Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~108


__ADS_3

"Hallo nduk, kamu kapan pulang? Ini ada juragan mau melamar kamu." ucap ibunya Nina dari kampung saat menghubungi anaknya tersebut.


Pagi itu Nina yang masih sangat mengantuk, matanya langsung melotot saat mendengar perkataan sang ibu.


"Oh astaga apa-apaan ini." gerutu Nina kesal.


Ini bukan pertama kalinya Nina di taksir oleh juragan-juragan di kampungnya baik itu yang masih lajang, duda atau sudah beristri sekalipun.


Mungkin karena parasnya yang ayu yang menjadikannya sebagai kembang desa di kampungnya.


"Hallo nduk kok diam ?" teriak ibunya Nina dari seberang telepon yang langsung membuyarkan lamunan Nina.


"Iya bu, Nina masih sibuk. Nanti kalau tidak sibuk Nina akan pulang." sahut Nina malas.


"Beneran ya, kali ini kamu pasti menyukai juragan ini." desak ibunya Nina.


"Iya bu, iya. ya sudah Nina tutup ya, Nina mau pergi kerja." sahut Nina, kemudian mematikan panggilannya.


"Menyukainya? ck, itu juragan pasti aki-aki tua atau Om-Om berperut buncit seperti biasanya."


Nina nampak mendengus kesal, kenapa hidupnya selalu sial. Ada pria baik-baik, kaya dan tampan seperti Yudo tapi ibunya laki-laki itu membencinya.


Ada juga pria tampan dan sangat kaya seperti Victor tapi hidupnya penuh misteri.


Nina rasanya sangat lelah, hampir 3 tahun ia bekerja keras menjadi tulang punggung keluarganya dan kedua adiknya yang masih sekolah.


Haruskah ia menerima tawaran dari ibunya untuk menerima lamaran juragan tersebut? atau menolaknya seperti biasanya dan kabur ke kota seperti saat ini?


Entahlah, memikirkan hal itu membuat kepalanya mendadak cenat cenut saja. Nina segera beranjak dari tidurnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Sepertinya menerima lamaran juragan itu lebih baik, sungguh aku sangat lelah. Lagipula apa yang bisa ku harapkan darinya, tuan Victor lebih pantas bersanding dengan wanita kaya itu daripada denganku yang hanya remahan rengginang."


Setelah memikirkan baik-baik akhirnya Nina menerima tawaran ibunya tersebut, kali ini ia akan pasrah pada takdirnya dan tak akan menghindar lagi.


"Buk, aku menerimanya. Siapkan semuanya, besok pagi aku akan pulang." ucap Nina saat menghubungi ibunya melalui sambungan teleponnya, terdengar suara lega dari seberang sana.


Ibu dan Ayahnya pasti langsung senang, karena pada akhirnya ia menjadi anak penurut.


"Syukurlah, ibu dan bapak sangat senang Nak. Ini juragan juga mengabari kalau beliau menginginkan langsung menikah saja tidak perlu lamaran." sahut Ibunya dengan antusias.


"Terserah ibu saja." sahut Nina, lalu mematikan panggilannya.


Setelah itu Nina segera berganti pakaian, hari ini ia akan mengajukan resign di beberapa tempatnya bekerja selama ini.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain Ariana nampak mengulurkan selembar uang berwarna merah saat melihat seorang pemuda mengamen di sekitar sekolahnya Ricko.


"Anda ?" Dean nampak terkejut saat melihat Ariana, meski baru sekali bertemu ia masih ingat wajah istri dari kakak tirinya tersebut.


"Apa Papa tidak cukup memberikanmu uang, hingga kamu mengamen ?" tanya Ariana.


"Maaf, itu bukan urusan anda." Dean menatap Ariana sejenak, kemudian tanpa mengambil uang tersebut ia melangkahkan kakinya pergi.


"Aku ingin bicara padamu." tegas Ariana yang langsung membuat Dean menghentikan langkahnya.


"Apa yang anda inginkan ?" ucapnya tanpa berbalik badan.


"Mengajakmu makan siang, mungkin." sahut Ariana lembut seraya mengulas senyumnya.


Dengan ragu-ragu Dean berbalik badan menatap wanita yang sedang hamil tua itu dengan seksama, sungguh sifat kakak iparnya itu berbanding terbalik dengan suaminya.


Flashback on


"Kak, tolong maafkan ibuku." mohon Dean saat memberanikan diri datang ke kantor Demian saat itu.


