Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~36


__ADS_3

"Demian, ampun." Ariana nampak tertawa sampai mengeluarkan air matanya ketika Demian menggelitikinya tanpa ampun.


Ranjang yang sebelumnya baru di rapikan olehnya, kini berantakan lagi karena ulah Demian.


"Ampun, Demian." teriak Ariana lagi, laki-laki itu benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Ia merasakan geli tak tertahankan di sekujur tubuhnya.


"Ganti dulu panggilanmu padaku, baru ku lepaskan." perintah Demian yang masih berada di atas tubuh Ariana, sebelah tangannya nampak sibuk memegang kedua tangan wanita itu ke atas kepalanya sedangkan tangan satunya lagi siap menggelitik.


"Memang kamu mau di panggil apa? soang ?" ledek Ariana yang langsung mendapatkan gelitikan lagi oleh Demian.


"Demian ampun, sepertinya sebentar lagi aku akan mati." rintih Ariana lemas.


"Makanya yang benar kalau buat panggilan, sayang." Demian nampak menatap jahil wanita di bawahnya itu.


"Memang kamu mau di panggil apa ?" pasrah Ariana, sepertinya tenaganya sudah mulai habis.


"Sayang." sahut Demian yang langsung membuat Ariana melotot.


"Ayo panggil sayang." perintahnya lagi.


"Mas Demian aja bagaimana ?" tawar Ariana, rasanya lidahnya keluh untuk mengucapkan panggilan sayang.


"Sepertinya kamu memang harus di beri pelajaran yang benar deh sayang biar nurut." Demian rasanya tak sabar, ia langsung menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ariana.


Ia nampak mengecupi leher putih wanita itu dengan keras dan tentu saja itu membuat Ariana menggila.


"Mas Demian, hentikan." pekik Ariana yang merasakan gelanyar aneh di sekujur tubuhnya.


Namun bukan Demian kalau dirinya langsung berhenti, ia justru mencium bibir Ariana. Tapi, kali ini ia menciumnya dengan lembut.


Ariana yang awal mulanya menolak, kini ia mulai menikmati ciuman Demian. Mereka nampak saling mencecap dan bertukar saliva.


Bahkan kini tangan Demian mulai menjangkau dan meremas gundukan indah milik Ariana dari balik bajunya.


Dan tentu saja itu membuat seorang Ariana atau wanita manapun di dunia ini langsung mendesah tak karuan.


Sepertinya keduanya sudah di penuhi oleh gairah yang memuncak, mereka seakan lupa apa yang sudah mereka lakukan saat ini adalah jalan menuju dosa besar.


Begitulah cara kerja setan, ketika ada dua orang laki-laki dan perempuan sedang bersama di tempat yang sepi maka para setan akan bekerja keras untuk mendekatkan mereka pada jurang kenistaan dan sepertinya di sini Othor yang jadi setannya wkwkwk.


"Ahh, mas." desah Ariana ketika Demian dengan lahap mengulum puncak gundukan indahnya itu.


"Sayang, panggil aku sayang." pinta Demian di sela aktivitas panasnya tersebut.


"Ahh, sayang." desah Ariana lagi yang sepertinya sudah di bawa oleh Demian ke puncak nirwana, ia meremas rambut laki-laki itu dan semakin menenggelamkan kepala Demian di sana.


Ariana nampak begitu terlena oleh setiap sentuhan yang di berikan oleh Demian pada tubuhnya. Katakanlah jika iman dia memang lemah, namun kadang cinta bisa membutakan segalanya.

__ADS_1


Dan ia mencintai laki-laki itu, dia wanita normal yang juga haus akan sentuhan seorang pria. Tapi sepertinya sedikit akal sehatnya masih berfungsi dengan baik.


Ariana langsung mencekal tangan Demian, ketika laki-laki itu meraba miliknya di bawah sana yang sudah lembab.


"Tolong jangan lakukan itu." mohon Ariana mengiba.


Melihat wajah memohon Ariana, Demian langsung merutuki dirinya sendiri. Padahal sebelumnya, ia sudah janji tidak akan menyentuh wanita itu sebelum halal.


Ah tidak, menyentuh saja tidak apa-apa kan? kecuali melakukan itu. Sepertinya otaknya sedang berperang argumen bersama setan-setan di tubuhnya.


"Maafkan aku, sayang." Demian langsung menarik selimut lalu menutupi tubuh setengah polos wanitanya itu.


"Maafkan aku." ucapnya lagi sembari memeluknya dengan erat.


"Please, menikah lah denganku." ucap Demian lagi saat Ariana sudah terlihat tenang.


"Setelah aku bercerai tentunya, mungkin beberapa hari lagi pengadilan sudah memberikan keputusannya." imbuhnya lagi sebelum Ariana melayangkan protes.


