Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~40


__ADS_3

"Maaf tuan mengganggu anda, tapi ini menyangkut Ricko." ucap Victor.


"Katakan ada apa dengan putraku."


"Sopir yang menjemput Ricko mengatakan kalau Ricko tidak ada di sekolahnya, tuan." sahut Victor


"Oh astaga, bagaimana bisa ?" hardik Demian.


"Ricko, mas."


"Tenanglah sayang, anak kita pasti masih berada di sana." Demian langsung menenangkan Ariana yang mulai panik.


Setelah itu mereka segera pergi ke sekolahnya Ricko.


Disisi lain Ricko yang baru selesai makan es krim bersama tuan Anggoro terlihat sangat senang.


"Kek, Ricko ke sekolah dulu ya. Ricko takut di cariin ibuk." ucapnya.


"Baiklah, jangan katakan pada siapapun ya kalau kita bertemu. Janji ?" ujar Tuan Anggoro.


"Baik kek janji, terima kasih sudah membelikan Ricko es krim yang sangat lezat. Semoga rezekinya kakek semakin banyak." sahut Ricko, kemudian ia mencium takzim tangan tuan Anggoro dan setelah itu ia kembali ke sekolahnya.


"Anak yang sangat sopan, sepertinya ibumu mendidikmu dengan sangat baik Nak. Aku sungguh berterima kasih padanya karena sudah melahirkan penerus Anggoro yang berbudi pekerti sepertimu."


Tuan Anggoro nampak bangga pada Ricko, bocah kecil itu terlihat begitu ramah pada siapapun. Bahkan anak sekecil itu sudah memiliki empati yang sangat tinggi, benar-benar calon penerus Anggoro sesuai yang dia inginkan.


Setelah itu Ricko kembali lagi duduk di kursi yang biasa ia gunakan untuk menunggu ibunya.


Beberapa saat kemudian Ariana dan Demian terlihat berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.


"Nak, kamu di sini sayang ?" Ariana langsung memeluk putranya tersebut ketika melihatnya sedang duduk sendirian di tempat biasa ia menunggunya menjemput.


"Ibuk kenapa ?" tanya Ricko bingung, karena baru datang ibunya langsung menangis.


"Tadi Om Victor menjemputmu tapi kamu tidak ada di sini, sayang." sahut Ariana.


"Kamu dari mana, Nak ?" ujar Demian.


"Main sama teman yah." sahut Ricko.


"Baiklah, ayo kita pulang." Demian langsung menggandeng putranya tersebut menuju mobilnya.


"Wah mobilnya bagus banget yah, seperti mobilnya Om Ed." teriak Ricko antusias.


Ricko menatap kagum mobil sport mewah milik ayahnya tersebut.


Demian yang mendengar nama seorang laki-laki di sebut oleh putranya itu, ia langsung memicingkan matanya.


"Mobil siapa, Nak ?" tanya Demian yang langsung membuat Ariana menelan salivanya.


"Bukan siapa-siapa kok mas hanya kenalan saja." sela Ariana, duh ia sepertinya lupa untuk memberitahu Ricko agar tidak membahas Edgar di depan Demian.


Demian langsung menatap tajam Ariana, ia tidak suka jika ada laki-laki lain yang dekat dengan wanitanya itu.

__ADS_1


"Katakan sayang siapa Om Ed ?" tanya Demian lagi dengan lembut pada Ricko


"Om Ed itu loh yah yang membelikan Ricko mobil-mobilan." sahut Ricko polos.


"Gawat."


Ariana mulai memucat, ia seperti terpergok sedang berselingkuh saja. Padahal dirinya dan Edgar hanya berteman, tapi Demian orang yang sangat posesif ia pasti akan mencari tahu hingga jelas.


"Om Ed orangnya baik ya, Nak ?" korek Demian.


"Baik banget yah, Om Ednya suka ngajakin Ricko dan ibuk jalan-jalan dan pergi makan." sahut Ricko yang belum menyadari kalau ibunya kini sudah berkeringat dingin karena ucapannya.


"Oh ya, apa kalian sering jalan-jalan bersama ?" tanya Demian lagi.


"Iya yah, Ricko juga di belikan baju dan sepatu." sahut Ricko yang semakin membuat Demian geram.


"Apa Om Ednya ganteng ?" tanya Demian seraya menatap Ariana tajam.


Sedangkan Ariana hanya membalasnya dengan senyuman masam.


"Ganteng banget yah, ya kan buk ?" ucap Ricko seraya menatap ibunya.


"Eh, i-iya Nak." sahut Ariana gugup, ia tidak mungkin mengatakan tidak karena Edgar memang sangat tampan dan Ariana selalu mengajari putranya itu untuk berkata jujur.


