
"Apa yang ingin kamu lakukan, Ser ?" hardik tuan Winata saat mendengar ancaman Sera terhadap Dena.
"Pa-Papa." Sera yang bersembunyi di balik badan ibunya nampak ketakutan.
"Berhenti memanggil saya seperti itu, saya bukan ayahmu dan kamu Sita awasi anakmu itu baik-baik jika sampai dia berani melukai Dena atau cucu-cucuku, saya pastikan kalian akan saya kirim ke neraka." tegas tuan Winata seraya memandang mantan istrinya itu yang kini nampak kumal tak terawat.
Kulitnya yang dahulu sebening porselen berkat perawatan mahal darinya kini nampak kusam dan menggelap karena panas matahari.
Bahkan Sera yang dahulu terlihat sangat menawan sebagai seorang model kini tak ubahnya seperti seorang gadis biasa, lusuh dan tak terawat.
Tuan Winata yang sudah sehat seperti sedia kala berkat pengobatan yang beliau jalani, nampak tersenyum sinis menatap penderitaan mereka.
Baginya itu tak seberapa, ia harus memastikan kedua wanita itu benar-benar menderita dan menyesali perbuatannya.
"Sayang, jangan bicara seperti itu aku ini masih istrimu. Tidak kah kamu mengingat masa-masa indah kita dulu." ujar nyonya Sita bernada memohon.
"Diam, waktu itu saya hanya laki-laki bodoh karena termakan oleh bujuk rayumu tapi sekarang saya sadar kamu tak lebih dari seorang wanita murahan." hardik tuan Winata, kemudian ia melemparkan surat cerai pada wanita itu yang telah ia urus sebelumnya di pengadilan.
"Lihatlah betapa cocoknya pakaian itu di tubuh kalian, karena sebenarnya tempat kalian memang berada di sana." imbuhnya lagi dengan pandangan menghina.
Tuan Winata memang sengaja tidak membuat mantan istrinya itu mendekam di penjara, ia ingin dirinya sendiri yang menghukum wanita itu. Melihat penderitaannya secara langsung hingga membuatnya puas.
Setelah itu tuan Winata segera meninggalkan tempat tersebut, sebuah tempat tersembunyi yang berada di belakang Mansionnya dan tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka kecuali beberapa pelayan kepercayaannya.
"Ma, kita harus kabur dari sini. Aku tidak mau sampai tua di sini." keluh Sera saat tuan Winata sudah berlalu pergi.
"Bagaimana bisa kabur, kamu lihat seluruh tempat ini di kelilingi tembok tinggi." sentak nyonya Sita seraya mengedarkan pandangannya.
"Lagipula kita sudah tidak mempunyai uang lagi, satu-satunya simpananku sudah kamu gunakan untuk membayar si Maya itu." imbuhnya lagi.
"Aku tahu bagaimana caranya, Ma." Sera nampak tersenyum miring.
"Apa ?" nyonya Sita terlihat tak sabar, sungguh ia juga ingin segera keluar dari tempat tersebut.
Tubuhnya sangat lelah karena setiap hari harus mengerjakan banyak sekali cucian, bahkan pakaian kotor para pelayan dan penjaga rumah di sana dirinya dan Sera lah yang mengerjakan.
Sungguh ini penghinaan baginya, dahulu ia seorang nyonya besar dan sekarang ia tak lebih dari seorang budak.
"Aku akan merayu penjaga yang biasa mengantarkan kita makanan, aku yakin dia akan membantu kita keluar dari sini." ujar Sera dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Kamu yakin dia akan membantu kita ?" nyonya Sita nampak sangsi.
"Tentu saja dia mau Ma, siapa sih yang tidak mau mencicipi tubuh mantan model terkenal." sahut Sera yang langsung membuat nyonya Sita terkekeh.
"Dasar nakal." ucapnya.
"Bukannya Mama yang mengajariku ?" sarkas Sera penuh sendiran.
"Kalau Mama tidak nakal, kamu tidak akan merasakan bagaimana menjadi Putri seorang konglomerat." sahut nyonya Sita membela diri.
Setelah perdebatan kecil ibu dan anak itu, mereka segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena sebentar lagi menjelang petang dan mereka harus segera melaksanakan rencananya.
Malam itu Sera nampak membersihkan dirinya dengan bersih, meski tidak ada make up atau parfum di tubuhnya ia yakin penjaga tersebut tidak akan menolaknya.
Lagipula kucing mana yang sanggup menolak jika di suguhkan ikan di depan matanya.
Sungguh Sera sudah tak sabar untuk terbebas dari sana, ia benar-benar merasa di penjara.
