
Ricko nampak melotot saat bibir Olive menyentuh bibirnya, hanya sebuah sentuhan ringan namun mampu membuat darahnya berdesir.
Menyadari kelancangannya Olive segera menjauhkan dirinya sebelum rencananya gagal.
"Maaf pak Oskar, sebenarnya Ricko adalah kekasih saya." ucapnya tak tahu malu seraya menatap dosennya tersebut.
Ricko yang kesadarannya mulai kembali semakin melebarkan matanya saat mendengar pengakuan Olive.
"Kamu....." geramnya, ia ingin menyangkalnya namun saat melihat tatapan memelas dari Olive ia jadi tidak tega.
"Benarkah, sejak kapan ?" tanya Mr.Oskar penasaran ketika tak ada tanggapan dari Ricko.
"Eh, ba-baru sebulan ini. Iya kan, sayang ?" sahut Olive lalu menatap Ricko dengan wajah memelasnya agar pria itu mau membantu sandiwaranya.
Sedangkan Ricko yang masih syok karena ciuman pertamanya telah di renggut paksa oleh gadis di sampingnya itu nampak diam terpaku.
"Baiklah kalau begitu." ujar Mr.Oskar nampak kecewa.
"Semoga hubungan kalian awet." imbuhnya lagi kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.
"Syukurlah." Olive yang melihat kepergian dosennya tersebut nampak lega, kemudian ia segera melangkahkan kakinya untuk pergi juga.
Namun Ricko yang menyadari Olive akan kabur, ia langsung menarik hoody yang di kenakan gadis itu hingga kembali mendekat padanya.
"Mau kemana kamu, enak saja main kabur." tegur Ricko dengan sinis.
"Maaf, tapi saya harus pergi. Terima kasih atas bantuannya." sahut Olive namun sepertinya Ricko tak semudah itu melepaskannya, karena laki-laki tampan itu masih memegang hoodynya.
"Hanya minta maaf? enak saja. Kamu harus tanggung jawab, karena berani-beraninya mencuri ciuman saya." hardik Ricko tak terima.
"Astaga, tanggung jawab bagaimana memang kamu hamil ?" Olive terlihat kesal.
"Saya tidak mau tahu, kamu harus ganti rugi." kekeuh Ricko menatap kesal Olive.
"Ganti rugi bagaimana? di mana-mana semua pria itu pasti senang karena mendapatkan ciuman gratis, kecuali....." Olive menjeda perkataannya seraya memindai Ricko dari atas hingga bawah.
"Apa ?" Ricko nampak melotot menatap gadis di depannya itu.
"Kecuali, kamu tidak normal." sahut Olive dengan nada mengejek.
"Apa kamu bilang ?" Ricko semakin geram, rahangnya mengeras dan tatapannya tajam ke arah gadis itu.
"Mati aku." Olive terlihat ketakutan saat melihat Ricko marah, pria itu seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Astaga ada ular terbang." teriak Olive dengan heboh seraya melihat keatas.
Ricko yang penasaran langsung mengikuti pandangan Olive dan di saat itu Olive segera melarikan diri. Ia berlari dengan kencang menuju jalan raya di belakang kampus tersebut.
"Dia membodohiku, sialan." umpat Ricko dengan kesal saat melihat Olive sudah menghilang dari balik pagar.
Sementara itu Olive yang sudah berada di dalam taksi, nampak bernapas lega.
__ADS_1
"Syukurlah dia tidak mengejarku." gumamnya dengan lega seraya menatap ke arah belakang.
Ia bersyukur kampusnya mempunyai pintu belakang yang selalu ia manfaatkan jika sedang datang terlambat.
Kemudian Olivia nampak menyentuh bibirnya sendiri, bayangan ciuman dengan Ricko tadi tiba-tiba memenuhi pikirannya.
Hatinya langsung menghangat dan jantungnya berdebar-debar dengan kencang.
"Aku tidak peduli sudah berapa banyak perempuan yang kamu cium, tapi aku merasa senang ciuman pertamaku ku berikan padamu."
Olive nampak senyum-senyum sendiri, namun beberapa saat kemudian senyumnya langsung menyurut.
"Tapi dia pasti tidak akan melepaskan ku, bagaimana ini? ini semua gara-gara Mr.Oskar, pria itu benar-benar seperti pedofil."
Olive nampak mengacak rambutnya dengan kesal dan itu membuat sopir taksi yang dari tadi diam-diam memperhatikannya nampak bergidik ngeri.
Karena penumpangnya tersebut bersikap seperti orang gila, pikirnya.
Keesokan harinya....
Olive yang berada di restorannya terpaksa bersembunyi saat Ricko datang mencarinya.
"Benarkan, Ricko pasti tidak akan melepaskan ku. Bagaimana kalau dia akan melaporkan ku ke polisi karena tuduhan pelecehan? Oh astaga, lulus saja belum masa harus masuk penjara." gumamnya saat melihat Ricko keluar dari restorannya, beruntung managernya mau di ajak kerja sama hingga keberadaannya tak di ketahui oleh pria itu.
