Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~169


__ADS_3

"Dena ?" Sera nampak terkejut saat tiba-tiba Dena masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.


"Tidak ada yang di pecat di sini." tegas Dena yang langsung membuat Sera menatapnya geram.


Sedangkan direktur keuangan tersebut nampak menatap lega Dena, ia tahu meski Dena selama ini bersikap sangat dingin pada siapapun tapi ia lebih suka jika Dena yang memimpin perusahaan daripada Sera yang hanya bisa menghamburkan uang.


"Apa hakmu memerintah disini? selama Papa sakit aku yang menggantikannya, jadi aku yang berkuasa di sini." sergah Sera dengan sombong.


Dena nampak tersenyum sinis, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekat.


"Kamu ngomongin hakku di sini? apa kamu lupa atau pura-pura lupa aku siapa ?" cibir Dena tak kalah angkuh.


"Tentu saja aku tahu, kamu hanya anak buangan dan sampai kapanpun Papa tidak akan menganggapmu. Jadi ku peringatkan cepat pergi dari sini atau akan ku panggil security untuk menyeret mu keluar." hardik Sera, namun Dena sedikitpun tak gentar.


"Oh ya? kalau begitu anak buangan ini sangat hebat dong, karena bisa memiliki seratus persen saham di perusahaan ini." cibir Dena seraya menyerahkan salinan bukti kepemilikan perusahaan tersebut atas namanya.


"Apa ?" Sera nampak terkejut.


"Ini pasti palsu, bagaimana bisa Papa menyerahkan perusahaan ini padamu." teriak Sera seraya merobek kertas di tangannya tersebut.


Dena semakin tersenyum sinis. "Sekarang keluarlah, sebelum security menyeretmu keluar." tegasnya seraya mengibaskan tangannya menatap Sera.


Nampak dua orang security berdiri di ambang pintu siap menerima perintah dari atasan barunya itu.


"Surat ini pasti palsu, lihat saja aku pasti akan melaporkan mu ke polisi." hardik Sera tak terima.


Kemudian ia akan menyerang Dena, namun tiba-tiba security yang baru datang langsung menghentikannya.


"Cepat bawa keluar dan jangan biarkan dia berkeliaran lagi di kantor ini !!" perintah Dena kemudian.


"Baik nyonya." sahut security tersebut seraya membawa paksa Sera.


"Dasar sialan, awas saja kamu nanti ya. Akan ku buat kamu menyesal karena sudah melakukan ini semua padaku." teriak Sera tak terima.


Setelah kepergian Sera, Dena nampak mengulas senyumnya dengan ramah menatap direktur keuangan kepercayaan ayahnya tersebut.


"Selamat datang nyonya, saya senang akhirnya bisa melihat anda di kantor ini." ucap dirut tersebut.


"Terima kasih pak, panggil Dena saja. Saya masih harus banyak belajar dengan anda maupun rekan-rekan yang lain." sahut Dena ramah.


"Sebelum tuan besar sakit, beliau sudah menjelaskan pada kami jika perusahaan ini akan di lanjutkan oleh anda. Untuk itu saat nona Sera yang justru menggantikan tuan besar kami sempat terkejut, tapi kami yakin anda pasti akan datang." ucap dirut tersebut.


"Terima kasih, mohon bimbingannya untuk ke depan." sahut Dena.


Sementara itu Sera yang merasa di permalukan ia segera pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Ma, mama ?" teriak Sera sesampainya di rumahnya.


"Ada apa sih teriak-teriak." sewot nyonya Sita.


"Papa di mana ?" tanya Sera.


"Di kamarnya, mau di mana lagi. Pria tua bangka itu hanya bisa merepotkan sekarang." ketus nyonya Sita.


Sera yang nampak geram langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar ayahnya.


"Papa bagaimana sih, kenapa menyerahkan perusahaan pada anak buangan itu ?" teriaknya.


Tuan Winata yang mengalami stroke pada separuh tubuhnya nampak diam mendengarkan, karena untuk berbicara pun ia kesulitan.


Namun semenjak ia sakit, ia jadi mengerti bagaimana sifat asli istrinya dan juga Sera. Kedua wanita itu selalu berbuat semena-mena di rumahnya.


"Apa kamu bilang ?" nyonya Sita yang baru masuk nampak terkejut.


"Benar Ma, perusahaan sudah di kuasai oleh anak buangan itu dan pasti Papa yang sudah melakukannya." keluh Sera tak terima.


"Berani-beraninya kamu...." nyonya Sita berniat menyerang tuan Winata yang nampak sedang duduk di kursi rodanya, namun langkahnya terhenti saat mendengar sebuah teriakan dari luar.


"Hentikan !!" teriak Dena dengan lantang.


"Kamu ?" dengan geram nyonya Sita langsung melangkahkan kakinya mendekati Dena.


"Ini rumah saya, seharusnya kalian yang pergi dari sini." Dena nampak menunjukkan salinan surat rumah tersebut.


