Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~255


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Olive yang sedang fokus dengan ponselnya langsung terperanjat saat merasakan seseorang mengecup punggungnya yang terbuka.


"Rick, apa yang kamu lakukan ?" lirihnya seraya menatap suaminya dari pantulan kaca di depannya tersebut.


"Kamu sangat cantik, sayang." puji Ricko saat menatap istrinya dari pantulan kaca.


Wanita itu nampak mengenakan gaun pengantin berwarna putih, rambutnya yang di sanggul ke atas menampakkan bahu serta leher jenjangnya yang terlihat putih mulus.


"Sepertinya ada yang kurang." tukas Ricko setelah mengamati penampilan sang istri.


"Apa aku terlihat kurang cantik ?" Olive langsung memperhatikan wajahnya di depan cermin.


"Kamu sangat cantik sayang dan lebih cantik lagi jika memakai kalung ini." Ricko nampak memasangkan sebuah kalung berlian dengan leontin masa kecil mereka.


Olive yang melihat itu nampak terkejut, dahulu ia sempat putus asa mencari leontin tersebut dan waktu itu ia langsung berpikir mungkin mereka tidak berjodoh karena leontinnya telah hilang.


"Kamu menyimpannya ?" Olive memegang leontin yang kini telah disatukan membentuk sebuah hati.


"Tentu saja, aku selalu menyimpannya." Ricko nampak memutar kursi Olive hingga kini wanita itu menghadap ke arahnya.


"Maaf aku menghilangkannya waktu itu." tukas Olive dengan perasaan bersalah.


"Jangan minta maaf, kamu tidak pernah bersalah sayang." sahut Ricko, lalu mengangkat tangannya untuk membelai pipi istrinya itu.


"I love u." imbuhnya lagi dengan menatap intens istrinya tersebut.


Mereka nampak saling menatap hingga tanpa mereka sadari kini keduanya terlihat saling memanggut mesra.


Ariana yang baru membuka pintu ruangan tersebut nampak mengulas senyumnya saat melihat kemesraan mereka.


Namun kemudian ia langsung berdehem lalu memasang wajah galak khas seorang ibu yang sedang memergoki anak perempuannya di ganggu oleh laki-laki.


Ehmmm


"Mom." teriak Ricko dan Olive bersamaan saat melihat sang ibu sedang berdiri di ambang pintu dengan tangan bersendekap.


"Sepertinya kalian langsung menikah saja dan tidak perlu mengadakan resepsi setelah ini." cibir Ariana kemudian.


"Jangan Mom." teriak lagi Ricko dan Olive bersamaan.


"Terus ?" Ariana masih menatap tajam mereka.


"Baik, kita sudah siap kok. Acaranya akan di mulai kan ?" Olive dan Ricko langsung melangkahkan kakinya mendekati ibunya.


"Ayolah mom jangan marah." mohon Ricko kemudian.


"Dasar bandel, awas saja setelah ini tak memberikan mommy banyak cucu." rutuk Ariana seraya memukuli putranya tersebut.


"Iya selusin nanti Ricko berikan." rayu Ricko seraya menggandeng ibunya tersebut.


Sedangkan Olive yang berjalan di belakangnya nampak terkekeh, ia bahagia mempunyai suami yang sangat menyayangi ibunya.


Namun tiba-tiba ia langsung terkejut saat merasa tangannya di genggaman oleh tangan besar seseorang.


"Daddy ?" lirihnya dengan wajah terkejut, namun kemudian ia tersenyum lebar saat menatap ayahnya tersebut.


"Kamu bahagia, sayang ?" tanya Demian kemudian.


"Hm, iya aku bahagia Dad." sahut Olive dengan wajah bahagianya.


"Kalau begitu Daddy juga bahagia, percayalah meski Ricko sangat manja pada ibunya tapi dia sosok yang sangat dewasa. Dia tumbuh dewasa sebelum waktunya dan mempunyai jiwa empati yang sangat tinggi. Sama orang lain saja dia tidak tega, bagaimana mungkin ia akan menyakitimu." ujar Demian sembari melangkah menggandeng putrinya tersebut.