"Sepertinya, aku harus segera resign dari restoran ini." gumamnya lagi membuat keputusan.
Setelah memutuskan untuk resign, kini Olive pergi ke hotel tempatnya bekerja part time berikutnya. Semoga saja Ricko tidak sampai mencarinya kesana.
"Astaga." Olive langsung membungkam mulutnya sendiri agar tidak berteriak saat melihat Ricko.
Dengan semangat 45, ia segera berbalik badan lalu meninggalkan hotel tersebut dan ia juga akan memutuskan untuk resign dari sana karena tempat kerjanya itu mulai tidak aman.
"Aku seperti seorang penjahat saja." ucapnya beberapa hari setelah itu.
Selama beberapa hari ini ia tidak berani keluar dari rumahnya, bahkan untuk berbelanja ke supermarket pun ia nampak mengendap-endap. Sungguh ia tidak ingin bertemu dengan Ricko lagi dan berakhir membusuk di penjara.
Sementara itu Ricko yang berada di ruang kerjanya nampak kesal saat mengingat bagaimana lancangnya Olive menciumnya.
"Ah sialan, berani sekali wanita murahan itu menyentuhku." gerutunya dengan kesal.
Selama ini ia selalu menjaga dirinya sesuai amanat dari sang ibu, ia tidak akan mempermainkan perempuan bahkan menyentuhnya sebelum menjadi istrinya.
Kecuali dengan Sarah, sahabatnya itu yang kadang-kadang selalu bersikap agresif dengan menggandeng tangannya tiba-tiba dan hanya sebatas itu.
"Ada masalah ?" tanya Dean saat baru masuk ke ruang kerja Ricko.
CEO muda berusia 28 tahun itu nampak semakin tampan dengan usianya yang makin dewasa.
"Kak Dean, kamu mengagetkanku saja." gerutu Ricko.
"Kamu terlihat kesal, apa ada masalah ?" ucap Dean lagi.
__ADS_1
"Apa kamu pernah berciuman ?" tanya Ricko to the point yang langsung membuat Dean terkekeh menatapnya.
"Apa kalian sudah jadian ?" tanyanya kemudian.
"Jadian sama siapa ?" Ricko nampak tak mengerti.
"Sarah, siapa lagi bukannya dia satu-satunya teman dekatmu saat ini." sahut Dean.
"Kami hanya berteman." sahut Ricko.
"Lalu kenapa kamu bertanya soal ciuman ?" Dean menatap curiga ponakan rasa sahabat itu.
"Itu bukan urusanmu, cepat katakan apa kamu pernah berciuman ?" desak Ricko.
"Tentu saja, aku beberapa kali pacaran." sahut Dean.
"Bagaimana rasanya ?" tanya Ricko penasaran.
"Tergantung." sahut Dean.
"Maksudnya ?"
"Ciuman itu ada banyak macamnya, dibibir, dipipi atau di kening." sahut Dean.
"Dibibir." balas Ricko.
"Dibibir pun banyak macamnya." tukas Dean.
"Benarkah ?" Ricko semakin penasaran, sedangkan Dean nampak geleng-geleng kepala melihat ponakannya tersebut.
Sungguh kakak iparnya sangat keterlaluan, bisa-bisanya ponakannya itu di bikin tabu dengan hal semacam itu.
Ariana memang sangat menjaga Ricko hingga menginjak usia 21 tahun ponakannya itu sama sekali belum pernah pacaran.
Mungkin banyak perempuan yang mendekatinya, karena Ricko sangat tampan, pintar dan pekerja keras. Namun soal wanita laki-laki itu sangat minim pengalaman.
Sarah yang sudah setahun terakhir ini mendekatinya, bahkan sampai rela mengikuti pria itu berkuliah di luar negeri tetap saja masih di anggap hanya sebatas teman.
"Ciuman di bibir itu banyak macamnya, hanya sebuah kecupan, dengan sedikit melum@tnya atau sampai saling bermain lidah dan setiap gaya itu berbeda rasanya." ucap Dean menjelaskan.
"Benarkah ?" Ricko nampak menelan ludahnya, baru saling menempelkan bibirnya saja ia sudah merinding disko lalu bagaimana dengan yang lain. Ricko tiba-tiba jadi semakin penasaran.
"Memang kamu sudah berciuman dengan siapa ?" selidik Dean menatap ponakannya itu.
"Gadis gila." sahut Ricko.
"Apa ?" tanya Dean tak mengerti.
"Lupakan saja." sahut Ricko, kemudian beranjak dari kursinya.
"Satu jam lagi aku ada kuliah." imbuhnya seraya mengambil tas punggungnya, kemudian ia berlalu meninggalkan ruangannya tersebut.
__ADS_1
"Gadis gila ?" Dean nampak menaikkan sebelah alisnya menatap kepergian keponakannya tersebut.