
Brakkk
Sera langsung membanting pintu kamarnya dengan nyaring, ia marah dan geram karena Edgar mengabaikannya. Bahkan saat ini ponsel laki-laki itu tak bisa di hubungi.
"Hallo Juno, kamu tahu di mana Edgar ?" tanya Sera saat menghubungi asistennya kekasihnya itu.
"Bukannya beliau sedang bersama anda melakukan fitting baju, Nona." jawab Juno dari ujung telepon.
"Dia sudah pergi, katanya ada pekerjaan penting. Apa itu benar ?" cecar Sera.
"....."
"Jun kamu masih mendengarku ?" teriak Sera tak sabar.
"Saya di sini Nona, barusan tuan mengabari saya kalau beliau mendadak ada meeting penting dengan relasinya dari Jepang yang harusnya di laksanakan besok." dusta Juno.
"Kamu tidak berbohongkan, Juno ?" selidik Sera.
"Tidak Nona, saya sebentar lagi juga akan kesana untuk membawakan dokumen yang ketinggalan." dusta Juno lagi.
"Baiklah aku percaya padamu, tapi jika kamu bohong bersiap-siaplah angkat kaki dari sisi Edgar." ucap Sera dengan nada mengancam.
"Saya mengerti, Nona." sahut Juno.
Sera nampak lega setelah mengetahui jika kekasihnya itu beneran meeting, namun ia tidak akan tinggal diam jika sampai Dena berani mengganggu hubungannya dengan Edgar.
"Sera, bagaimana? apa kamu sudah menghubungi Edgar ?" tanya nyonya Sita saat baru masuk ke dalam kamar putrinya itu.
"Kata Juno, Edgar beneran meeting kok ma." sahut Sera.
"Tapi bagaimana pun juga kamu tidak bisa tinggal diam, Edgar sudah menunjukkan gelagatnya kalau dia mulai tertarik pada Dena si janda sialan itu." ujar nyonya Sita berapi-api.
"Iya Sera tahu Ma, Sera akan membujuk tante Putri agar acara pertunangan itu di ganti dengan pernikahan saja. Dengan begitu Edgar akan semakin terikat padaku, lagipula kalau aku sudah membawanya ke ranjang aku yakin dia akan mulai tergila-gila padaku dan pasti akan melupakan Dena dengan sendirinya. Seperti Arhan waktu itu." sahut Sera percaya diri.
"Baiklah mama percaya padamu sayang, tapi jika cara itu tidak berhasil. Kita harus melakukan cara satu-satunya yang sudah sejak dulu ingin mama lakukan." ujar nyonya Sita yang langsung membuat Sera menatapnya.
"Ma, itu terlalu berbahaya." tegur Sera.
__ADS_1
"Jika ahlinya yang melakukannya maka tidak akan ada yang bahaya Nak, lagipula kamu tidak mau kan posisimu sekarang di rebut oleh dia dan kamu akan di tendang ke jalanan ?" tegas nyonya Sita.
"Tapi Ma....."
"Hanya itu satu-satunya jalan, sebelum Papamu mengetahui kebenarannya." potong nyonya Sita.
"Kebenaran apa Ma ?" ujar Tuan Winata saat baru membuka kamar Sera yang langsung membuat ibu dan anak itu nampak gelagapan.
"Papa..." Sera langsung memucat.
"Ini loh sayang, Sera memintaku untuk bicara pada calon besan kita lebih baik hari pernikahannya di percepat saja sekalian dengan tunangan." ucap Nyonya Sita menimpali.
"Oh ya nggak masalah lebih bagus malahan, Papa juga tidak sabar menimang cucu." sahut tuan Winata.
"Jadi Papa setuju ?" Sera langsung berbinar-binar.
"Tentu saja Nak, segera berikan Papa cucu selucu anak yang di gendong oleh Edgar tadi. Entah kenapa bocah kecil itu bisa membuat semua orang jatuh cinta padanya." sahut Tuan Winata seraya membayangkan wajah Elkan.
Tiba-tiba Tuan Winata mengingat Dena, Putri sulungnya itu juga mempunyai seorang anak tapi sampai sekarang ia tidak pernah melihat cucunya tersebut.
Memikirkan hal itu tuan Winata nampak menghela napasnya berat, ada rasa sesal bercampur marah pada dirinya. Karena sudah gagal mendidik Dena menjadi wanita baik-baik hingga membuat wanita itu menjadi pembangkang dan hamil dengan pria yang tidak jelas.
