Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~195


__ADS_3

POV Arhan


Sebelum menikah dengan Dena, aku adalah laki-laki bebas. Sebagai seorang CEO yang mempunyai segalanya aku selalu di kejar-kejar oleh banyak wanita di luar sana.


Namun kebebasan ku seketika terenggut saat aku di jodohkan dengan seorang wanita yang bukan tipeku.


Wanita dengan penampilan tomboy dan bermulut pedas bahkan saat pertama kali kami berjumpa pandangannya seolah mengejekku.


Tapi siapa yang berani melawan Papa dan pada akhirnya aku menyetujui pernikahan itu dengan syarat harus di rahasiakan dari publik.


Setelah menikah istriku itu ternyata sangat berbeda dari perkiraan ku, wanita itu seolah mempunyai dua kepribadian. Di sisi lain wanita itu terlihat sangat dingin dan angkuh, tapi terkadang sangat perhatian dan ceria.


"Aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan ini, tapi apa dayaku tak bisa menolaknya. Jadi bisa kah kita saling mengenal, paling tidak kita bisa menjadi teman." ucapnya kala itu dan semenjak itu kami menjadi akrab dan dekat.


Meski aku belum mencintainya tapi apa salahnya aku belajar menyukainya, ternyata jika sudah mengenalnya Dena wanita yang hangat dan pengertian.


Wanita itu selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, meski ia tidak pernah mengatakan kalau mencintaiku tapi aku tahu dia selalu menatapku dengan penuh cinta.


Selama satu tahun pernikahan, kami benar-benar hidup seperti sahabat dan di saat aku akan membuka hatiku padanya. Tiba-tiba seseorang masuk dalam rumah tangga kami.


Sera, adik tiri dari istriku itu tak henti-hentinya menggodaku. Bahkan wanita itu rela telanjang di depanku agar aku jatuh dalam pelukannya.


Pondasi cinta yang baru ku bangun seketika runtuh saat aku membukakan pintu untuk wanita lain.


Dan di saat hubungan terlarang kami di ketahui oleh istriku, wanita itu seketika murka.


Ada perasaan bersalah di hatiku karena sudah menyakitinya, namun surga yang di tawarkan oleh Sera juga begitu menggodaku.


Namun aku juga tidak menyangka, ternyata istriku sedang hamil padahal selama ini aku tidak pernah menyentuhnya.


Ada perasaan kecewa, marah dan cemburu saat itu. Tapi Sera berusaha meyakinkan agar aku segera menceraikan kakaknya tersebut dan segera menikahinya.


Saat kami sudah resmi bercerai, hatiku tiba-tiba kosong. Aku merasa separuh jiwaku telah pergi, namun aku berusaha untuk melupakannya dan fokus dengan hubunganku bersama Sera wanita pilihanku.


Tapi meski begitu aku masih saja sering diam-diam mencari tahu kabarnya, bahkan saat mantan istriku itu melahirkan aku memaksa menemuinya.


Untuk menebus rasa bersalahku, aku membiarkan wanita itu menggunakan namaku sebagai administrasi bayinya kala itu yang entah anak siapa karena Dena selalu bungkam jika ku tanya.


Dan semenjak saat itu aku tidak pernah menemuinya lagi, aku berusaha untuk melupakannya dan fokus dengan hubunganku bersama Sera.


Namun ternyata Sera tidak sebaik perkiraanku, wanita itu berubah sejak kami bersama dan diam-diam ternyata bermain api di belakangku dengan pria lain.


Tentu saja aku langsung murka lalu meninggalkannya begitu saja, pantang bagiku seorang Arhan Bagaskara mengemis cinta.

__ADS_1


Tapi sepertinya itu tidak berarti untuk mantan istriku, setelah satu tahun tak pernah bertemu dengannya ternyata debaran di hati masih tersisa.


Pantaskah bagi pendosa seperti ku mengharapkan maafnya dan memintanya untuk kembali.


Namun sepertinya terlambat, wanita itu masih sangat membenciku dan dia lebih memilih menikah dengan ayah biologis putranya.


Sejak saat itu aku lebih memilih mundur dan mencoba menjalin hubungan dengan beberapa wanita, tapi sepertinya sejak lama hati ini sudah terkurung oleh kisah masa lalu hingga membuatku tersiksa.


Suatu hari aku merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhku dan setelah menjalani pemeriksaan dokter mengatakan ada kanker bersarang di tubuhku.


Dan semenjak itu duniaku berubah, hari-hariku selalu ku habiskan di rumah sakit. Meski aku tahu hidupku tidak lama lagi, tapi paling tidak di sana rasa sakitku bisa teratasi.


Saat aku sedang bosan di kamar dan berjalan-jalan di taman, tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang selalu ku rindukan ada di sana.


Namun tidak sendirian, wanita itu bersama suaminya dan bayinya yang baru saja ia lahirkan beberapa hari yang lalu.


Aku senang melihat kebahagiaan di wajahnya, namun hatiku juga perih karena bukan aku yang berada di sampingnya.


Setelah aku mencoba mengikhlaskan perasaan ini, tiba-tiba aku melihat wanita itu selalu menangis di depan ruang ICU. Setelah aku cari tahu ternyata suaminya sedang kritis saat ini.


