
"Tuan, apa semalam anda menginap di rumah nyonya Ariana ?" tanya Victor keesokan harinya ketika melihat atasannya itu nampak senyum-senyum sendiri di kursi kerjanya.
"Ternyata jatuh cinta bikin orang jadi kurang waras." batin Victor.
Demian menatap kesal Victor. "Bisa tidak mengetuk pintu dahulu sebelum masuk." tegurnya.
"Maaf tuan saya sudah mengetuk pintu beberapa kali tadi." sanggah Victor.
"Kamu bertanya apa tadi ?" tanya Demian kemudian.
"Saya bertanya apa semalam anda menginap di rumah nyonya Ariana ?" sahut Victor.
"Memang kenapa kalau aku menginap di sana ?" ujar Demian kesal, kenapa asistennya itu cerewet sekali melebihi ibunya bahkan.
"Saya hanya mengingatkan agar tuan tidak dekat dulu dengan nyonya Ariana, karena nyonya besar bisa curigai dan rencana kita akan gagal." sahut Victor mengingatkan.
"Saya tahu Vic, jadi kamu tenang saja. Lagipula semalam saya tidur di Apartemen." sahut Demian.
"Syukurlah karena nyonya besar semalam menghubungi saya." Victor nampak bernapas lega.
"Mau ngapain mama menghubungimu ?" Demian yang mulai melakukan pekerjaannya langsung menatap Victor.
"Beliau mengundang anda untuk makan malam di mansion nanti malam." sahut Victor.
"Katakan saya sibuk." tolak Demian jengah.
"Apa tidak lebih baik anda datang tuan? karena sepertinya ini bukan makan malam biasa." saran Victor.
"Maksud kamu ?" Demian mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Berdasarkan informasi yang saya dapat, sepertinya nyonya besar juga mengundang keluarga nona Jessica." sahut Victor.
Demian nampak berdecak kesal, pasti ibunya itu akan membicarakan tentang perjodohannya lagi.
"Baiklah, lebih cepat lebih bagus kan. Aku ingin segera mengakhiri ini semua dan menikahi Ariana." ujar Demian.
"Tentu saja tuan, jika berita pertunangan anda dengan Nona Jessica tersebar di media, maka yang akan di anggap oleh media sebagai penyebab perceraian anda dengan nyonya Monica adalah nona Jessica. Jadi jika nantinya anda menikah dengan nona Ariana maka nama baik beliau akan tetap terjaga bahkan publik akan lebih simpati padanya." ucap Victor.
"Ide bagus Vic, aku juga ingin melihat bagaimana wanitaku menahan perasaannya ketika melihat aku bertunangan dengan wanita lain. Dia sungguh keras kepala dan memberinya pelajaran adalah hal yang tepat."
Demian nampak tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam bersama Ariana.
"Benar tuan, semoga nyonya Ariana tidak bunuh diri." celetuk Victor yang langsung membuat Demian melotot menatapnya.
__ADS_1
"Kamu jangan becanda, Vic." hardik Demian.
"Kali aja tuan, beliau menyesal dan putus asa." sahut Victor.
"Arianaku wanita yang kuat dan tangguh dia tidak mungkin melakukan itu, jika itu sampai terjadi kamu yang harus bertanggung jawab." ancam Demian.
"Tentu saja tuan anda jangan khawatir, saya sudah menempatkan beberapa orang kepercayaan saya di sisi nyonya Ariana dan mereka akan mengawasi beliau 24 jam."
"Baguslah tidak sia-sia aku membayarmu mahal." cibir Demian.
"Terima kasih tuan atas pujiannya." sahut Victor.
"Siapa yang memujimu." sungut Demian.
"Maaf tuan, kalau begitu saya hubungi nyonya besar dahulu." ujar Victor kemudian ia pamit undur diri, karena jika berdebat dengan atasannya itu tidak akan pernah ada ujungnya.
Disisi lain Ariana nampak bertemu Edgar di Restoran dekat sekolahnya Ricko.
"Jadi kak Demian menemui mu semalam ?" tanya Edgar sesaat setelah menyesap kopinya.
"Begitulah, dia mau ambil hak asuh Ricko." sahut Ariana kesal.
"Tapi bukannya anak di bawah 12 tahun masih hak ibunya ?" tanya Edgar, setahu dia seperti itu.
"Iya aku tahu itu, tapi kamu tahu mas Demian kan? dia bisa menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan keinginannya." sahut Ariana.