Beruntung waktu itu ia berhasil membawa ponselnya diam-diam tanpa sepengetahuan Dena dan dari sanalah ia bisa menghubungi Maya.
"Cepat makan dan segera selesaikan pakaian-pakaian itu." perintah seorang penjaga saat membawakan makanan untuk mereka dan satu keranjang pakaian kotor.
"Apa yang kamu lakukan ?" hardik penjaga tersebut saat Sera mencekal lengannya.
"Menurutmu ?" sahut Sera dengan tersenyum menggoda, tangannya kini nampak mengusap lembut lengan pria itu.
"Kamu jangan main-main dengan ku Sera." ucap pria tersebut dengan suara parau.
Sungguh Sera terlihat menggoda di matanya, meski wanita itu tak secantik dulu tapi penampilannya terlihat sangat seksi malam ini hingga membuat jiwa kelelakiannya langsung bangkit.
Sera terlihat memakai daster lusuh dan membiarkan beberapa kancingnya terlepas hingga menampakkan kedua asetnya yang lumayan besar.
"Apa yang kamu inginkan ?" ucap pria itu lagi.
Sera nampak tersenyum miring, di mana-mana laki-laki memang sama digoda sedikit sudah seperti kerbau di cucuk hidungnya.
Kecuali Edgar, laki-laki itu sepertinya tidak normal menurutnya. Karena sama sekali tidak tertarik pada rayuannya.
Sera nampak menjalarkan tangannya pada dada bidang pria itu yang masih terbungkus kemeja hitam, pasti keras dan liat tebaknya.
__ADS_1
Kemudian dengan perlahan ia membuka kancing kemejanya satu persatu hingga membuat pria itu mendesah tertahan.
"Bawa kami kabur dari sini, maka kamu bisa menikmati ku sesukamu." bisik Sera yang terdengar begitu seksi di telinga penjaga tersebut.
"Apa ?" pria tersebut nampak terkejut.
"Aku tahu kamu bukan pria sembarangan, bukannya itu mudah bagimu." sahut Sera yang kini mulai melepaskan ikat pinggang pria itu, ia tahu pria itu bukan orang sembarangan. Tuan Winata tidak mungkin mempekerjakan sembarang orang dan ia cukup tahu itu.
Sera nampak menelan salivanya saat melihat milik pria itu, kemudian ia langsung menyentuhnya dan mulai memainkannya.
Pria tersebut nampak memejamkan matanya saat Sera mulai mencumbu miliknya, karena sudah tidak tahan ia lantas membawa wanita itu masuk ke dalam kamar yang ada di sana.
Hingga menjelang tengah malam pria itu belum juga puas menikmati tubuh Sera, meski Sera sudah merasa sangat lelah ia harus bertahan demi bisa keluar dari sana.
"Cepat bersiap-siaplah aku akan membawamu pergi dari sini." perintah pria tersebut yang kini nampak mulai memakai pakaiannya kembali setelah puas menggarap Sera.
"Benarkah ?" Sera yang masih nampak polos terlihat sangat senang.
"Hm." sahut pria tersebut dengan tersenyum miring, entah apa yang kini laki-laki itu rencanakan.
Setelah itu mereka bertiga segera meninggalkan tempat tersebut melalui pintu gerbang belakang yang ternyata sudah ada sebuah mobil yang menunggu mereka di sana.
"Ini mobilmu ?" tanya Sera, ia terlihat lega akhirnya bisa keluar dari Mansion tersebut.
"Hm." sahut pria itu dingin dan setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka.
Sera yang merasa kelelahan nampak tertidur setelah minum air mineral yang ada di dalam mobil tersebut , sedangkan nyonya Sita nampak waspada. Karena ia belum sepenuhnya mempercayai pria itu.
"Kamu akan membawa kami kemana ?" tanya nyonya Sita.
"Bukan kamu tapi hanya Sera yang akan ikut bersamaku." sahut pria tersebut.
"Apa maksud kamu ?" hardik nyonya Sita.
"Turun dari sini." perintah pria tersebut.
"Aku tidak akan turun, jika tidak dengan Sera." tolak nyonya Sita sembari mengguncang tubuh putrinya tersebut, namun Sera sama sekali tak bergerak bagaikan orang pingsan.
"Cepat turun." pria itu langsung memaksa nyonya Sita turun lalu meninggalkannya seorang diri di pinggir jalan.
__ADS_1
"Sera, tunggu mama Sera. Dasar pria bajingan." nyonya Sita nampak mengejar mobil yang membawa Sera pergi namun naas tiba-tiba sebuah truk melintas dan langsung menabraknya.