Demian langsung menggeram cemburu, berani sekali wanitanya itu mengatakan laki-laki lain lebih tampan.


Sedangkan Victor yang sedang sibuk mengemudikan mobilnya nampak menahan tawanya ketika melihat bossnya itu di landa cemburu.


"Diam kamu, Vic." hardik Demian ketika menyadari asistennya itu sedang menertawainya diam-diam.


"Sayang, kamu harus menjelaskan semuanya di rumah." bisik Demian tepat di telinga Ariana.


Ariana yang duduk di samping Ricko hanya bisa menelan ludahnya, tapi kalau di pikir-pikir kenapa dia harus takut toh hubungannya dengan Edgar hanya sebatas teman biasa.


"Kita mau kemana yah ?" tanya Ricko ketika mobilnya melaju ke arah lain.


"Tentu saja pulang, sayang."


"Tapi rumah Ricko sudah lewat."


"Kita pulang ke rumah baru kita, Nak."


"Rumah baru ?"


"Benar sayang, kamu bisa bersepeda dan bermain bola di sana." Demian nampak antusias menjelaskan rumah barunya, karena rumah tersebut sengaja ia desain untuk kenyamanan anak-anaknya nanti.


"Apa halamannya besar yah ?"


"Tentu saja sayang, kamu juga bisa berenang di sana." sahut Demian.


"Wah suka Ricko." Ricko terlihat begitu senang.


"Vic, kita mampir ke mall sekitar sini ya." perintah Demian.

__ADS_1


"Baik tuan."


"Mau ngapain, mas ?" tanya Ariana.


"Membelikan Ricko sepeda."


"Kan nggak harus sekarang juga, mas. Lagipula memang kamu nggak ke kantor ?"


"Nggak apa-apa, itu bisa di atur." sahut Demian dingin, sepertinya ia masih di landa cemburu.


"Mas ?"


"Hm."


"Nggak jadi." ucap Ariana, kemudian ia nampak memalingkan wajahnya ke arah jendela.


"Jelek banget kalau ngambek." gerutu Ariana dalam hati.


Sesampainya di sebuah mall, mereka segera menuju sebuah toko sepeda.


"Mau yang warna apa, Nak ?" tanya Demian pada Ricko.


Ricko yang melihat harga sepeda tersebut sangat mahal, ia segera menarik ayahnya untuk menjauh.


"Yah sepeda di sini harganya mahal-mahal, bagaimana kalau kita beli di pasar saja selain murah juga bisa di tawar." bisik Ricko pada ayahnya tersebut.


Sepertinya bocah kecil itu sudah tertular virus emak-emak di komplek rumahnya.


Mendengar ucapan Ricko Demian langsung terkekeh. "Astaga sayang, jangan kan sepedanya pabriknya pun bisa ayah belikan buat kamu." ucapnya menyombongkan dirinya.


"Mas bisa tidak jangan seperti itu sama Ricko, dia sudah terbiasa hidup sederhana." tegur Ariana.


"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putraku, apa itu salah." sahut Demian ketus.


"Terserah deh." Ariana yang merasa Demian masih marah padanya, ia langsung menjauh dari laki-laki itu.


Setelah membeli sepeda, Demian mengajak Ricko membeli banyak mainan di sana. Tentunya dengan harga yang fantastis dan itu membuat Ariana semakin kesal, karena Demian mulai memanjakan putranya tersebut.


Ariana takut jika seperti itu terus, Ricko akan menjadi anak yang manja dan sombong.


Karena kesal, Ariana nampak keluar dari toko mainan tersebut. Namun baru beberapa langkah ia merasa tangannya di genggam oleh seseorang.


"Jangan marah sayang, aku hanya ingin menebus kesalahanku karena selama ini tidak pernah membelikan Ricko mainan." ucap Demian.


"Tapi Ricko sudah terbiasa hidup sederhana mas dan mainan yang kamu belikan itu terlalu banyak, itu pemborosan namanya. Aku tahu kamu punya segalanya tapi bisa kah kita mendidik Ricko dengan hidup sederhana." mohon Ariana.


"Baiklah, maaf ya sayang. Sekali ini saja nggak apa-apa kan ?" Demian mencoba meyakinkan Ariana.


"Hm." angguk Ariana.


"Senyum dong sayang, nanti cantiknya hilang loh." goda Demian.


"Iya-iya." Ariana nampak tersenyum tipis, tapi Demian yang kurang puas langsung saja menggelitiknya hingga Ariana tertawa.

__ADS_1


Kemudian setelah itu mereka nampak tertawa bersama-sama, namun di balik kebahagiaan mereka terlihat seorang wanita sedang menatap geram ke arahnya.


__ADS_2