maafkan Mama ya." ucap Putri dengan perasaan bersalah, kemudian ia langsung memeluk anak menantunya itu.
Dena yang tiba-tiba di peluk, nampak terkejut. Namun setelah itu ia terlihat meneteskan air matanya karena pada akhirnya ia bisa merasakan bagaimana pelukan seorang ibu setelah sekian lama.
Beberapa hari kemudian.....
Setelah beberapa hari menjalani rehabilitasinya, Dena nampak semakin membaik. Pelan-pelan dia mulai terbuka dan mau berbagi cerita mengenai keadaannya, ia juga sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik meski sedang marah.
Ia merasa bersyukur telah di pertemukan dengan sosok ibu mertua seperti Putri yang dengan sabar menghadapi dan merawatnya.
Sore itu saat Dena melewati ruang kerja suaminya, tanpa sengaja ia mendengar percakapan laki-laki itu dengan Ayahnya mengenai bagaimana Edgar telah membantunya mengungkap skandal perselingkuhan Sera dan Arhan ke publik.
Bahkan Dena juga mendengar bahwa suaminya itu juga sedang berusaha menuntut apa yang seharusnya menjadi haknya.
"Benarkah Edgar melakukan itu semua untukku ?" gumam Dena saat sudah berada di kamarnya.
"Apa dia benar-benar mencintaiku ?" gumamnya lagi, mengingat bagaimana Edgar sangat sabar menghadapinya dan Dena bersyukur akan hal itu.
Kemudian Dena mengambil sebuah botol obat dari dalam tasnya, ia nampak memindai obat pencegah kehamilan tersebut. Entah apa yang sedang ia pikirkan, namun selanjutnya ia nampak membuang botol tersebut ke dalam tempat sampah.
__ADS_1