"Daddy benar, saking empatinya dia menyerahkan ku pada kak Dean." sinis Olive yang sampai sekarang masih membenci perbuatan Ricko tersebut.

__ADS_1


"Berikan dia kesempatan sayang, Daddy yakin dia pasti akan belajar dari pengalamannya." nasihat Demian.


"Ini aku sudah memberikannya kesempatan, Dad." Olive nampak terkekeh menatap ayahnya tersebut.


Sedangkan Ricko yang sedari tadi mendengar obrolan sang ayah dan istrinya itu nampak menghela napas panjangnya.


Ia merutuki kesalahannya dulu dan ia berjanji akan selalu membahagiakan wanita itu yang sudah berbesar hati memberikannya kesempatan kedua.


Kemudian ia berbalik badan lalu melepaskan genggaman sang ayah pada tangan istrinya tersebut.


"Mulai hari ini dia tanggung jawabku Dad, Daddy dan Mommy tenang saja." ucapnya meyakinkan sembari menggenggam erat tangan sang istri.


"Kamu pria dewasa Rick, tentu kamu tahu segala konsekuensi setiap perbuatanmu dan Daddy percaya kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." nasihat Demian sembari menepuk bahu putranya tersebut.


"Terima kasih, Dad." Ricko langsung memeluk sang Ayah.


Setelah itu mereka segera berlalu menuju tempat di mana akan di adakan pernikahan serta acara resepsi.


Setelah kata sah terucap dari para saksi, Ricko nampak bernapas lega sekaligus terharu. Karena pernikahannya sekarang benar-benar di saksikan oleh keluarga besarnya.


Beberapa saat kemudian mereka nampak berbaur dengan para tamu undangan.


"Sayang, aku ke belakang sebentar ya." bisiknya pada sang istri.


"Mau kemana ?"


"Kebelet pipis, mau ikut ?" goda Ricko.


"Dasar mesum." sungut Olive hingga membuat Ricko terkekeh sembari berlalu pergi.


Tak berapa lama Ali nampak mendekati Olive yang sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan.


"Liv." panggilnya, penampilannya nampak kacau.


"Al, kamu baik-baik saja ?" Olive sedikit khawatir saat melihatnya.


"Maafkan aku Al, ku harap kamu segera menemukan wanita yang tepat." Olive merasa iba.


"Tapi hatiku tidak bisa." Ali menatap nanar wanita itu.


"Al, ku mohon...."


"Baiklah, kalau begitu ku ucapkan selamat ya. Semoga kamu selalu bahagia." potong Ali, setelah itu ia berlalu pergi dengan perasaan kecewa.


"Maafkan aku."


Olive nampak menghela napas panjang, seandainya Ricko tak kembali mungkin ia bisa mempertimbangkan perasaan Ali.


Selamat dua tahun ini hampir separuh waktunya ia habiskan bersama pria itu di kantornya. Ia juga sangat dekat dengan keluarganya terutama ibunya.


Merasa moodnya sedang kurang baik, Olive langsung mengambil minuman yang tiba-tiba di tawarkan oleh seorang pelayan.


"Terima kasih." ucapnya, kemudian ia langsung menengguk segelas jus jeruk kesukaannya itu hingga tandas.


"Pas sekali aku sedang menginginkan minuman ini." gumamnya kemudian.


Namun tak berapa lama ia merasakan tubuhnya mendadak berkeringat dan terasa panas.


"Apa ACnya mati ?" tanyanya pada seorang pelayan.


"Tidak nona." sahut pelayan tersebut.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa panas." gumamnya dalam hati.


"Kamu baik-baik saja, Nak ?" tegur Ariana saat melihat putrinya tersebut nampak gelisah.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Mom, hanya sedikit kepanasan. Apa Ricko sudah kembali, tadi dia pamit ke belakang ?" tukas Olive.


"Sepertinya belum." sahut Ariana setelah mengedarkan pandangannya.


"Baiklah kalau begitu aku akan menyusulnya." tukas Olive kemudian.


"Tunggu di sini saja sayang, biar Mommy suruh orang untuk memanggilnya." larang Ariana.