Sentuhan yang sampai sekarang masih membekas di ingatannya.
"Ah, bodoh."
Ariana nampak menggetok kepalanya sendiri ketika mengingat hal itu, bagaimana dirinya semalam sampai terbuai oleh sentuhan laki-laki itu.
"Kamu baik-baik saja, Rin ?" tanya Edgar bingung ketika melihat tingkah Ariana.
"Ten-tentu saja." Ariana nampak tersenyum nyengir.
"Sebenarnya masih ada jalan Rin, jika kamu tidak mau Ricko di ambil kak Demian." ujar Victor dengan menatap lekat Ariana.
"Apa ?"
Edgar nampak menghela napasnya. "Kamu balikan lagi aja dengan kak Demian." sarannya yang langsung membuat Ariana melotot menatapnya.
"Itu tidak mungkin Ed, keputusan ku sudah bulat. Lagipula aku juga takut kena karma." tegas Ariana.
__ADS_1
"Karma ?" Edgar nampak mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Tentu saja, jika aku sekarang memisahkan mas Demian dengan ibunya. Aku takut suatu saat Ricko juga akan pergi meninggalkan ku." sahut Ariana.
Bukannya itu memang sudah menjadi hukum alam, sekecil apapun perbuatan kita pasti akan mendapatkan balasannya entah itu baik atau buruk.
"Jadi apa sekarang rencanamu ?" tanya Edgar.
"Entahlah aku juga bingung, mas Demian bilang jika aku tidak mau kehilangan Ricko maka aku harus menjauhi kamu maupun laki-laki lain." sahut Ariana.
"Apa kamu akan melakukan itu ?" tanya Edgar kemudian.
"Entahlah, aku jadi merasa bersalah sama kamu Ed." sahut Ariana menyesal karena sudah melibatkan laki-laki itu terlalu jauh.
"Kamu tenang saja Rin, dari dulu aku memang tidak terlalu dekat dengan kak Demian meski aku mengenalnya dengan baik."
"Tapi tetap saja, gara-gara aku hubungan kalian kurang baik sekarang." sela Ariana.
"Jangan pikirkan hal itu." sahut Edgar.
Kemudian ia nampak mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Ariana.
"Rin, aku tahu ini terlalu cepat tapi tolong menikahlah denganku ini satu-satunya jalan agar aku bisa melindungimu dan Ricko." mohon Edgar yang langsung membuat Ariana melotot tak percaya pada laki-laki itu.
"Ed, kamu sedang becanda kan ?" Ariana tersenyum sinis bagaimana bisa sahabatnya itu becanda di saat seperti ini.
"Aku serius Rin, aku ingin melamarmu dan orangtuaku pasti akan setuju. Mereka berbeda dengan orangtua kak Demian, mereka pasti dengan senang hati akan menerimamu." desak Edgar meyakinkan.
Ariana nampak menghela napasnya pelan, mungkin ini akan menyakiti Edgar, tapi lebih baik ia memutuskannya sekarang agar laki-laki itu tidak terlalu berharap padanya.
"Maaf Ed pernikahan bukanlah permainan, bagaimana aku bisa menikah denganmu sedangkan hatiku berada di tempat lain." tolak Ariana dengan halus.
"Ya aku mengerti, aku akan menunggumu sampai kamu siap." sahut Edgar tak mau menyerah.
"Kamu orang baik Ed, semua yang di inginkan wanita ada padamu. Aku berharap kamu menemukan seorang wanita yang pantas mendampingi mu kelak. Bukan aku, wanita dengan status yang tidak jelas." ujar Ariana.
"Aku tidak peduli, Rin. Karena aku...." Edgar menjeda perkataannya ketika mendengar suara deheman seseorang.
"Victor ?"
Ariana menatap Victor yang nampak sudah berdiri tak jauh dari meja mereka, kemudian ia langsung menarik tangannya yang tadi di genggam oleh Edgar karena Victor menatapnya dengan pandangan tak suka.
"Mati aku."
__ADS_1
Gerutu Ariana dalam hati, ia takut Victor akan melaporkannya pada Demian dan laki-laki itu pasti akan mengambil hak asuh Ricko.
Atau jangan-jangan Demian sudah berada di sekitar mereka saat ini, Ariana nampak mengedarkan pandangannya mengawasi setiap sudut restoran tersebut.