Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~176


__ADS_3

"Seberapa penting aku bagimu ?" ucap Dena seraya menatap suaminya yang berada di sampingnya itu.


Nampak peluh keringat masih membasahi tubuh, usai percintaan panas mereka tadi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? tentu saja kamu sangat penting bagiku, sayang." sahut Edgar jujur.


Mendengar perkataan suaminya Dena nampak tersenyum sinis, kemudian ia segera bangkit dari tidurnya lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Kamu tahu, aku seperti wanita malam yang habis kamu pakai lalu kamu tinggalkan begitu saja." ucapnya kemudian seraya memakai pakaiannya kembali.


Edgar langsung bangkit dari tidurnya lalu mendekati sang istri. "Sayang itu nggak benar, aku minta maaf. Aku tadi hanya ingin menolong Maya dari kebrutalan suaminya." ucapnya dengan nada memohon.


"Tapi kenapa harus kamu? apa dia tidak mempunyai keluarga, saudara atau teman ?" cibir Dena.


Edgar nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku minta maaf, aku janji ini terakhir kalinya." ucapnya memohon.


"Tidak usah berjanji, jika pada akhirnya kamu tidak bisa menepatinya." ucap Dena menatap nanar suaminya.


"Aku pikir kedatanganku kemari bisa memperbaiki hubungan kita, nyatanya hubungan kita memang sudah hancur." imbuhnya lagi yang langsung membuat Edgar terkesiap mendengarnya.


"Apa? jadi kamu kesini benar-benar demi aku ?" Edgar nampak sangat senang, ternyata tidak hanya dirinya saja yang mengharapkan hubungan mereka kembali utuh.


"Iya, tapi itu tadi. Tapi sekarang tidak lagi, setelah aku mengetahui kalian ada affair." sahut Dena sinis, kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Sungguh ia sangat lelah, tidak hanya tubuhnya yang lelah tapi hatinya juga lelah karena laki-laki itu.


"Itu tidak benar sayang, Maya hanya teman kuliahku dulu tidak lebih." bujuk Edgar.


"Hanya teman kuliah, tapi kenapa kalian bisa berpelukan ?" cibir Dena yang berusaha untuk tetap tegar, rasanya sangat sakit saat melihat suaminya itu di peluk oleh wanita lain.


"Maafkan aku." sahut Edgar, hanya itu yang bisa ia katakan. Karena dia memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Maya.


Sifatnya yang selalu merasa kasihan sama orang membuatnya tak bisa tutup mata jika ada yang meminta bantuannya.


Bahkan saat ia mengetahui Dena menikahinya hanya untuk memanfaatkan dirinya saja, ia tidak marah justru merasa kasihan pada wanita itu.


Ia menyadari sikapnya itu bisa membuat seseorang menjadi terbawa perasaan padanya apalagi itu seorang wanita seperti Maya.


"Hanya maaf ?" ucap Dena mulai jengah.


"Aku janji tidak akan melakukan itu lagi..."

__ADS_1


"Aku bilang jangan pernah berjanji." sela Dena dengan kesal.


Edgar yang merasa putus asa untuk membujuk sang istri nampak mengacak rambutnya kasar.


"Sayang, ku mohon berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Edgar nampak terduduk di lantai dengan memegang kedua tangan sang istri dengan wajah memelas.


Sedangkan Dena nampak menghela napas panjangnya, haruskah ia memberikannya kesempatan?


"Hanya satu kesempatan, aku tidak tahu bagaimana masa lalu mu dengan wanita itu tapi kita hidup menuju masa depan bisakah kamu melupakannya." ucapnya kemudian yang membuat Edgar langsung mengulas senyumnya senang.


"Terima kasih sayang, terima kasih." masih dengan posisi bersimpuh di lantai Edgar langsung memeluk erat istrinya itu.


Dena yang merasa perutnya engap, ia langsung mendorong suaminya agar menjauh hingga membuat Edgar sedikit kecewa.


"Aku dan Maya tidak pernah ada hubungan apa-apa selain sebagai teman." ucap Edgar lagi setelah mengurai pelukannya, kini ia duduk di sofa samping istrinya.


"Siapa tahu dia cinta pertamamu, bukannya setiap orang mempunyai cinta pertama dan biasanya cinta itu akan terus berlanjut jika di beri kesempatan." cibir Dena.


"Kalau aku cerita siapa cinta pertamaku mungkin kamu akan terkejut, tapi biarlah itu menjadi masa lalu seperti apa yang kamu bilang." sahut Edgar.


"Memang siapa cinta pertama mu ?" batin Dena seraya menatap suaminya itu.


"Jangan terlalu banyak berpikir, percayalah di hatiku cuma ada kamu, Elkan dan calon bayi kita." ucap Edgar sambil mengusap lembut perut Dena.