"Lalu bagaimana dengan orang tuamu ?" Ariana masih mengingat bagaimana sosok ibunya Demian yang begitu membencinya terutama kemiskinannya.


"Aku pasti akan meyakinkan mereka sayang, apalagi ada Ricko. Sudah lama sekali mereka menginginkan seorang cucu." sahut Demian.


"Bagaimana kalau mereka tidak suka pada ku ?" Ariana nampak membuat sebuah garis tak beraturan di dada bidang Demian dengan jari lentiknya.


"Mereka setuju atau tidak kita akan tetap menikah, sayang." sahut Demian meyakinkan.


"Kamu dan Ricko akan selalu aman bersamaku, percayalah." bujuk Demian.


Sedangkan Ariana hanya bisa menatap sendu laki-laki itu, kemudian ia kembali memeluknya.


"Setelah ini kamu beres-beres ya, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." ujar Demian.


"Lalu jualanku ?" Ariana langsung bangkit dari tidurnya lalu melilitkan selimut sampai dadanya.


"Astaga sayang, lupakan jualanmu oke." Demian langsung mencubit gemas hidung Ariana, sungguh polos wanitanya itu.


Bagaimana bisa wanita itu masih memikirkan jualannya yang tak seberapa, padahal sebentar lagi ia akan menjadi nyonya muda Anggoro yang hartanya tidak akan pernah habis tujuh turunan meski ia gunakan untuk berfoya-foya sekalipun.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, selama 8 tahun ini jualanku lah yang bisa menghidupiku dan Ricko." sungut Ariana.


"Iya maaf, aku memang ayah yang brengsek. Tapi mulai saat ini hidupmu dan Ricko adalah tanggung jawabku. Takkan ku biarkan tanganmu ini bekerja keras lagi, mengerti ?" ujar Demian, ia memegang tangan Ariana yang terasa kasar dan itu membuatnya semakin bersalah.


"Tapi...."


"Aku tidak suka di bantah, sayang. Sekarang bersiap-siaplah aku akan mengajakmu jalan-jalan." sela Demian.


"Tapi..."

__ADS_1


"Sayang, cepatlah ganti baju atau kamu mau tak berbusana sepanjang hari bersamaku di sini." gertak Demian seraya menatap tubuh Ariana, tatapan yang seakan menelanjangi wanita itu.


"Dasar mesum." Ariana segera berlari keluar menuju kamar mandi, sebenarnya tadi pagi ia sudah mandi tapi sepertinya ia harus mandi lagi setelah Demian membuatnya berkeringat.


Ariana yang baru selesai mandi langsung masuk kembali ke dalam kamarnya dengan kimono mandi menutup tubuhnya yang basah.


Ia nampak tercengang ketika melihat sebuah gaun cantik beserta dengan heelsnya.


"Ini punya siapa, mas ?" tanya Ariana heran.


"Tentu saja itu punyamu, sayang." sahut Demian, laki-laki itu nampak duduk di meja belajar Ricko.


"Baiklah." tanpa bertanya lebih jauh, Ariana segera mengambil gaun tersebut lalu membawanya keluar.


"Mau kemana, sayang ?"


"Ganti pakaian di kamar mandi." sahut Ariana sembari keluar dari kamarnya tersebut, mana mungkin ia akan berganti pakaian di hadapan Demian.


Setelah mengganti pakaiannya, Ariana segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Kemudian ia mengoles wajahnya dengan make up tipis.


Ia nampak melihat Demian yang sedang duduk di meja belajarnya Ricko sembari menatap mobil-mobilan yang di berikan oleh Edgar beberapa hari yang lalu.


Ariana jadi merasa gelisah, semoga saja laki-laki itu tidak banyak tanya. Ia tidak mau Demian sampai bertengkar dengan Edgar dan mungkin setelah ini ia akan melarang Edgar untuk datang lagi ke rumahnya.


"Siapa laki-laki itu, sayang ?" tanya Demian dengan nada dingin.


Ariana yang berada di depan cermin tiba-tiba merasa hawa panas di sekitarnya.


"A-apa maksud kamu ?" Ariana tiba-tiba merasa gugup saat ini.


"Siapa laki-laki yang memberikan mainan mahal ini ?" ulang Demian seraya menatap lekat Ariana.


"Gawat."


"I-itu...."


tokk


tokk


Mendengar pintu rumahnya di ketuk Ariana nampak lega, ia segera melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun Demian langsung mencegahnya.


"Biar aku saja yang membukanya." ucapnya, kemudian ia berlalu keluar.


"Syukurlah, hampir saja. Semoga setelah ini ia melupakannya."


Ariana langsung tersenyum lega, namun senyumnya perlahan menyurut ketika menyadari siapa yang datang.

__ADS_1


"Jangan-Jangan itu Edgar lagi."


__ADS_2