Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~44


__ADS_3

Seharian Demian menghabiskan waktunya bersama Ricko dan Ariana, ia terlihat sangat senang karena akhirnya mempunyai sebuah keluarga kecil impiannya.


Meski belum bisa di sebut keluarga, karena ia belum menjadikan Ariana istri sahnya. Namun begitu ia sudah mengetahui tujuan hidupnya dan bersama Ariana dan Ricko lah ia akan menghabiskan sisa hidupnya.


"Mas, kapan kamu akan pulang ?" ucap Ariana keesokan harinya, ia merasa tidak enak jika setiap hari harus tidur bersama dengan Demian tanpa ikatan pernikahan.


"Kamu mengusirku, sayang ?" Demian yang sedang merapikan dasinya nampak melihat Ariana dari pantulan cermin.


"Bukan begitu mas....."


"Aku janji akan secepatnya menyelesaikan perceraian dan setelah itu kita akan menikah." sela Demian seraya menatap lekat Ariana, sedangkan Ariana nampak menghela napasnya.


"Ayolah sayang kamu tidak beneran mengusirku kan, sekarang rumah inilah tempat ku pulang. Jika kamu mengusirku, mungkin aku akan menjadi gelandangan tampan." imbuhnya lagi dengan nada memelas sembari memeluk pinggang Ariana.


"Kamu jangan lebay deh, mas." cebik Ariana, selalu saja ada alasan yang keluar dari mulut laki-laki itu.


"Jangan ngambek gitu dong sayang, aku jadi ingin menggigitmu tahu nggak." Demian menatap gemas Ariana, rasanya jadi malas kerja saja dia.


"Jangan mulai deh mas, buruan gih siap-siap kamu nanti terlambat ke kantor loh." protes Ariana.


"Beri aku semangat dulu dong, sayang." Demian masih saja memeluk pinggang Ariana dengan posesif agar wanitanya itu tidak kabur.


"Baiklah, semangat." sahut Ariana.


"Di kira aku bocah, sayang." cebik Demian.


Oh astaga kenapa kelakuan Demian jadi seperti anak kecil begini sih, manjanya nggak kira-kira melebihi putranya. Pikir Ariana.


cup


Ariana memberikan sebuah kecupan di bibir Demian. "Baiklah, sudah semangat kan ?" ucapnya.


"Astaga sayang, segitu aja, bagaimana aku bisa semangat kalau begitu ?" protes Demian.


"Kalau mau semangat sarapan, mas." sungut Ariana, benar-benar deh laki-laki di depannya ini sudah di kasih hati malah nambah minta jantung lagi.


"Tapi aku maunya sarapan yang lain, sayang." goda Demian.


"Mas, jangan macam-macam deh." protes Ariana.


"Sebentar saja, sayang. Kamu mau kita seperti ini terus ?" Demian semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Ariana.

__ADS_1


Ariana nampak mendengus kesal, ia jadi seperti punya bayi besar sekarang. Tapi mau tidak mau ia akan menuruti kemauan Demian, kalau tidak laki-laki itu akan menempelinya sepanjang hari.


Bukannya dia tidak suka berdekatan dengan Demian, hanya saja ia takut terkena serangan jantung karena Demian selalu membuat jantungnya berdebar-debar.


Ia juga takut khilaf dan melakukan kesalahan lagi seperti sebelumnya. Karena laki-laki itu selalu saja membuat imannya hampir goyah.


Melihat Demian yang masih bergeming, mau tak mau Ariana menuruti kemauan laki-laki itu.


Dengan canggung Ariana mendekatkan lagi bibirnya pada bibir Demian, kali ini dia tidak mengecupnya tapi sedikit melum😘tnya.


Demian yang merasa berhasil mengerjai wanitanya itu, ia langsung menahan tengkuk Ariana sebelum wanita itu melepaskan panggutannya.


Meski ciuman Ariana masih terasa amatiran tapi selalu saja membuat Demian ketagihan.


Ariana yang merasakan tengkuknya di pegang kuat oleh Demian, ia hanya bisa pasrah dan ia tahu laki-laki itu tidak akan bisa berhenti sebelum puas.


Demian nampak melesatkan lidahnya masuk, mengobrak-abrik pertahanan wanitanya itu dan mengajaknya menari-nari di sana hingga membuat Ariana terbuai.