Dena nampak heran bagaimana suaminya itu bisa tahu, ia tidak pernah menceritakan kehamilannya pada siapapun kecuali sang ayah.


Edgar mengulas senyumnya saat menatap istrinya yang terlihat sedang bingung itu.


"Aku tahu semua tentang kamu sayang, bahkan saat kamu mengkonsumsi obat pencegah kehamilan itu pun tidak aku juga tahu." ucapnya yang langsung membuat Dena nampak menggigit bibir bawahnya.


Edgar mengingat bagaimana beberapa waktu lalu ia mendapatkan informasi dari Juno kalau Dena saat ini sedang mengandung janinnya.


Waktu itu ia ingin sekali pulang untuk menemui wanita itu, namun ayahnya bilang jika istrinya itu akan pergi ke Singapura mengurus pekerjaannya.


Maka dari itu ia hanya bisa menunggu sampai wanita itu mengakui perasaannya padanya, untuk itu ia sengaja memanfaatkan kehadiran Maya untuk membuat Dena cemburu.


Dan rencananya berhasil, namun ia tidak menyangka justru Maya memanfaatkan kebaikannya untuk memikatnya. Sepertinya ia harus segera menjauhi wanita itu demi kebaikan rumah tangganya.


"Maafkan aku sudah membohongimu." ucap Dena penuh penyesalan.


"Tapi tentang perasaanku saat ini aku tidak bohong, aku mencintaimu Ed." imbuhnya lagi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apa sayang, aku tidak dengar ?" ucap Edgar, ia ingin sekali lagi mendengar pernyataan cinta dari bibir istrinya itu.


"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu, tolong beri aku keyakinan kalau kamu tidak seperti Arhan maupun Papa." sahut Dena yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


Edgar merasa sangat bahagia, ia segera membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Aku juga mencintaimu, sayang. Aku tidak mau berjanji tapi aku akan selalu berusaha membuatmu percaya akan cintaku." ucapnya, kemudian ia mencium puncak kepala istrinya itu dengan gemas.


Setelah berbicara dari hati ke hati dan mengakhiri kesalahpahaman mereka, Edgar segera mengajak istrinya itu pergi ke dokter.


Ia ingin melihat janin yang sudah ia semai berkali-kali itu, semoga saja menjadi bayi berkualitas seperti Elkan.


"Kamu lapar, hm ?" tanya Edgar sembari menggenggam tangan istrinya saat mereka baru keluar dari klinik.


"Sangat." sahut Dena dengan mengulas senyumnya.


"Baiklah aku punya tempat makan menyenangkan sembari menikmati sore hari." ucap Edgar.


Setelah itu mereka menuju sebuah restoran terbuka yang berada di taman kota.


"Kamu yakin ingin makan itu semua, sayang ?" Edgar nampak menelan salivanya saat melihat Dena memesan banyak sekali makanan.


"Bukan aku yang makan, tapi kamu sayang." sahut Dena dengan mimik tak berdosa.


"Sayang, kamu becanda kan? aku mana bisa habisin semuanya." ujar Edgar nampak panik.


"Aku lihat kamu agak kurusan, kata papa King akhir-akhir ini kamu kurang sehat karena tidak ada yang memperhatikan makanmu. Makanya mulai sekarang kamu makan yang banyak ya." bujuk Dena.


"Entahlah akhir-akhir ini aku selalu muntah di pagi hari dan menjelang sore." sahut Edgar.


"Sampai sekarang ?" tanya Dena, ia nampak menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Sejak kamu datang, sudah nggak lagi." sahut Edgar.


"Jangan-jangan kamu ngidam lagi, karena waktu hamil Elkan dulu aku juga seperti itu tapi kalau hamil yang sekarang aku merasa baik-baik saja." ucap Dena.


"Benarkah? jadi aku ngidam? pantas saja pengennya dekat kamu terus sayang." sahut Edgar seraya memeluk pinggang istrinya itu.


"Itu mah modus kamu, sayang." cebik Dena, ia akan menjauhkan tubuh suaminya namun matanya tak sengaja melihat seorang wanita cantik berjalan mendekat ke arahnya.


Dena nampak tersenyum sinis, kemudian ia segera menempelkan bibirnya pada bibir sang suami yang langsung membuat laki-laki itu membulatkan matanya terkejut.

__ADS_1


Namun setelah itu Edgar langsung melahap bibir istrinya itu dengan rakus tak peduli mereka sekarang berada di mana.


Dan tentu saja itu membuat Dena tersenyum penuh kemenangan, bagaimana pun juga ia harus membuat suaminya itu menggilainya hingga membuat wanita manapun akan mundur dengan sendirinya.


__ADS_2