"Tapi aku kebelet pipis juga, Mom." keukeh Olive.


"Baiklah, mau mommy temani ?" tawar Ariana.


"Tidak usah, Mom." tolak Olive, kemudian ia segera berlalu pergi karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil, sekalian ia ingin mencari angin karena tubuhnya semakin berkeringat.


"Rick..." teriak Olive saat melihat suaminya baru keluar dari toilet khusus laki-laki, namun ia tiba-tiba di bekap dari belakang.


"To..long." teriaknya lagi namun ia langsung di bawa pergi oleh seseorang.


Sedangkan Ricko yang mendengar teriakan istrinya nampak terkejut.


"Sepertinya suaranya Olive? kenapa minta tolong ?"


Dengan perasaan khawatir Ricko bergegas mencari sumber suara tersebut, bahkan ia langsung memeriksa toilet perempuan satu persatu.


Setelah tak menemukan apapun ia kembali ke tempat resepsi.


"Mommy melihat di mana istriku ?" tanyanya kemudian pada sang ibu.


"Bukannya dia menyusulmu ke toilet ?" tanya balik Ariana.


"Astaga, Olive dalam bahaya." Ricko langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.


"Nak, apa yang terjadi ?" teriak Ariana namun tak di dengar oleh sang putra.


"Sayang ada apa ?" tanya Demian menghampiri yang di ikuti oleh Dean dan istrinya.


"Olive hilang." sahut Ariana panik.


Sementara itu Olive yang di bawa oleh seseorang menuju sebuah kamar hotel nampak terkulai lemas, ia juga tidak mengerti kenapa tubuhnya tiba-tiba saja tak bertenaga.


"Aku sudah lama menyukai mu sayang dan hari ini kamu harus menjadi milikku." ucap seseorang sembari melepaskan penutup kepalanya.


"Al-Ali ?" lirih Olive terkejut, namun ia hanya pasrah menatapnya.


"Kamu tahu, cintaku begitu besar padamu tapi kenapa kamu lebih memilih si brengsek yang sudah meninggalkan mu itu." teriak Ali sembari menarik kedua tangan Olive lalu mengikatnya pada kepala ranjang.


"Itu bukan cinta Al, tapi hanya obsesi dan aku tidak pernah mencintaimu, karena aku hanya mencintai Ricko." Olive mencoba membujuknya dalam keadaannya yang tak berdaya, apalagi tubuhnya terasa semakin panas dan ia merasakan sangat bergairah saat ini.


Plak


plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Olive hingga meninggalkan kemerahan disana.


"Persetan, malam ini kamu harus menjadi milikku." hardik Ali kemudian membelai lembut lengan Olive.


Sedangkan Olive yang tiba-tiba mendapatkan sentuhan lembut, tubuhnya semakin bergairah meski pipinya terasa perih saat ini.


"Sepertinya aku sudah tak sabar, sayang." Ali langsung mendekatkan bibirnya lalu menciumnya dengan kasar, bahkan ia tak segan menggigit bibir Olive saat wanita itu enggan membukanya.


Merasakan amis di bibirnya karena bibir Olive yang terluka, Ali langsung melepaskan ciumannya. Lalu ia menatap bergairah bulatan indah milik wanita itu yang masih terbungkus oleh gaun pengantin.


"Tidak, ku mohon. Jangan lakukan itu." teriak Olive saat tangan Ali akan menyentuh gaunnya, tangannya yang di iket membuatnya tak berdaya untuk melawan.


"Berteriaklah sayang, suaramu sangat seksi." ucap Ali sembari mengusap lembut milik wanita itu yang masih terbungkus gaun namun terlihat begitu seksi.

__ADS_1


"Aku sudah tak tahan sayang, ayo kita nikmati malam pertama kita." ucap Ali, kemudian ia akan menarik gaun Olive namun tiba-tiba pintu kamar hotelnya di buka dengan paksa.


"Bajingan, apa yang sudah kamu lakukan pada istriku ?" teriak Ricko, ia langsung menarik tubuh Ali lalu memberikannya bogem mentah berkali-kali.


__ADS_2