Demian nampak mengepalkan tangannya, berani sekali anak haram itu menginjakkan kakinya di kantornya.


Apa setelah ibunya menggoda ayahnya, sekarang anak itu juga ingin menguasai perusahaannya. Benar-benar ibu dan anak sama liciknya, pikir Demian.


"Berapa uang yang kamu inginkan? sebutkan saja, tapi setelah itu jangan pernah menampakkan diri di hadapanku maupun keluargaku." Hardik Demian menahan emosi.


Selama ini dia sangat kesepian, hanya Demianlah satu-satunya saudaranya. Ia akan melakukan apapun agar kakaknya itu mau menerimanya.


"Aku bukan kakakmu dan sampai kapanpun aku tidak sudi mengakuimu sebagai saudara, melihatmu hanya mengingatkan bagaimana sakitnya perasaan ibuku."


"Maaf...."


"Pergi dari sini dan jangan pernah bermimpi aku akan menganggapmu saudara." sela Demian dengan suara lantang.


Dean menghela napasnya pelan, sepertinya kakaknya itu belum bisa menerima dirinya. Tapi ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan pengakuannya, karena bagaimana pun kakaknya itu mengelak mereka tetap memiliki darah yang sama.


Dengan langkah gontai, akhirnya Dean melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Demian. Beberapa karyawan yang melihatnya nampak saling berbisik.


Karena tak bisa di pungkiri wajahnya memang mirip dengan Demian.


Flashback off


"Jadi Ricko anak kakak ?" tanya Dean saat Ariana mengajaknya makan di Cafe dekat sekolahnya Ricko.

__ADS_1


"Benar, jadi kalian sudah lama kenal ?" tanya Ariana penasaran dengan kedekatan Ricko dan Dean.


"Dia sering memberiku bekalnya, maaf." sahut Dean tak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku senang kalau kalian bisa akrab. Bagaimana pun juga kamu adalah Omnya." ujar Ariana.


"Tapi kak Demian tidak mau melihatku, kak." ucap Dean lirih, remaja kelas 2 SMA itu nampak murung.


"Kamu yang sabar ya, aku akan membujuk mas Demian pelan-pelan." ucap Ariana menyemangati.


"Terima kasih." sahut Dean dengan mengulas senyumnya.


Beberapa hari kemudian semenjak pertemuannya dengan Ariana, Dean setiap hari selalu menemui Ricko di sekolahnya.


Mereka semakin akrab layaknya kakak dan adik, Dean sangat bahagia. Ia merasakan mempunyai semangat hidup baru, setelah sebelumnya merasa sendirian.


Bukk


Dean langsung terjatuh di samping sebuah mobil dengan sudut bibir mengeluarkan sedikit darah saat Demian tiba-tiba memukulnya.


"Sudah ku bilang jangan pernah muncul di hadapanku atau keluargaku lagi." Demian nampak mencengkeram kerah baju seragam Dean siap untuk memukulnya kembali.


Sebelumnya Demian mendapatkan laporan dari orang suruhannya kalau akhir-akhir ini Dean mencoba mendekati putranya.


"Kenapa kakak sangat membenciku? padahal aku tidak menginginkan uang kakak, aku hanya ingin kakak menyayangiku. Hanya itu kak." ucap Dean mengiba.


Demian semakin mencengkeram baju Dean, hingga remaja itu merasakan lehernya tercekik.


"Meskipun kakak membunuhku sekalipun, itu tidak akan bisa merubah kenyataan kalau aku adalah adik kakak." Dean nampak meringis antara merasakan sakit dan menertawai keadaannya sekarang.


"Sialan....." desis Demian, haruskah ia mencekik remaja di hadapannya ini sampai mati agar ia merasa puas.


Namun sebelum ia benar-benar melakukan itu, Ricko yang berada di seberang jalan berteriak memanggilnya.


"Daddy." teriak Ricko yang baru keluar dari gerbang sekolahnya.


Karena jalanan lumayan sepi, Ricko mencoba untuk menyeberang namun naas tak jauh darinya tiba-tiba sebuah truk melaju dengan kencang.


"Ricko, awas." teriak Dean, ia langsung menghempaskan tangan Demian dari lehernya.


Kemudian Dean berlari secepat kilat untuk menghentikan Ricko dan.....


Brukkk

__ADS_1


Ricko nampak terhempas ke pinggir jalan setelah Dean mendorongnya.


"Kak Dean ?" teriak Ricko histeris saat melihat Dean terkulai di pinggir jalan bersimbah darah.


__ADS_2