"A-apa ?" nyonya Sita dan juga Sera nampak terbelalak.


"Jadi tunggu apalagi, cepat keluar dari sini dan saya ingatkan jangan pernah membawa barang apapun, karena rumah ini dan seisinya sudah menjadi milik saya." tegas Dena yang langsung membuat nyonya Sita dan Sera memucat.


"Nak, apa kamu tidak kasihan pada kami. Kami tidak tahu harus tinggal di mana? lagipula aku juga ikut andil membesarkanmu, apa sedikit saja tidak ada belas kasihan darimu." ucap Nyonya Sita memohon pada Dena dengan merendahkan suaranya.


Dena yang melihat itu nampak tersenyum sinis. "Baiklah, kalian boleh tinggal di sini namun harus jadi pelayan." ucapnya yang langsung membuat Sera dan ibunya melotot tak percaya.


"Tapi bagaimana bisa...."


"Jadi pelayan atau pergi dari sini atau kalian lebih suka mendekam di penjara ?" sela Dena dengan tegas.


"Ba-baiklah kami mau jadi pelayan." sahut nyonya Sita langsung.


"Tapi Ma...."


"Diamlah Ser, kamu mau jadi gelandang di luar ?" potong nyonya Sita.

__ADS_1


"Kalian akan tinggal di kamar pelayan di belakang rumah ini dan gunakan pakaian pelayan juga. Karena seluruh barang-barang kalian akan saya lelang untuk amal." tegas Dena.


"Tapi Nak..." nyonya Sita langsung menghentikan ucapannya saat Dena menyelanya.


"Kalian di larang masuk lagi ke rumah utama ini dan ingat jangan macam-macam karena setiap sudut rumah ini akan saya pasang cctv." sela Dena dengan tegas.


"Sekarang cepat pergi dari sini." imbuhnya lagi sebelum kedua wanita itu melayangkan protesnya.


Setelah beberapa security membawa nyonya Sita dan Sera pergi, Dena nampak menatap sang ayah yang terlihat tak berdaya di kursi rodanya.


Laki-laki itu berusaha mengangkat sebelah tangannya berharap Dena mau mendekat.


"Ma-maafkan pa-pa." ucapnya terbata-bata.


Dena nampak menghela napasnya dengan kasar, ingin sekali ia membenci ayahnya. Namun hati kecilnya masih menyimpan kerinduan yang begitu mendalam terhadap laki-laki paruh baya itu.


"Ma-maafkan pa-pa." ucap tuan Winata lagi, laki-laki itu berusaha untuk bangkit namun karena tidak ketidakmampuan tubuhnya ia langsung terjatuh ke lantai.


"Memaafkan itu lebih baik, biarlah Tuhan yang membalas perbuatan orang-orang yang jahat padamu."


Kata-kata Edgar langsung terngiang di kepalanya, meski laki-laki itu sudah tak berada di sisinya lagi namun kebaikannya seolah selalu menuntun hidupnya.


Dena langsung melangkahkan kakinya mendekati sang ayah, lalu ia membantu pria itu kembali duduk di kursi rodanya.


"Aku akan membawa Papa berobat hingga sembuh." ucapnya sembari menatap ayahnya itu hingga membuat Tuan Winata langsung berkaca-kaca.


"Ma-maafkan pa-pa." ucapnya kemudian.


"Aku, memaafkanmu." sahut Dena yang kini juga nampak berkaca-kaca.


Sementara itu di negeri seberang Edgar nampak duduk termenung di kantornya, sudah beberapa hari ini laki-laki itu tinggal di Singapura untuk mengurusi bisnisnya.


"Tuan, ini sudah malam. Apa mau saya antar pulang ?" tawar Juno saat melihat atasannya itu nampak melamun menatap surat cerai yang sudah di tanda tangani oleh Dena di atas meja kerjanya, namun hingga kini laki-laki itu hanya membiarkannya tergeletak di atas meja bahkan ia sepertinya enggan untuk tanda tangan juga.


"Saya akan tidur di sini saja." tolak Edgar.


Juno nampak menghela napasnya. "Kalau anda merindukan nyonya Dena, kenapa tidak menemuinya ?" ucapnya yang langsung membuat Edgar menatapnya.


"Jika saya menemuinya, saya takut tidak akan bisa melepasnya dan saya tidak mau menjadi laki-laki egois karena dia berhak bahagia dengan pilihan hidupnya." sahut Edgar nampak kesedihan begitu mendalam di wajahnya.


"Anda sudah banyak berkorban, semoga anda segera mendapatkan kebahagiaan." ucap Juno.


"Saya membawa ini untuk anda, anda belum makan malam kan ?" Juno memberikan sekotak makanan seafood kesukaan Edgar.


Saat ia membukanya dan menyodorkannya ke hadapan Edgar, laki-laki itu langsung merasa mual.

__ADS_1


"Mumpung masih hangat, silakan di makan tuan." ucap Juno.


Edgar yang sudah tidak tahan dengan aromanya langsung berlari ke kamar mandi.


__ADS_2