Entah aku harus senang atau sedih, namun saat melihatnya seperti itu hatiku juga ikut sakit. Beberapa hari aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, namun hari itu aku memberanikan diri untuk menyapanya.


Aku pikir dia akan bereaksi seperti sebelumnya, memandangku dengan kebencian. Namun aku salah, awalnya dia terkejut melihatku lalu selanjutnya nampak kekhawatiran di wajahnya.


Aku ingin sekali memeluknya untuk terakhir kalinya, karena tubuh ini semakin lemah dan entah sampai kapan bisa bertahan.


Namun ia menolaknya demi kesetiaannya pada sang suami, sungguh aku sangat iri pada laki-laki itu.


Dan semenjak saat itu, aku tidak pernah menemuinya lagi. Karena untuk bergerak pun aku sudah tidak sanggup.


Aku tahu hidupku akan berakhir dan aku ingin di akhir hidupku ada sesuatu yang bisa ku berikan untuk kebahagiaannya.


Akhirnya aku membuat surat wasiat, jika aku tiada nanti aku ingin mendonorkan jantungku pada laki-laki yang begitu Dena cintai.


Dan keputusan ku itu tiba-tiba membuatku sangat bahagia di akhir hayatku, karena akan ada sebagian dari diriku yang akan menjadi milik wanita itu yaitu debaran jantungku.


POV Author


"Dokter, si-siapa yang sudah mendonorkan jantungnya untuk suamiku saya ?" tanya Dena saat dokter memberitahukan sudah ada pendonor untuk suaminya.


"Benar dok, siapa orang berhati mulia itu ?" tanya Putri.


"Kami akan memberitahukannya setelah operasi selesai, nyonya." sahut Dokter tersebut, kemudian segera berlalu ke ruang operasi.

__ADS_1


"Ma, Pa." Dena nampak sangat terharu, ia langsung memeluk kedua mertuanya tersebut.


"Semoga surga balasannya bagi orang itu, Nak." ucap Putri kemudian.


Beberapa jam setelah itu, dokter mengatakan operasi berjalan dengan lancar dan tinggal menunggu pasien sadar kembali.


"Nyonya, ini ada sebuah surat dari pendonor tuan Edgar." Dokter menyerahkan sebuah surat pada Dena keesokan harinya.


Dengan tangan gemetar ia menerima surat tersebut, ia akan membukanya bersama suaminya nanti.


"Dok, kenapa suamiku belum juga siuman ?" tanyanya kemudian.


"Sabar ya nyonya, tidak lama lagi pasti segera siuman. Keadaan pasien sudah mulai membaik dan tinggal pemulihan saja." sahut Dokter tersebut.


Dan benar saja tak berapa lama kemudian Edgar nampak membuka matanya dan ia langsung tersenyum saat pertama kali melihat sang istri.


"Sayang." panggilnya.


Dena yang sedang bermain ponsel, seketika mengangkat kepalanya saat Edgar memanggilnya.


"Sayang, kamu sudah bangun ?" saking senangnya Dena langsung memeluk Edgar hingga membuat laki-laki itu meringis.


"Maaf, sakit ya ?" Dena merasa bersalah, ia lupa suaminya itu habis melakukan operasi besar.


"Nggak, entahlah jantungku merasa berdebar-debar saat kamu memelukku." sahut Edgar sembari terkekeh dan itu membuat semua orang yang ada di sana ikut tergelak.


"Dasar gombal, tapi aku senang akhirnya kamu bangun lagi." sahut Dena dengan berkaca-kaca menatap suaminya.


"Aku tidak gombal atau sedang merayumu sayang, entahlah bahkan saat melihatmu saja jantungku sudah berdebar-debar seperti aku sedang jatuh cinta lagi." ucap Edgar yang langsung membuat semua orang di dalam sana terkekeh dan itu membuat Dena nampak tersipu.


"Kamu seperti orang kerasukan saja." ledek Dena.


"Kalau seperti ini terus, aku ingin kerasukan setiap hari sayang karena aku jadi makin cinta sama kamu." sahut Edgar jujur, karena saat ini ia memang merasakan jantungnya selalu berdebar-debar hanya saat menatap sang istri.


"Mungkin itu pengaruh dari operasi yang sudah anda lalui tuan, tapi dari hasil pemeriksaan jantung anda sangat baik." ucap dokter tersebut memberi pendapat.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dahulu." ucapnya kemudian, setelah itu dokter tersebut segera meninggalkan ruangan Edgar.


Setelah mendengarkan cerita dari Dena maupun keluarganya Edgar sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk hidup.


"Sayang, ngomong-ngomong siapa yang mendonorkan jantungnya untukku? aku harap siapapun itu akan mendapatkan surga sebagai balasannya." ucap Edgar.


"Aku tidak tahu, tapi orang itu memberikan ini." Dena mengulurkan sebuah amplop berwarna putih yang masih belum terbuka sama sekali.

__ADS_1


"Baiklah sepertinya kita harus tahu siapa orang itu." Edgar langsung mengambil amplop tersebut lalu membukanya.


__ADS_2