Ariana nampak mendesah kecil di sela ciumannya tersebut dan itu membuat Demian semakin menggila dan memperdalam ciumannya.


Bahkan kini mereka sudah berada di atas ranjangnya, saling melum😘t dan menyesap satu sama lainnya tak peduli penampilan mereka sudah sangat berantakan.


Puas bermain-main dengan bibir wanitanya tersebut, Demian nampak menurunkan ciumannya ke leher jenjang Ariana.


Bagaimana Demian bisa berhenti, ia merasa candu dengan Ariana. Bahkan kini wajah laki-laki itu sudah berada di depan gundukan indah milik Ariana yang selalu menjadi tempat favoritnya.


Pandangannya menggelap ia langsung saja melahapnya secara bergantian dan sesekali memberikannya gigitan kecil hingga membuat Ariana mengerang tak karuan.


Bahkan wanita itu kini nampak meremas rambut Demian dan semakin menenggelamkan kepala laki-laki itu pada miliknya.


Sungguh Demian selalu membuatnya lupa diri, laki-laki itu begitu memabukkan baginya dan inilah yang Ariana takutnya jika selalu berdekatan dengannya.


Mereka sepertinya lupa dengan kesepakatannya sendiri, kalau saja tidak ada ketukan pintu dari luar mungkin satu-satunya kain yang menjadi penghalang mereka sudah lenyap juga.


"Mas, ada yang datang." ucap Ariana dengan napas tersengal.


"Biarin saja, sayang." rasanya Demian sangat enggan mengakhiri sarapan paginya itu, ia masih saja menikmati kedua gundukan indah milik Ariana.


"Mas, tolong hentikan." mohon Ariana di sela erangannya, sepertinya kesadarannya sudah mulai kembali.


Demian nampak mendengus kesal, kemudian ia mengangkat wajahnya. Bukannya menjauh, ia justru melum😘t bibir Ariana dengan rakus.

__ADS_1


Sungguh tubuh wanitanya itu begitu memabukkan, bagaimana ia bisa jauh-jauh. Kalau bisa ia ingin seperti ini sepanjang hari, berbagi peluh dan membuat wanita itu kelelahan.


tokk


tokk


Terdengar suara ketukan lagi dan kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.


Demian menggeram, siapa pun itu ingin rasanya ia maki sekarang juga karena sudah berani mengganggunya.


Dengan enggan Demian beranjak dari tubuh Ariana yang nampak hampir polos, ia menarik selimut lalu menutupinya.


"Sebentar ya, sayang." ucapnya.


Sedangkan Ariana nampak bersyukur, akhirnya Tuhan masih menyelamatkannya agar tidak melakukan dosa lagi.


Demian sungguh membuatnya lupa diri dan bodohnya dia selalu menikmati setiap sentuhan yang di berikan laki-laki itu.


Dengan cepat Ariana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, ia yang tadi sudah mandi mau tak mau harus mandi lagi karena Demian sudah membuatnya berkeringat lagi.


Menatap dirinya di kaca membuat Ariana tersentak, ia melihat banyak tanda merah di tubuhnya bagian atas.


Bahkan puncak miliknya masih terasa nyeri karena gigitan laki-laki itu tadi, Ariana hanya bisa menghela napasnya. Selalu saja seperti ini, ia sama sekali tak kuasa menolak sentuhan laki-laki itu.


Kemudian ia segera menyalakan shower lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Di sisi lain, Demian nampak membuka pintu kamarnya dan siap memaki siapa pun itu yang sudah berani mengganggunya.


"Maaf, tuan." Victor tersenyum ketika melihat Demian, namun ia nampak terkejut ketika melihat penampilan Demian yang sangat berantakan.


Kemejanya terlihat sangat kusut bahkan beberapa kancingnya sudah terlepas, rambutnya acak-acakan dan wajah masamnya itu.


Ah sepertinya Victor datang pada waktu yang tidak tepat, ia sangat tahu apa yang sedang bossnya lakukan itu sebelumnya.


"Ada apa, Vic? Bukannya ini masih sangat pagi." ucap Demian kesal.


"Maaf tuan, mengganggu anda." sahut Victor tak enak.


"Baguslah kalau kamu sadar." dengus Demian.


"Maaf tuan, tapi ada tuan besar di bawah." ujar Victor yang langsung membuat Demian melotot menatapnya.

__ADS_1


"APA ?"


__ADS_2