Beberapa harinya kemudian.....
Malam itu Dena nampak mengulas senyumnya dengan lebar saat menatap buku pernikahannya di atas nakas, ia sekarang sudah sah menjadi istri Edgar Bryan.
Kini ia yang berkuasa akan diri Edgar dan melalui laki-laki itu ia akan membalaskan dendam pada Sera maupun ibunya.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan tengah kota dari balik jendela kamar hotelnya.
Membayangkan kehancuran ibu tirinya dan juga Sera membuatnya tersenyum senang.
Namun senyumnya langsung menyurut saat ia merasakan sebuah tangan kekar melilit pinggangnya dari belakang dan bersamaan itu sebuah kecupan mendarat di bahunya yang terbuka.
Dena langsung memejamkan matanya, bayangan Arhan berada di atas tubuh Sera tanpa sehelai benang waktu itu menari-nari di kepalanya.
Setiap mengingat itu Dena rasanya ingin membunuh laki-laki menjijikkan yang pernah begitu ia cintai itu, namun ia harus meyakinkan dirinya bahwa saat ini yang menyentuhnya adalah orang lain. Laki-laki lain yang sudah sah menjadi suaminya.
__ADS_1
Melihat Dena begitu menikmati sentuhannya, Edgar semakin tak terkendali. Ia sudah menginginkan wanita itu sejak lama, bahkan percintaan mereka dahulu selalu menjadi imajinasinya setiap malam.
Dan ia ingin mengulang lagi masa-masa indah itu, mengulanginya hingga ia merasa terpuaskan akan dahaganya terhadap wanita itu.
Edgar nampak meninggalkan jejak-jejak kemerahan di bahu terbuka wanita yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya itu.
Kemudian ia menarik resleting gaunnya hingga kini gaun pengantin berwarna putih itu terjuntai ke atas lantai. Hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
Edgar begitu memuja tubuh istrinya yang seputih porselen itu, kemudian ia memutarnya hingga kini wanita itu berhadapan dengannya.
Nampak semburat kemerahan di wajah Dena, hanya dengan sentuhan Edgar yang tak seberapa membuatnya begitu terbuai.
Dia wanita normal, di balik sikap dinginnya itu ia juga membutuhkan belaian seorang laki-laki. Katakanlah dirinya memang munafik, tapi ia juga ingin menikmati setiap sentuhan dari laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu meskipun ia tidak mencintainya sekalipun.
"I love u." lirih Edgar menatap lekat istrinya itu.
Karena tak ada balasan dari wanita itu, Edgar langsung mendekatkan wajahnya lalu melum😘t bibir tipisnya dengan penuh kelembutan hingga membuat Dena mengerang di buatnya.
Mereka nampak saling memanggut dan mencecap satu sama lainnya, dalam ciumannya Edgar nampak melepaskan pengait bra yang di pakai istrinya itu hingga menampakkan dua gundukan kenyal yang selalu terbayang di kepalanya saat terakhir ia melihatnya malam itu.
Edgar meremasnya dengan lembut dan memainkan puncaknya yang sudah mengeras hingga membuat istrinya itu mengerang nikmat.
Kemudian Edgar membawa istrinya itu ke atas ranjangnya lalu mengungkungnya dan memulai pergumulannya malam itu untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.
Nampak rintihan dan erangan dari keduanya saat mereka mencapai puncak kenikmatan bersama dan malam itu Edgar tak berhenti memenuhi istrinya itu dengan miliknya yang sepertinya tak pernah merasa puas karena menginginkannya lagi dan lagi.
"I love u." ucap Edgar seraya mencium istrinya itu saat mendapatkan pelepasannya yang kesekian kalinya.
Kemudian Edgar beranjak dari tubuh wanita itu lalu berguling ke sisinya, mengatur napasnya yang berat akibat olahraga panasnya itu.
Sedangkan Dena nampak kelelahan dan inilah resiko yang harus ia hadapi agar rencananya itu berjalan dengan mulus.
Keesokan harinya.....
Brakkkk
Edgar dan Dena langsung terbangun saat mendengar pintu kamar hotelnya di buka dengan kasar, Dena langsung menutup tubuh polosnya dengan selimut saat melihat keluarga Bryan dan juga keluarga Winata sudah berada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sialan apa yang sedang kalian lakukan ?" pekik Sera menatap tak percaya Edgar dan Dena yang nampak tidur dalam ranjang yang sama dan tanpa busana.